Melodia Hujan

Melodia Hujan
15. SURAT CINTA PEMBAWA LUKA (?)


__ADS_3

“Waduh, mana gak ada orang disini. Tegur jangan ya? Apa besok aja pas di kelas? Biar banyak orang dan dia gak berani macem-macem.” Lea mendadak bimbang di tepi kebun.


Ia marah, jelas. Tapi takut lebih mendominasi. Itu Elang lho, siswa yang kata Ririn pernah ngirim seeorang ke UGD.


Semakin lama waktu berlalu, Lea makin mengumpulkan keberanian. Apalagi setelah melihat bahu Elang bergetar hebat, ia tertawa sampai segitunya saat membaca surat Lea.


“Elang!” Lea berteriak lantang.


Berjalan tegap nan kaku mendekati si lelaki jangkung. Elang menaikkan alis saat melihat Lea melangkah seperti orang berlatih Paskibra tapi dengan tangan dan kaki tak singkron.


“Ck. Apa?” tanya Elang dingin.


“Kembalikan suratku.” pinta Lea menengadahkan tangan kanan.


“Kalo gua gak mau?” tatapan Elang kian menajam, namun ia tersenyum remeh.


Ia melihat tangan Lea terkepal namun gemetar. Sebegitu takutnya Lea pada Elang. lelaki itu lantas mengacung-acungkan surat ke wajah Lea, “Karena di tangan gua, jadi ini punya gua.”


“Itu bukan milikmu, juga bukan buat kamu.”


Elang mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali, ia mengulurkan tangan kiri. Mencekal pergelangan tangan Lea hingga gadis itu meringis.


“Eh? Lea!” teriak seseorang dari arah gerbang, itu Yuni. Ia nampak khawatir karena pergelangan tangan Lea dicengkram Elang.


Belum sempat Lea bicara, Elang menaikkan tangan yang memegang surat. Menunjuk tepat ke arah Yuni, bisa dilihat aura setan milik Elang mulai menguar. Membuat Yuni ketakutan meski hanya menatap mata lelaki itu. Elang menggerakkan tangan, dengan isyarat ia menyuruh Yuni pergi.


“Maaf Lea.” hanya itu yang bisa Lea baca dari gerakan bibir Yuni sebelum gadis itu meninggalkan tempat ia berdiri.


“Lang, balikin suratku.” merasa Elang lengah, Lea berusaha merebut surat di tangan Elang. Namun lelaki itu malah menaikkan tangan ke udara, hingga Lea harus melompat-lompat agar bisa meraihnya. Elang terlalu pandai menggunakan kelemahan orang, Lea yang hanya sedada Elang mana mungkin bisa meraih surat itu.


“Noh lihat.” tunjuk Elang ke suatu arah dengan dagunya.


Lea terdiam sesaat lantas mengikuti kemana Elang tengah melempar pandangan. Kelas Ririn. Gadis itu bisa melihat apa yang ada di dalam kelas dari kebun samping.


Apa yang kemudian Lea saksikan membuat kedua matanya terbelalak. Tepat di dalam kelas kosong tersebut, ada dua insan sedang bercumbu ria.


Saling membelai, saling memberi tatapan penuh cinta, lantas mereka berciuman begitu panas. Lea menganga tanpa mampu berkedip menyaksikan dua insan yang teramat Lea kenal. Ririn dan Paisal.


“Paisal itu udah lama pacaran sama si Nenek Lampir. Lo mau belajar jadi pelakor ya?” ejek Elang dengan nada santai.

__ADS_1


Lea hampir tak percaya, namun peristiwa itu jelas ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Gadis itu mendadak mual. Sakit hati, kecewa, bahkan malu bergumul di ulu hati Lea. Paling besar adalah rasa bersalah.


Selama ini perasaan Lea telah keliru, setahun lebih ia menaruh hati pada kekasih dari gadis yang telah ia anggap kakak kandung.


Lea layak bersedih, ya seharusnya. Namun tidak, pikiran gadis itu mendadak kosong. terlalu banyak perasaan yang berkecamuk, membuat mereka berbenturan dan hilang seketika.


ia justru sedikit lega karena suratnya tak sampai. Kalau benar surat yang ia buat jatuh ke tangan Paisal, selain menjadi pengganggu hubungan orang. Ia juga akan mempermalukan diri sendiri dingga takkan punya muka untuk sekadar bertemu Ririn.


“Masih penasaran reaksinya saat membaca surat ini?” suara Elang mengagetkan Lea. Ia mengangkat tangan hendak berteriak, “Pais...”


Susah payah Lea membekap mulut Elang karena tangan lain masih dicengkram Elang, “Kenapa sih kamu? Diem ih!”


Elang dengan mudah menjauhkan tangan Lea dari bibirnya. Kini kedua tangan gadis itu berhasil Elang pegangi.


Satu hal yang membuat Lea berdebar kencang adalah Elang menyeringai angker. Lea berusaha membebaskan diri dari cekalan Elang, namun percuma.


Bukan melepas, Elang justru menarik kasar kedua tangan Lea hingga tubuh gadis mungil itu menabrak badan Elang.


Cekatan Elang melingkarkan kedua tangan Lea di pinggang, hanya menggunakan tangan kanan ia bisa mengunci kedua tangan Lea di punggung. Sedang tangan kiri Elang melingkari punggung Lea.


“Lang...” ronta Lea dibarengi petir menggelegar dan hujan menguyur tanpa permisi, “Lang apa yang kamu lakuin? Lepasin!”


“Oke.” mudahnya Elang melepas kedua tangan Lea, gadis itu sempat bernapas lega.


Membuat tubuh mereka semakin berimpitan.


Lea tak bisa bergerak sama sekali kali ini, tubuh mungil itu benar-benar dikunci Elang.


Dedaunan cengkeh tak mampu meneduhi kedua tubuh remaja tersebut. Tubuh Lea mulai gemetar karena bajunya benar-benar basah.


Ia berharap ada orang lewat dan megeur mereka berdia hingga Elang melepaskan pelukan. Tapi dengan hujan sederas itu, Lea bisa berharap apa? Sudah pasti semua orang sibuk mencari tempat teduh tanpa mau repot menengok kebun samping sekolah yang terpencil.


Berada dalam pelukkan Elang, menghirup wangi tubuhnya yang sangat kental membuat otak Lea buntu sesaat.


Ia tak bisa memikirkan apa pun, tapi akal sehat gadis itu masih berusaha memberi kesadaran supaya tak tinggal diam.


Ia memutar otak, mencari cara untuk membuat Elang menyerah. Ancaman. Ya, Elang seringkali mengancam untuk melumpuhkan orang. Siapa tahu kali ini pun Elang berhasil Lea pukul mundur.


“Jika kau tak melepaskanku, maka aku akan berteri… Elang!”

__ADS_1


Ancaman Lea justru didahului jeritannya tatkala merasakan bibir Elang mengisap bahkan menggigit pelan pangkal leher Lea, dan dalam waktu sepersekian detik Elang melepaskan pelukan. Mendorong kedua bahu Lea hingga gadis itu terhempas ke tanah yang sudah bergenang air.


“Berisik. Dasar dada rata!” cibirnya lantas berlalu begitu saja.


Ini pelecehan! Lea spontan mencopot sepatu kirinya dan ia lempat sekuat tenaga. Berharap sepatu itu akan mengenai kepala Elang, atau paling tidak punggung tegap lelaki itu. Percuma saja, Elang sudah berbelok ke koridor kelas dan tak terlihat lagi.


“Lea!” sayup-sayup ia mendengar suara seseorang dari belakang. Ia Nandar, membawa payung menghampiri Lea. tangannya terulur untuk membantu gadis itu berdiri.


“Kamu kenapa? Kepeleset?”


Gadis itu hanya melipat bibir menahan tangis, kedua matanya sudah memerah. Tadi ia belum sadar, namun kali ini ia benar-benar sadar, dan syok itu tiba belakangan. Lea sakit hati dengan perlakuan Elang, ia juga malu saat menyadari tubuh itu basah kuyup.


Rambut panjang Lea sampai menutupi sebagian wajah, persis seperti Sadako kehujanan dan tak bisa menemukan TV untuk berlindung. Pikiran Lea mulai kacau, ia ingin berteriak meraung. Tapi sudah terlalu malu bahkan untuk sekadar bercerita pada Nandar perihal kejadian barusan.


“Ndar, hiks. Sepatu aku.” Lea mulai terisak sambil menunjuk sepatu yang tergeletak cukup jauh dari tempatnya.


“kamu ini jatuhnya jungkir balik ya?” Nandar menggelengkan kepala.


Menuntun Lea ke tempat dimana sepatu itu tergeletak, kemudian mengajak ia berteduh dimana sudah ada Arief, Sarah dan Winda.


Melihat ketiga orang itu, air mata Lea tak terbendung lagi. Ia menangis, menghambur ke pelukan Sarah dan Winda tanpa peduli kalau seragamnya akan membuat basah pakaian kedua gadis itu.


Beberapa kali Arief menanyai Lea tentang apa yang telah terjadi, namun Nandar menjawabkan kalau Lea terjatuh di kebun damping.


“Lea?” bisik Sarah memandang tepat ke kedua netra Lea, yang ditanya menggeleng samar lalu memberi kode pada Winda kalau mereka perlu bicara bertiga saja.


Maka dengan alasan ingin mengaja Lea ganti baju, mereka pun membawa Lea pergi ke kelas Winda yang kosong.


“Lea, ada yang nyakitin kamu?” tanya Sarah saat sahabatnya masih saja tak berhenti menangis.


“Azalea, bilang sama kita. Apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai nangis kayak gini?” desak Winda setengah mengguncang bahu kanan Lea, namun ia tiba-tiba terdiam saat tak sengaja menyingkap kerah baju gadis itu. Winda mendapati tanda merah keunguan yang sangat kentara di pangkal leher putih Lea.


“Lea, ini...”


“Elang...” Lea tercekat, dengan tubuh gemetar ia menceritakan apa yang Elang lakukan padanya.


Semakin banyak bercerita, semakin deras air mata Lea. Ia sakit. Sangat sakit dengan perbuatan Elang. Pertama kali ia mengalami kejadian seperti itu, harga diri Lea benar-benar terluka. Ia bahkan sama sekali tak menyebut-nyebut soal Paisal sebab pikirannya dipenuhi oleh Elang.


Sarah dan Winda mati-matian menahan amarah saat Lea bercerita. Bagaimana mungkin Elang bisa begitu tega melakukan hal serendah itu pada gadis yang mereka sayangi dan manjakan selama ini? Mereka mungkin takut pada Elang, tapi Sarah dan Winda jelas takkan pernah memaafkan lelaki itu.

__ADS_1


֎



__ADS_2