
Hari pertama latihan Ekskul Marching Band sungguh membingungkan untuk Lea. Mereka semua mulai dari nol, bersama-sama mulai mempelajari partitur dan alat-alat musik baru.
Lea terbiasa mendengarkan musik, bahkan bisa menebak nada tanpa perlu melihat partitur. Tapi untuk memainkan, jelas ia sama sekali tak punya pengalaman.
Untuk para penari memang tak dipaksakan untuk bisa bermain alat, tapi Lea sebagai penanggung jawab pelatihan diharuskan untuk menguasai semua alat-alat baru tersebut.
Teramat menjadi beban berat bagi Lea, ketika ia diharuskan menguasai cara memainkan bellyra¸ cymbal, snare, tom, bass drum, serta beragam macam alat tiup.
Syukur Irwan, Elang dan komplotannya sudah mahir memainkan alat-alat seperti itu, sehingga mereka yang baru tak terlalu ‘buta’.
Ternyata alasan empat orang berada di Band Inti bukan serta merta mereka bersahabat, melainkan memang karena kemampuan di atas rata-rata.
Meski canggung, sepanjang latihan Elang terus mengajari Lea ketukan-ketukan dasar beberapa alat. Ia terus mengulang-ngulang pelajaran sampai gadis itu bisa memainkan sendiri. Lea hanya lamban terhadap pelajaran, rupanya dalam masalah praktek ia begitu lekas paham.
Bersamaan dengan itu Irwan dan Reka membagi kelompok pemain alat, sesuai minat dan beberapa tes singkat.
Sedang Ririn bergerak untuk memilih orang yang akan dijadikan penari baik dari anggota lama Ekskul Dance mau pun cabutan dari pemain alat. Memberi beberapa pengarahan dasar mengenai pemanasan sebelum menari.
“Bisa pahami ini?” Elang memberi contoh memainkan snare drum.
Lea yang mencuri-ciri pandang ke arah Elang mengangguk. Sejak Elang mencium pipinya di Rumah Sakit, singa SMA Garut itu seolah tidur. Tak ada tatapan penuh amarah, tak ada keributan berarti yang menyebabkan Elang dipanggil ke Ruang BP.
Masa iya dia harus cium orang dulu biar tenang? pikir Lea.
“Paham belum?” Elang bertanya seraya memukul snare.
Membuat Lea terlonjak, dengan cepat gadis itu memukul sesuati yang dicontohkan Elang. Beruntung setelah ia praktek, Elang mengetukkan stik satu kali ke tepi snare. Itu kode bahwa ketukan Lea sudah benar.
“Ini latihan pertama kita, tapi gua harap lo lebih bekerja keras biar bisa ngajarin yang lain.” Elang mengajak Lea beralih alat.
“Aku akan berusaha.” tekad Lea memperhatikan kembali gerakan tangan Elang.
Setelah dua minggu sejak ia masuk Rumah Sakit, beberapa memar masih tersisa di wajah Elang. Sedikit banyak itu adalah gara-gara membalas dendam atas Lea.
Gadis itu tak mau orang lain jadi kesulitan karena dirinya, maka ia akan selalu bersungguh-sungguh mendengarkan Elang.
Terlebih lagi setiap Lea datang ke Rumah Sakit menjenguk Arief, ia selalu mendapati Elang sedang menunggui lelaki itu. Ririn pun bilang pada Lea bahwa Elang hampir setiap hari datang ke Rumah Sakit hanya untuk melihat perkembangan keadaan Arief.
Bagaimana mungkin Lea bisa begitu saja mengabaikan orang yang telah berbuat banyak kebaikan pada sahabatnya.
Benar, ia tak seburuk yang kulihat. Jika dipikir kembali, dibalik sikap dingin lelaki itu ia banyak menolongku. Soal buku matematika, pengalaman bernyanyi di muka umum, dan datang ke pesta Reva walau buruk hasil akhirnya. Tapi... Dia mesum! Ah, haruskah aku tetap berteman dengannya? Hela Lea sambil terus berlatih alat, membiasakan tangannya agar otomatis seperti saat ia menari.
“Lea!” Reka dan Irwan memanggil Lea bersamaan, mereka tergesa masuk Ruang Alat seolah ada hal gawat telah terjadi.
“Aku dengar kau mengerti soal baris-berbaris. Benar?” Reka terengah.
__ADS_1
“Ya, memang.” Lea mendadak menghentikan aktivitas memukulnya.
“Sial, si gadis cantik itu sama sekali tak memberi tahuku. Aku sejak tadi bingung memikirkan bagaimana caranya membuat pola display untuk Marching Band. Lalu si cantik itu diam saja melihatku uring-uringan. Jika saja Ayu tak mengatakan kalau kau mahir PBB, aku takkan pernah tahu mungkin.” rutuk Irwan dalam satu tarikan napas.
“Si cantik?” tanya Elang dan Lea bersamaan.
“Ririn.” Reka mewakilkan jawaban. Lea mengulum senyum mendengar panggilan baru untuk Ririn, belum sempat berpikir ia dipegangi Irwan.
“Setengah jam sebelum pulang, setidaknya ajarkan dasar baris berbaris pada mereka.”
Setelah memberi kode pada Elang bahwa ia akan ikut Irwan, gadis itu pun melangkah cepat ke lapangan. Menghampiri semua orang yang berkumpul di tengah lapang.
“Kalau soal dasar PBB, Kak Ririn juga kan bisa.” Lea mendekat ke arah Ririn yang duduk santai di tepi lapangan.
“Satu, aku hanya pengawas bukan pelatih. Kedua, selama ada ahlinya kenapa harus aku yang turun tangan?” ucapan ringan Ririn membuat Lea berdecak. Lea lantas berdiri tegap, bertepuk tangan sangat keras sehingga semua orang memperhatikan.
“Komando aku ambil alih.” teriak Lea dengan suara lantang.
“Woooow.” takjub para senior bersamaan melihat bagaimana semua atensi mendadak jatuh pada Lea, membuat gadis itu tersipu saja.
Namun ia segera ingat pada tujuan awal, dengan nada tegas ia memberi contoh dan mulai bergerak mengikuti arahan. Para alumni Ekskul Dance sudah tak aneh lagi, namun untuk yang lain tentu masih sangat kesulitan.
Lea begitu bersemangat sebab apa yang ia kuasai bisa membantu semua orang, terlebih lagi Elang turut membantu. Membantu anggota menjadi dua pasukan setelah beberapa saat memperhatikan Lea, lelaki itu cepat paham sehingga pekerjaan Lea menjadi ringan.
Keadaan jadi tak terkendali, Lea tak mampu menahan kemarahan Elang tatkala mendengar protes. Ia mulai memaki, mengatai teman-teman serta adik-adiknya dengan sebutan manja.
“Baik, satu kali lagi. Jika kalian tak melakukan kesalahan, kita istirahat.” putus Elang akhirnya seraya memijit cuping hidung.
Lelaki itu sudah hampir kehabisan suara sejak tadi memberi aba-aba, begitu juga dengan Lea.
“Lang udahlah, kita dari tadi dijemur. Gak sebanding sama kamu yang diem doang di Ruang Alat.”
Rama tiba-tiba keluar dari barisan. Melangkah kaki menuju tepi lapangan, kemudian duduk seraya menyelonjorkan kaki. Anggota lain saling pandang, beberapa dari mereka ada yang mengikuti jejak Rama dan sebagian masih bertahan.
Lea menggeleng tak rela. Baris-berbaris mereka masih sangat mentah, “Aku tahu persis kalian lelah, tapi sekali lagi saja kita coba lag...”
“Semua ambil posisi push up.”
Bujukan Lea terpotong oleh teriakan lantang Elang. Teriak penuh amarah, dengan sorot mata dingin dan kelam. Semua orang menahan napas seketika, singa itu bangun.
Elang lebih dulu mendekat ke dasar lapangan, memasang tubuh siap untuk melakukan push up. Lea yang berada di sisi lain lapangan langsung mengambil posisi serupa.
“Huuuu.” semua orang bersorak kecewa, namun mereka tetap mengikuti Elang dan Lea.
“Hitung satu seri!” teriak Elang.
__ADS_1
Lea menarik napas panjang. Menyiapkan suaranya, “TURUN!”
“Satu!” sahut para anggota.
“TURUN!”
“Dua!”
Terus seperti itu hingga mereka mencapai sepuluh hitungan. Semua tetap menghitung meski sambil berkeluh kesah.
Prok Prok Prok!
Terdengar suara tepukan tangan yang amat keras dari ujung lapangan, Irwan tiba bersama dengan Ririn dan Reka.
“Bagus, kalian kompak sekali ya dihukum bareng-bareng.” ucap Irwan dengan senyuman, namun lengkung manis itu seolah menyembunyikan sesuatu yang lain,
“Kalian lelah kan? Maka silakan bubar.”
Semua orang bersorak senang, berduyun-duyun pergi ke tepi lapangan untuk meregangkan badan. Elang dan Lea berdiri dari posisi push up. Mereka tak turut meneduh, namun justru berjalan saling mendekat.
“Aku merasa ada hal yang tak benar.” bisik Lea. Elang mengangguk, melayangkan tatapan waspada pada Irwan.
“Pikirkan apa kita melewatkan sesuatu?” gumam Elang.
“Ah, harga diriku terluka harus melakukan ini.” Irwan menepuk bahu Ririn dan Reka bersamaan.
Keduanya maju ke hadapan Elang dan Lea, semua masih tak mengerti tentang apa yang terjadi sehingga suasana mendadak hening.
“Koordinator pelatihan, ambil bending dua seri push up satu seri.” titah Ririn membuat Elang dan Lea menghela napas.
Satu seri bending berarti dua puluh hitungan, satu seri push up sepuluh hitungan. Fix lima puluh kali mereka di hukum setelah mengambil sepuluh hitungan push up tadi.
Tanpa babibu lagi mereka pun mengambil posisi, “Mulai!”
“TURUN!” teriak Elang dengan suara serak.
“Satu!” baru satu hitungan Lea sudah ngos-ngosan.
“Gak kedengaran woi! Ulangi!” Reka berkacak pinggang ketika mereka baru sampai sembilan hitungan. Alumni anggota Seni Musik heran sejak kapan Reka jadi se-barar itu. terpaksa Lea dan Elang mengulang hitungan dari awal.
Elang masih tampak bugar, meski peluh bercucuran dan napas tak beraturan. Namun, lihat di sebelahnya. Lea benar-benar kepayahan, walau sering melatih tubuh dengan aktivitas fisik di Ekskul Dance.
Hukuman kali ini membuat tangan dan kaki Lea kebas, pakaian olahraga yang ia gunakan untuk latihan sudah basah oleh keringat.
֎
__ADS_1