Melodia Hujan

Melodia Hujan
20. PENGUNTIT


__ADS_3

Liburan semester sungguh bukan ide baik untuk Elang, selama dua minggu penuh ia harus bertahan dengan keusilan adik perempuannya yang baru berusia lima tahun.


Ia tak habis pikir sang Mama akan melahirkan seorang anak macam Dini. Seperti pagi ini, anak itu mengambil semua pakaian dalam Elang dari lemari dan mengubur semua itu di halaman belakang ketika Elang masih tidur lelap.


“Kata Mbak Desi ini bungkus buah, makanya aku tanam biar tumbuh.” kilah Dini saat Elang menjewer telinganya. bersamaan denga suara tawa Desi yang meledak dari arah kamar.


“Desi... Kamu jangan ajarin yang aneh-aneh sama anak setan ini!” teriak Elang. Desi tak menyahut, tak juga menghentikan tawa.


“Mas Erlang gak pake celana! Hahaha...” Dini menarik-narik handuk yang melilit pinggang Elang yang bertelanjang dada.


“Dini, diem Mas bilang!” bentak Elang, namun gadis kecil itu malah menjulurkan lidah. Elang salut pada diri sendiri karena lima tahun terakhir ia sanggup serumah dengan kombinasi Dini dan Desi.


“Erlangga jangan ganggu adikmu, kasihan dia.” Mama Elang muncul dari arah dapur, tak ada angin tak ada hujan Dini tiba-tiba menangis dan berlari memeluk kaki sang mama.


“Mas Erlang jahat, Dini dijewer... Sakit.” isaknya membuat Elang melongo. Spontan Elang mendapat jeweran dan omelan panjang dari sang mama pagi itu.


Selain menghadapi tingkah sengklek adik dan sepupunya, Elang hanya menghabiskan waktu dengan Adi dkk.


Baru satu minggu berlalu, Elang sudah muak. Tak ada kegiatan lain di markas Eka selain mengobrol dan minum bersama, itu pun tanpa Elang turut minum.


Semua terlalu damai. Tak ada tawuran, tak ada balapan. Membuat ia malas mengerjakan sesuatu. Paling sesekali Tri mengajak futsal atau menjadikan hal-hal remeh sebagai taruhan. Elang heran, tiap libur sekolah, musuh-musuh pun mendadak libur berbuat ulah.


Elang menghabiskan sarapan dengan menelepon sang papa, beliau berugas di Sumatera. Ia sungguh merindukan orang yang selalu mengerti tentangnya.


Jika Papa Elang ada di rumah, beliau selalu memberi alibi agar Elang bisa pergi. Membantu Elang sejenak untuk lepas dari kekangan Mama.


“Erlangga, mau kemana kamu?” tanya Mama Elang tatkala melihat puteranya mengenakan jaket biru dan mengambil kunci motor.


“Ke rumah Tri, Ma.” Elang mencium tangan mamanya.


“Ingat, jangan macam-macam diluar sana.” pesannya, mungkin ancaman.


Elang mengangguk saja untuk menenangkan.


Ia mengendap-endap keluar rumah, takut ketahuan Dini. Kalau anak itu tahu bisa-bisa Dini merengek untuk ikut. Untung saja anak itu sedang sibuk bermain dengan Desi, membuat Elang bisa leluasa pergi.


֎


Elang memacu motor dengan kecepatan tinggi menuju pinggiran kota, sebuah Desa kecil yang dikelilingi hamparan radang dan sawah masyarakat. Satu desa asri dengan kokok ayam dan suara kambing ramai terdengar.


Motor Elang berbelok ke jalan setapak di sebelah kebun jeruk, menyongsong satu rumah di kaki gunung.


Elang menghentikan motor di ujung jalan, berjalan kaki menuju rumah dari gadis yang beberapa waktu terakhir tak pernah ia datangi lagi malam-malam. Beberapa minggu terakhir gadis itu malah tak sudi melihat Elang, dan hanya bisa Elang perhatikan dari jauh.


Kedua netra Elang melihat Ayah dan Ibu Lea sedang membereskan Toko, sementara Lea nampak menjemur pakaian di samping rumah. Sedikit kesal karena gadis itu hanya memakai kaos dan celana pendek, beberapa pemuda yang lewat menyapanya. Lea menjawab sapaan begitu ceria, hingga mereka memandang dengan tatapan suka.


“Bukannya udah gua peringatin kalo gua cemburuan? Huh!” Elang memukul pohon tempat ia bersembunyi.


Elang lantas melihat sebuah sepeda motor terparkir indah di halaman rumah. Seorang lelaki membuka helm lalu berjalan menghampiri Lea. Apa yang kemudian ia lakukan membuat Elang makin panas.


Arief, tanpa ragu memeluk gadis itu sesaat dari belakang. Menggelitiki pinggang Lea hingga si gadis tertawa kegelian, lantas ia mengusak rambut Lea dengan gemas. Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Arief bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Dasar penghianat! Nyuruh gua kasih waktu pada Kiandra biar lo bebas deketin dia bukan?” Elang menggeram.


Tak lama kemudian, Lea keluar dengan pakaian rapi dan lebih tertutup. Kembali menghampiri Arief, “Cih, cepat sekali dia berdandan.”


Arief mengajak Lea pergi dengan motornya. Tentu Elang tak akan tinggal diam, tak peduli apa kata orang yang penting ia akan pergi mengawasi kedua orang yang akan berkencan tersebut. Berhati-hati Elang menghidupkan motor, ia sangat muak melihat Lea terus saja tertawa bersama Arief.


“Please Rief, lo jangan beneran ada hati sama dia. Gua gak akan bisa ngalahin cowok sebaik lo.” gumam Elang mengikuti motor Arief.


Ia ingat ketika di ulang tahun Reva, orang yang ia anggap rival itu dengan mudah menenangkannya sebab Arief itu tulus. Namun masalah memberi waktu, Elang kini mulai tak sabar.


֎


Arief menghentikan motor di Alun-Alun Garut. Keduanya turun, saling bergandengan tangan mulai menyusuri area Alun-Alun.


Elang gelagapan mengambil topi hitam di bagasi, berusaha menjaga jarak namun tak mau tertinggal. Ia melangkah beberapa meter di belakang kedua orang yang melangkah dengan ceria tersebut.


“Brengsek!” umpat Elang spontan melihat Lea menggelayuti lengan Arief saat memasuki pusat perbelanjaan. Gadis itu bahkan tak segan menaruh kepala di pundak Arief.


Keduanya naik eskalator, melewati lantai dua, tiga dan empat. Elang kesal, kedua orang itu ingin belanja atau hanya main-main di eskalator saja?


Sebab langkah Lea dan Arief masih saja terarah pada eskalator selanjutnya. Gedung itu terdiri dari lima lantai, Arief dan Lea berhenti di lantai terakhir. Tempat itu hanya berisi dua hal, Arena permainan dan bioskop.


Ini masih pagi, jangan bilang mereka mau bermesraan dalam Bioskop sepagi ini? Aku harus memesan kursi yang tak jauh dari mereka, atau sekalian aja memunculkan diri dan pura-pura kebetulan bertemu. Ah, kencan mereka akan terganggu. Tapi ini membingungkan!


Elang mondar mandir tak jelas, namun kecemasan itu hilang seketika saat Lea menarik Arief ke area permainan. Suasana timezone yang ramai menguntungkan Elang untuk lebih mendekati mereka.


“Sudah lama ya kita tak main kesini? Kalau dulu sebelum kita pisah kelas, hampir seminggu sekali kita kemari.” Arief melempar bola basket setelah memasukkan sebuah kartu pada pinggiran mesin permainan itu.


Arief seketika memasang wajah marah, sesaat kemudian ia kembali menggelitiki Lea. Keduanya saling menggoda seperti sepasang kekasih. Membuat darah Elang mendidih.


Buk! Seorang anak kecil menabrak kaki Elang sampai ia terjengkang. Elang terkejut karena anak itu menangis keras, disambarnya anak itu dalam gendongannya. Berharap ia lekas diam.


“Lo nabrak gua, kenapa lo yang nangis?” desis Elang, anak itu malah menjerit. Semua orang kini mendatangi Elang, termasuk Arief dan Lea, “Hei diam bocah nakal.”


“Maaf ini anakku.” seorang ibu menghampiri, tanpa basa-basi Elang memberikan anak itu pada ibunya.


Lantas secepat kilat ia berlari meneobos kerumunan. Kembali bersembunyi di salah satu mesin permainan yang sangat berisik, memperhatikan dari jauh ketika ibu itu masih menenangkan sang anak. Arief dan Lea juga turut menghibur. Lea bahkan memberikan sebuah permen pada anak kecil tersebut.


Satu jam Elang bisa tenang, karena Arief dan Lea terus mencoba beberapa permainan. Namun, setelahnya ia kembali dibuat kalang kabut. Arief merangkul pinggang Lea dan menggiring gadis itu ke dalam Bioskop.


“Haha, mereka memang bocah.” Elang terkekeh sendiri saat Arief memesan tiket Detective Conan.


Meski begitu, tetap saja ia ikut membeli tiket, ia takkan membiarkan mereka berduaan di dalam sana. Menunggu lampu bioskop mati, barulah Elang duduk di kursi yang ia pesan. Beberapa kursi di sebelah kiri Arief, memastikan mereka tak bisa berbuat macam-macam.


Satu jam setengah Elang memelototi Arief dan Lea, tak ada yang terjadi meski ia telah melewatkan seluruh film. Mendadak ia menurunkan topi ketika kedua orang itu lewat di depannya saat lampu dinyalakan. Sebelum kehilangan jejak, Elang kembali bergerak mengikuti.


Arief dan Lea melangkahkan kaki ke sekitar Pusat Kota, sekadar berkeliling. Mencoba beragam camilan, berfoto di sana dini. Keluar masuk Mesjid Agung lalu nongkrong saat menemukan tempat nyaman. Seharian penuh.


Arief nampak begitu puas berkencan dengan Lea hingga petang menjelang, sementara Elang harus menahan lapar dan haus demi tak kehilangan jejak.


Saat hari gelap, barulah mereka pulang.

__ADS_1


֎


Elang kembali menyembunyikan diri di balik pohon besar dekat rumah Lea. Tak ada yang melihatnya kecuali bulan di atas sana.


Mendengar angin malam dan bintang-bintang menertawakan, mengejek kepengecutan Elang karena tak berani menampakkan diri di hadapan Lea. lantas ia peduli? Tidak.


“Lea.” Arief menarik tangan Lea setelah turun dari motor.


Gadis itu masih menunggu Arief yang mengeluarkan selembar kain dari dalam kantong kresek. Sebuah kerudung pashmina berwarna merah muda, berkibar di tangan lelaki baik hati tersebut. Gerakannya begitu luwes ketika memasangkan benda itu di kepala Lea, melilitkan dengan longgar di sekitar leher si gadis.


“Cantik.” pujinya dengan mata berbinar, Lea tersipu.


Lekas menundukkan wajah yang merona. Gadis itu memejamkan kedua mata saat Arief menempelkan bibir di keningnya. Lama sekali. Lantas perlahan Arief merengkuh tubuh Lea ke dalam pelukan.


“Aku sayang kamu, Lea. Aku sungguh sayang kamu.” Arief mengelus belakang kepala Lea dengan lembut, si mungil itu melingkarkan kedua tangan di pinggang Arief untuk membalas pelukan. Ia tersenyum dan mengangguk beberapa kali.


Elang sudah tak tahan lagi, ia banting helm ke tanah. Bersiap menghajar Arief yang melakukan hal itu tepat di depan matanya. Namun urung saat Arief melepas pelukan dan beranjak pergi.


Tak disangka setelah Lea masuk ke rumah, bukannya pergi ke jalan raya Arief malah membelokkan motor ke tempat persembunyian Elang.


“Lang.” sapa Arief sumringah seraya turun dari motor. Melangkah santai mendekati Elang, “Kau sampai kemari lebih dulu, kenapa tak menghampiri Lea dan malah mengikuti kami seharian hm?”


Dia tahu aku mengikuti dan tetap saja berani memeluk Kiandra? Nekat ni anak. Elang mengeraskan kepalan tangan. Siap meninju Arief. Sekali lagi ia bermanis-manis, maka pukulan Elang akan lepas landas.


“Lang, aku titip Lea mulai seka...” sebelum Arief melanjutkan perkataan, tubuh lelaki itu mendadak kehilangan keseimbangan.


Elang sigap menahan tubuhnya sebelum menyentuh tanah dan Arief tak sadarkan diri di pangkuan Elang.


“Rief, hei! Lo jangan bercanda!” Elang mengguncang tubuh Arief, namun lelaki itu tetap bergeming. Bahkan perlahan, darah merah kehitaman mengalir deras dari kedua lubang hidungnya.


“ARIEF!”


֎





Salam El


Holla readers... Maaf nih kalau cerita Kak El garing kriyuk kriyuk kayak kerupuk.


Kan masih sama-belajar 😁 (Huh El banyak alesan!)


Kak El ucapin terima kasih bagi yang masih sudi mampir 😂 Kalau punya krisar Kak El tampung kok. Apalagi kalau vote 😈


Sekali lagi Kak El ucap terima kasih 😀 dan jika senggang dupersilakan meninggalkan jejak biar karya Kak El jadi lebih baik lagi 😊


salam manis,

__ADS_1


El Garuty


__ADS_2