Melodia Hujan

Melodia Hujan
29. KAFE


__ADS_3

Elang tersenyum simpul melihat Lea tengah duduk di teras Mesjid selepas sembahyang. Ia lekas menghempaskan pantat di sebelah Lea, memasang sepatu dan mengikat talinya dengan apik.


Ikut sholat berjamaah satu kali saja sudah membuat Elang terharu dan merasa jadi orang baik. Ketika berdo’a bersama, ia sampai menitikkan air mata.


“Kita nyari makanan dulu?” Lea berdiri diikuti Elang, lelaki itu mengangguk mantap.


Saat mereka mulai melangkah, ragu-ragu Elang mengulurkan tangan menggenggam telapak tangan Lea yang dingin. Gadis itu terkejut merasakan tangan berkeringat Elang menuntun tangannya. Namun ia tetap mengekori langkah Elang.


Elang tak langsung membawa Lea ke parkiran, namun mengajak gadis itu berkeliling di pertokoan sekitar daerah Sukaregang. Kebanyakan toko merupakan penjual hasil olahan kulit Domba Garut. Semisal tas, sepatu kulit, atau jaket.


“Eh, em... lo suka es krim kan?” Elang menghentikan langkah, nampak bimbang saat bicara. Sadar jika mereka sangat canggung ketika telapak tangan saling bertaut seperti itu.


“Kok tahu?” Lea lega setelah beberapa waktu tenggelam dalam hening, Elang akhirnya buka suara. Ia lantas melihat Elang tersenyum.


“Tadinya gua pengen bilang, karena kamu sudah menyejukkan hatiku. Tapi receh ah.”


Seketika Lea terkekeh, “Terus?”


Elang menunjuk sebuah Kafe yang tak jauh dari Toko Alat Musik, “Mampir kesana, gua tahu es krim disana enak banget.”


Lea memicingkan mata melihat Kafe di ujung jalan, setahu dia itu adalah Kafe yang buka dua puluh empat jam. Kata orang tempat itu akan sangat ramai saat menjelang tengah malam. Tapi Lea tak tahu pasti gosip itu benar atau tidak. Ah, ia jadi lebih sering mendengar gosip akhir-akhir ini.


“Boleh.” Lea hanya punya satu jawaban saat diajak Elang.


֎


Baru saja mereka menginjakkan kaki di Kafe, seorang pelayan datang menghampiri Elang dan menyalaminya, “Lho? Mas Elang tumben sendirian? Biasanya sama Mas Tri dan lain-lain.”


“Berdua, San.” tunjuk Elang pada Lea yang berdiri di belakang.


Pelayan dengan nametag Hasan itu menatap Lea seraya menaikkan sebelah alis. Ia menilai penampilan Lea terlalu sederhana, pun takjub sebab ia adalah gadis pertama yang dibawa Elang kesana.


Merasa diperhatikan, Lea segera memalingkan wajah ke arah lain, pura-pura mengamati interior Kafe. Sudah jelas menarik.


“Kau sepertinya punya banyak kenalan.” bisik Lea lebih merapatkan diri pada Elang.


Hasan mengantar Lea dan Elang ke sebuah meja di sudut ruangan. Agak menyepi, namun dekat dengan dinding kaca yang mengahadap langsung ke Jalan Raya. Tempat itu selalu dikhususkan untuk Elang dkk.


Tanpa diminta Hasan meletakkan sebungkus rokok di atas meja. Lea nampak heran dengan rokok yang diletakkan itu. Elang berdehem sesaat, perlahan jemari lelaki itu mendorong rokok agar sedikit menjauh darinya.


“Mas, kami memiliki produk baru, saya yakin Mas akan suka. Mau say...”


“Kami pesan es krim dua. Satu cokelat dan satu strawberi.” potong Elang cepat.


Hasan agak tertegun mendengar pesanan Elang yang menurutnya terlalu aneh. Tak seperti biasa. Ia bahkan harus mendapat sikutan Elang di perut karena tak kunjung mencatat pesanan.


Berusaha mengerti situasi sang pelanggan setia, Hasan pun bergegas mencatat pesanan pada sebuah nota dan melangkah cepat menuju ke belakang.


“Sepertinya kau pelanggan Kafe ini.” tebak Lea.


“Yah... Gua sama yang lain emang sering nongkrong di sini.” jawab Elang. Keduanya kembali terdiam. Menikmati pemandangan masing-masing.


Elang sibuk menatap balik jendela, memperhatikan segala lalu lalang yang terjadi di luar sana. Menikmati suasana Kota Garut di malam hari.


Sementara Lea asyik mengamati interior Kafe, ukiran-ukiran terbuat dari kayu terpampang artistik dengan nuansa temaram. Romantis. Lea jadi terbawa suasana, mendadak merasa kencan seperti di FTV.

__ADS_1


“Malam hari indah bukan?” pertanyaan Lea membuat Elang menoleh, “Aku suka malam, karena disana selalu ada harapan untuk bertemu sang mentari.”


“Setuju.” Elang menjentikan jari, “Tapi gua lebih suka ketika sama lo. Kapan pun itu.”


“Silakan.” Hasan menyuguhkan pesanan sebelum obrolan mereka berlanjut, mengembalikan fokus keduanya pada sajian sejuk malam itu. Elang mendorong eskrim cokelat ke hadapan Lea.


“Favorit lo.”


“Kau tahu?” Lea terkejut.


“Perlu gua keluarin gombalan receh?” kekeh Elang. Lea turut tertawa seraya menggeleng.


Keduanya lantas mulai mencicipi es krim, nikmat dan segar. Rasa manis dalam sajian itu benar-benar pas. Tiba-tiba saja Elang mematung memandangi Lea penuh rasa bersalah, “Ini udah malem, harusnya gua pesenin lo yang anget. Bukannya es krim.”


“Ah gak masalah, aku suka kok.” Lea terus saja menyendok es di depannya dengan lahap.


“Gua takut lo sakit lagi.” Elang menyodorkan tisu dan memberi kode kalau bibir Lea belepotan. Gadis itu cengegesan mengelapi bibirnya, lalu menggeleng dan kembali memakan es krim.


Elang mengangkat kedua bahu, memanggil Hasan untuk menyuguhkan Martabak Manis dan Surabi sebagai pendamping es krim di perut Lea.


Meski ia cemas tapi kalau Lea suka mau apa lagi. Andai Lea sakit pun, ia kan jadi bisa bolak balik ke rumah Lea dengan alasan menjenguk. Hm mengambil kesempatan dalam kesempitan, “BTW, lo anak tunggal?”


Lea mengangguk, “Ya, setelah Kang Anggara meninggal.”


Gadis itu berhenti makan. Menunduk sesaat, bahunya melorot seolah ia baru saja menyaksikan beberapa kejadian buruk secara bersamaan.


Melihat gelagat Lea, Elang mencoba mengalihkan perhatian. Mengubah pertanyaan mengenai hal-hal ringan.


Seperti bagaimana sikap Dira dan Hana, seseharian gadis itu, hobi, dan kebiasaan mengenai Lea yang suka melaporkan segala macam hal pada Sarah dan Winda. Lea terus menjawab semua pertanyaan Elang dengan jujur dan terbuka.


“Waktu aku ngotorin celana kamu saat piket, aku takut banget jadi cewek pertama yang kamu pukul.”


“Astaga Kiandra, itu bukan hal serius, gua bahkan udah lupa. Lagian waktu itu gua pengen bilang ‘gak masalah’ cuma ya gua bingung gimana ngomongnya saat kita belum sedeket ini.” aku Elang.


Lea mengangguk dan bernapas lega. Sungguh, ia kadang masih kepikiran soal pukulan Elang.


“Kamu gak marah kan aku sering cerita soal kamu sama SarWin? Tenang, kita gak ngomong yang jelek soal kamu kok.” ucap Lea memasukkan sepotong besar martabak ke mulut.


Dusta, ia justruu lebih banyak menjelek-jelekkan Elang saat bersama kedua sahabatnya tersebut. Bersyukur lelaki itu hanya mengangkat bahu.


“Aku sudah banyak cerita, giliranmu.” pinta Lea.


“Gua Erlangga Permana.”


“Saudaramu? Keluargamu?”


“Gua Erlangga Permana alias Elang. Cukup lo tahu itu.” Elang lantas menutup rapat bibir, ia memang tak bisa dipaksa.


Membuat Lea harus memutar otak mencari bahan obrolan, kalau tidak pasti mereka akan kembali masuk dalam pusaran keheningan, canggung, dan kaku.


“Apa Desi takkan marah jika tahu kau bersamaku?” tanya Lea, Elang mengerutkan kening, “Dia kan pacarmu… Sepertinya.”


“Lo kebanyakan denger gosip ya? Dia sepupu gua. Setelah ortunya meninggal, dia tinggal sama gua. Kalo lo bilang kita sodara kembar, itu lebih masuk akal.” Elang mengarahkan pisau martabak ke wajah Lea,


“Lo lupa kalo julukan gua jomblo abadi? Atau lo yang sekarang ngerasa cemburu?”

__ADS_1


“Enggak lah.” tukas Lea.


Keduanya kembali terdiam menghabiskan makanan masing-masing. Lea sangat ingin mengobrol lagi, mumpung lelaki temperamental itu sedang bisa diajak berbincang.


Karena sikap Elang suka mendadak berubah, jadi siapa yang tahu kalau sedetik kemudian ia akan kembali menjadi si Elang kasar dan pemarah.


“ Aku terkejut kau suka rasa strawberi. Pingky boy!” Lea menunjuk mangkok es krim Elang.


“Baru-baru ini aja.” Elang mengambil umpan obrolan Lea.


“Karena?”


“Persis kayak bau tubuh lo.” jawab Elang datar, semakin lahap memakan es krim.


Lea seketika tersedak, kini ia tak ingin mendengar apa-apa lagi dari bibir Elang yang hanya akan membuat pikirannya kacau dan salah paham.


Makanan milik Lea masih banyak, sedang santapan Elang sejak tadi sudah habis. Lea melihat Elang gelisah sambil sesekali melihat bungkus rokok yang sejak tadi bertengger di tengah meja.


“Aku ini pengertian. Kalo mau ngerokok, silakan aja. Gak apa-apa kok, beneran.” kata Lea tiba-tiba. Elang memandang Lea dengan tatapan malu, namun ia sudah tak bisa menahan diri lagi.


“Hanya sebentar.” Elang menyambar rokok itu dan bergegas keluar.


Lea terus memandanginya, melihat Elang mengisap sebatang rokok di teras Kafe dengan berusaha memposisikan diri membelakangi Lea. Baru beberapa isapan, Elang sudah membuang rokok tersebut dan kembali ke meja dimana Lea duduk.


“Gua gak sering ngerokok, hari ini saja tiba-tiba pengen.” bohong Elang, sedikit rikuh saat mengatakannya.


“Bagus dong! Ngerokok itu gak baik, Ayah aja gak ngerokok sejak muda sampai sekarang. Kau lihat kan? Ia masih sangat sehat.” seru Lea. Elang mengangguk.


“Oh iya, kenapa kamu panggil aku Kiandra?”


“Kan itu nama lo.”


“Iya, tapi agak geli aja. Aku lebih terbiasa dipanggil lea.”


“Lea kan milik semua orang, kalau kiandra udah pasti milik Elang.”


Lea mencebik, sejak kapan seorang Elang si wajah dingin jadi lelaki kardus?


Obrolan mereka kembali berlanjut. Lea menggiring obrolan membahas seputar Marching Band.


Elang sesekali mengusap keringat diwajah saat Lea tak sengaja melihat Ikmal dan beberapa orang temannya lewat.


Semakin tegang saat Lea menceritakan ia benci pada geng motor yang pernah mengganggunya. Elang harus mati-matian menjaga ucapan, agar ia tak keceplosan mengatakan kalau ia merupakan bagian dari mereka.


“Ini hampir jam delapan, gak apa jika kita mampir bentar ke Rumah Sakit?” Elang melihat kembali arloji saat mereka keluar Kafe.


“Jenguk Arief?” Lea mendadak antusias. Elang mengangguk, “Ayo, aku juga udah kangen banget sama dia.”


“Tentu, sebuah persaingan kan harus adil. Suka gak suka, dia adalah rival berat gua.” Elang kembali menuntun Lea ke parkiran Toko Alat Musik.


“Dalam hal?” gadis itu selalu butuh perjuangan ekstra setiap kali ia berusaha duduk di atas jok motor Elang.


“Semuanya.” Elang mulai menyalakan mesin motor.


Terutama mendapatkan hati seorang Kiandra Azalea.

__ADS_1


֎


__ADS_2