
Sejak bel berbunyi, Lea tiada henti mengorek-ngorek isi tas, sesekali melihat Bu Rahma yang menunggu buku dikumpulkan di meja guru. Satu persatu siswa mulai maju untuk mengumpulkan buku tugas Matematika, namun Lea masih berusaha mencari. Tetap saja buku itu tak ada.
Gadis itu panik bukan main, masalanya sejak naik ke kelas sebelas—tiga bulan lalu—sudah empat kali ia kena tegur Bu Rahma karena buku tugas Matematika selalu tertinggal di rumah. Entah karena ketidaksukaan pada pelajaran Matematika atau hanya kebetulan belaka, yang jelas ia tidak sengaja.
“Kiandra Azalea!” suara Bu Rahma terdengar menggema, si terpanggil segera menghadap dengan langkah gontai. Beberapa teman ia pelototi karena menertawakan Lea yang kerap berurusan dengan Bu Rahma.
Tak perlu banyak bicara, hanya dengan satu isyarat mata Bu Rahma saja sudah membuat Lea beringsut keluar kelas. Hukuman itu memang sudah terasa biasa Lea terima.
Awas aja, besok buku tugas Mate bakal aku bawa. Biar kalian mingkem! Lea dendam dengan tekad sebulat globe. Teman-teman sekelas selalu nampak senang saat ia kena hukum.
“Erlangga Permana.” Bu Rahma kembali mengabsen. Lea sempat melirik Elang yang menghadap dengan wajah datar.
“Kau memang selalu menjadi kebanggan kelas ini.” puji Bu Rahma memberikan buku tugas Elang. Membuat Lea mendelik keras sambil mencebik, memperolok pujian Bu Rahma.
Buk!
Saking asyiknya melihat Elang, tubuh Lea menabrak pintu yang membuat seisi kelas tak bisa menahan tawa. Seketika kelas menjadi riuh bergemuruh untuk beberapa waktu.
“Azalea!” Bu Rahma berkacak pinggang. Bentakan wanita setengah baya itu membuat kelas kembali hening.
“Maaf, Bu. Saya belum dikasih tahu kalau pintunya pindah.” Lea cengengesan lantas terbirit keluar kelas.
Meninggalkan teman-teman yang kembali cekikikan melihat tingkah konyolnya. Bu Rahma dan Elang yang masih saling berhadapan hanya bisa geleng-geleng kepala bersamaan.
Awalnya Lea berencana pergi ke kantin, lumayan bisa jajan lebih cepat dari pada yang lain. Tapi ia langsung mengurungkan niat ketika melihat kelas duabelas B sedang berolah raga. Keinginan untuk jajan ia tunda terlebih dahulu, Lea lebih tertarik mencari tempat duduk bersih di teras kelasnya agar mendapat posisi paling strategis untuk melihat mereka di lapangan.
Lea menggulirkan mata kesana kemari, mencari sesosok lelaki. Paisal. Seorang Wakil Ketua di Ekskul Pramuka, tubuh ramping dan kulit tak terpengaruh sinar matahari membuat ia mudah ditemukan. Kini kakak kelas Lea itu tengah asyik mendribble bola basket di tengah Lapang.
Tentu saja sang kapten basket yang menjadi idola semua orang itu juga menjadi idola Lea. Bukan hanya mengidolakan, Paisal adalah motivasi Lea untuk mempelajari basket lebih dalam. Membuat Lea menjadi pemain basket wanita andal meski bertubuh mungil.
Segar rasanya kerongkongan Lea tatkala melihat Paisal bermain basket. Teriknya mentari mendadak sejuk tatkala senyum teduh tersungging dari bibir lelaki itu. Watak Paisal memang kelewat ramah, tak ada yang tak senang dengannya. Meski keringat sudah banjir dimana-mana, ia tetap nampak ceria.
__ADS_1
Lea kian tenggelam dalam hayalan. Ia sering membayangkan suatu saat nanti bisa mendapat kesempatan untuk bisa pacaran dengan Paisal, bermain basket dengan lelaki berparas teduh tersebut atau hanya sekadar menghabiskan waktu berdua.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Lea memang naksir pada Paisal, hanya saja kabar perasaan Lea tak pernah sampai pada Paisal. Jangankan jadi pacar, kenal saja tidak. Sungguh berhubungan dengan Paisal hanya delusi Lea semata.
Keasyikan Lea menikmati sosok Paisal terganggu karena suara langkah kaki Pak Maman—salah satu staf di Kantor Kepsek—tedengar berjalan cepat, perlahan mengetuk pintu kelasnya yang tak lama kemudian dibuka oleh Bu Rahma sendiri.
“Maaf Bu, Erlangga di panggil Pak Anto.” ucap Pak Maman dengan sopan. Bu Rahma mendengus kesal, tapi akhirnya ia memanggil Elang juga.
Siswa jangkung itu berjalan santai mengikuti langkah Pak Maman menuju Ruangan Pak Anto sang Guru BP. Rasanya sudah terjadwal Elang selalu diminta menghadap Guru BP, sebulan dua kali. Kalau bukan masalah berkelahi di Sekolah, pasti masalah tawuran dengan SMA seberang.
Tanpa sadar Lea berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat Elang berjalan di belakang Pak Maman.
Decakan yang dikeluarkan Lea sepertinya cukup keras, terbukti sesaat kemudian Elang terlihat menoleh dan memandang dengan wajah tak berekspresi. Menyadari hal itu, Lea bergegas menutup mulut dengan telapak tangan. Lantas memukili kepala dengan tangan lain.
“Bodohnya aku...” gumam Lea.
Elang berpaling, mengabaikan Lea dan fokus mengikuti Pak Maman. Ia tahu jelas apa sebab panggilannya saat ini, tiada lain adalah perkelahian kemarin dengan salah seorang teman Rizal.
“Lain kali lo gak akan lolos!” geram Bobi di luar Ruang BP, masih dendam atas perlakuan Elang kemarin yang tiba-tiba ikut campur urusannya.
Mata Bobi melotot horor pada Elang. Sedang lelaki itu membalas dengan tatapan tajam nan muram.
“Harusnya gua yang bilang gitu.” kata Elang dingin.
Bobi mengepalkan tinju di depan wajah Elang, lalu melangkah pergi meninggalkannya dengan penuh dendam. Elang tersenyum meremehkan dari balik punggung Bobi, ia sama sekali tak takut pada apa pun.
֎
Elang berjalan menuju ke kelas, langkah lelaki itu seketika terhenti saat melihat Lea masih duduk ditempat tadi. Elang dengan kening berkerut memperhatikan dari belakang.
Memperhatikan bagaimana dengan cerianya Lea memandang Paisal yang sedang berada di lapangan, sesekali bertepuk pelan saat Paisal memasukkan bola ke ring basket.
__ADS_1
Elang menyeringai. Tak ada yang dia tak tahu mengenai Lea, termasuk lelaki yang disukai gadis mungil itu.
Diam-diam Elang memang gemar mengorek-ngorek segala sesuatu mengenai Lea. Tetap saja penyelidiakan itu tak berguna sama sekali saat ia tak melakukan apa-apa untuk mendapatkan hati si gadis incaran.
Masih berdiri di depan pintu kelas, Elang merogoh ponsel dalam kantong celana. Mencari salah satu nomor dalam kontak telepon. Mbak Karla. Bergegas Elang menghubunginya, sedetik kemudian panggilan tersambung.
“Elang, Mbak tahu kenapa kamu hubungin Mbak. Cukup, Mbak gak mau lagi pura-pura jadi walimu, semua orang tahu kalau Mbak itu adalah kakak Tri.” Kata suara diseberang sebelum Elang berkata sepatah kata pun.
“Kalau ada masalah panggil saja Mamamu.”
“Tapi kan Pak Anto gak tahu. Mbak sekali lagi aja, Elang janji ini yang terakhir.” pinta Elang penuh harap.
Elang mendengar helaan napas berat di seberang diikuti dengan suara tangis bayi, keponakan Tri yang baru beberapa minggu lalu lahir.
Lea yang duduk di tepi teras langsung menoleh tatkala mendengar suara Elang. Hanya sesaat, kemudian kembali fokus memperhatikan Lapangan.
“Ya sudah, terserah kau saja, imbalannya tentu saja seperti minggu kemarin.” Kata orang yang Elang panggil Mbak Karla itu, Elang menghela napas lega.
Ia kemudian melihat Paisal melambaikan tangan sambil tersenyum. Bukan pada Lea, melainkan padanya. Elang membalas lambaian tangan Paisal dengan mengangkat sebelah tangan dan mengangguk sebelum Paisal kembali ke permainan.
Elang lalu melirik Lea, ia mengulum senyum melihat Lea yang salah tingkah sebab Paisal melambai.
Pasti Lea mengira Paisal melambaikan tangan padanya, sehingga Lea menggoyang-goyangkan bahu seperti itu. Lucu juga ia jadi menggoda Lea meski tak sengaja.
“Baik. Besok Mbak datang kesini jam sepuluh, hari minggu nanti aku akan menjaga Sintia saat kau pergi arisan.” janji Elang.
“Kau memang pengasuh bayiku yang terbaik.” Kikik suara di seberang seraya mematikan sambungan.
Elang menelan ludah, lagi-lagi ia harus menjaga keponakan Tri yang masih bayi, tak apalah walau hal itu bukan Elang ‘banget’ tapi demi mendapat wali palsu apa pun akan ia lakukan. Setelah kembali melirik Lea sesaat, Elang masuk ke kelas.
֎
__ADS_1