Melodia Hujan

Melodia Hujan
10. KALIMAT PENYULUT AMARAH


__ADS_3

“Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lain...”


Setengah hati Elang mendengarkan Pak Surya menerangkan pelajaran. Ketika Mata Pelajaran Kimia menerangkan soal energi, Elang sendiri malah tak berenergi. Ia terserang flu berat setelah mengantar Lea pulang semalam. Seharian Elang bersin, hidungnya kini terlihat memerah bak jambu air siap panen.


Sepanjang pelajaran, ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Entah karena flu atau memang ada hal lain yang mengganggu. Sebab bukannya memperhatikan Pak Surya, Elang justru sibuk melirik kursi kosong disamping Yuni. Lea tak masuk.


Hal yang membuatnya tak tenang adalah bukan alasan mengapa Lea tak kunjung tiba di kelas, melainkankan mengapa ia sebegitu cemasnya pada keadaan gadis itu. sosok Lea selalu saja mengganggu pikiran sepanjang hari.


Perasaan Elang tak tenang, cemas, marah, dan bingung, semua bercampur baur dalam dada. Membuat ia sesak setiap saat.


Tiada satu hal pun bisa meredakan, selain bertemu dengan Lea. Juga tak ada yang membuat emosi Elang meledak dalam sekali waktu selain tatapan polos gadis itu.


Kiandra, nama itu terus saja berputar-putar dalam kepala Elang. Apalagi setelah merasakan bagaimana Lea bersandar di punggungnya, benar-benar mengusik si wajah dingin sampai ia yang biasa gampang tidur justru semalam tak bisa tidur sama sekali.


Saat bel istirahat berbunyi nyaring, Elang terburu-buru melangkah keluar. Ingin segera menjerihkan pikiran. Ia tak sadar kalau dari arah luar juga ada orang yang berjalan cepat menuju kelas.


Maka tabrakan dua siswa di ambang pintu pun tak terelakan. Bukannya membuat terang pikiran, kehadiran orang itu malah membuat aura setan Elang keluar dari persembunyian.


“Bangsat! Taroh dimana mata lo? Ngapain dateng ke kelas orang lain?” damprat Elang penuh kemarahan pada Rizal si anak badung yang menabraknya.


“Eh, gak usah nyolot gitu! Gua mau nyari Lea, bukannya elo!” katanya lantang.


“Emang lo pikir, lo siapanya dia? Sok sokan nyariin.” Elang melayangkan tatapan sinis.


Rizal dengan angkuh menepuk dada, “Kenalin nih, Rizal! Kekasih Lea tersayang.”


“Oh ya? Cari sono di lubang semut!” Elang mendorong tubuh Rizal ke samping sepenuh tenaga. Lalu melangkah pergi.


Tidak terima dengan perlakuan Elang, Rizal dengan segenap tenaga memukul punggung Elang. Seketika lelaki yang hanya terdorong sedikit kedepan itu berbalik dan membalas pukulan Rizal, perkelahian keduanya tak dapat terelakkan.


Tak ada sedikit pun niat melerai, anak-anak di sekitar justru bersorak. Kapan lagi bisa melihat duel antara ketua komplotan anak badung dan pimpinan berandal bertopeng prestasi macam Elang.


“Woi! Gak bisa tahan emosi dikit aja ini orang.” Gentra yang tak sengaja melihat perkelahian mereka langsung menghampiri Elang.


Tak lupa kedua temannya turut membantu usaha remaja tambun tersebut dalam menyeret tubuh Elang menjauhi Rizal.

__ADS_1


“Lepas, gua belum puas hajar dia!” Elang meronta, mencoba melepaskan kedua tangan dari kuncian Gentra dan Adi. Sementara Tri terus menarik kedua bahu Elang seolah tengah menyetir tubuh sepantarannya harus kemana.


“Mbak Karla udah gak mau ngurusin masalah lo lagi, Lang. Udah, jangan buat masalah terus.” bujuk Tri.


Setelah perkelahian yang terjadi setahun lalu antara Elang dan Rizal, keduanya nampak dingin-dingin saja menjalani urusan masing-masing. Namun akhir-akhir ini permusuhan diantara mereka malah kembali memanas.


Elang menulikan telinga, ia masih saja menatap marah Rizal yang tengah bangkit seraya memegangi pipi. Sekuat tenaga Elang berlari menyongsong lelaki itu, hingga Gentra dan Adi terseret. Tri tak kehabisan akal, ia menarik kerah belakang kemeja Elang hingga lelaki itu tercekik bahkan terbatuk.


Ketiga teman Elang tak menyia-nyiakan kesempatan, mereka menarik Elang ke kelas Adi—kelas paling mudah dijangkau—dan menghempaskan lelaki jangkung nan tegap itu ke salah satu kursi. Membuat beberapa teman sekelas Adi yang kebetulan menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas melirik Elang.


“Ngapain lo pake acara berantem sama dia, udah tau dia orangnya bikin rusuh doang.” Adi menarik kursi di depan Elang dan meremas kedua tangannya. Menatap Elang lekat-lekat.


Lelaki yang ditanya, tak lantas menjawab. Ia memejamkan mata rapat-rapat seraya memijit cuping hidung. Ucapan Rizal saat memperkenalkan diri sebagai pacar Lea terus menggema di telinga. Mau sampai mimisan juga ia memijit hidung, kemarahan itu tak juga reda.


“Kata-kata orang itu gak enak di dengar, kampret!” Elang bangkit, membanting keras kursi yang tadi ia duduki hingga salah satu kakinya patah. Membuat suara berdebam sangat keras.


Beberapa teman lelaki Adi bergegas keluar kelas, tak ingin menjadi korban tinju nyasar Elang. Sementara para gadis masih sempat mengabadikan potret Elang sebelum keluar kelas, lelaki itu nampak seksi dimata mereka ketika dalam keadaan marah.


“Woi jangan ada yang ngadu ke Guru soal ini.” Ancam Adi pada beberapa teman yang masih ia lihat mengintip di jendela. Mereka mengangguk patuh seraya bergegas pergi.


Gentra melirik Tri dan Adi, mereka berdua sama-sama menggeleng samar. Melarang Gentra agar tak mendesak Elang. Mereka paham, jika persoalan Elang adalah hal yang harus dibicarakan maka ia akan bercerita tanpa perlu diminta. Namun kali ini Elang diam, itu berarti siapa pun tak berhak mencampuri urusan pribadinya.


“Oh, iya. Nanti sore gak lupa kan kita mau jalan sama SMA seberang. Mereka ngajak kencan terus nih.” Gentra mengubah topik pembicaraan. Ia berhasil menarik perhatian Elang, lelaki itu menatap ketiga temannya dan tersenyum miring.


“Cih! Emang gak kapok mereka bonyok bulan lal… Haaachim!” Elang tiba-tiba bersin. Kemarahannya mereda seketika saat melihat Adi, Gentra, dan Tri terbahak.


“Haha untung sekarang, kalo tadi pas gelud lu bersin. Jatoh tuh harga diri selangitnya.” kelakar Tri.


“Ah *****, serius gua meler.” Elang mengeluarkan sapu tangan dari kantong celana dan membersihkan hidungnya.


“Ah lo, gak liat apa tuh mereka pada ngantri.” tunjuk Adi ke pintu kelas.


Elang mengernyitkan kening melihat beberapa gadis berdesakkan disana sambil masing-masing menggenggam tisu. Seketika Elang memasang tampang sangar.


“Lo semua pikir gua gak mampu beli tisu macam gitu? Najis! Sok baik sama gua.” nada Elang begitu dingin dan menusuk, ia menyilangkan tangan di dada dan memasang tampang angkuh. Pandangan yang kian mengelam ia palingkan ke arah tembok, saking tak sudi menatap para gadis tersebut.

__ADS_1


Seketika para gadis itu membubarkan diri dengan wajah takut, berharap Elang tak mengingat wajah mereka dan tak membuat perhitungan karena ia merasa dihina.


“Ih, jijik. Elang kachar bingit.” Gentra dengan tubuh bulatnya berlenggak-lenggok bak wanita jejadian Taman Lawang. Ia mendelik genit lalu beranjak mengejar para gadis yang kocar-kacir karena ucapan Elang.


“Woy cendol dawet! Tungguin gua!” Adi bergegas menyusul Gentra. Tinggallah kini Tri dan Elang, hanya berdua di kelas kosong melompong.


Elang tersentak ketika melihat Tri tiba-tiba terkikik sambil membungkuk. Bahunya bergetar hebat dengan sebelah tangan menutupi wajah. Beberapa kali ia nampak hendak bicara, namun urung karena tak kuasa menahan tawa.


“Lang. ***** lo lucu banget, plis kendaliin diri lo. Haha.” Tri masih berusaha meredakan tawa,


“Ini yang pertama ya Lang? Sampai meledak ledak gitu. Parah lo!”


“Tri, sumpah gua gak ngerti.” Elang meringis melihat Tri menarik napas panjang untuk mulai fokus. Walau ia masih berusaha keras menahan tawa.


“Jujur sama gua, ini yang pertama kan?”


“Pertama apaan sih, Tri?”


“Emosi lo mendadak gak karuan beberapa waktu ini, dan itu bukan Elang banget. Lo itu meski temperamen tapi biasanya rapi lho soal hajar menghajar. Lo lagi jatuh cinta kan?” terka Tri. Elang tersenyum sinis lantas menggelengkan kepala.


“Lea.” satu kata dari Tri membuat Elang terkesiap dengan mata membola, “Lea itu cewek pertama yang buat lo jatuh cinta, ya kan?”


Elang memutar bola mata, kembali menyunggingkan senyum sinis seraya menggeleng. Namun Tri jelas menangkap kedua manik mata lelaki es itu bergetar. Elang sedang gugup, tak lain karena ucapannya.


“Tri lo tahu sendiri kan kalo gua ga...”


“Lo gak gay, lo itu normal. Gak apa, ini semua wajar. Jadi jangan panik, oke?” goda Tri seraya menepuk pundak Elang beberapa kali,


“Kalo lo butuh nasehat atau bantuan, gua siap kok. Apalagi dulu gua banyak tahu soal Lea dari Winda, si culun itu baik banget kok serius.”


“Bacot lo! Mana ada gua sama si culun sinting itu, gila kali.” Elang menepis tangan Tri, kemudian beranjak pergi,


“Lagian masalah cinta atau apa itu, gua sama sekali gak peduli.“


“Yah, mending lo gak usah jatuh cinta Lang. Biar gua gak kehilangan sahabat kayak orang-orang yang lebih milih pacar baru mereka. Tapi kalo lo emang cinta, gua dukung aja.” lirih Tri menatap kepergian Elang.

__ADS_1


֎


__ADS_2