
Lea beserta yang lain menyusuri koridor Rumah Sakit Dr. Slamet, mencari ruangan dimana Elang mendapatkan perawatan.
Berkat bantuan Gentra yang merupakan kerabat dari pemilik Rumah Sakit, mereka pun bisa mendapat ijin untuk menemui Elang malam-malam.
“Jika ketemu Mama Elang pasti dia akan mengusir kita.” Adi celingukan mengawasi keadaan sekitar.
“Makanya kita harus waspada.” timpal Gentra.
“Ini ruangannya.” Tri berhenti di depan salah satu kamar, pelan-pelan ia mendorong pintu kamar agar tak mengeluarkan suara sekecil apa pun.
Aroma obat-obatan tercium tatkala pintu kamar terbuka. Tri dan Gentra melirik kesana kemari, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Memastikan keadaan aman untuk semua masuk.
Memimpin yang lain mendekati satu ranjang dimana seseorang tengah tergolek lemah. Tak ada seorang pun berada dalam ruangan selain pasien tersebut.
Semua tak percaya melihat keadaan Elang. Seluruh tubuh penuh memar dengan beberapa bagian wajah membengkak. Infusan tersambung ke tangan kiri.
Setidaknya lelaki itu tak bernapas dengan alat bantu, jadi bisa diprediksi kalau keadaan Elang mungkin berangsur membaik.
Tetap saja, penampilan lelaki yang kerap memasang wajah sangar itu cukup memprihatinkan.
Kedua bola mata Tri mengembun melihat keadaan sahabatnya. Ingat setelah mendapat kabar dari Lea, ia langsung mengajak Tri dan Adi menyusul tempat yang biasa di datangi Eza. Tiada lain lahan kosong tak terpakai di belakang sekolah mereka.
Namun mereka terlambat, Elang sudah terkapar sendirian dengan bersimbah darah. Bisa diprediksi kalau Elang dikeroyok paling sedikit oleh sepuluh orang bersenjata tajam dan tumpul.
Penyerangan Elang bukan hanya membuat Tri dkk cemas, namun Eka juga langsung ketar-ketir mengerahkan pasukan untuk menyelidiki siapa saja pelaku pengeroyokan Elang.
Membuat Tri sibuk selama beberapa waktu memberikan informasi yang ia ketahui mengenai Eza dan komplotan Erik dari SMA seberang.
Winda dan Sarah mengapit tubuh Lea di kanan dan kiri, menuntun langkah lemah gadis itu untuk mendekati ranjang.
Tadi siang, mereka memperingatkan Lea agar berhati-hati pada Elang. Tapi sekarang keduanya justru melihat Elang yang terluka.
“Lang, ada Lea.” bisik Adi menepuk punggung tangan Elang yang bebas.
Lelaki di atas ranjang membuka mata, agak terkejut karena ia kedatangan banyak pengunjung.
“Kalian...” Elang berusaha bangun, namun ditahan Tri dan Adi.
Sebagai ganti, Tri memijit tombol di samping ranjang untuk sedikit menaikkan tempat tidur. Sarah dan Winda memberanikan diri menanyakan kabar Elang.
Seperti biasa, lelaki itu sangat irit bicara dan menjawab seadanya meski menyelipkan nada ramah.
Matanya lantas menatap tajam Lea yang melangkah sendirian mendekati ranjang sambil meremas ujung pakaian, “Wajah lo merah.”
“Lea sakit, Lang.” itu Gentra yang menjawab.
__ADS_1
“Lang, A-Aku sudah memintamu untuk tidak pergi tapi...”
Elang lekas menutupkan telunjuk ke bibir Lea, menghentikan kalimat gadis itu. Ia pindahkan telapak tangan untuk mengelus pipi gadis itu.
Menghantarkan getaran aneh ke dada Lea hingga gadis itu gemetar. Seulas senyum tesungging dari bibir bengkak Elang.
“Seenggaknya lo cuma demam, gak bonyok kayak gua.”
Perkataan Elang malah membuat Lea merasa bersalah, ia tak bisa mencegah lelaki bernama Eza itu untuk bertemu dengan Elang.
Terlalu sibuk dengan batinnya sendiri Lea tak menyadari kalau tangan Elang mulai menyusup ke helaian rambut gadis itu. Terus menjalar ke belakang hingga tengkuk.
Lantas dalam hitungan sepersekian detik, Elang menarik kasar kepala Lea ke arahnya dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Lea.
Gadis itu mematung tak berkedip. Bahkan ketika Elang membebaskan tangannya dan kembali membaringkan tubuh, Lea masih tetap dalam posisi menunduk kaku ke arah Elang.
“Lo gemesin banget sih kalo lagi gugup gitu.”
Bukan hanya Lea, melainkan semua orang di dalam sana dibuat terperangah. Sahabat Elang pun tak pernah mengira ia akan melakukan itu, memberikan tatapan hangat pada gadis lain selain Desi dan bahkan mencium pipi.
Tidak sekadar mengecup, itu benar-benar sebuah ciuman. Sarah dan Winda saling pandang tak mengerti dengan sikap Elang yang tiba-tiba.
“Dasar pencuri!” Lea memaki Elang, sekenanya memukul perut Elang sampai lelaki itu meringkuk di tempat tidur.
“Kiandra, perut gua baru saja dioperasi...” ringis Elang setengah tertawa sebab senang berhasil memberi satu ciuman di pipi gadisnya.
“Makanya jangan asal caplok, Lang. Udah tau Lea cemas banget sama kamu, ini malah digoda kayak gitu.” Tri menertawakan, begitu juga yang lain.
Suasana mendadak cair karena Lea masih saja salah tingkah dan terus meminta maaf.
“Oh iya, ada yang pengen gua tunjukkin.” Elang bangun dan berusaha turun dari tempat tidur.
Melihat Elang kesulitan, Lea memberanikan diri membantu. Gemetar melingkarkan tangan di lengan lelaki yang ternyata kekar tersebut. Adi pun tak tinggal diam, ia meraih kanting infus dan memeganginya di sebelah Elang.
“Lang lo mau kemana?” tanya Tri melihat Elang mulai melangkah ke luar kamar. Lelaki itu tak menyahut dan terus berjalan. Semua akhirnya hanya diam mengiringi langkah Elang menyusuri lorong.
Diam-diam Tri yang berada paling belakang mengulurkan tangan menyentuh jemari Winda.
Gadis itu terkejut dan melirik Tri, sedang si playboy cap kapal terbang hanya tersenyum seraya terus menuntun Winda.
Sahabat Lea itu melangkah di belakang Sarah sambil menunduk, menyembunyikan rona di pipi sebab masih menyimpan rasa pada Tri.
֎
Elang mendorong pintu suatu kamar rawat yang tak jauh dari tempat Elang dirawat. Lea mengerutkan dahi sebab menemukan Ririn berdiri di dalam ruangan.
__ADS_1
Gadis itu mendadak melepaskan tangan dari Elang dan menghampiri Ririn. Orang yang dihampiri Lea nampak terkejut sebab seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya.
“Arief.” pekik Lea tertahan mendapati seseorang terbaring tak berdaya di tempat tidur.
Ia menutup mulut ketika melihat wajah Arief sepucat mayat dan memejamkan mata. ia bernapas dengan menggunakan masker oksigen. Banyak sekali peralatan medis menempel di tubuh lelaki yang kini bertubuh ringkih itu.
“Arief, kamu kenapa?” Lea tak kuasa berdiri, ia berlutut di tepi tempat tidur.
Tangan gadis itu perlahan terulur untuk menyentuh jemari Arief. Dingin, namun sukses membuat air mata berlomba luruh dari kedua netra Lea.
Antara percaya dan tak percaya, Arief-nya yang baik hati dan ceria berada dalam keadaan demikian.
“Lea, tenang Lea...” Ririn segera memeluk gadis itu, membantunya agar berdiri.
Sarah dan Winda pun merangsek masuk tanpa bisa menahan tangisan. Teman-teman Elang turut terhenyak melihat keadaan lelaki itu.
“Kenapa Arief bisa begini, Kak? Kenapa?” raung Lea dipelukan Ririn.
“Arief sudah lama mengidap tumor otak, dia tempo hari menjalani operasi tapi hasilnya malah...” Ririn tak mampu melanjutkan kata-kata dan malah terisak.
“Koma.” sahut Elang menyandarkan tubuh ke dinding.
Lea menatap Elang dengan wajah sedih.
Lelaki itu memasang wajah datar dan mengangguk pelan, meyakinkan kalau yang ia ucapkan adalah benar.
Sarah dan Winda saling memeluk mendengar keadaan salah satu sahabat mereka. Semua tak pernah menduga kalau lelaki baik hati itu tengah mengidap sakit berat selama ini, bahkan Areif tak pernah terdengar mengeluh sedikit pun.
Gentra, Tri, dan Adi mengelilingi tempat tidur Arief. Mendo’akan dan memberi semagat pada Arief yang terbaring tak berdaya. Lalu memberi sedikit ruang pada Lea ketika Ririn membimbing gadis itu untuk duduk di sebuah kursi besi.
Lea menggenggam jemari dingin Arief, berharap dengan itu ia bisa sedikit memberi kehangatan. Menatap lekat wajah Arief yang tak kunjung membuka mata.
Lelaki itu nampak teramat sangat lelah, berbeda dengan saat mereka bertemu terakhir kali.
Wajah sendu Arief selalu mengisi mimpi-mimpi Lea setelah mereka pulang dari Pusat Kota. Masih terasa hingga kini jantung yang berdebar bahagia tatkala Arief mencium keningnya. Lalu seberapa hangat pelukan lelaki itu ditengah keheningan malam.
Saat itu, Lea merasakan Anggara sang kakak yang pernah sangat memanjakannya kembali hadir dalam rupa seorang Arief. Sungguh, tak bisa lagi digambarkan seberapa besar sayang Lea terhadap Arief.
Setelah kejadian itu juga, Arief bak ditelan bumi. Tak ada kabar sedikit pun, bahkan saat ajaran baru telah dimulai, Arief tak datang ke Sekolah. Siapa yang akan menduga ternyata ketidak hadiran Arief adalah karena ia koma di Rumah Sakit.
“Arief, apa pun yang kau inginkan akan aku penuhi. Tapi kau harus bangun. Segera.” Lea terus menciumi tangan Arief. Sarah dan Winda mengusapi punggung Lea yang tampak sangat terpukul.
Ririn menghampiri Elang yang masih berusaha menopang tubuh pada dinding ruangan, “Aku bilang jangan beri tahu Lea. Kau tak lihat seberapa sedihnya dia?”
Elang mengeraskan rahang lantas menatap tajam pada gadis yang setahun lebih tua darinya itu, “Kiandra berhak tahu.”
__ADS_1
“LEA!” semua orang berseru tatkala tubuh Lea oleng ke samping. Gadis itu tak sadarkan diri, untung saja Tri masih bisa menahan tubuh Lea sebelum jatuh ke lantai.
֎