
Hari-hari berlalu tanpa henti mau pun kembali. Lea berawal dari ‘nothing’ menjadi ‘something’ setelah acara pesta ulang tahun Reva.
Bukan positif, melainkan dampak negatif Lea terima. Ia banyak diperbincangkan, di jelek-jelakkan. Malah kerap difitnah yang tidak-tidak. Entah darimana datangnya, tersiar kabar kalau Lea bukan gadis baik-baik dan penjual kehormatan.
Meski ia persetan dan masa bodo, memasang muka tebal dengan bersikap ceria seperti biasa. Namun jauh di dalam sana ia tertekan.
Kadang menangis sendirian di toilet ketika cemoohan para siswi populer mulai diarahkan padanya. Beruntung Lea memiliki banyak teman baik.
Bukan hanya para sahabat, namun teman sekelas pun akan selalu berdiri untuk membela Lea.
Gaun yang dipakai Lea ke pesta juga ia titipkan ke Sarah untuk dikembalikan pada Elang, meski Lea sekelas dengannya. Gadis itu kapok berurusan dengan Elang setelah melihat hasil akhir yang tak pernah ia bayangkan.
Semakin hari melihat Lea, semakin besar rasa bersalah Elang. ia tak pernah mengira keinginan untuk dekat dengan gadis itu justru menjadi bumerang.
Parahnya, senjata itu bukan berbalik padanya, tapi malah menyakiti Lea. Kini, mereka bukan hanya tidak berteman. Namun sama-sama bersikap bak orang asing. Satu takut menyakiti, satu takut disakiti.
Elang tetap menjadi si pemarah dan kasar. Ia menyesal telah mendekati Lea setelah merasakan bagaimana gadis yang dicintai diam-diam itu makin membenci. Demi Lea, beberapa waktu ini ia mengurangi konsumsi terhadap alkohol.
Setelah segala hal buruk terjadi, lelaki itu malah makin menjadi. Pulang larut malam setelah sang Mama tidur dalam keadaan mabuk berat. Tak jarang sampai bolos sekolah keesokan harinya.
֎
Seiring berjalannya waktu, kehebohan antara Elang dan Lea pun mulai terlupakan. Sampailah mereka pada akhir semester satu. Selama empat hari penuh seluruh siswa menjalani ujian semester.
Hingga pada hari terakhir ujian, Pak setiawan tiba-tiba memanggil seluruh anggota Ekskul Seni Musik dan Ekskul Dance untuk berkumpul di Aula. Beliau mengabarkan jika Pak Wijawa selaku Kepala Sekolah merencanakan membentuk Ekstrakurikuler Marching Band dengan menggabungkan dua Ekskul tersebut.
Tidak serta merta menurut, usulan tersebut mengundang pro dan kontra dari kedua belah pihak. Sebagian anggota menyetujui, sedang sebagian lain menentang.
Suasana di Aula mendadak ribut tak terkendali, saling memberi pendapat tentang alasan mereka mendukung dan menolak. Pak Wijaya pun turun tangan menengahi, mengatakan kalau rencana ini telah ditanda tangani OSIS dan tinggal di sahkan saja.
Sebagian anggota bersorak senang, namun beberapa anggota memilih keluar dari Ekskul daripada harus digabungkan.
Salah satunya adalah Desi, ia lebih nyaman tetap berada di Ekskul Seni Musik Tradisional, ketimbang bergabung dengan Marching Band. Tentu itu alasan semata, sebab ia sebenarnya tak mau satu organisasi dengan Lea.
Mulya selaku Ketua OSIS menerima semua pendapat, mempersilakan yang ingin menundurkan diri untuk keluar dari Aula pertemuan tanpa rasa dendam. Saling meminta maaf antara anggota pendukung penggabungan dengan yang memutuskan keluar dari Ekskul dan mencari organisasi lain.
“Lea, kami tetap dukung kamu kok dari belakang.” ungkap Hilda dan beberapa teman penari yang memutuskan untuk mundur dengan alasan tak suka pada konsep Marching Band.
__ADS_1
“Yaaaah kita gak bisa lompat-lompat nge-cheers leaders bareng lagi dong. Tar tim basket Kak Paisal kesepian kalo gak ada kita.” Lea merengut sedih.
“Kak Paisal terus yang di urusin...” goda mereka, membuat Lea cengar-cengir. Mereka memang tahunya Paisal itu masih incaran Lea, tanpa tahu kalau ia adalah kekasih Ririn.
Setelah semua yang mundur meninggalkan Aula, musyawarah besar yang dihadiri seluruh anggota OSIS itu pun kembali dilanjutkan.
Berdasarkan pertimbangan semua pihak, mereka menunjuk Tri sebagai Ketua pada angkatan pertama dengan Lea sebagai wakil. Keduanya dipilih sebagai simbol dari penggabungan dua Ekskul tersebut.
“Aku menolak.” ketegasan Tri muncul di tengah pembahasan mengenai jajaran kepengurusan,
“Aku memilih Ayu sebagai wakil. Hal ini sudah aku pertimbangkan sejak rapat dimulai. Sedang Lea aku masukan ke jajaran pelatih, mengacu pada pengalaman pada bidang tari dan penguasaan gerak di lapangan.
Posisi Lea aku tempatkan di bawah Kak Irwan selaku pelatih utama, sejajar dengan Kak Reka dan Kak Ririn sebagai pengawas, dan berada di atas Ketua. Tapi itu berlaku hanya dalam struktur latihan saja. Pengambil keputusan tertinggi tetap berada di tanganku.”
Ririn yang awalnya bersikeras ingin menjadikan Lea wakil, mulai mempertimbangkan usulan Tri.
Bagaimana pun semua yang dikatakan Tri adalah benar. Sehingga semua menyetujui hal tersebut. Irwan sebagai pelatih luar tak boleh ikut campur, ia hanya bisa manggut-manggut kepala.
“Tunggu, di awal kita sudah sepakat, jika ketua setiap Divisi adalah laki-laki.” Adi yang terpilih sebagai Kepala Divisi Humas angkat bicara.
“Tentu Lea juga akan jadi wakil.” sahut Tri, ia lantas menengok ke samping kanannya seraya mengedipkan sebelah mata pada,
Elang yang sejak tadi hanya diam di sebelah Tri langsung tersedak ludah tatkala disebut-sebut. Ia memandang Tri dengan geram, lantas mengedarkan pandangan pada semua yang kini memperhatikannya.
“Hm hm hm.” Gentra dan Adi mengangguk tak karuan menatap Tri. Alasan tri yang ia utarakan tadi ternyata memiliki maksud terselubung, dan kedua orang itu justru mendukung.
“Aku tidak bersedia. Maaf.” ucap Elang dengan wajah datar, “Aku memilih jadi anggota biasa.”
Ririn lantas mengacungkan tangan, “Aku sebagai Wakil Pengawas juga menolak usulan tersebut, dan menjatuhkan pilihan pada Gentra untuk menjadi Wakil Ketua.”
“Aku sebagai Pengawas, setuju pada usulan Tri.” Reka angkat bicara,
“Selama ini Erlangga bertanggung jawab atas pelatihan Ekskul Musik, sehingga jabatan pelatih Marching band tentu bukan hal aneh lagi baginya.”
Suasana diskusi semakin tegang, kedua Pengawas malah berseteru. Ririn dan Reka saling adu pendapat. Irwan turut angkat bicara menguatkan pendapat Reka.
Meski menghadapi Irwan sang pelatih utama dan atasannya Reka, namun Ririn tak segan membantah dan mempertahankan pendapat.
__ADS_1
Tapi apa daya, ternyata Irwan punya sejuta kata-kata untuk membungkam Ririn. Sehingga pada akhir diskusi mereka menyetujui memasangkan Elang dan Lea sebagai pasangan pelatih Ekskul baru tersebut dengan posisi yang telah Tri tempatkan dalam strktur organisasi.
Setelah semua bagian tersusun, acara pelantikkan dimulai. Bersamaan dengan terbenamnya matahari masing-masing penanggung jawab mesti duduk berdampingan dengan wakil. Berderet di belakang Tri dan Ayu yang jabatan mereka akan segera disahkan oleh Kepala Sekolah.
Elang nampak gelisah harus duduk berdampingan dengan Lea, menggeser kursi sejauh yang ia bisa dari Lea.Menghembuskan napas keras beberapa kali, membuat Lea cukup terganggu dengan hal itu.
Sementara itu Lea walau ia tak nyaman berdampingan dengan Elang, masih bisa duduk dengan tenang sepanjang acara pelantikkan.
“Baik, latihan pertama akan dimulai bertepatan dengan hari pertama kalian masuk semester dua.” pungkas Pak Wijaya,
“Selamat menikmati liburan kalian.”
Pidato penutup dari Kepala Sekolah diakhiri dengan tepuk tangan meriah. Para anggota OSIS memberikan selamat kepada setiap orang yang diberi tanggung jawab sebagai pengurus.
Semua saling bersalaman untuk memulai kerja sama mereka. OSIS sementara harus mendampingi dan mengawasi perkembangan Ekskul baru tersebut agar bisa bergerak sesuai harapan semua orang.
֎
“Lea.” Ririn menyamakan langkah dengan Lea saat keluar Aula.
“Kamu pulang diantar Arief?”
“Iya, Kak. Gak apa-apa kan?” tanya Lea. Elang yang sejak tadi berada di belakang mereka tiba-tiba tertarik menguping pembicaraan keduanya.
“Enggak dong, malah bagus kamu ada yang antar. Hari sudah malam juga.” Ririn lalu menunjuk ke satu arah.
“Tuh anaknya udah nunggu di Gerbang.”
Lea melihat Arief melambaikan tangan dari atas motor, Ririn mengantarkan gadis itu pada Arief sampai mereka pergi.
Saat motor Arief tak lagi terlihat, tangan Ririn tiba-tiba menyambar ransel Elang yang berjalan melewatinya. Elang pun berhenti, memandang Ririn tanpa ekspresi.
“Awas kalau kamu berusaha mendekati Lea.” ancam Ririn.
Elang mengibaskan tangan Ririn dan berlalu begitu saja tanpa berniat memberi jawaban. Sudah terlalu penat dengan keputusan Tri.
Elang selama ini mati-matian menjauhi Lea, namun sahabatnya malah mempersatukan mereka dalam Divisi. Semua orang turut mendukung pula.
__ADS_1
֎