
Semakin lama, Lea tahu kemana Elang membawanya. Satu Ruangan penuh alat musik tradisional, ada Gong, Calung, Angklung, Suling, Kolintang, dan yang lain-lain. Itu jelas ruang Ekskul Seni musik.
Tanpa belas kasihan, Elang menghempaskan Lea ke sebuah kursi kayu mirip kursi saat Sekolah Dasar dulu. Lea mengusap sambil meniupi pergelangan tangan, bekas cekalan Elang benar-benar terasa sakit.
Pergelangan tangan Lea sampai merah hampir menghitam, ia masih mengawasi Elang ketika lelaki itu membuka jaket, menaruh benda tersebut ke meja kecil di depan Lea.
“Eh, eh. Mau ngapain kamu?” Lea refleks menjulurkan tangan, memberi jarak sejauh mungkin antara ia dengan Elang. Lelaki itu mendongak menatap Lea lantas menyeringai.
“Lo pikir gua nafsu sama lo? Dasar otak mesum!” cibirnya mengunci pintu, ia lantas duduk pada kursi seberang meja agar berhadapan dengan Lea,
“Gua pengen bicarain sesuatu sama lo. Penting!”
Mesum? Maksudnya apa? Aku hanya takut dia memukulku. Lea duduk dengan tegap, Elang berkata ingin bicara kan? Maka ia berusaha meyakinkan diri kalau Elang takkan menyakitinya, untuk hari ini.
Sebenarnya tanpa penekanan pun, kata ‘penting’ itu sudah tergambar jelas pada jidat Elang. Tentu karena ia memang tak pernah mau bicara pada perempuan kecuali benar-benar mendesak.
Lea masih memperhatikan gerak-gerik Elang, ia menautkan kedua tangan di atas meja. Sepasang iris gelap itu menatap si gadis dari balik bulu mata, alis tebal membuat pandangan Elang makin tajam seolah hendak memakan Lea bulat-bulat.
Kembali Lea dibuat kaku, satu-satunya hal yang bisa ia gerakkan adalah kerongkongan saat ia menelan ludah berkali-kali. Kembali terjebak dalam kengerian dari aura setan milik Elang, mungkin ia telah salah sangka. Elang bisa jadi masih menaruh dendam atas masalah sampah tempo hari.
“Ken-Kenapa harus dikunci pintunya?” Lea menggulirkan atensi pada pintu, tak ingin lebih lama terjebak dalam tatapan Elang.
Suaranya tercekat ketika berbicara, benar-benar sumbang. Bukan menjawab pertanyaan Lea, Ealng malah mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah buku bersampul cokelat. Ia menggeser jaket dan membuka buku tersebut di atas meja.
“Ingatkah tulisan ini?” Elang menunjuk tulisan tangan dalam buku. Lea menunduk melihat arah telunjuk Elang, ia seketika teringat akan sesuatu.
Tangan Lea dengan terampil merogoh sebuah buku dari dalam tas, buku misterius yang pernah menyelamatkan ia dari amukan Bu Rahma. Lea simpan dengan apik benda tersebut dan ia beri stiker dengan tulisan ‘superhero’. Lantas ia buka dan bandingkan tulisan dari kedua buku. Seperti orang dungu mengerjap tak percaya.
Kedua buku itu sama persis. Mulai dari sampul hingga bentuk tulisan, semua sungguh mirip seperti milik Elang.
Lea memandang Elang dengan berjuta pertanyaan. Ketakutan lenyap seketika, beraganti dengan banyak sekali kata tanya yang ingin ia ajukan.
Salah satunya adalah mengapa Elang sampai repot menyalinkan tugas Matematika sementara interaksi mereka sebagai teman pun tak ada sama sekali.
Ini adalah kali pertama Elang bicara dengan benar pada Lea. Gadis itu tertohok, mengerjapkan mata beberapa kali. Terasa mimpi bahwa sang penolong adalah seorang Elang.
Semakin menumpuk pertanyaan pada Elang dalam otak Lea, malah membuat lidah makin kelu. Elang pun tak kunjung memberi jawaban atas semua pertanyaan yang ia lontarkan dalam benaknya.
Lelaki itu justru mengembuskan napas keras beberapa kali, lantas bangkit untuk membuka kuncian pintu. Membuka daun pintu lebar-lebar agar udara pagi bisa masuk dengan bebas.
“Langsung saja, gua udah tak tahan lama-lama sama lo.” gumamnya duduk kembali di seberang Lea.
__ADS_1
“K-kau yang sibuk sendiri, aku diam saja sejak tadi. Lagi pula jika tak tahan bukan salahku, kau sendiri yang menyeretku kesini. Aku tak pernah memintamu nyaman saat dekat denganku.”
Kebingungan Lea berubah sedikit kesal kala mendengar ucapan Elang. Ia masih takut tapi juga agak marah. Tanpa sadar ia terus mengusapi pergelangan tangannya yang mulai terasa ngilu.
Elang tertegun, ia membulatkan mata dan menatap Lea dengan rona terkejut saat tatapan sepasang polos Lea kembali menyergapnya.
Tiba-tiba ia diliputi rasa bersalah karena membuat pergelangan tangan gadis itu memar. Lea itu gadis lemah, bisa-bisanya ia sampai tak sadar telah bertindak kasar,“Gak. Maksud gua bukan begitu.”
“Ya ampun, sori.” sesal Elang, benar-benar salah tingkah. Namun, lihat reaksi si gadis mungil. Ia menganga karena mendengar Elang minta maaf.
“Lo tahu kalau Ekskul Musik punya Band Inti?” pertanyaan Elang setelah ia mengembuskan napas beberapa kali membuat Lea seketika mingkem dan mengangguk,
“Vokalis band gua kena radang tenggorokkan. Lo sendiri tahu kan Gebyar Ekskul sebentar lagi, jadi gua ingin lo gantiin dia.”
Setelah lelaki itu berhasil mengendalikan diri, tatapnnya kembali mengintimidasi Lea. kalimat terakhir barusan pun malah terdengar seperti sebuah perintah. Karena ia bahkan tak minta tolong agar Lea membantu.
“Aku penari utama Ekskul Dance, dan apa yang kau katakan itu tak mungkin aku lakukan.” berharap cemas Lea menanti reaksi Elang, memikirkan langkah yang paling cepat untuk ia mencapai pintu andai Elang mulai menyerang atau mengamuk tak terkendali karena penolakan barusan.
Perlahan tapi pasti, lelaki bermata tajam itu mencondongkan tubuh ke depan. Sepenuhnya membuat berat badan bertumpu pada kedua sikut. Kepala setengah menunduk namun masih intens menatap Lea. Beberapa kali melirik kekiri dan ke kanan seolah memastikan sesuatu, sesaat kemudian ia kembali fokus pada Lea.
Lea lagi-lagi mengerjap polos. Elang bicara lembut, Elang minta tolong, dan tatapan Elang begitu hangat. Ini gila, Lea sudah kehilangan akal sehat dalam sekejap ketika merasakan deru napas Elang menyapu wajahnya.
Selama ini ia memandang Elang sebagai seseorang dengan pribadi kasar, namun sekarang Lea tahu mengapa para gadis menggilai orang itu meski ia terkenal beringas.
Entah si empunya sadar atau tidak, yang jelas ia memiliki pesona luar biasa memabukkan. Tak aneh jika para siswi nekat melakukan berbagai cara untuk melakukan pendekatan pada Elang meski notabene orang itu membenci perempuan. Susah payah Lea menarik kesadaran ke alam nyata.
“Aku berhutang padamu.” Lea tiba-tiba teringat buku tugas di atas meja. Bahkan orang di depannya sampai rela melawan harga diri setinggi langit dengan meminta tolong pada Lea. Mungkin tak ada salahnya membantu,
“Tapi, kamu gak lagi ngemodus sama aku kan?”
Elang seketika tergelak mendengar pertanyaan Lea, melayangkan tatapan mengejek yang membuat si gadis cemberut seketika. Betapa gemasnya dia saat Lea bertanya demikian dengan wajah teramat polos.
Tentu saja, siapa yang tidak akan mencurigai Elang. Ketika selama ini mereka sama sekali tak pernah bertegur sapa, bahkan hampir tak saling kenal. Tiba-tiba Elang menolong Lea, lalu tak lama kemudian meminta tolong pada Lea.
Eh? Tunggu, Elang ketawa! Lea mendadak bengong melihat betapa manisnya lelaki dengan gingsul tersebut saat tertawa. Merasa diperhatikan, Elang terkesiap dan kembali memasang wajah datar.
“Jadwal lo latihan di Dance kan hari senin, rabu, dan sabtu. Maka kita latihan selasa, kamis, jum’at sama minggu.” Elang seolah sudah merencanakan hal itu sejak lama, ia sampai tahu benar jadwal latihan Lea.
__ADS_1
“Bagaimana kalau aku menolak?” Lea mencoba main-main. Sejak beberapa menit lalu ia merasa pembicaraan mereka jadi aneh, ia tiba-tiba sok akrab dengan Elang. Kalau tiba-taba Elang mengabaikan Lea maka gadis itu pasti akan sangat dongkol.
“Tinggal aduin ke Bu Rahma kalo lo udah ngeklaim buku gua. Semua bukti ada di gua kok.” jawab Elang enteng seraya menyandarkan punggung pada sandaran kursi, memasukkan kedua tangan ke kantong celana sambil menaikkan sebelah alis memandang Lea. Jelas sekali kalau dia sedang mengancam Lea.
Padahal gadis itu baru saja mendapat kepercayaan Bu Rahma, mana mungkin ia akan menggali kuburannya sendiri. Lea menyesal sekarang.
Curang itu enak, mudah dan tak perlu bekerja keras. Tapi, jika curang dengan bantuan Elang. Maka ia akan berakhir jadi orang paling putus asa di dunia, tak ada jalan keluar kecuali menuruti kehendak Elang.
“Kamu jebak aku?” kedua mata Lea bergetar, ingin menolak tapi tak mungkin. Sedang ia juga tak mau berurusan dengan Elang.
“Ayolah Kiandra, hanya empat hari. Senin kan kita tampil.” Elang untuk kedua kali mencondongkan tubuh dengan menampilkan tatapan memelas. Nada suaranya terdengar manja dan merayu. Tapi Lea tak ingin termakan, ia sudah tahu itu hanya jebakan.
Lea ingat punya hutang. Maka ia pun menghela napas, “Bai...”
“Ekhem!” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan. Elang bergegas menarik mundur tubuhnya dan duduk tegap di kursi. Lea melirik orang yang berdiri di ambang pintu. Ia Adi, dengan senyum jahilnya, namun wajah itu berubah terkejut tatkala melihat Elang,
“Anjir, Lang? Gua kira bukan lo. Sori banget, gua gak tahu kalo tuh cewek lagi lo pake.”
“Kurang ajar.” itu bukan Elang, melaikan Lea. Ia sangat benci kalimat yang dilontarkan Adi.
Satu Elang sudah cukup, ia tak ingin berurusan dengan teman lainnya. Maka ia kembali menggulirkan atensi terhadap Elang, lelaki itu masih saja menatap lekat Lea tanpa memperdulikan kehadiran Adi.
“Baiklah, aku akan berusaha semampuku.” pungkas Lea sembari berdiri dari kursi. Wajah Elang yang tadi sempat melembut, berubah datar. Lalu menegang. Tak lama kemudian semakin muram karena telah berhasil memanfaatkan keadaan meski itu bukan kenginannya.
“Kita mulai latihan hari ini kan?” Lea meremas kuat tali tas, memberanikan diri kembali bicara pada Elang.
Elang mengangguk, lantas turut berdiri. Memperjelas perbedaan tinggi badan ia dengan Lea. masih dengan wajah datar, lelaki itu menyampirkan tas di bahu dan mengambil jaket. Melempar kunci Ruang Musik pada Adi yang dengan mudah temannya tangkap. Bersamaan dengan itu bel masuk terdengar berbunyi nyaring.
Lea beringsut keluar dari Ruang Musik, setelah itu barulah Elang disusul dengan Adi yang mengunci ruangan terlebih dahulu. Lea melangkah cepat, gadis itu tak berhenti menghela napas karena termakan bisikan setan macam Elang.
Berandai-andai ia tak pernah ketinggalan buku PR dan Elang tak menolongnya. Lebih jauh ia menghayal tak bersekolah disana sehingga tak pernah menjumpai orang susah ditebak seperti Elang. Sebentar lembut sebentar kasar, sesaat kemudian menakutkan.
“Lang, lo udah sembuh dari Gay? Beneran sori, kalo lo belum sempat apa-apain tuh cewek!”
Adi tiada henti mengikuti langkah Elang di belakang Lea, meski Elang tak terdengar menanggapi. Membuat gadis itu benar-benar menggertakkan gigi diam-diam, haruskah ia berbalik dan menyumpal mulut Adi dengan sepatu? Kebetulan sekali ia belum mencucinya sejak seminggu lalu.
“Ingat Lea, mereka geng Elang. Kamu gak bisa ngapa-ngapain.” gumam Lea pada diri sendiri. Menahan diri agar tak memancing emosi para berandal sekolah tersebut.
“Minggir ah, lelet amat.” Elang menerobos bahu Lea hingga gadis itu hampir saja tersungkur.
Tak hanya Elang, Adi pun ikut-ikutan menyenggol tubuh oleng Lea hingga ia benar-benar berlutut di tanah dengan kedua telapak tangan menahan badan. Menatap nanar punggung Elang dan Adi yang semakin menjauh. Lea benar-benar tak mengerti Tuhan memasukkan ia ke dalam jerat setan seperti Elang.
__ADS_1
֎