
Bulan Ramadhan tiba. Baru dua kali latihan, Ekskul Marching Band sudah menghentikan aktivitas latihan dan akan dimulai kembali setelah Hari Raya. Kegiatan belajar mengajar juga hanya berjalan selama tiga minggu pertama.
Meski bulan puasa, tapi gosip tentang kedekatan Lea dan Elang terus saja menyebar dari mulut ke mulut. Lea lagi-lagi mendapat tatapan aneh dari beberapa gadis populer di sekolah.
Rizal mendadak jadi pendiam. Bahkan saat tak sengaja berpapasan dengan Lea, lelaki itu mengabaikan seolah tak pernah mengenal Lea.
Satu keuntungan besar karena si gadis tak lagi mendapat gangguan dari anak badung tersebut, satu dampak positif dari sekian hal negatif yang menimpa Lea. Tak sebading dengan fitnahan mengenai dia dari Desi.
Pernah sekali waktu fitnah itu menyebar sebab Lea tampak dibonceng Elang kemudian waktu berikutnya oleh Irwan.
Gadis itu tak pernah berniat menjadi murahan seperti yang dituduhkan, karena ia pun tak pernah melakukan hal merugikan bagi diri sendiri mau pun orang lain.
Selain masalah Arief, tak ada yang membuat ia begitu sedih hingga menitikkan air mata. sehingga masalah seperti itu masih biasa ia tangkal dengan senyuman konyolnya meski gadis lugu itu kadang mengeluh pada Sarah dan Winda.
Mengenai masalah Arief, Elang tak pernah absen mengunjunginya. Lea baru mengetahu satu hal baru mengenai mereka. Ternyata meski Ririn dan Elang tak pernah bisa akur. Namun ketika terjadi sesuatu pada Arief, maka Elang selalu menjadi orang pertama yang datang membantu.
֎
Sebagai penutup kegiatan belajar mengajar, OSIS merencanakan buka bersama dengan semua pengurus Ekskul SMA Garut. Sekalian silaturahmi dan Halal bi Halal, juga sebagai perkenalan resmi antara Marching Band dengan Ekskul yang lain.
Semua yang masuk dalam kepanitiaan kecil buka bersama ini begitu sibuk. Sebagian memasak, menata tempat, menyiapkan sound system, dan lain-lain.
Lea tak masuk dalam kepanitiaan, sehingga ia terus menemani Irwan si ‘orang luar’ karena lelaki itu tak ingin terasing. Sekaligus menghibur Irwan sebab masih patah hati karena sepanjang persiapan hanya menonton kemesraan Paisal dan Ririn.
Bukan salah Lea selama setahun ini ia mengharap Paisal, sebab menurut teman-teman di Ekskul Pramuka mereka memang backstreet sejak awal.
Karena dirasa akan segera lulus saja akhirnya mereka bisa seterbuka itu menunjukkan hubungan.
“Panas gak?” Irwan mencebik melihat Paisal dan Ririn membuat es campur sambil tertawa bersama.
“Em, panas kok.” Lea mengangguk mantap. Irwan menoleh, seketika cemberut melihat Lea yang senyam senyum melihat kekonyolan Tri dan Mulya memainkan taplak meja.
“Ah, kamu ini. Panas apanya? Gak meyakinkan banget.”
“Cuacanya kan?” tanya Lea polos, “Untung banget gak hujan, acara kita kan di lapang.”
“Ya... ya... ya... Kau benar!” Irwan makin kesal.
“Lang udah! Ini gelas plastik juga!” terdengar bentakkan keras Gentra, membuat Irwan dan Lea tersentak. Mereka tak sadar ternyata di dekat meja penyimpanan alat makan terdapat kerumunan. Bergegas Irwan dan Lea mendekat.
Nampak Elang sedang mengamuk dengan lepas kontrol, beberapa orang—sebagian Lea kenal dan sebagian lain tidak karena dari Ekskul lain—berusaha menenangkan Elang. Namun lelaki itu terus saja memaki seorang gadis yang sudah terisak di hadapannya.
“Makanya, yang bener dong. Kalo gak becus duduk aja!” bentak Elang.
“Maaf...” cicit Nisa tak berani mengangkat kepala.
__ADS_1
“Tuh si Nisa tadi mau bantu Elang nyusun gelas, eh malah dia senggol semua sampai berantakkan. Lo tolong tenangin Elang ya?” pinta Tri dengan wajah memelas.
“Mana bisa? Yang ada aku malah kena pukul.” Lea bergidik. Dia benar-benar takut kalau Elang sedang marah.
“Please, Elang gak mungkin mukul lo. Makanya gua minta tolong sama lo.”
Gadis itu menggeleng ribut, jangankan untuk menenangkan. Menghadapi Elang yang marah pun sudah membuat ia gemetar. Tapi Tri begitu tak mengerti, ia mendorong tubuh Lea dengan kencang hingga gadis itu menabrak tubuh Nisa.
“Eeeh, Nis. Duh maaf.” Lea sibuk sendiri sementara gadis itu masih saja terisak, “Nis udah gak apa. Kamu ke pinggir aja.”
Gadis itu memandang Lea dengan mata sembab, lalu melirik Elang yang masih melayangkan tatapan tajam padanya. Ia menunduk lagi.
“Ngapain lo ikut campur? PERGI!” bentak Elang dengan nada yang mampu membekukan segalanya.
Lea yang berada diantara Elang dan Nisa mendadak gusar. Gadis di depannya ketakutan, jaka di belakang menakutkan. Lantas Lea harus apa? Meminta Nisa pergi, gadis itu malah mematung saking takut pada Elang.
Setelah berpikir singkat dengan akal pendeknya, Lea berbalik menghadap Elang. Susah payah menarik lelaki itu menjauhi keramaian.
Mendadak semua membubarkan diri karena si wajah es telah ditangani sang pawang. Beberapa teman juga mulai mendekat ke Nisa untuk menenangkan gadis itu.
“Sebenarnya apa masalahmu sampai kelewatan begitu pada Nisa?” Lea menghempas tangan lelaki itu sedikit kasar. Mondar mandir berusaha menenangkan jantungnya agar siap mendengar debatan Elang,
“Astaga, aku melihat setan yang kesetanan di sore hari.”
Lelaki itu terdiam menatap Lea, napasnya terengah-engah menahan amarah. Memijat cuping hidung dengan jari, kebiasaan Elang setiap kali ia berusaha meredakan amarah yang meledak-ledak.
Tak kunjung mendapat jawaban, Lea pun mulai tak sabar. Refleks ia menarik hidung Elang hingga lelaki itu berteriak kesakitan. Tak menghilang, kemarahan Elang justru memperbesar kekesalan.
Apalagi sekarang ditambah sakit teramat sangat pada hidungnya. Beberapa yang tak sengaja melihat kejadian barusan tertawa diam-diam di belakang mereka.
Astaga apa yang aku lakukan? Ih tangan ini. Lea mengutuk perbuatannya. Melihat Elang dengan sebelah mata, laki-laki itu menunduk sambil mengepalkan kedua tangan. Membuat suasana mendadak ngeri.
“Lo! Udah cuma duduk doang seharian sama Kak Irwan, ganggu urusan gua, dan sekarang lo bikin gua gini?” sembur Elang menunjuk wajah Lea penuh kemarahan. Hidungnya masih cenat-cenut akibat ulah Lea.
“Ngapain lo disini? Terus aja lo dempet-dempetan sama cowok yang namanya Irwan. Pergi sana!” Elang mendorong bahu Lea, hingga gadis itu terduduk di tanah dan hampir menangis saking takutnya.
“Lang! Lo itu cemburu liat Lea sama Kak Irwan? Ya ampun.” Tri tiba-tiba datang. Ia tak mengira kalau Elang juga bisa kasar pada gadis utusannya.
Elang memalingkan wajah seraya mengeraskan rahang, dada lelaki itu naik turun tak karuan.
Lea bangun, menepuk kedua telapak tangannya yang kotor lalu melangkah mendekati Elang. Sebenarnya jika sudah kelewat takut, pikiran gadis itu sering tiba-tiba macet dan mendengarkan ucapan tanpa disaring dulu.
“Elang, kamu cemburu? Ih kok kayak pacar-pacaran aja pake cemburu segala.”
“Siapa yang cemburu? Enak aja?” tukas Elang mengempas napas keras.
__ADS_1
Kemarahannya luruh seketika melihat bagaimana gadis itu kembali melayangkan tatapan polos. Lihatlah, bagaimana Elang begitu lemah pada Lea jika sudah seperti itu.
“Tri emang Elang itu sangat butuh perhatian ya? Sampai aku nemenin orang lain aja dia cemburu?”
“Banget Lea. Asal lo tahu, Elang itu aslinya manja. Dia suka kesel kalo liat lo deket sama cowok lain.” Tri mengompori, makin menyesatkan pikiran tak jelas gadis itu.
“Diem lo Tri!” bentak Elang, si penghasut malah cekikikan. Ia makin tertawa melihat Lea menghampiri Elang, dengan lembut gadis itu menggenggam tangan Elang.
“Kamu gak usah cemburu, kalian sama-sama temen aku kok. Jadi gak perlu merasa ditinggalin. Udah ya, jangan cemburu lagi.” bujuk Lea membuat tawa Tri meledak.
“Aahaha, lo punya penyakit narsis akut ya Kiandra?” Elang terkekeh mengejek mengempas keras tangan Lea.
Gadis itu nampak kebingungan menatap Tri dan Elang bersamaan. Satu terbahak, satu masih marah. Lea menunduk memainkan jemari, berpikir keras mencerna apa yang sedang terjadi.
Tiba-tiba saja lengan kiri Lea dicengkram kuat oleh Elang, “Iya gua cemburu! Gua udah pernah bilang kalo gua cemburuan, Kiandra. Jadi lo jangan mancing emosi gua dengan deket-deketan sama cowok lain. Gua gak suka.”
“Maaf.” cicit Lea.
“Lang lo itu cowoknya juga bukan, jangan gitu lah. Lo gak tahu kan Lea difitnah kayak apa sama sepupu lo?” Tri mendadak serius, melepaskan lengan Lea dari Elang.
“Gua tau! Makanya, mulai sekarang lo cukup terus sama gua aja.” suara Elang merendah. Untuk beberapa saat ia masih menjatuhkan pandangan pada Lea.
Gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah. Meski tak mengerti mengapa Elang bersikap demikian, namun ia yakin kalau maksud Elang baik.
Tri memandang Elang begitu lama. Setelah dipertimbangkan, ucapan Elang ada benarnya. Lea itu gadis lugu, bisa dekat siapa saja selama ia menganggap orang itu baik tanpa memperhatikan pandangan orang.
Beberapa waktu ini Lea memang dekat dengan Elang, namun ia juga dekat dengan Irwan. Makanya muncul gosip tak jelas. Jika terus berlanjut bisa-bisa Lea bakal nempel pada siapa saja, mending kalau orang itu baik. Kalau berniat jahat kan sudah pasti Lea semakin dirugikan.
Jika dengan Elang, meski lelaki itu agak memaksa tapi itu adalah cara paling benar untuk melindungi Lea dari orang tak baik di luar sana.
Tri pun akhirnya mengerti mengapa Arief selalu siap untuk Lea, kecemasan lelaki itu pasti kurang lebih sama dengan kekhawatiran Elang saat ini.
Tri jadi semakin salut pada Elang, tak di duga lelaki bertemperamen buruk tersebut bisa berpikir jauh untuk Lea. Bukan sekadar cemburu buta.
Tapi salah juga jika Elang memilih Nisa untuk jadi pelampiasan amarah karena tak suka Lea dekat dengan Irwan. Nisa yang malang.
“Udah, yuk kesana. Bentar lagi buka loh.” Tri menyentuh bahu Lea dan Elang bersamaan,
“Lang minta maaf gih sama Nisa, lo udah batalin puasa anak orang coba.”
Lelaki itu mengangguk. Ketiganya kembali ke tempat acara dalam diam. Lea berjalan di belakang Tri dan Elang. Memeluk diri sendiri, menghangatkan tubuh yang tiba-tiba merinding.
Ia diminta terus bersama Elang, akankah ia harus terus menyaksikan hubungan aneh antara Elang dan keempat anteknya? Sebentar bertengkar, sebentar akur. Sikap Elang pun selalu berubah dalam beberapa detik.
“Lang, Lea itu kadang keliatan smart banget. Tapi kadang **** banget ya?” bisik Tri.
__ADS_1
“Makanya...” decak Elang dilanjutkan helaan napas.
֎