Melodia Hujan

Melodia Hujan
8. LATIHAN PERDANA


__ADS_3

Lea setengah berlari menuju Ruang Musik, itu karena sepulang sekolah Ririn tiba-tiba mengajak kumpul. Membuat ia harus menunda pergi memenuhi janji pada Elang, dan mengutamakan Ekskul-nya dulu. Kebetulan juga ia ingin membicarakan perihal ‘selingkuh’ yang dilakukan Lea.


“Kakak serius gak marah aku ngeduain Ekskul kita?” Lea sekali lagi memastikan saat mendengar Ririn begitu saja menyetujui keputusan Lea untuk membantu Ekskul Musik.


Ririn yang sedang merapikan berkas menghela napas panjang, “Selama kamu masih bisa bertanggung jawab penuh, dan bisa jaga kesehatan biar nanti pas nari fit. Kakak gak masalah kok, kan itu juga sudah jadi keputusan kamu. Hanya saja...”


“Hanya saja kenapa, Kak?” Lea memegangi lengan Ririn yang nampak menerawang.


“Kau sudah aku anggap adikku sendiri, aku sedikit tak tenang melepasmu dekat dengan Elang. Kau mungkin sekelas dengannya, tapi aku yang tahu benar orang seperti apa dia.”


Ririn merangkul Lea sambil berjalan keluar Aula, “Satu pesanku, hati-hatilah padanya. Mau kamu suka atau benci sama dia, selalu ingat untuk tetap jaga jarak. Kau itu terlalu polos untuk orang licik seperti Elang.”


“Kakak jangan nakutin dong.” Lea merengut, ia jadi paranoid mengingat sikap Elang yang memang bisa berubah dalam sekejap.


Ririn terkekeh sambil mencubit pipi Lea, kemudian berlalu meninggalkan anak buah kesayangannya. Membiarkan Lea berbelok sendiri menuju arah Ruang Musik.


Sebenarnya Lea juga malas untuk datang ke Ruang Musik, terlebih setelah mendengar perkataan Ririn. Hanya saja tak terbayangkan bagaimana kemarahan Elang kalau sampai ia mengingkari janji yang telah disepakati. Bisa-bisa eksekusi untuk menjadikan ia samsak tinju Elang akan terlaksana. Membayangkannya saja sudah membuat Lea bergidig ngeri.


Lea mempercepat langkah dengan sedikit berlari mengingat Elang. Saking tergesa, ia sampai tak memperhatikan jalan. Membuat Lea bertabrakan dengan seseorang yang menyebabkan ia sendiri terjerembab ke tanah dengan sikut sebagai tumpuan.


“Aw!” pekik Lea merasakan perih pada sikut, “Kau ini kalau jalan liat-li...”


Gadis itu seketika menghentikan ucapan, dalam sepersekian detik mengubah roman wajah dari ekspresi kesal menjadi ramah serta memasang senyum termanis yang pernah ia miliki tatkala melihat orang yang ditabrak Lea masih berdiri tegap.


“Kau tak apa-apa?” ia mengulurkan tangan untuk membantu Lea berdiri.


Merasa tiba-tiba menjadi pemeran utama wanita dalam FTV, ia menyambut uluran tangan orang yang ditabraknya dengan mata berbinar. Melayang, nyawa Lea mendadak pergi dari tubuh ketika ia merasakan betapa ramping dan kekar jemari orang tersebut. Paisal, dengan pandangan cemas memperhatikan Lea.


“Maaf, Kak. Saya sunguh tak sengaja.” Lea menghalus-haluskan nada bicaranya.


Padahal dalam hati ia sedang besorak kegirangan karena tengah berpegangan dengan orang yang sudah lama ditaksir.


Lelaki itu tersenyum lembut, semakin membuat Lea overdosis. Namun senyum Paisal seketika luntur ketika matanya mendapati sikut Lea berdarah.


“Kita obati dulu.” Paisal membimbing Lea untuk duduk di teras, merogoh kotak P3K yang selalu tersedia dalam tas. Lea tak menyia-nyiakan kesempatan langka untuk melihat Paisal dari dekat. Matanya ditahan untuk tak berkedip barang sedetik.


“Nah, selesai.” Paisal berdiri. Lea tertegun menyadari sikutnya sudah terbalut kain kasa,


“Kamu Lea kan? Lain kali hati-hati ya.”


Lea mengangguk pelan, Paisal lantas beranjak pergi.


Gadis belia itu memandang punggung Paisal begitu lama sambil tersipu-sipu sendiri. Bom nuklir meledak dalam dada Lea saat ini mendengar Paisal mengetahui namanya. Jika dalam dunia dua dimensi, mungkin saat ini Lea tengah mimisan begitu deras.


“Paisal ganteng ya?” ucap sebuah suara berat dari samping Lea.

__ADS_1


Refleks Lea menyikut orang di sebelah dengan sikutnya yang terluka, ia memegangi kedua pipi sambil menggerakkan tubuh malu-malu kucing.


Lantas memukuli orang sebelah dengan pukulan ringan lagi gemas, tak lupa menekankan kening ke lengan orang itu untuk menyembunyikan wajah tersipu, “Ah, itu sudah jelas bisa kau lihat kan?”


“Oh ternyata sikutmu baik-baik saja.”


“Eh!” seketika Lea tersadar dan melirik orang di sebelah, betapa malunya dia sekarang.


Elang tengah melayangkan tatapan geram. Lea seketika mengatupkan bibir rapat-rapat dan berdiri tegak. Perlahan tapi pasti jemari Lea meraba naik untuk mememegangi perban di sikut.


“Aduh... Ini perih sekali. Su-sungguh, itu sebabnya aku terlambat.” Lea pura-pura meringis. Lelaki temperamental itu menggertakkan gigi dan lekas berbalik, berjalan cepat menuju Ruang Musik.


֎


Elang dan Lea disambut oleh seorang lelaki muda berpakaian nyentrik, mungkin seorang mahasiswa. Ia memperkenalkan diri sebagai Irwan, pelatih Ekskul Musik. Seorang alumni yang sangat mencintai musik, katanya.


Selain itu ada juga Reka. Lea tahu ia Kakak kelas mereka, tapi baru tahu kalau Reka adalah Ketua Ekskul Musik. karena selama ini orang paling menonjol dari Ekskul Musik adalah Elang.


Irwan meminta Elang dan Reka kembali ke Lapangan dan mengajak Lea ke Ruang band. Sebuah ruang kecil yang berada di ujung Ruang Musik.


“Hmm Kiandra?” tanya Irwan canggung.


“Lea.” ralat Lea.


“Tapi tadi Elang memperkenalkanmu sebag...”


“Aku Irwan, pelatih Ekskul Seni Musik. Maaf jika aku terpaksa meminjammu kesini.”


“Elang sudah pernah menggunakan kata meminjam sebelum ini.” dengus Lea.


“Maksudku, memintamu kesini. Elang masih harus latihan, jadi kita ngobrol dulu aja sebentar ya.” Irwan berusaha mencairkan suasana, tak mau membuat mood orang yang akan menolong mereka hancur.


Ia menceritakan sejarah Ekskul Seni Musik dan perannya selama ini sebagai pelatih, Irwan orang yang cukup terbuka. Ia mengisi waktu dengan menceritakan semua secara gamblang tanpa ditambah atau dikurang. Membuat Lea nyaman mengobrol dengan lelaki tersebut.


“Elang bilang, suaramu cocok dengan Desi.” Irwan mengubah topik pembicaraan.


“Aku tak tahu bagaimana Elang bisa berpikir untuk memintaku kemari, sementara aku tak pernah bernyanyi di depan orang selain kedua orang tua ku.” aku Lea. Ia digiring Irwan melihat para pemain musik tradisional berlatih di lapangan.


“Jangan salah, aku sangat mempercayai penilaian Elang. Jika ia bilang kau bisa, berarti kau memang bisa.” ucap Irwan dengan sorot mata penuh kekaguman menatap Elang yang tengah memberi arahan pada teman-temannya,


“Hmm tapi kupikir sepertinya kau belum kenal Elang dengan baik. Kita lihat, kelak semua pemikiran negatifmu tentang Elang pasti akan berubah.”


“Kami memang tak pernah berteman, Kak.” Lea tersenyum simpul.


Lea menikmati setengah hati bagaimana Ekskul Musik berlatih, kentara sekali Elang begitu diandalkan teman-temannya. Namun bagi Lea, ia tak mengharapkan kata kelak. Sebab, setelah hutang budi pada Elang terbayar, maka ia takkan sudi berurusan dengan Elang untuk kedua kali.

__ADS_1


֎


Sekitar jam tiga, latihan Ekskul Musik selesai dan seluruh anggota beranjak pulang. Elang, Tri, Gentra dan Adi menghampiri Irwan dan Lea yang masih berbincang di tepi lapang. Terlihat Elang begitu letih setelah bekerja keras melatih rekan-rekan, terbukti dengan keringat mengucur di sekujur tubuh.


“Lang, Kakak ada urusan. Gak apa-apa kan kalau kalian latihan sendiri?” Irwan berdiri diikuti Lea.


 


“Santai...” Elang mengacungkan jempol. Irwan beralih memandang Lea sambil tersenyum.


 


“Mohon bantuanya, Lea.” pungkas Irwan seramah mungkin, Lea mengangguk patuh.


Sepeninggal Irwan, Tri memperhatikan Elang dan Lea bergantian. Ia tak habis pikir kalau Elang benar-benar mengajak Lea. Ia memang sudah curiga, bukan pada Lea, melainkan pada sahabatnya.


Tri curiga jika Elang bukan seorang penyuka sesama jenis seperti yang pernah lelaki itu akui, terlebih lagi Lea adalah perempuan pertama selain Desi yang Elang biarkan mendekat.


Orang seperti apa si culun ini sebenarnya sampai bisa bikin Elang tertarik. Batin Tri.


֎


Setelah dua jam melatih rekannya, tanpa jeda Elang langsung mengajak Lea masuk ke satu ruangan kecil yang hanya berisi seperangkat alat band. Lea tadi sempat diajak Irwan masuk ke sana. Suasananya sedikit redup dan kedap suara, jika saja tidak ada AC mungkin saat mereka masuk kesana akan terasa sangat pengap.


“Oh iya, mulai saat ini gua serahin jabatan Ketua Tim sama Tri. Jangan tanya alasannya, gua pengen mundur aja dari status ini.” ucap Elang sebelum mereka latihan.


Adi dan Gentra bingung atas keputusan sepihak Elang, tapi mereka tak bisa bertanya. Dalam kalimat Elang sudah jelas kalau mereka tak boleh menanyakan apa pun.


Sementara Tri, ia semakin kuat meyakini kalau Elang tertarik pada Lea. penyerahan status Ketua itu pun sebagai bukti pengakuan Elang kalau ia sedang tak mampu bertindak profesional.


Sebagai formalitas, Elang memperkenalkan kembali secara singkat anggota band mereka. Lea menyebut teman-teman Elang sebagai komplotan. Karena ketiga orang itu selalu nampak bersama Elang setiap detik.


Tri memegang peranan membuat lagu dan memainkan alat musik Keyboard. Ia selalu membela Lea sepanjang latihan ketika Elang membentaknya habis-habisan karena salah memasukkan nada.


Kadang Lea melawan, membela diri dengan alasan ia tak pernah sungguh-sungguh belajar menyanyi. Namun semakin Lea membantah semakin keras Elang membentak.


Selain itu ada Adi sebagai gitaris bersama Elang, dan Gentra sendiri duduk di belakang drum. Posisi Lea yang berada di pusat terasa semakin aneh ketika ia harus latihan dengan orang-orang yang baru dikenalnya hari ini, sementara teman-teman Elang memperlakukan Lea seolah ia sudah lama menjadi bagian dari mereka.


Tak seperti f4 dalam drama Korea atau Taiwan, yang begitu anggun nan angkuh. Mereka berempat justru bisa dibilang absurd. Elang dan Tri siswa berprestasi, Gentra dan Adi terkenal karena usil. Namun keempatnya benar-benar aneh bin unik.


Selama latihan, Adi dan Gentra kerap memperolok. Elang terus-menerus menekan. Satu-satunya penyelamat Lea hanyalah Tri. Lelaki itu amat lihai membuat Lea nyaman dan memperlakukan anggota pengganti tersebut dengan sangar baik.


Tak heran, jika semua mantan Tri masih berharap. Karena Tri memang lembut dan penuh perhatian. Pelan-pelan menuntun Lea mengikuti partitur miliknya, menyelaraskan suara Lea dengan keyboard.


Sebenarnya Tri lega, Elang membawa Lea bukan sekadar menuruti perasaan pribadinya. Sepanjang latihan ia mengakui kalau pilihan Elang tak salah, meski tak terlatih secara khusus namun suara Lea semerdu Desi.

__ADS_1


Hanya sedikit lebih lembut saja. Namun jika saja Lea ikut berlatih vokal pada seorang profesional, sudah pasti akan terdengar sempurna.


֎


__ADS_2