
Lea berjalan beriringan masuk ke Sekolah ditemani Sarah dan Winda, langkahnya ragu tak berirama. Semalam ia bercerita pada Sarah dan Winda perihal mulai Elang kembali mendekatinya.
Lea khawatir kali ini ia akan jadi target buli para siswi populer. Sarah dan Winda juga mengatakan hal demikian. Para seleb sekolah itu pasti takkan rela idola mereka mulai dekat dengan seseorang. Apalagi seorang Lea, si ‘nothing’ tak punya prestasi apa-apa.
“Bener nih gak akan ada yang ngapa-ngapain aku? Padahal kan aku gak pacaran, hanya orang-orang mulai bergosip kalau kami pacaran.”
Lea melirik ke kiri dan ke kanan. Beberapa siswa memang meliriknya, tapi mereka hanya tersenyum dan mengangguk pada Lea.
“Tenang, Lea. Selama ada kita mereka gak bakalan ngelakuin apa pun padamu.” ucap Winda penuh semangat seolah melindungi Lea.
Lea tak seyakin itu, langkah ketiganya terhenti saat melihat bayangan dua siswi populer mendekati. Paras bak bidadari membuat beberapa lelaki menoleh ketika mereka lewat.
Banyak lelaki yang mendambakan mereka, setahu Lea. Hanya seperti kebanyakan seleb sekolah lainnya, mereka masih senang menyandang titel single. Tentu saja karena standar para gadis itu memang tinggi.
“Heh kismin!” Desi mencegat langkah Lea sambil berkacak pinggang, Reva yang berdiri disampingnya mendorong Sarah dan Winda agar menjauh dari Lea. Desi lantas menunjukkan ponsel ke wajah Lea. Terdapat gambar Lea yang di gendong Elang.
“Lo jangan sok keganjenan deh, dasar j*l*ng!”
“Hei, seenaknya aja kamu nyebut.” Lea menunjuk hidung Desi, tetiba gadis itu tersulut emosi dikatai hal tak mengenakan. Sesaat kemudian ia menyipitkan mata dengan suara merendah,
“Ngomong-ngomong, ngapain foto aku? Sengaja mau bikin rumor gak jelas tentang aku? Mau permalukan aku lagi?”
“Eh!” Reva maju. Mendorong bahu kanan Lea, “Foto ini udah kesebar dimana-mana kali. Gue juga gak tahu siapa yang pertama nyebarin. Tapi lo harus inget, lo itu gak pantes buat Elang!”
Sepertinya Lea sudah terlalu biasa menghadapi kekasaran Elang, sehingga nyali gadis itu tak ciut sama sekali menghadapi dua gadis pesolek tersebut. Ia memandang Reva dan Desi bergantian, lantas menarik bibir ke atas. Membentuk senyum sinis,
“Nyantai aja kali. Aku juga gak ada hubungan apa pun sama Elang.”
“E... Oh, I-iya deh.” raut wajah Reva tiba-tiba berubah pucat pasi. Desi pun heran dengan tingkah gadis di sebalahnya, “Makasih ya Lea udah maafin kita atas kejadian waktu itu.”
“Hah?” Lea melongo melihat Reva secepat kilat menarik Desi dari hadapannya.
Karena penasaran Lea, Sarah dan Winda pun menoleh ke belakang. Ternyata ada Elang dkk sedang melangkah menuju mereka. Mereka berempat hanya tersenyum sambil megangguk, kemudian berbelok ke arah kebun sekolah. Nongkrong santai di bawah pohon cengkeh tempat Elang berdiri, kini lelaki itu tak lagi sendirian mojok disana.
“Hmm harusnya kita inget gebetan siapa Lea ini.” Winda menaik turunkan kedua alis, Lea mengerutkan kening tak mengerti.
“Iya lah, mana ada orang berani macem-macem sama yang berada dibawah perlindungan Elang.” timpal Sarah.
“Kalian jangan ngehasut lho. Gimana kalau aku jadi geer sebab ngerasa Elang suka sama aku? Kan repot nantinya.” desis Lea mencubit pinggang mereka berdua.
“Emang selama ini kamu gak ngerasa kalau Elang suka sama kamu?” Sarah menyilangkan tangan di dada. Lea menggeleng keras, membuat kedua sahabatnya menghela napas. Sudahlah, Lea memang seperti itu. Memaklumi saja.
֎
Bunyi alat musik bertabuh, di lapangan sore itu. Masih kacau dan sekenanya. Ini latihan kedua, namun Lea dan Elang harus mulai melatih alat. Sedikit demi sedikit mereka mulai mengikuti ketukan kedua koordinator pelatih tersebut.
Elang memimpin di bagian perkusi atau tabuhan, dan Lea di alat tiup. Sementara Sisil membantu membagikan bendera untuk dua puluh orang penari terpilih, mengajarkan beberapa gerakkan dasar sebelum mereka selaraskan dengan musik nantinya.
__ADS_1
Untung saja ketika di Ekskul Dance Ririn mengajarkan banyak hal soal menari, sehingga mereka tak kesulitan. Tinggal empat atau lima orang anggota baru saja yang butuh bimbingan.
“Ellea!” sebutan Irwan pada Elang dan Lea, agar lebih mudah katanya. Kedua orang yang dipanggil menghampiri.
“Kalian pilih salah satu mau mainkan alat apa. Kan nanti kalau ada pentas kalian masih ikut juga.”
“Aku Color Guard dong.” sahut Lea cepat, yang ia maksud adalah para penari yang melakukan tarian dengan menggunakan bendera.
“Gak. Kakak pengen tunjukkan pada dunia kalau tubuh mungil juga mampu jadi Mayoret profesional.”
“Oh. Oke.” Lea mengangkat jempol ke depan wajah Irwan. Lelaki itu lantas menatap Elang.
“Kamu Bass Drum karena badanmu atletis dan bisa ngangkat yang gede.” ucap Irwan pada Elang yang membuat lelaki itu melengos seketika.
“Gak usah suruh pilih kalau gitu.” Elang masuk ke Ruang Alat, mencari alat musik yang paling besar diantara lainnya, “Tim perkusi udah masuk setengah lagu, jadi gua mau gabung aja sekarang.”
Tanpa menunggu persetujuan Irwan lelaki itu sudah melangkah ke lapang, dengan isyarat Lea masuk ke Ruang Alat dan mengambil bendera yang tersisa untuk memberi gerakkan pada Tim Color Guard. Lantas menyusul Elang.
“Masuk lagu apa?” tanya Lea pada Elang.
“Disco Lazy Time.”
“Lho? Pemain alat tiup belum masuk lagu.” Lea bingung, ia baru melatih menyempurnakan tanda nada saja sejak tadi. Elang mendelik, menaruh Bass Drum lalu pergi ke tepi lapangan untuk mengambil partitur.
“Adi!” teriaknya, lelaki yang sibuk meniup Terompet itu menghampiri, “Kita coba lagu ini, ajarikan pada yang lain.”
“Siap, Bos!” Adi pun langsung membagian partitur ke beberapa temannya, mereka mulai meraba. Satu persatu notasi di tiupnya dengan bantuan Adi.
Lea manggut-manggut saja. Sedikit takjub pada Elang karena ia masih bisa memperhatikan bagian selain perkusi saat melatih.
֎
“Kak, Kakak itu pacar Kak Elang ya?” tanya salah seorang anggota baru bernama Nisa pada Lea ketika mereka semua berkumpul di teras untuk makan. Lea yang baru membuka kotak bekal makan pun, menggeleng cepat.
“Enggak lah, dia temen Kakak... Baru-baru ini.”
“Iya, Elang itu julukannya Jomblo Abadi. Dulu dia anti cewek, gak tahu kenapa bisa tiba-tiba lengket sama ni anak.” Sisil menunjuk-nunjuk pipi Lea yang sudah menggembung karena penuh makanan.
“Anyak-anyak, kwitha udah punha adik. Akhu twuh kwak-kak.” sergah Lea tanpa menelan makanannya terlebih dahulu, membuat yang lain cekikikan.
“Kenapa, Nisa? Naksir sama Elang? Biasa kok...” Husna mengaduk-aduk makanan sambil tersenyum sambil menyuapkannya.
“Gak ih, siapa juga yang naksir.” kilah Nisa merona.
“Trus tadi maksudnya apa kamu bilang kakak itu ganteng, hayo.” seru Irma.
“Bener kata Kakak aku juga, dia super jomblo lho…” timpal Putri. Semuanya tertawa sambil terus menggoda Nisa.
__ADS_1
“Eh, Ayu mana?” tanya Sisil celingukan menyadari salah seorang senior tak bersama mereka.
“Dia kan sekarang Wakil Ketua, jadi diem di Ruang Alat. Makan sama Tri dan para pengawas gitu.” jawab Lea. Semua kembali bercanda sambil menyantap makanan.
“Kiandra Azalea!” tiba-tiba terdengar suara Elang dari arah lapangan. Membuat Lea menutup mulut karena masih penuh dengan nasi yang belum sempat ia kunyah, “Turun ke lapang!”
Setengah berlari gadis itu menghampiri Elang yang berdiri sambil menenteng kotak bekal. Ia belum makan, “Dari tadi aku lihat anak buahmu kurang memperhatikan instruksi. Lalu ribut saat makan. Ambil push up satu seri.”
Lea membelalakkan mata, ia cepat-cepat menelan makanannya. Namun sesaat kemudian ia menunduk sambil memukuli dada. Makanan yang berusaha ia telan tak kunjung turun ke perut dan tersangkut di tenggorokkan.
“Ben... ah.” Lea mulai kesulitan bernapas.
Elang mendengus seraya mendekatinya, tergesa membuka botol minum miliknya dan membantu gadis itu minum, “Kau ini, dasar bocah.”
“Huah... hah... hah... Ya ampun, kamu sih, aku lagi makan juga.” Lea terengah menyerahkan kembali botol minum. Elang masih menatapnya tajam, sehingga ia pun mengambil posisi push up.
Lea sangat kesal dibuatnya. Cuaca begitu terik, belum apa-apa keringat sudah menetes. Tanpa protes lagi ia langsung memulai hukuman, menghitung sendiri dengan suara lantang. Anggota lain sejenak berhenti makan dan mengasihani Lea.
“Sudah aku bilang, saat makan maka kalian diam. Duduk tenang sampai makanan habis. Bukan malah ribut!” teriak Elang, “Jadikan ini sebagai pelajaran.”
“Kak dari tadi saya ribut, jadi harusnya saya yang dihukum,” Nisa beranjak turun ke lapangan.
“Makananmu sudah habis?” Elang menaikkan sebelah alis.
“Be-belum.”
“Kiandra Azalea, tambah push up satu seri!” titah Elang tanpa menoleh pada Lea di sebelahnya.
Padahal gadis itu baru menyelesaikan tujuh hitungan. Sedikit geram dengan isyarat Lea meminta agar Nisa tetap di teras, lalu melanjutkan hukumannya.
“Hei,” Gentra bergerak diam-diam menghampiri Nisa.
“Lea Koordinator Lapangan. Benar atau tidak kita latihan adalah tanggung jawabnya, jika Lea lalai dalam tanggung jawab, maka yang kena teguran keras Kak Irwan justru Elang sebagai Ketua Pelatihan. Kak Irwan sudah mengatakan itu minggu lalu.”
Semua pun jadi paham dan teringatkan, kini mereka hanya bisa diam memperhatikan bagaimana Lea dihukum.
Elang tak melepaskan pandangan dari Lea sepanjang hukuman, ia memperhatikan bagaimana gadis itu susah payah menahan panas lapangan dengan kedua telapak tangan.
“Selesai.” Lea tersenyum puas menepuk-nepuk telapak tangan yang memerah.
“Maaf.” ucap Elang dan Lea bersamaan. Elang mengerutkan alis.
“Jam istirahat habis, dan kau belum makan.” ucap Lea terengah.
“Lo juga belum beres makan.” Elang tersenyum. Lalu sedikit mendekatkan kepala ke telinga Lea,
“Kita latihan setengah jam lagi. Abis pulang mau gak lo temenin gua makan di warteg depan? Bentar aja, sekalian ngadem. Pulangnya gua anterin.”
__ADS_1
“Hm. Boleh.” bisik Lea, tak enak di dengar yang lain karena mereka membicarakan urusan pribadi. Ia lalu kembali pada pasukannya dan mempersiapkan kembali latihan. Nisa, gadis itu terus saja meminta maaf meski Lea sama sekali tak marah.
֎