Melodia Hujan

Melodia Hujan
31. MAHENDRA


__ADS_3

“Assalammu’alaykum...” suara lelaki teramat sangat halus terdengar dari luar rumah.


Semua kompak menolehkan kepala ke teras depan.


Terdapat seorang lelaki yang bisa di bilang dewasa, tinggi, tegap dan tampan.


Ketika kakinya mulai melangkah memasuki rumah, aura wibawa muncul dari lelaki tersebut.


“Siang Paman, Bibi,” ia dengan sopan menyalami kedua orang tua Lea yang tak berkedip.


Sudah pasti mereka pun bingung sapa gerangan lelaki tampan rupawan tersebut.


Lelaki itu menyapa satu persatu kerabat, menyebut nama masing-masing dengan begitu lancar.


Tapi tanggapan semua sama, hening dan heran.


“Ya ampun, kalian ini melupakanku ya?” tanya lelaki itu saat ia tak kunjung mendapat respon, “Ini aku Mahendra, putra Mama Riska dan Papa Yohan.”


Ia menyebutkan nama Yohan, sepupu Ayah Lea yang berdada di Palembang.


“Masa? Iya gitu?” tanya Melani anak dari adik bungsu Hana dari Jakarta, “Dulu Uda Mahendra kan dekil. Kok sekarang ganteng gini? Terus katanya dari Palembang kan besok.”


“Lani, ini emang Uda,” ia mendengus kesal kemudian duduk di samping Melani.


Jika benar itu Mahendra, mereka hanya berbeda satu tahun, “Aku baru saja dipindah tugaskan mimpin penerbangan di Husain beberapa minggu lalu. Jadi aku bisa lebih dulu bertemu Paman dan Bibi, keluargaku tetap akan tiba esok hari.”


“Oh iya, Nak Hendra ini kan Pilot,” Ayah Lea seketika tersadarkan.


“Si mungil ini Lea kan?” ia menunjuk tepat sasaran.


Gadis itu mengangguk tenang.


Lelaki bernama Mahendra itu berlutut di depan Lea, tangannya dengan mudah mengucek rambut Lea yang digerai, “Lima tahun gak ketemu, kamu udah jadi gadis aja.”


“Aku kan juga tumbuh, Uda,” Lea melepaskan diri dari usakkan Mahendra, merapikan rambut yang sudah tak karuan.


“Tapi tumbuhnya Lea terlalu santai, Uda.” sahut Zoni membuat gadis itu refleks mencubit perutnya, lelaki yang tujuh tahun lebih tua dari Lea itu tertawa menyaksikan kedua adik sepupu tersebut.


Tertawa renyah dan begitu manis.


Entah dalam masa puber, atau apa.


Namun Lea jelas tertarik pada Mahendra.


Yah, bagaimana tidak, lelaki itu begitu putih.


Tampan lebih dari alakadar dan berwibawa.


Meski begitu ia sungguh ceria, banyak bercerita mengenai pengalaman selama terbang.


Mahendra termasuk anak jenius, selalu menjadi murid akselerasi di sekolah dan telah menjadi Kapten Penerbangan pada usia dua puluh empat tahun.


Suara berat nan halus sungguh membuat hati Lea berdebar.


Betewe, dia masih sendiri nih. Paisal hilang, muncullah Uda. Batin Lea cekikikan sendiri.


“Ayah, ini ponselnya bergetar terus dari tadi. Ada telepon mungkin.”


Ibu Lea membawakan ponsel Dira dari kamar.


Lelaki paruh baya itu memperhatikan layar ponsel.


“Oh, Nak Elang,” ucapnya setengah berbisik.


Lea, Sarah dan Winda saling pandang.


Sedang Mahendra masih sibuk bercerita pada Rizal dan keluarganya.


Diam-diam Lea membuntuti Dira yang menjauh dari keramaian.


Tak lupa Sarah dan Winda juga ikut-ikutan menguping pembicaraan di telepon.


“Oh iya Nak Elang, selamat Hari Raya Idul fitri juga,” Dira setengah tertawa, lalu ia terdiam beberapa saat.


Mendengarkan Elang yang sedang berbicara di seberang sana.


“Oh iya, tidak apa-apa, Nak,” katanya lagi, “Kamu mau bicara sama Lea?”


Lea hendak menghampiri tapi urung saat mendengar Dira mengakhiri percakapan dan menutup telepon.


Ia kemudian menghampiri Lea yang berdiam diri di balik tembok.


“Nak Elang katanya gak bisa kesini, banyak sekali keluarga yang datang ke rumah jadi gak mungkin ditinggal. Tapi besok dia mau datang, dia juga titip salam. Bilang ke Kiandra jangan lupa jaga kesehatan,” Dira mengedipkan mata di akhir kalimatnya.


Membuat wajah Lea merona seketika mendengar penyampaian sang ayah sebelum berlalu kembali ke perkumpulan, di depan teman-teman Lea pula.

__ADS_1


“Lea kau gak bisa ngeles lagi,” Sarah langsung memegang erat lengan kiri Lea, dan Winda mencengkram lengan kanan gadis itu.


“Gosip yang beredar di Sekolah udah bikin seluruh cewek nangis kejer karena idolanya digebet kamu.” ucap Winda, “Kalian beneran pacaran?”


“Pertama, cara dia cium kamu di Rumah Sakit. Kedua, Ibu kamu bilang beberapa hari lalu kalian nge-date. Ketiga, dia sampai hubungi Ayah kamu dengan akrab begitu. Selain itu kalian udah sering pelukan kan?” absen Sarah.


Membuat wajah Lea semakin matang.


“Eh yang pertama itu pas Elang nyupang Lea di keb...”


“Sssstttt!” Lea dan Sarah mendesis bersamaan karena Winda mengatakan hal memalukan dengan sangat berapi-api.


Gadis itu segera menurup mulut rapat setelah ditegur.


“Please ya,” Lea melepakan diri dari kedua sahabatnya, apa yang mereka ucapkan sungguh membuat gadis itu ingin membenamkan diri ke palung laut terdalam. Saking malunya.


“Aku sama Elang hanya sebatas rekan di Ekskul, aku kan pernah cerita kami sama-sama pelatih. Lalu soal perlakuannya padaku, aku juga gak ngerti. Tapi satu hal yang perlu aku tegasin, aku bukan pacar Elang.”


“Jadi pacar juga gak apa-apa kok, Elang sampai deketin orang tuamu. Jarang lho ada cowok se-gentle itu,” Sarah merangkul Lea dengan hangat.


“Iya Lea. Elang itu kasar sama cewek lain, tapi lembut banget sama kamu. Kalo gak cinta apa dong namanya?” dukung Winda.


“Iiiih udah ah!” Lea menghentak kaki, pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang bertos ria.


Mereka memang tak pernah absen mendapat curhatan Lea mengenai Elang, meski awalnya Sarah dan Winda benci atas perlakuan Elang, namun mendengar cerita Lea akhir-akhir ini bisa dipastikan kalau lelaki itu banyak berbuat baik pada sahabat mereka.


֎


Rumah besar Elang yang biasanya lengang, kini penuh dengan kerabat dari Jogjakarta dan Bogor.


Mereka semua datang, hanya sekedar singgah dan beramah tamah.


Nanti sore pasti kembali sepi.


Sementara Mama Elang berkumpul dengan para saudara yang sudah lama tak ditemui, Elang lebih memilih menyantap kue di pinggir kolam renang bersama Dini sang adik.


“Lang...” Desi menghampiri dengan wajah muram.


“Kenapa seupuku yang cantik ini asem banget, hmm?” tanya Elang mencoba menghibur.


Tapi gadis itu tak mengubah ekspresi sedikit pun.


“Lang, tadi aku denger kamu nelepon siapa. Gak usah gitu lah sampai sok akrab segala dengan keluarganya, aku benci sama dia.”


Elang terkekeh mendengar keluhannya, “Kiandra?”


“Tak usah bicara apa-apa. Kita sama sekali gak ada hubungan apa pun.”


“Buktikan di depan Mamamu,” tantang Desi, ia kemudian menunjuk ke ruang tamu.


Elang mendapati Ayu dan keluarganya tiba, mereka menyalami Mama Elang dengan penuh keramahan.


Ibu Ayu adalah teman lama Mama Elang, kebetulan juga mereka bertetangga jadi ia bisa bebas kapan saja ke rumah Elang.


Suka tidak suka Elang harus menghampiri mereka, membuktikan kalau ia tak ada hubungan apa pun dengan Lea.


Tak bisa dipungkiri kalau Mama Elang terlalu perhitungan dengan status sosial seseorang.


Lea lemah dalam hal itu, jika sang Mama tahu soal gadis itu maka tak bisa terpikirkan oleh Elang apa yang akan dilakukan mamanya untuk memisahkan mereka.


Segala cara akan Elang lakukan untuk melindungi Lea, yang penting gadis itu tetap aman tanpa tersentuh sang Mama.


Termasuk dengan cara mendekati Ayu sesuai harapan dua keluarga besar tersebut.


Berakting bukan hal sulit untuk Elang, toh selama ini pun ia telah menjalani dua peran bertolak belakang, Sebagai Elang dan Erlangga.


Elang beranjak meninggalkan Dini bersama Desi, menghampiri Ayu.


Berbasa-basi padanya, hanya saat keluarga mereka memperhatikan saja.


“Oh iya Erlang besok Ayu mau reuni sama temen-temen SD di Candi Cangkuang. Tapi Tante khawatir kalau Ayu pergi sendiri, kamu mau kan anter Ayu ke sana?”


Elang ingin menolak.


Masalahnya ia sudah punya janji dengan Ayah Lea esok hari.


Namun, Mama Elang begitu berharap kalau puteranya akan setuju.


“Bisa, Erlang bisa kok,” Mama Elang lekas menjawab mewakili sang putera.


“Yaudah Lang, besok aku tunggu jam delapan ya di rumah.” kata Ayu, Elang mengangguk sesaat tanpa punya pilihan lain.


֎


Tengah malam Lea terbangun seraya mengipasi tubuh.

__ADS_1


Bayangkan saja, biasanya ia tidur di kamar sendirian.


Kini ia harus tidur di ruang tengah beramai-ramai dengan para sepupu.


Sebenarnya gadis itu terbangun karena suara getaran ponsel Dira yang tertinggal di ruangan tersebut.


Elang menelepon dan mengabarkan kalau besok ia tak jadi ke rumah, Lea hanya mengatakan tak masalah lalu obrolan mereka berakhir tanpa basa basi.


Sudah terlanjur bangun, Lea melangkah ke dapur sekedar membasahi tenggorokkan yang kering dengan segelas air.


Saat hendak kembali, ia tak sengaja menangkap sosok seseorang tengah duduk sendiri di teras rumah sambil menengadahkan wajah ke arah langit.


Hanya dari belakang pun, Lea tahu siapa orang tersebut.


Tak lain adalah Mahendra.


“Uda,” Lea tanpa permisi duduk disamping sebelah si lelaki, “Gak bisa tidur ya?”


Mahendra mengendikkan bahu, “Uda biasa membawa penerbangan malam hari, saat melihat langit kau tak bisa membayangkan betapa indahnya. Tapi, menikmati langit malam di rumah keluarga benar-benar buat Uda enggan melewatkan.”


Lea meniru perilaku Mahendra, menengadah ke langit cerah penuh bintang di angkasa raya.


Pertengahan musim penghujan, langit begitu cerah.


Agak aneh juga, rapi keanehan yang indah.


Seperti seseorang di sebelah Lea, agak asing namun membuat gadis itu nyaman berada di dekatnya.


“Lusa Uda harus kembali bekerja, besok keluarga dari Palembang datang. Tapi bisakah Uda ajak kau keluar?”


“Maksudnya jalan-jalan?” Lea balik bertanya.


Ucapan Mahendra memang sedikit berbelit.


“Tempat yang dekat saja, Uda hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Sudah lama kan kita tak main berdua?”


“Candi Cangkuang. Bagaimana?” usul Lea setelah beberapa waktu terdiam mencari tempat yang cocok.


“Oke, Uda belum pernah kesana,” Mahendra tersenyum begitu manis menatap Lea, gadis itu hanya mengangguk sekilas lalu kembali menengadahkan wajah ke angkasa.


Si lelaki menghembuskan napas kemudian merentangkan tangan, “Lima tahun tak bertemu kau jadi secanggung ini pada Kakakmu sendiri?”


Lea tersenyum, ia bergeser mendekati Mahendra dan menyandarkan diri ke dada lelaki itu.


Mahendra merangkul Lea dengan hangat, “Tidurlah di pelukan Uda seperti saat kau kecil, adikku sayang.”


Lea mengangguk dan memejamkan mata dengan jantung berdebar tak karuan.


Sementara detak jantung Mahendra amat teratur dengan napas pelan.


Menenangkan Lea seperti lagu nina bobo yang membuat ia cepat terlelap.


Gadis itu benar-benar tidur di pelukan Mahendra.


Seraya mengobrol dengan bintang-bintang, Mahendra mengeratkan pelukan.


Mengecup pucuk kepala Lea begitu lama.


Ia amat senang melihat adik kecilnya sudah beranjak dewasa.


Tiba-tiba lelaki itu ingat pada Anggara, sepupunya yang seumuran.


Dulu mereka sering bermain seperti anak kembar saat Mahendra berkunjung.


Melakukan apa-apa bersama.


Sampai saat Lea lahir, mereka sering sengaja membuat anak itu menangis kencang dengan alasan tangisan Lea terdengar lucu.


Kemudian sepuluh tahun lalu, ia mendengar kabar bahwa ketika Anggara sedang mengajak Lea yang baru berumur tujuh tahun jalan-jalan.


Ia ditabrak sebuah mobil mewah hingga terpental ke tengah jalan raya.


Padahal ketika itu Anggara bisa terselamatkan, namun karena ada sebuah truk pengangkut barang tengah melaju dengan kecepatan tinggi.


Maka dalam waktu sepersekian detik, tubuh Anggara hancur terlindas truk dengan Lea sebagai satu-satunya saksi mata kejadian dari awal sampai akhir.


Si kecil Lea mengalami trauma berat.


Ia tak bicara selama satu tahun.


Saat mulai pulih pun beberapa kali ia mengalami serangan mental.


Kadang tiba-tiba amnesia, atau memori gadis itu mendadak muncul secara acak hingga membuat ia pusing dan jatuh pingsan selama beberapa hari.


Kini Mahendra sangat bersyukur sebab Lea bisa tumbuh seperti gadis normal lainnya.

__ADS_1


֎


__ADS_2