Melodia Hujan

Melodia Hujan
21. AJARAN BARU


__ADS_3

Satu minggu terakhir liburan berakhir dengan amat cepat, hari pertama masuk sekolah tak ada kejadian berarti. Mereka juga tak langsung belajar, seperti biasa kalau sudah libur panjang yang dibahas pasti sekadar jadwal dan siapa saja Guru yang mengajar.


Semua siswa yang datang ke sekolah sebenarnya tak sabar untuk kembali menikmati suasana area belajar tersebut, atau hanya ingin diberi uang jajan karena selama liburan mereka tak mendapatkan. Maka dari itu pada hari pertama ini tak ada satu pun yang absen dari kelas.


“Permisi... Ada Lea dan Elang?” Ayu mengetuk pintu kelas Lea, ia adalah rekan Lea di Ekskul Dance dulu yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Ekskul Marching Band.


Menilik ia hanya memanggil Lea dan Elang, pasti masalah Ekskul. Karena yang tergabung dalam Marching Band hanya mereka berdua dari kelas XIB.


Lea menghampiri Ayu yang berdiri di ambang pintu, begitu juga dengan Elang. Kedua orang itu saling pandang sesaat kemudian fokus pada Ayu. Gadis itu nampak mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas.


“Aku kemari untuk mendata setiap anggota baru.” Ayu memberikan masing-masing satu lembar kertas, sebuah formulir. Elang dan Lea sama-sama memperhatikan isi formulir itu. Menilik satu persatu bagan yang haru mereka isi.


“Lea, kamu udah punya ponsel belum?” tanya Ayu memberikan bolpoin pada Elang dan Lea. Gadis mungil di depannya menggeleng sambil tersenyum lebar.


“Ya udah kayak biasa aja, masukin nomor ayah kamu.”


“Oke!” Lea bergerak menuju bangku, mencari alas agar ia mudah mengisi formulir.


Sementara Elang masih memperhatikannya dengan wajah heran, di jaman serba internet masih ada aja siswa yang bahkan tak punya ponsel sama sekali.


“Lang, isi!” Ayu mencolek punggung tangan Elang yang malah terus menatap Lea. Lelaki itu mengangguk datar, menggunakan dinding sebagai alas untuk menulis.


Sementara Ayu menghampiri Dena—KM kelas Lea—untuk membicarakan beberapa hal mengenai OSIS sebab mereka termasuk pengurus juga. Lumayan, mumpung tak ada guru jadi mereka leluasa mengobrol.


“Kalo udah kumpul semua nanti aku kasih ke kalian buat kalian susun ya. Jadi sebelum aku kasih semua form, kalian jangan dulu pulang.” ucap Ayu ketika Elang dan Lea menyerahkan formulir hampir bersamaan.


“Oke.” Itu Elang yang menyahut, sementara Lea hanya mengangguk. Setelahnya Ayu kembali melanjutkan tugas menuju kelas lain. Mendatangi satu persatu anggota Marching Band agar tak ada yang terlewat.


֎


Pukul sebelas siang, sebagian besar murid telah pulang. Begitu juga kelas Lea, semua teman-teman sudah pulang lebih dulu.


Tinggallah Elang dan Lea berdua saja, saling melirik satu sama lain dari bangku masing-masing. Kaku, canggung, dan enggan untuk saling menyapa kian menyelimuti. Saling merutuki nasib buruk mereka. Ketika ingin berjauhan, malah berada di satu Divisi.


Lea terus memainkan jemari, beberapa menit lalu Sarah dan Winda datang menjemput Lea untuk pulang bersama.


Mereka menatap Elang dengan tatapan sinis ketika mendapati Lea hanya berdua dengannya di Kelas. Lea menjelaskan jika ia menunggu Ayu.


“Eh, Sar, Win. Kalian liat Arief gak? Soalnya dari tadi aku cariin dia gak ada.” Lea bangkit dan mencegat keduanya sebelum meninggalkan kelas. Elang yang sejak tadi terdiam langsung mengarahkan atensi pada Lea.


“Tadi juga kita nanyain ke Kak Ririn, dia bilang Arief ada urusan keluarga, makanya gak masuk.” jawaban Winda tiba-tiba membuat Lea murung, “Kenapa?”

__ADS_1


“Pengen ketemu aja, sejak terakhir dia ke rumah perasaan aku gak karuan. Inget dia terus.” aku Lea.


“Kamu suka sama Arief?” tanya Sarah.


“Iyalah, suka banget!” Lea mendadak antusias.


Namun Sarah dan Winda hanya menghela napas, Sarah salah nanya. Sahabat mereka yang satu itu memang masih belum bisa membedakan rasa.


“Kamu cinta sama Arief?” ralat Winda.


“Kan aku cintanya sama Kak Paisal.” sahut Lea cepat. Sarah dan Winda saling pandang.


“Bukannya kamu bilang dia pacar Kak Ririn?” giliran Sarah yang bertanya.


“Eh iya, ya.” Lea menerawang polos, “Jadi gimana dong sama cintaku?”


Terserah lo aja, buang ke tong sampah juga gak masalah. Batin Elang, terkekeh sendiri karena diam-diam menguping pembicaraan ketiga gadis itu.


“Terserah. Aku mah mau pulang dulu.” Sarah mendadak jengkel menarik Winda, namun sesaat kemudian ia berbalik menatap Lea yang masih mematung di ambang pintu.


“Lea, hati-hati.” bisik Sarah disetujui Winda, Lea mengangguk sambil tersenyum.


Elang yang sejak tadi hanya larak-lirik, mulai menutupkan headphone ke telinga. Ia hendak memutar musik dari ponsel, tapi sesaat kemudian diurungkannya ketika melihat Lea dalam hening kembali ke tempat duduk.


“Hmm... Kiandra.” panggil Elang ragu setelah sekian lama mereka tak saling bicara. Harap-harap cemas ia menanti respon Lea, takut gondok karena diabaikan.


“Eh, i... Iya, Elang.” Lea tergagap menggaruk belakang kepala tak gatal, segan untuk melihat Elang dan ia hanya menatap sepatu Elang.


Elang yang mendapat respon positif dari Lea langsung berdiri menyampirkan tas, “Bagaimana kalau kita tunggu di Ruang Ekskul Musi... Hmm Ruang Marching Band?”


“Boleh.” Lea beranjak dari kursi dengan tegang, mengikuti Elang yang lebih dulu beranjak keluar kelas.


Mereka melangkah dalam diam, tak ada lagi yang berani bicara. Elang berusaha menenangkan debaran jantung tak karuan ketika mengeluarkan kunci untuk membuka ruang penyimpanan alat musik.


“Kita nunggu di luar saja.” sergah Lea cepat sebelum Elang membuka kuncian pintu.


Segera lelaki itu mencabut kunci yang telah terpasang itu dan kembali memasukkannya ke dalam kantong celana.


Elang mengambil tempat duduk di sebelah Lea di depan Ruang Ekskul. Hening kembali melanda. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing yang mengharap Ayu segera datang dan mengakhiri kebisuan.


Menghitung detik demi detik, sesekali menatap langit mendung. Begitu sepi, hanya suara angin dan gemerisik dedaunan terdengar begitu kencang.

__ADS_1


Elang kembali menaikkan headphone, kali ini ia benar-benar memutar musik sekeras mungkin untuk meredakan jantungnya yang berdebar hebat karena aroma strawberi dari rambut Lea mulai menyapa gara-gara tiupan angin.


Tahan Elang, Kiandra sudah sangat membencimu. Jadi jangan berpikir untuk melakukan hal kurang ajar lagi. Batin Elang mengepalkan kedua tangan.


Elang itu bukan hanya remaja yang memiliki emosi menggebu, namun gairah juga. Ia selalu mendadak jadi mesum hanya saat berdekatan dengan Lea.


“Hai!” Ayu datang dengan wajah ceria membuat Elang dan Lea bernapas lega,


“Maaf barusan aku dipanggil dulu ke Ruang Guru.”


“Santuy.” sahut Lea. Ayu kemudian menyerahkan sebundel formulir pada Elang.


“Maaf nih ngerepotin, tapi kalau bisa ini harus selesai hari ini. Tri sekarang lagi sama Kak Reka beli alat-alat musik, nanti jam dua katanya dia kesini lagi buat ngambil data yang udah kalian susun.”


Elang melihat jam tangan, pukul setengah dua. Ia di rumah punya komputer, tapi kalau pulang dulu mungkin takkan selesai jam dua mengingat soal waktu tempuh. Lea apalagi, rumahnya begitu jauh di belantara sana.


“Lang, Mama kamu ngundang aku dan keluargaku buat makan siang di rumah kamu, aku udah bilang kamu masih harus di Sekolah. Jadi aku yang datang. Setidaknya salah satu dari kita bisa hadir.”


“Hmm, dateng aja kalo lo mau. Kalo enggak mau gak usah dipaksain.” jawab Elang dingin, Lea melirik Elang dan Ayu bergantian.


Ayu terlihat sumringah, sedang Elang menanggapinya datar dengan mata sibuk membaca formulir ditangan satu persatu.


“Aku bakal datang kok. Kan mewakili kita.” Ayu pun beranjak meninggalkan Elang dan Lea. Tanpa menanti tanggapan Elang yang tampak sibuk sendiri.


Kembali sunyi.


“Kita ke warnet sekitar sini.” putus Elang memasukkan tumpukkan formulir itu ke dalam tas.


“Kalau begitu, aku yang kerjakan sendiri. Tak apa-apa, kamu kan ada janji sama keluarga Ayu.”


“Kita cuma punya waktu kurang dari setengah jam.” Elang mengabaikan usulan Lea.


Lagi-lagi Lea hanya pasrah mengikuti langkah Elang menuju gerbang sekolah, masih tak punya keberanian untuk banyak bicara pada Elang. Dulu saat di rumah Reva dia mungkin kesal pada Elang, tapi kekesalan itu sudah hilang sejak lama. Justru rasa canggunglah yang tersisa.


Elang dan Lea masuk ke sebuah warnet. Tak jauh dari sekolah, namun agak jauh dari jalan raya karena berada di tengah kompleks.


Elang menunjuk salah satu bilik komputer agar Lea masuk terlebih dahulu. Sementara Elang mengambil tempat di pintu bilik, tak berani masuk ke dalam bilik kecil yang hanya akan membuat mereka duduk berimpitan.


“Gua bacain daftarnya, lo yang ketik.” titah Elang mutlak. Lea mengangguk patuh, langsung bekerja tanpa suara.


֎

__ADS_1


__ADS_2