Melodia Hujan

Melodia Hujan
9. ELANG DAN HUJAN


__ADS_3

Tiga jam terberat untuk Lea akhirnya berlalu. Tri sebagai ketua baru menyudahi latihan mereka.


Adi membawakan beberapa botol air mineral yang ia beli dari Kantin yang masih bisa diketuk pintunya meski hari telah senja. Orang pertama yang Adi beri minuman adalah Lea, kasihan gadis itu hampir kehabisan suara.


“Gak nyangka, Elang malah bawa mainannya buat gantiin si Desi.” Adi duduk disamping Lea. Berusaha merangkul pundak gadis itu, namun Lea bergerak menjauh.


“Apaan deh?” tukas Lea kesal, berusaha keras membuka tutup botol di tangannya.


“Maksud lo itu apa sih, Di? Ngasal banget kalau ngomong.” Tri merebut botol ditangan Lea, membukakan tutupnya, lantas ia kembalikan pada Lea.


“Meski dia bikin gua gagal di teraktir Arief. Tapi syukuri aja Lea mau bantu kita ditengah persiapan Gebyar Ekskul.” timpal Gentra diikuti anggukkan keras Lea.


“Huu. Lo berdua gak tahu aja, tadi pagi gua mergokin si Elang mau pake tuh cewek di Ruang Musik. Mana udah nyosor-nyosor coba.” Adi bercerita penuh semangat. Membuat Lea refleks mendorong bahunya.


“Gak gitu ceritanya, ih!” sangkal Lea dengan wajah merah menahan kesal pada Adi. Lupa kalau yang di dorong adalah salah satu berandal sekolah.


Tri dan Gentra saling pandang melihat reaksi Lea. Keduanya lantas bersamaan melirik Elang yang sedang sibuk memainkan ponsel.


“Anjir, dia gak nyangkal. Kayaknya bener deh.” bisik Tri.


“Tapi Elang kan... Gay?” timpal Gentra.


Lea berusaha menjelaskan semua, termasuk soal buku tugas dan perjanjian dengan Elang. Tapi anehnya sekeras apa pun ia menjelaskan, teman-teman Elang sama sekali tak percaya.


Mereka lebih yakin kalau Lea hampir diapa-apakan si wajah dingin. Karena mereka tak mendapat konfirmasi atau pun bantahan langsung dari Elang yang sedang sibuk menelepon Bang Eka.


“Ya udah, terserah!” Lea menyerah. Lebih memilih segera meneguk air ditangannya daripada terus mendebat teman-teman Elang.


Rasa segar seketika menjalar ke seluruh tubuh saat air mineral dingin itu berhasil melewati kerongkongan.


Lea masih menikmati kesegaran minuman tersebut, tapi tangan Elang begitu saja menyambar botol yang Lea pegang hingga membuat gadis itu tersedak.


Lantas tanpa sepatah kata pun ia menghabiskan sisa air minum dalam sekali teguk.


“Manis.” Elang menyeringai menatap botol kosong di tangannya.


“Ya salam, kode keras!” Gentra geleng-geleng kepala diikuti anggukkan Tri dan Adi.


“Apa-apaan kamu ini? Kamu kan udah dikasih sebotol.” seru Lea berusaha meraih botol minuman yang sudah kosong, dengan wajah tanpa dosa Elang berdiri sambil meninggikan tangannya agar Lea tak bisa menggapai botol tersebut.


“Lo buta? Gak liat punya gua belum dibuka?” Elang dengan enteng mengacungkan botol minuman yang masih utuh ke depan wajah Lea.


Segera Lea menyambar botol itu dan membuka segelnya. Sengaja ia goyangkan tepat di depan Elang, membuat air dalam botol menciprat ke wajah dan pakaian Elang.


“Noh, udah dibukain.”


Lea terkesiap saat Elang tiba-tiba membanting botol kosong dengan keras. Ia segera menghentikan aksinya. Elang berdiri kaku dengan kedua tangan terkepal kuat, memandang Lea dengan tatapan penuh amarah. Seketika Lea tak berkutik, ia menyesal karena tanpa sadar sudah berani memperolok seorang Elang.


Lea melirik ketiga teman Elang yang memandangnya cemas, dengan isyarat mereka menyuruh Lea segera minta maaf pada Elang.


“Lang, aku min...”


“Guys, gua duluan ya.” Elang memotong ucapan Lea seraya melambaikan tangan pada teman-teman yang masih duduk di teras kelas, lantas berlalu begitu saja menuju parkiran motor. Secepat kilat ia melajukan Ninja biru meninggalkan Sekolah.


Sedang Lea masih tertohok di tempatnya. Dia kira Elang akan melakukan sesuatu, tenyata tidak. Tapi entah mengapa ia merasa terluka saat Elang mengabaikan, menganggap Lea seolah tak ada setelah ia bekerja keras seharian.


Paling tidak ia ingin mendengar ucapan terima kasih dari Elang. Ah sudahlah. Ia tak ingin banyak berharap pada setan. Musyrik!


“Yaaah, gak seru ah.” koor ketiga teman Elang bersamaan.


Lea menoleh pada ketiganya dengan wajah kesal, “ Emang apa yang kalian mau, hah?”

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Lea, mereka bertiga malah saling pandang sambil terkekeh. Lantas melenggang santai meninggalkan Lea yang masih kesal seorang diri.


֎


Jam di tangan Lea sudah menunjukkan pukul delapan malam namun angkutan umum tak kunjung tiba. Ia berdiri di depan gerbang, menyaksikan bagaimana rentetan kendaraan macet tanpa mau bergerak sedikit pun.


Seharusnya ia sudah bersiap menutup Toko di rumah. sekarang, jangankan menutup Toko, untuk pergi dari sekolah saja ia bingung harus bagaimana.


Titik-titik hujan mulai menerpa tubuh Lea, makin lama makin deras dengan diiringi petir menggelegar di angkasa hitam sana.


Hujan pertama tiba-tiba mengguyur, memaksa Lea untuk berteduh di teras pertokoan yang sudah tutup. Agak jauh dari keramaian dan Jalan Raya. Tapi itulah tempat terdekat yang mampu Lea jamah guna menyelamatkan diri dari serangan hujan mendadak. Sebab Toko di pinggir jalan Raya sudah penuh sesak oleh para peneduh lain.


Seragam putih abu-abu Lea sudah basah kuyup terkena cipratan air. Udara malam semakin dingin membuat ia menggigil. Apalagi ini hujan pertama, bau tanah pekat mulai menusuk hidung.


Bau itu adalah hal yang paling Lea benci, karena membuat ia pusing dan mual. Mengingatkan pada peristiwa dimana maut merenggut kakak Lea semasa dulu.


Bisa saja Lea meminta Arief atau Nandar untuk menjemput. Tapi ponsel Lea mati, ia bahkan tak bisa menghubungi orang tuanya yang pasti sudah sangat cemas menunggu di rumah. Lea bingung harus melakukan apa melihat macet tak bergerak barang seinci dengan hujan kian deras.


Semakin lama, tubuh Lea mulai mati rasa. Karena lemas, ia pun terduduk di lantai. Tak ada seorang pun yang bisa menolong karena ia sendirian, para pengendara mobil pun pasti enggan keluar karena derasnya hujan.


Kedinginan membuat tubuh Lea mati rasa, kakinya lemas sampai tak bisa lagi menopang tubuh. Mual yang dirasa semakin menjadi, pandangan mata Lea perlahan mengabur.


Maag gadis itu kambuh disaat tak tepat. Mengingat ia tak sempat makan apa pun sejak tadi siang dan hanya minum setengah botol air. Ia terduduk di lantai dengan napas tersengal.


Samar-samar mata Lea melihat beberapa orang menghampiri dan mengguncang tubuhnya, suara mereka terdengar seperti dengungan serangga.


Tak jelas sama sekali. Beberapa saat kemudian terlihat sebuah motor mendekat. Si pengendara turun, melepas helm lantas berlutut di hadapan Lea.


“Udah gua duga, lo belum balik.”


Elang memegangi lengan Lea sekaligus melepas tangan lelaki yang sejak tadi mengguncang tubuh gadis itu, “Permisi, Mas. Dia adik saya.”


Suara berat orang itu amat familiar di telinga Lea, namun dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran ia jadi lupa-lupa ingat. Perlahan pegangan pada lengan Lea terlepas, diiringi beberapa orang menjauh termasuk si pemilik suara berat tadi.


Sebuah jaket parasut yang sangat hangat. Ia berlutut di depan Lea, entah karena ia hampir pingsan atau memang sedang berhalusianasi. Lea melihat sosok Elang sangat dekat, bahkan lutut mereka bersentuhan.


“Ada kecelakaan, kemungkinan akan macet sampai tengah malam nanti.” jelasnya.


Suara berat, gaya bicara dingin dan tatapan tajam yang kini hanya berjarak lima senti di depan wajah Lea. Sudah jelas kalau itu adalah Elang.


Ia menaikkan hoody untuk menutupi seluruh kepala Lea. Tak lupa merapatkan resleting jaket, membuat tubuh Lea tenggelam dalam jaket kebesaran tersebut.


“Kamu abis darimana? Selama neduh tak apa jaketmu aku pakai sebentar?” bibir Lea bergetar hebat, bahkan suara si gadis mungil hampir menghilang saking lemasnya.


Bukan menjawab pertanyaan, Elang malah dengan luwes memakaikan helm ke kepala Lea. Ia dengan protektif memegangi kedua lengan Lea dan membimbing gadis itu untuk mendekat ke sebuah motor.


“Makasih, Mas, Mbak, sudah nolong adik saya.” kata Elang sopan pada beberapa orang di sekitar. Mereka semua mengangguk dan berpesan agar berhati-hati.


Tubuh Lea mulai menghangat karena jaket yang ia kenakan, membuat kesadaran gadis itu pulih sepenuhnya. Berpegangan pada stang motor sambil memperhatikan Elang, lelaki itu sibuk mengenakan jas hujan kemudian naik ke atas jok.


“Hei, ayo. Lo mau pulang apa enggak?”


“Kamu mau nganter aku pulang?” dengan bibir bergetar Lea masih ingin memastikan, Elang mendengus dan merotasikan bola mata. Tangannya dengan kasar menarik Lea agar naik ke atas jok motor di belakang.


Lea tak bisa berdebat lagi dalam keadaan seperti itu. Penuh perjuangan akhirnya ia bisa naik ke atas jok tinggi. Bersyukur jaket yang ia kenakan terlampau besar untuk melindungi hingga lutut.


Andai tak mengenakan benda itu, pasti kaki mulus dibalik rok pendek abu-abu Lea sudah terekspos kemana-mana.


Sekarang, masalah Lea ada pada jok. Ia harus menahan tangan di punggung Elang agar tak merapat sebab posisi jok condong ke depan dan sedikit licin.


“Permisi.” bisik Lea hati-hati saat menempelkan tangan di punggung kekar Elang.

__ADS_1


Elang mengambil jalan tikus untuk menghindari kemacetan, Lea hanya sekali menyebutkan alamat rumah dan lelaki itu bisa dengan mulus mencari jalan pintas yang bahkan Lea tak pernah tahu kalau jalan itu akan membawa ia menuju rumah. Tak tahu saja kalau Elang hampir tiap malam melewati jalan itu.


Angin malam berhembus begitu kencang, diantara riak hujan Lea tak sengaja menghirup aroma woody menguar dari jaket Elang yang ia kenakan.


Wangi yang membuat Lea nyaman dan tenang. Hanya saja laju motor Elang terlampau kencang, membuat gadis itu pusing dan mengantuk.


Lea menyandarkan kening ke punggung lebar Elang untuk menahan pusing, semoga lelaki itu mengerti bahwa ia melakukan hal tersebut karena sedang tak sehat. Bukan ingin menikmati kedekatan seperti harapan kebanyakan para siswi di sekolah.


Tapi, sungguh gadis itu mendadak tak tahu diri. Ia menghirup dalam aroma woody amat yang menyeruak dari balik jas hujan tipis milik Elang.


Sudah tahu kalau itu pasti bau tubuh Elang, Lea malah semakin menyesap lebih dalam. Wangi khas itu amat menggoda dan menyenangkan.


Lea bergegas menggelengkan kepala, menadarkan diri yang beberapa saat terbuai bau tubuh lelaki. Terlebih lelaki dengan aura setan tersebut.


Tak diduga, ia merasakan tangan Elang terulur ke belakang, menarik tangan Lea yang bertumpu pada punggungnya. Ia bimbing tangan si gadis agar melingkari pinggang Elang dengan kening kini beralih sebagai tumpuan.


Bukan hanya jalanan yang macet, akal sehat Lea saat itu juga mendadak macet. Tanpa sadar satu tangan bebas lainnya turut melingkari tubuh Elang hingga ia benar-benar memeluk lelaki itu dari belakang.


“Jangan jatuh.” katanya mengimbangi bising air hujan.


Lea tak menjawab, hanya mengangguk di punggung Elang kemudian memejamkan mata. Berharap Elang tak bisa mendengar apa yang sedang Lea dengar. Detak jantung entah milik siapa, beradu cepat dengan laju motor.


“Emm, makasih. Mau mampir dulu, minum minuman anget atau ganti baju? Takutnya kamu sakit.” tawar Lea canggung seraya menyerahkan jaket parasut basah, kebetulan saat itu hujan tinggal gerimis tipis.


Tadinya ia ingin mencucinya terlebih dahulu, tapi ketika turun Elang malah langsung mengadahkan tangan agar segera mengembalikan apa yang tadi sempat ia pinjam.


“Gak usah sok perhatian deh, ngemodusin gua ya?” tuduh Elang membuat Lea panik dan menggeleng keras.


“Eng... enggak kok. Sungguh aku gak ada maks...”


“Makanya, jangan pernah tanya gitu ke orang. Bikin serba salah kan?”


Lea mengangguk keras atas pertanyaan tersebut, ia ingat ketika di Ruang Musik menanyakan hal demikian pada Elang.


Setelah merasa Elang menolongnya, ia pun jadi memiliki banyak sekali rasa bersalah pada orang itu. Padahal waktu Lea berbuat salah, ia sama sekali tak mau minta maaf. Tapi kini, mungkin sekali mengucap maaf saja takkan cukup.


“Gak usah khawatir, gua langsung balik ke rumah kok abis ini. BTW Thanks ya.” Elang kembali menyalakan mesin motor.


“Untuk?”


“Karena lo bersedia gabung ke Band Inti.” Elang menyunggingkan seulas senyum. Lea mengangguk, harusnya ia yang berterima kasih karena ia bisa pulang dengan selamat berkat Elang.


Tanpa mengucap kata perpisahan, Elang langsung kembali menginjak pedal gas dan bergegas meninggalkan rumah Lea.


 


Lea memandang sejenak gerimis, Elang si anak kasar baru saja mengantarkannya pulang tanpa ia minta. Masih tak paham dengan sikap Elang yang sering berubah tak tahu waktu.


 


Jadi teringat kata-kata Irwan, kalau Lea akan memiliki pandangan berbeda terhadap Elang setelah ia lebih mengenal dengan baik. Baru satu hari saja ia berinteraksi dengan Elang, orang itu tak seseram seperti bayangannya selama ini.


Keliru gak sih kalau aku bilang Elang sebenarnya punya sisi baik?


 


“Hmmm hujan, dan Elang… Dingin!” embus Lea.


 


Kemudian masuk ke dalam rumah, menghampiri kedua orang tua yang tengah menanti dalam gelisah. Ia memiliki PR baru malam ini, meredakan kekhawatiran ayah dan ibunya.

__ADS_1


֎


__ADS_2