
Semakin hari, berita soal kemeriahan acara ulang tahun Reva mulai menyebar. Semua orang benar-benar menantikannya. Tahun lalu juga menurut teman-teman Reva, pesta ulang tahun gadis itu begitu meriah.
Hal itu seiring dengan berita soal kedatangan Elang yang digadang-gadang tak pernah turut andil dalam sebuah pesta anak perempuan.
Tebak-tebakan siapa gadis yang akan diajak Elang selalu menjadi perbincangan hangat. Simpang siur beberapa primadona sekolah mengaku-ngaku akan datang bersama lelaki itu.
“Huu obral obral...” seru Lea diiringi tawa teman sekelasnya, namun dihadiahi tatapan sinis Elang yang membuat ia bungkam seketika.
Lea sebenarnya tak ingin peduli soal Elang, namun jadi terpaksa memperhatikan karena para gadis silih berganti datang ke kelas mereka. Menawarkan diri untuk diajak Elang ke pesta Reva. Bukan hanya Lea, namun teman lain pun agak terganggu dengan hal itu.
“Rumor Elang sebagai gay terbantah karena ia mau dateng ke Reva, jadi gitu deh hasilnya.”
Yuni berdecak memperhatikan meja Elang dikerubuti para gadis sejak bel istirahat berbunyi. Sementara Elang sendiri dengan wajah datar dan sinis terus mengatakan kalau ia akan pergi dengan teman-teman lelakinya dan membiarkan para gadis itu pergi dengan wajah kecewa karena ia tolak tanpa pertimbangan.
“Resiko jadi seleb sekolahan, apa-apa jadi sorotan.” Lea acuh tak acuh membolak balik buku pelajaran, ia sedang tidak mood pergi ke kantin karena ada ulangan Biologi pada jam berikutnya.
“Sok sibuk, kita liat nanti kamu bisa ngerjain berapa soal.” Yuni menutup buku Lea.
“Lah? Buat apa aku sebangku sama bu Bend yang pinter kalo gak dapet contekan?” Lea merengut lucu.
“Ih dasar! Beneran gak mau jajan? Padahal tadi SarWin udah ngajak.”
“Maleees.” Lea menjatuhkan kepala ke meja.
Sebenarnya ia lapar tapi enggan beranjak. Yuni sih sedang puasa sunah, jadi dia memang sengaja tak keluar kelas.
Sebelah mata Lea menatap bangku Elang, tempat itu kosong karena si penghuni telah kabur dari kerumunan para gadis ganjen.
Sesaat teringat ketika Elang begitu lembut ketika mengantarkannya ke rumah saat mereka pertama kali latihan bersama.
Tapi setelah itu sikap Elang berubah jadi menakutkan. Pemarah, jutek dan mesum. Lea pun berniat akan terus menanam kebencian pada lelaki itu sebelum mendengar Elang meminta maaf atas perlakuannya terakhir.
“Benci orang dosa gak sih?” lirih Lea.
“Tergantung. Kalo selalu nyontek pas ulangan essay, kira-kira dosa gak?” Yuni malah membalikkan, membuat Lea makin cemberut dan Yuni makin tertawa.
֎
Lea mondar-mandir di depan gerbang. buku tugas Matematika kembali tertinggal. Padahal beberapa waktu kebelakang ia telah berdamai dengan Bu Rahma. Selalu menaruh buku itu dalam tas dan mengerjakan PR tepat waktu, meski dengan mencontek pekerjaan Yuni.
Tempo hari saat ia mencuci tas, Lea mengeluarkan semua buku dan sepertinya buku PR Matematika lupa untuk ia masukkan kembali.
Ia berpikir keras. Bisa saja Lea pulang dulu untuk mengambil buku, namun mengingat angkot yang sering ngetem sana-sini ia akan terlambat masuk kelas.
Buku penyelamatnya dulu, sudah ia kembalikan ke yang punya ketika pertama kali bicara dengan Elang.
Lagipula ada buku itu pun percuma karena sudah lewat dua bulan lalu. Sekarang Lea hanya bisa menghela napas, ancaman skorsing sudah sangat terlihat di depan mata.
“Miss pikun.” suara berat seseorang di belakang Lea membuat ia terlonjak dan seketika berbalik.
Elang, dengan seringai khasnya sudah berdiri tegap. Masalah kehadiran Elang tak terlalu mengganggu, namun tidak dengan seringai iblis lelaki itu.
Apalagi sekarang mereka sudah cukup lama kembali menjadi orang asing. Aneh juga, Elang tiba-tiba menyapanya.
“Kembali berurusan dengan Bu Rahma?” ledek Elang.
Lea mendelik seraya memalingkan kepala ke arah lain, sebab ejekan lelaki itu benar adanya. Lea tak ingin berurusan lagi dengan Elang, tentu setelah kejadian tak menyenangkan yang membuat ia selalu marah.
__ADS_1
Tanpa menunggu respon Lea, Elang mengeluarkan sebuah buku bersampul cokelat.
Buku yang dulu pernah menyelamatkan Lea, terbukti dengan nama Kiandra Azalea dan stiker ‘superhero’ masih tertempel rapi di bagian depan buku. Ia membuka lembaran demi lembaran di depan Lea, menunjukkan kalau tulisan dalam buku bertambah banyak dari pada saat terakhir dilihat.
“Isinya ter-update dengan akurat sampai ke tugas yang kemarin.”
Lea menatap buku itu dengan lekat. Itu adalah kesempatan untuk ia kembali menghindari hukuman Bu Rahma. Tapi mana mungkin Elang memberikan pertolongan dengan cuma-cuma?
“Gak usah.” Lea berusaha jual mahal di hadapan Elang. Tak mau jadi keledai bodoh yang masuk perangkap dua kali.
Elang menutup buku, semakin menyodorkan benda itu pada Lea, “Waktu itu Gua terbawa suasana aja. Hmm... Dorongan naluri juga. Kiandra, maafin gua ya?”
Lelaki itu berhasil menarik perhatian Lea, ia juga sudah lelah menahan diri untuk tak mendekat pada Lea.
Kini si gadis mungil memandang lurus Elang dengan tatapan mata terang. Sederhana, hanya itulah yang Lea inginkan sejak lama, permintaan maaf dari bibir Elang. Kenapa harus sampai menunggu dua bulan sampai ia mendengar itu?
“Aku benar-benar malu dan sakit hati karena itu.” gumam Lea.
Elang mengangguk dengan wajah datar, “Gua tahu.”
“Sekarang apa yang kau ingin aku lakukan?” Lea ragu-ragu meraih buku di tangan Elang. mendekapnya erat di dada.
“Astaga! Secepat itu lo ngerti maksud gua. lo bisa baca pikiran orang ya?” gurau Elang seraya tertawa. hatinya tiba-tiba merasa ringan setelah bicara kembali dengan Lea.
Elang bercanda? Padaku? Kok jadi kelihatan lebih manusiawi ya? Batin Lea.
Sesaat kemudian ia mendadak tak enak hati melihat Elang tertawa. Muncul sedikit penyesalan. Setelah perjanjian pertama membuat ia bermasalah dengan Desi, berani-beraninya ia mengambil perjanjian kedua dari Elang. Tak apa, demi menghindari skorsing Bu Rahma.
“Tar sore jangan kemana-mana, jam lima gua ke rumah.”
“Mau gua tolongin gak?” Elang malah memegang kembali buku di tangan Lea. gadis itu mengangguk cepat, “Ya udah gak usah banyak nanya.”
Elang melenggang pergi meninggalkan Lea. Gadis itu memandang buku di tangannya cukup lama.
Ia takut, kesal dan masih tak nyaman bicara pada Elang. Tapi entah mengapa tiap ia butuh, selalu Elang yang datang. Mau tak mau, Lea jadi berurusan lagi dengan lelaki itu.
֎
“Huaaah, jam berapa nih?” Lea melangkah keluar kamar dengan mata masih setengah tertutup.
Rambutnya yang di cepol sedikit tak rapi, ia menggeliat hingga kaos kebesarannya terangkat dan hampir menampilkan seluruh paha putih gadis itu.
“Mau ngegoda ya? Awas aja kalau keluar rumah cuma pake kaos kayak gini, gua orangnya cemburuan lho.”
Gadis itu terkesiap saat merasakan seseorang melilitkan sebuah jaket kulit hitam di pinggangnya, menutup setengah bagian kaki Lea. Ia makin terkejut karena si pelaku adalah Elang, dengan aroma woody khas yang amat pekat.
“Maaf, Nak Elang. Lea kami memang masih bocah.” Ibu Lea bersuara dari dapur, menaruh beberapa kue basah di meja.
“Gak apa Tante Hana. Elang udah tau kok.”
Elang pergi menuju kursi hijau belel di tengah ruangan, dimana orang tua Lea duduk. Ia meraih sebuah goodybag yang kemudian diberikan pada Lea.
“Pake ini, jam lima kita pergi.”
Lea meraih benda itu masih dengan keadaan antara sadar dan tidak. Ia masih mematung, melihat jam di dinding. Masih ada dua puluh menit sebelum jam lima.
Melihat Elang yang berdiri mengenakan kemeja putih lengan panjang namun digulung sebatas sikut. Celana jins hitam senada dengan dasi hitam sebagai pelengkap. Sangat pas di badan Elang. Terakhir ia melihat orangtuanya sedang menatap Lea dari kursi.
__ADS_1
“Kok malah bengong, kamu ada janji kan mau jalan sama Elang?” tegur Ayah Lea.
“Janji jam lima, tapi Nak Elang udah datang dari jam tiga lho. Eh kamunya malah ngorok aja terus.” Ibu Lea menggelengkan kepala.
“Hah?” Lea makin melongo.
“Udah cepet ganti baju sana, di dalem goodybag itu ada baju yang harus lo pake.”
Elang nampak tak canggung sama sekali di depan kedua orang tua Lea. Walau bingung gadis itu langsung berlari ke kamar mandi.
Kurang lima menit menuju jam lima, Elang dan kedua orang tua Lea sudah berdiri di teras.
Sementara gadis itu baru keluar dari kamar, mengenakan dress putih selutut tanpa lengan dengan rambut digerai dan dihias bando bunga warna putih, tak lupa sepatu hak tinggi berwarna sama. Semua itu adalah benda yang ada dalam goodybag dari Elang.
“Om, Tante kami pergi dulu. Pokoknya jam sembilan malam, Kiandra saya pastikan sudah di rumah.” Elang menyalami Ayah dan Ibu Lea dengan santun.
Cih, Ayah dan Ibu tak tahu saja kalau lelaki ini pernah melecehkanku. Lea mendelik sebal melihat Elang tersenyum ketika menggiring pinggangnya menuju motor di halaman.
Senyum itu membuat Lea terkesima barang sesaat, ia bukan seperti Elang yang selama ini Lea kenal.
“Lekas selesaikan, aku tak ingin ada perjanjian ketiga.” Lea memberikan jaket kulit milik Elang untuk lelaki itu kenakan.
“Lo yang butuh, bukan gua.” Elang mengingatkan seraya memasang helm di kepala Lea. Membuat gadis itu bungkam.
Sebenarnya ingin berteriak bahwa ia tak perlu repot-repot mengadakan kesepakatan dengan Elang karena hal itu hanya akan mempersulit diri sendiri.
Tapi sayang Lea punya alasan kuat untuk tak berkata demikian. Elang selalu datang disaat yang tepat. Hanya saja kedatangan setan licik itu merupakan bantuan sekaligus ancaman untuknya.
Tanpa perlu diperintah, Lea naik ke atas jok motor Elang. tempat duduk yang sungguh membuat ia tak nyaman karena condong ke depan. Apalagi kini ujung pakaian Lea tertarik keatas saat duduk. Membuat ia harus menariknya beberapa kali agar bisa menutup paha.
“Hei, paling tidak aku harus tahu apa yang akan terjadi. Aku takkan tinggal diam kalau kau menawarkanku untuk melayani om-om. Maaf saja, aku bukan perempuan seperti itu.”
“Lo pikir gua ini germo?” gumam Elang kesal.
Mengambil jaket kotak-kotak biru dari bagasi untuk dipakai Lea. Jaket besar yang biasa Elang pakai ke sekolah.
Ia terlihat berpikir sejenak, kemudian membuka jaket dan menutupkan ke paha Lea. Ternyata Elang peka juga kalau pakaian yang ia pinta untuk Lea pakai sama sekali tak cocok dengan motornya.
“Hmm. Sip!” Elang memperhatikan Lea dari atas ke bawah, mengangguk beberapa kali sebelum ia akhirnya menyalakan mesin motor.
֎
Berada di atas motor Elang mengingatkan Lea pada peristiwa saat lelaki membawa pulang Lea ke rumah.
Kemudian pikirannya melompat pada waktu ia dipeluk Elang di Sekolah, mengatai Lea dengan perkataan tak senonoh.
Lalu beberapa menit lalu, ia datang ke rumah. Begitu ramah dan sopan meminta ijin untuk membawa Lea pergi. Entah, Lea tak tahu pasti orang seperti apa Elang ini. Ia seolah memiliki banyak kepribadian.
“Kiandra, turun!” perintah Elang untuk yang kesekian kali dengan nada kesal.
Motor Elang sudah berhenti, dan Lea malah asyik melamun sepanjang perjalanan hingga tak sadar kalau Elang telah membawanya ketempat tujuan.
Lea dengan wajah bersemu merah menahan malu karena ketahuan melamun cepat-cepat melompat dari motor Elang. Melipat kedua jaket Elang dan memasukannya ke bagasi motor.
Elang berjalan terlebih dahulu menuju sebuah rumah mewah, pintu depan rumahnya terbuka lebar membuat Lea bisa melihat keramaian di dalam.
֎
__ADS_1