
Elang semakin mempercepat langkah menuju satu ruangan di antara ruangan Ekskul yang tepat di sisi kanan sekolah. Ia menyongsong pintu dengan tulisan ‘Ekskul Seni Musik’. Tempat ia bernaung selama satu tahun terakhir.
Sekilas mengenai anggota Ekstra Kurikuler Seni Musik, mereka adalah anak-anak berbakat yang membawa musik Gamelan ke kancah Nasional.
Elang meski bukan Ketua, namun berfungsi sebagai penggerak. Penanggung jawab pelatihan sejak tiga bulan lalu, ia dicap sebagai ‘jenius musik’ sebab selalu bisa membawa nama sekolah dalam beberapa kompetisi musik tradisional.
Kali ini, ia bergegas menuju Ruang Musik bukan untuk membicarakan perihal Ekskul. Melainkan membicarakan masalah Band, satu kelompok iseng yang mereka bentuk sebagai pembaharuan dari Musik Tradisional. Grup yang diberi nama ‘Band Inti’ itu justru menjadi penarik perhatian siswa lain untuk melirik Ekskul Seni Musik. Jika Elang sebagai ketua, maka anggotanya sudah bisa ditebak yakni Gentra, Tri, dan Adi.
“Ada masalah apa sampai lo ngumpulin kita tiba-tiba begini?” pertanyaan Tri langsung menodong Elang kala ia membuka pintu dan mendapati ketiga temannya.
Beruntung, bukan hanya pertanyaan yang Tri sodorkan, melainkan sebotol teh manis juga. Elang duduk di kursi kosong sebelah Tri, meneguk habis isi botol dalam satu tegukkan.
“Desi kena radang tenggorokkan.”
“Oh.” koor ketiga teman Elang. Sesaat kemudian mereka terkesiap, “Hah? Apa?”
“Hmmm... Gua paham, bau-bau gak enak nih.” Gentra berdiri. Mondar-mandir menirukan raut wajah Sherlock Holmes yang sedang menguak kebenaran, “Gebyar Ekskul minggu depan, kemungkinan Desi gak bisa sembuh saat itu?”
Elang menjentikkan jari, tanda membenarkan tebakan Gentra. Saat ini ia memang cemas pada keadaan parah radang tenggorokkan yang dialami Desi. Terlalu hobi makan-makanan pedas, hingga tak peduli akibatnya. Elang sudah sering melarang Desi menyentuh makanan pedas, tapi gadis itu benar-benar tak bisa diatur kalau mengenai urusan perut. Namun disamping itu semua, ada hal yang lebih Elang cemaskan. Bagaimana nasib Band Inti mereka tanpa Desi sang vokalis.
“Bagaimana pun Band Inti harus tampil.” Reka, ketua Ekskul Seni Musik tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Adi.
“Bisa tanpa Desi, Kak?” Elang menaikkan sebelah alis, sangsi dengan keputusan bulat sang Ketua.
“Itu tanggung jawab kamu, Lang. Kan kamu yang mimpin Band Inti. Harusnya ini bagian pertanyaan Kakak, kalian bisa tampil tanpa Desi? Tri gitu coba jadi vokalis.”
Reka mengakhiri pertanyaan dengan menatap si remaja kulit putih. Tri mendadak memasang tampang semanis mungkin, namun sesaat kemudian ia mengangkat jari tengah yang membuat Reka terkekeh. Ia jelas menolak.
“Anggota kita kan banyak, tinggal pilih salah satu dari mereka. Beres.” usul Adi dengan enteng, menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Seketika Elang, Tri, Gentra dan Reka memandang Adi dengan wajah geram. Adi sepertinya lupa saat kemarin mereka melakukan audisi internal untuk mencari vokalis cadangan. Bukankah dia sendiri menolak mentah-mentah mereka semua? Karena tak ada satu pun suara yang menurut Adi cocok dengan Desi.
“Eh iya. Kita gak punya ya?” Adi cengegesan sambil garuk-garuk kepala tak gatal. Ia sudah mengingat perihal audisi kemarin sebelum keempat orang itu membenturkan kepalanya ke tembok Ruang Musik.
“Minjem suara Ekskul lain, bisa gak ya?” ide itu tiba-tiba muncul dari Elang.
“Ilangin seringai lo itu, Lang. Ekskul lain juga sama-sama sibuk buat Gebyar Ekskul senin nanti. Kita tuh lagi saingan sama mereka buat dapet anggota baru. Gila aja kalo mereka ngasih bantuan.” Tri mengangkat tangan, ingin sekali memukul Elang.
__ADS_1
Tapi lelaki itu malah semakin memamerkan satu gingsul dibalik bibir tipis. Situasi yang dikatakan Tri memang benar, namun tak sepenuhnya. Ia memiliki satu suara favorit, dan hampir menyamai Desi. Hanya saja agak ragu apakah ia bisa memanfaatkan orang itu apa tidak. Lagipula jika setuju pun, Elang akan benar-benar jadi orang tak tulus sama sekali.
“Coba dulu deh.” Elang beranjak, mengambil jaket biru kotak-kotak yang tergantung di dinding dan bergegas keluar ruangan.
“Nekat banget tu orang. Mau ditaruh dimana harga diri kita, Men?” Adi geleng-geleng kepala.
“Dia emang suka seenaknya sendiri.” timpal Gentra melirik Reka, lelaki itu hanya menjawab dengan mengangkat bahu.
Tanpa yang lain sadari, Tri mengigit bibir. Ia memang terlalu peka, mengendus satu niat lain dari Elang. Sahabatnya itu jelas sedang memutar otak untuk mulai melancarkan modus pada seseorang.
Please Lang, gua harap bukan dia. Sejak kapan lo berubah jadi gak profesional gini? Batin Tri.
֎
“i’m in love with your body,. Come on be my baby, come on...” Ririn, sang ketua Ekskul Dance mengangguk anggukkan kepala tatkala menyaksikan puluhan anak buahnya menari dengan kompak di Aula sekolah. meneliti kemahiran mereka dalam menguasai geraka yang baru saja ia ciptakan untuk ditampilkan dalam Gebyar Ekskul nanti.
“Good, perfect! Sini-sini kita kumpul dulu.” Ririn bertepuk tangan saat lagu dan gerakkan tari berhenti bersamaan. Semua anggota dengan riuh langsung duduk melingkar dengan Ririn bersila di tengah.
“Mulai bulan depan kan Kakak akan sibuk persiapan UN, jadi Kakak ingatin lagi buat jadi pelatih dan pembimbing penerima anggota baru masih seperti kesepakatan kita minggu lalu. Kakak serahkan pada Lea, Ayu, Putri, dan Sisil.”
“Akhir semester ini, makanya kalian mulai keluarkan jiwa pemimpin dong. Selain empat penanggung jawab tadi, Kakak harap kalian semua bisa mengajukan diri sebagai pengganti Kakak. Siap?”
“SIAP!!!” Koor semua anggota.
Ririn mengangguk, lantas lihat jam pada pergelangan tangan. Sudah menunjukkan pukul tiga sore, maka setelah memberi beberapa pengarahan untuk latihan berikutnya, ia pun membubarkan latihan.
“Kak kita duluan ya...” ucap beberapa anggota pada Ririn yang mengunci Aula, ia memang biasa pulang paling akhir diantara anggota lain.
Sementara Ririn masih berusaha mengunci Aula, tak jauh dari tempat ia berdiri ada Elang yang menjinjing helm memperhatikan dengan wajah merah padam. Bagaimana tidak, ia sudah dua jam berdiri di depan Aula untuk menunggu mereka pulang. Padahal salah sendiri karena memutuskan menunggu tanpa tahu jadwal latihan Ekskul Dance.
“Bangsat! Gak efektif banget, Ekskul apaan kumpul lama-lama sementara prestasinya dibawah rata-rata? Masih banyakan Musik lah. Untung mereka cewek semua, kalo cowok udah gua ajak duel satu-satu tuh.”
Umpat Elang hampir saja membanting helm jika saja ia tak melihat para anggota Ririn keluar Aula satu persatu. Ia bahkan sempat menyeringai saat Lea, si gadis ceroboh itu lewat dan pura-pura tak melihat. Namun, Elang pun turut mengabaikan karena bukan dia orang sedang ditunggu Elang.
“Sore, Kak.” Elang memasang wajah seramah mungkin. sedang Ririn malah menyambutnya dengan rahang mengeras dan wajah super duper jutek. Melayangkan pandangan sama dengan Lea, sorot mata penuh ketidak sukaan terhadap Elang.
“Kiandra Azalea ada, Kak?” Elang berbasa basi, padahal sudah jelas gadis itu telah pulang.
__ADS_1
“Keracunan makanan, Lang? Seumur hidup disini, belum pernah aku mendengarmu menanyakan perempuan. Ada urusan apa kamu sama Lea?” sadis. Ririn sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan luluh dengan sikap manis Elang yang hanya akan tampak satu kali dalam seratus tahun. Ia bahkan melipat tangan di dada, menyipitkan mata dengan melayangkan tatapan curiga.
Jiiir, Nenek bawel satu ini emang gak bisa dibaikin! Ngerasa terhormat dikit kek, udah di manisin sama seorang Elang. Memang dasar temperamental, Elang mulai tersulut emosi karena tingkah Ririn.
“Saya membutuhkan Kiandra untuk jadi vokalis Band Inti pada Gebyar Ekskul nanti.” Elang terdengar menekan setiap kata yang terucap dan tetap tersenyum. Padahal ia tengah menahan emosi keras-keras agar tak kelepasan melayangkan pukulan pada gadis pemberani tersebut.
“Tidak bisa.” tukasnya tegas. Mengulum senyum melihat rona di wajah Elang berubah seketika, “Lea wakilku, ia harus fokus untuk jadi penerusku. Lagipula kau lupa kita ini rival? Lang ayolah benturkan kepalamu sekali lagi, agar kau lekas waras.”
“Sombong banget lo, lebih baik turutin aja kemauan gua.” berakhir sudah sandiwara Elang, ia kini memasang wajah dinginnya kembali. Bukannya gentar, Ririn malah tersenyum sinis karena si adik kelas sudah kembali waras. Ia mendelik sesaat lalu berjalan santai melewati Elang begitu saja.
“Ririn! Liat aja, gak ada yang gak bisa gua lakuin. Apalagi cuma ngambil gadis bodoh dari genggaman Nenek Lampir kayak Lo!” ancam Elang, berbagai ide licik sudah ia susun dalam otaknya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Ririn melambaikan tangan tanda menantang dan menantikan apa yang akan Elang lakukan untuk mengambil Lea.
֎
Lea tiba bersama Arief di sekolah. Motor lelaki itu rusak dan ia harus naik angkutan umum. Kebetulan sekali ketika Lea naik, Arief sudah berada di dalam angkot. Hal yang sangat jarang terjadi, dan itu membuat mood Lea lebih bagus berkali-kali lipat.
Sinar mentari merambat pada dedaunan cengkeh dan melinjo, jadi tampak lebih indah dimata Lea. Karena jarang mendapat kesempatan jalan berdua seperti itu, maka ia merasa waktu bersama Arief terasa berharga.
Namun, semuanya lenyap tatkala seorang manusia berotak setan datang menghampiri. Tubuh persis Benteng Takeshi itu terlalu sulit untuk Lea panjat agar bisa lewat. Lea menelan saliva, ada angin apa Elang tiba-tiba menghadang dipagi buta?
“Rief, gua pinjam Lea.” suara dingin Elang mampu membuat seisi dunia membeku. Termasuk dua orang di depannya. Suasana mendadak angker, serius.
Pinjam? Dia bilang pinjam? What the... Duh! Apa ini harinya aku bakal jadi samsak tinju? Lea mendadak pucat pasi, ia masih kepikiran soal dimana ia mengotori sebagian celana Elang dengan debu kelas tempo hari. Padahal kejadian itu sudah berlalu hampir dua minggu lamanya. Lea tenang karena Elang tak berbuat apa-apa selama ini, tapi sekarang dia...
“Ah, udahlah.” tanpa menunggu persetujuan Lea atau Arief, Elang melingkarkan jemari di pergelangan tangan Lea. Menarik gadis mungil itu dengan kasar untuk menjauh dari Arief, langkahnya begitu lebar hingga Lea agak terseok-seok.
“Mau apa kamu? Lepasin!” Lea sekuat tenaga meronta, berupaya melepaskan diri dari cekalan Elang. Bukannya lepas, cengkraman Elang malah makin kuat. Ia diam seribu bahasa dan terus menyeret Lea diantara hening pagi.
“La-Lang, jangan di apa-apain!” teriak Arief dari kejauhan.
Astaga diapa-apain apa maksudnya? Pikir Lea semakin kalut mengikuti langkah besar setan satu itu. Ia menoleh sesaat, terlihat Arief masih terpaku di tempat dan hanya memperhatikan dari kejauhan.
Lea ingin menangis saja, jika memang ia dalam situasi berbahaya seharusnya Arief mengejar mereka dan menyelamatkan Lea. Ia merasa Arief benar-benar tak setia kawan.
֎
__ADS_1