
Tri mengajak Karla pada teman-temannya. Asyik mengobrol sambil menggoda Sintia, si bayi mungil dalam gendongan Karla. Tri menarik tangan seorang gadis yang sejak tadi berdiri bersama Reva.
Cindy, Tri perkenalkan sebagai kekasih yang ke enam puluh tiga pada Karla. Membuat kakak perempuannya itu geleng-geleng kepala. Reva pun turut berdecak heran dengan kelakuan Tri.
“Mas Renal, aku ke belakang dulu ya. Sintia harus ganti popok kayaknya.” pamit Karla pada sang suami yang baru datang. Renal, kakak ipar Tri sekaligus kakak kandung Reva itu mengangguk.
“Kenapa kalian gak bareng Elang?” tanya Reva seraya mengedar pandangan ke seluruh ruangan. Mencari sosok yang sejak tadi ia nantikan.
“Pengennya bareng, tapi pas kita ke rumahnya dia udah gak ada.” Tri semakin mempererat gandengan pada Cindy.
“Iya, kami kira dia udah duluan kesini. Ternyata belum.” timpal Gentra.
“Ah, kalian kayak gak tau Elang aja.” imbuh Adi, didukung anggukkan Tri dan Gentra.
“Tapi kan dia udah janji.” Reva sedikit menunjukkan wajah kecewa, padahal ia sudah sangat berharap Elang datang memenuhi undangan. Paling tidak ia bisa menunjukkan pada teman-teman kalau dirinya adalah gadis hebat, karena berhasil menaklukan Elang.
Sedang di bagian lain ruangan, Sarah dan Winda tengah berkumpul dengan teman-teman lain menikmati pesta. Pesta terasa amat ramai dan mewah seperti perkiraan, camilan tersaji di setiap sudut. Musik bervolume rendah tiada henti di putar untuk sekadar menjadi pemanis suasana.
“Kita semua ada disini kecuali Lea, masak sih gak ada yang bisa ikut nyertain dia?” decak Nandar, mendadak merasa kesepian karena tak ada Lea.
“Kamu sih gak mau ngalah, padahal aku pengen ngajak dia.” ucap Arief.
“Aku kan penasaran. Tapi gak asyik ternyata tanpa Lea.”
“Bukannya itu Elang?” seruan salah seorang tamu mengalihkan atensi semua orang. Mereka serempak melihat ke arah yang ia tunjuk. Pintu depan rumah Reva.
Semua tamu dibuat terpesona dengan kedatangan seorang lelaki jangkung yang nampak gagah. Memandang dingin sekeliling, namun melangkah dengan tegas ke dalam ruang pesta.
Semua orang mematung, jangankan bersuara, mereka mendadak tak berkedip menikmati keindahan ciptaan Tuhan berpakaian hitam putih tersebut. Elang, dengan mata tajam namun terang terus mengayunkan tungkai.
“Beneran dateng!” gumam Tri, Adi dan Gentra. Melirik satu sama lain dengan wajah terkejut. Sedang Elang yang kikuk karena dipandangi para tamu langsung menghampiri Renal.
“Elang, suatu kehormatan kau datang.” Renal memeluk Elang dengan hangat.
“Lama gak ketemu, Mas.” Elang nampak ramah sumringah, “Mas apa kabar?”
“Selalu baik. Kau sih tak pernah main kemari.” Renal menepuk lengan Elang. Si lawan bicara hanya tersenyum tipis, “Datang sendiri, Lang?”
Mendadak alis Elang bertaut mendengar pertanyaan Renal. Ia menengok ke belakang, yakin kalau sejak tadi ada seorang gadis yang mengikutinya. Namun ternyata di belakang hanya ada kekosongan. Tak ada siapa pun.
Ia berdecak lantas setengah berlari kembali ke pintu depan, menggelengkan kepala saat melihat Lea bersembunyi dibalik pintu.
“Lang, aku tak diundang.” bisik Lea melirik Elang.
“Kiandra, lo dateng sama gua.” Elang tanpa ekspresi menarik sikut Lea untuk masuk.
Semua mata kian membola melihat keduanya. Tak percaya kalau Elang sang jomblo abadi akan datang ke pesta ulang tahun Reva bersama seorang gadis.
Suasana mendadak riuh bergemuruh, saling bertanya mengenai peristiwa langka tersebut. Beberapa dari mereka bahkan mengabadikan potret Lea dan Elang dengan ponsel untuk mereka jadikan konten forum sekolah sebagai gosip baru.
Lea terus melangkah dengan takut. Ia sedang ditatap semua orang, bahkan untuk sekedar menelan ludah saja Lea sudah tak mampu.
Orang-orang saja tak menyangka Elang membawa Lea ke pesta, apalagi Lea. Ia tak tahu menahu soal rencana lelaki itu. Misteri yang selama ini menjadi perbincangan pun akhirnya terpecahkan, gadis pendamping Elang ke pesta ternyata Lea sendiri.
“Sama ini, Kiandra Azalea.” Elang baru melepas sikut Lea saat dihadapan Renal. Gadis itu langsung mengulurkan tangan pada Renal.
__ADS_1
“Lea.”
“Oh, aku Renal. Kakak Reva sekaligus teman Elang.” ucapnya ramah menyambut uluran tangan Lea yang berkeringat dingin.
Fokus Renal kemudian kembali pada Elang, “Sejak kapan kamu punya teman cewek, Lang? Adikku sampai salto mengejarmu, kau acuhkan terus.”
“Sejak aku mengenali dirimu, bermacam dugaan yang kuhadapi...” Tri tiba-tiba menyahut dengan sebuah lagu sebelum Elang membuka mulut. Ia dan teman lain langsung mengerubungi Elang.
“Waah surprise banget, Bro.” Adi bertos ria dengan Elang sambil melirik Lea.
“Lea, gua yakin bukan lo yang ngajak. Tapi Elang yang maksa kan?” Tri menyipitkan mata. Lea mengangguk sambil cemberut, tapi Tri malah sumringah.
Gadis itu menyaksikan bagaimana Gentra dan Adi dengan wajah kesal memberikan uang masing-masing dua ratus ribu pada Tri.
“Kita taruhan si Elang bakal dateng sendiri apa enggak. Gentra nebak sendiri, Adi nebak bakal sama Desi. Gua nebak dia bakal maksa lo buat ikut, dan gua menang.”
“Oh seru ya?” Lea memelototkan mata bulatnya sambil berkacak pinggang, enak saja ia dijadikan taruhan. Sedang Renal memandang heran memperhatikan tingkah teman-teman adiknya.
“Desi mana?” tanya Elang.
“Tadi sih sama Reva, sekarang gak tau deh kemana.” jawab Gentra. Elang mengangguk, setelah pamit pada Renal ia menarik pergelangan Lea menghampiri sang tuan puteri.
“Va, selamat ulang tahun ya.” Elang menyalami Reva.
“Thanks udah dateng, Lang.” Reva memasang tampang semanis mungkin. Keduanya mengobrol ringan tanpa memperdulikan keberadaan Lea.
“Hei dia bukan pacarmu kan?” tunjuk Reva pada Lea.
“Yaampun, sampai lupa. Ini Kiandra Azalea, temennya Sarah.”
Lea tak nyaman hanya dijadikan ‘obat nyamuk’, pun dengan Reva yang nampak tak berminat berkenalan. Apalagi kini teman-teman Elang turut bergabung. Ia sama sekali tak bisa masuk ke dalam obrolan mereka dan memutuskan untuk sedikit menjauh.
Mengedar pandangan mengingat teman-temannya diundang ke pesta. Namun, ia kesulitan menemukan mereka ketika ia masih menjadi pusat perhatian semua tamu. Lea mendadak jadi alien.
“Lagi ngapain?” tegur Elang, mendatangi Lea seorang diri.
“Nggak.” Lea terdiam sesaat, “Mm Lang, bisa gak aku pulang duluan?”
“Ayolah… Pestanya bahkan belum dimulai,” dengus Elang. “Lo pulang, gua juga pulang. Tapi gua tak bisa ninggalin temen-temen sebelum acara dimulai, ngerti dikit lah.”
“Aku bisa kok pulang sendiri.” Lea memasang wajah memelas.
Tadi Elang meminta pengertian pada Lea, kini seharusnya ia mengerti posisi Lea. Namun, lelaki itu malah menggeleng keras. Lagi-lagi menarik sikut Lea. Membawa gadis itu ke tempat dimana semua sahabat Lea berkumpul.
Sepanjang perjalanan, bisa Lea dengar bisikan-bisikan dari para tamu. Sebagian berdecak takjub, sementara sebagian besarnya mengatakan hal jelek soal Lea.
Ia gadis penggoda lah, si nothing kumuh lah, dan hal lain yang membuat ia tak enak hati. Tapi sebisa mungkin hal itu Lea abaikan. Karena toh mereka hanya berani bicara di belakang.
“Gak ada alesan buat lo pulang duluan.” ucap Elang dingin, pergi begitu saja setelah mengantar Lea.
“Thanks, Lang!” seru Arief, Elang hanya mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh. Lelaki itu nampak bergabung dengan antek-anteknya.
“Aku tak percaya kau datang bersama Elang!” seru Nandar.
“Kamu baikan sama Elang?” tanya Sarah. Lea mengangguk.
“Dia udah minta maaf ke aku.”
“Tunggu, emang Elang punya salah apa ke kamu sampai dia harus minta maaf?” Arief merasa tak mengerti pembicaraan Lea dan Sarah. Ketiga gadis di depannya saling pandang, lalu menggeleng bersamaan.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kok bisa kamu dateng bareng Elang? Tadi langsung heboh loh.” tanya Winda.
Lea lalu menceritakan soal perjanjian dengan Elang tanpa ditambah dan di kurang. Agar mereka mengerti kalau ia bersama Elang bukanlah kemauannya dan hanya sekadar membalas budi atas buku tugas dari Elang.
“Tapi dia nganter kamu ke kita, dia pengen kamu ikut seneng-seneng aja sama kita.” bela Arief saat ketiga gadis itu ribut menjelek-jelekkan Elang.
“Rief, kok kamu terkesan naksir sama Elang ya?” celetuk Nandar, membuat Lea, Sarah dan Winda memandang Arief dengan tatapan aneh.
“Lah? Ngaco!” Arief mulai salah tingkah.
Tengah asyik mereka mengobrol, Desi tiba-tiba datang menabrak tubuh Lea seraya menumpahkan minuman berwarna hijau pada pakaian Lea, “Ups, sori... Sengaja.”
“Des, apa sih maumu? Urusan kita udah lama selesai ya.” Lea berusaha membersihkan gaun dengan tisu dari Winda.
“Aku keganggu aja cewek tengil kayak kamu ada disini.” kata Desi dengan angkuh, “Eh kismin, malu dong kesini buat ngotoron rumah Reva.”
“Des, nggak usah ngomong gitu lah.” tukas Arief. Desi tersenyum sinis padanya.
“Lea... Lea.” Desi meninggikan suara hingga semua orang menatap kearahnya. “Hebat banget ya, kamu bisa manfaatin Elang buat ngedongkrak popularitas. Mau nyari sensasi?”
“Aku gak ngerti apa yang kamu maks...”
“Oh dia nebeng populer aja nih ceritanya? Kirain bener gebetan Elang.” celetuk salah seorang tamu.
“Tuh cewek yang gantiin Desi di panggung kan? Mimpi lo ketinggian kalo pengen jadi superstar, nyadar diri dong!” timpal yang lain.
“Modal dikit dong kalo pengen populer, gak usah jadi benalu!”
“Huuuu!” semua orang menyoraki Lea.
Lea menatap mereka satu persatu dengan mata panas.
Mengepalkan kedua tangan dengan napas tak beraturan, ia sedang dipermalukan. Ia malu karena menjadi bulan-bulanan para tamu yang merasa dirinya suci tersebut. Terlebih lagi dengan tuduhan mereka yang sama sekali tidak benar.
Teman-teman Lea pun tediam tanpa bisa membela. Cukup tahu diri, tak mungkin sebagai tamu mereka memancing keributan. Alhasil dengan perasaan tak menentu, Lea berlari ke rumah secepat mungkin. Melewati beberapa orang yang masih senang memperoloknya.
Semua teman Lea bergerak keluar, berupaya mengejar gadis yang mulai terisak tersebut. Elang lantas menerobos, berlari kencang mendahului mereka.
“Kiandra!” Elang berhasil menahan sikut Lea, menghentikan langkah gadis mungil tersebut.
Lea berbalik, melayangkan tatapan tajam yang membuat Elang terhenyak. Lelaki itu pun tak menyangka kalau Desi akan mempermalukan Lea hingga seperti itu.
“Akhirnya aku tahu tujuan kamu.” suara Lea kian kemetar. Mengibaskan tangan Elang dari tangannya dan mundur beberapa langkah, “Aku harap kamu puas!”
“Enggak, gua sama sekali gak tahu Desi bakal kayak gitu.” Elang terus melangkah perlahan mendekati Lea, “Lo mau pulang? Gua anter ya?”
“Aku bisa pulang sendiri.” Lea mengusap kasar air mata.
“Ini udah malem, Kiandra.” Elang melembutkan suara. Lea menggeleng, ia benar-benar marah kali ini.
Lagi, dan lagi. Elang terus saja mempermalukanya. Ia salah begitu mudah percaya pada Elang, mulai hari itu ia bertekad takkan mau melihat atau bicara pada Elang lagi apa pun yang terjadi.
Kedua netra Lea melihat Arief menghampiri. Menyampirkan sebuah jaket ke punggungnya untuk menutupi pakaian kotor Lea, “Rief, aku mau pulang.”
“Oke. Kamu duluan ke parkiran, aku bakal nyusul.” Arief mengelus kepala Lea sesaat sebelum gadis itu melangkah pergi.
Elang hendak mengejar Lea namun tangannya ditahan Areif. Mereka saling berpandangan cukup lama, membiarkan teman-teman lain pergi lebih dulu untuk menyusul Lea.
“Rief, gua beneran gak maksud.”
“Aku tahu. Tapi, kasih Lea waktu.”
֎
__ADS_1