
Mengalunnya musik klasik dari tape recorder meandakan para penari harus segera bersiap. Ketika musik berubah bertempo cepat, turunlah para penari bak bidadari ke lapangan dengan Lea sebagai pusat dari barisan. Mereka mulai menunjukkan kebolehan menggerakkan badan sesuai irama.
Elang berdiri di tepi lapangan dengan terengah-engah, setelah menegur ulah Desi ia berusaha keras mencari Lea.
Setelah mendengar alunan musik khas Ekskul tari, ia bergegas menyusup diantara deretan siswa yang menikmati pertunjukkan para penari. Mata tajam lelaki itu tepaku melihat bagaimana Lea menari dengan lincah diantara penari lain.
Si polos itu benar-benar mirip peri. Batin Elang. Sejak kecil yang Elang tahu hanyalah berkelahi, orang sekitar adalah musuh. Namun seekor kupu-kupu kecil itu berhasil menyelinap ke goa yang Elang bangun. Sayap kecil namun bercahaya, ia tersentuh tatkala sepasang sayap itu menjelma menjadi pupil mata seorang Kiandra Azalea.
“Kiandra dan lapangan, sungguh cocok.” Lirih Elang.
Pikirannya kembali teringat bagaimana dulu selepas MOS ia memperhatikan Lea setiap hari. Mengawasi saat gadis itu keluar dari kelas yang berseberangan dengan Elang.
Lalu ia lebih sering terlihat dihukum Ririn dengan membersihkan lapangan dari sampah untuk persiapan latihan, karena Lea kerap ceroboh dan usil mengganggu anggota lain.
Adapula ketika seusai upacara bendera, Elang pernah kena razia karena rambut panjang. Namun Lea malah sebaliknya, ia kena razia karena rok kependekkan. Pak Setiawan dengan guntingnya membelah sisi rok Lea tepat di depan Elang. Sampai paha Lea yang terekspos menjadi contoh semua siswi agar tak melakukan hal serupa.
Elang hampir saja meninju Pak Setiawan saat itu jika saja tak melihat bagaimana Lea bahkan dengan cengar-cengir meminta maaf dan lewat begitu saja.
Elang selalu merasa tergelitik dengan tingkah Lea. Gadis itu kadang ceroboh, kadang lucu, polos sampai menyebalkan. Satu tahun Elang meraih berbagai prestasi di sekolah hanya untuk meraih perhatian Lea. Namun, gadis itu sama sekali tak meliriknya.
Rasa penasaran yang menggebu di dada Elang kian kacau tatkala Lea tak merespon baik semua yang telah Elang lakukan. Ia kira Lea akan seperti gadis lain, memujanya dan menarik perhatian dengan berbagai cara. Sayang, Lea bahkan tahu mengenai sosok Elang saat mereka sekelas tiga bulan lalu.
Maka timbullah kemarahan, bukan pada Lea melainkan pada diri sendiri. Marah karena ia justru menjadi bingung dan sesak saat berhadapan dengan gadis itu, dan sikap tak jelas Elang malah menyulut api kebencian di mata Lea.
“Hai.” Sapaan Arief mengejutkan Elang, entah sejak kapan lelaki itu telah berada tepat di sebelahnya.
Arief dengan semangat menunjuk ke arah Lea, “Kau lihat, itu Lea!”
“Aku tahu, dia sekelas denganku” jawab Elang malas tanpa mengalihkan atensi dari Lea.
“Kiandra, begitu caramu menyebut dia bukan? Namun ia adalah Azalea, bunga abadi yang sederhana tapi indah dan menarik. Persis seperti orangnya, aku sangat menyukai Lea.”
Arief berucap begitu tulus penuh senyuman. Elang terhenyak, sedikit panas akan kejujuran lelaki lembut itu. Seketika ia menatap Arief yang ternyata tengah memandanginya.
“Kau juga menyukainya.”
Arief melontarkan sebuah pernyataan, bukan lagi sebuah pertanyaan. Elang sangat ingin mengubur diri hidup-hidup. Bagus sekali, semua orang tahu apa yang sedang terjadi pada hatinya.
__ADS_1
Ia merotasikan kedua mata dengan jengah, “Haaah! Kau tak jauh beda dengan Ririn si Nenek Lampir itu, dasar kakak beradik menyebalkan.”
Elang memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu beranjak pergi meninggalkan lapangan. Serapat mungkin ia menutupi perasaan, tapi entah mengapa teman-teman dekatnya seolah tahu dengan mudah apa yang sedang Elang rasakan sekarang.
“Apa aku terlalu mencolok? Apa aku terlalu jauh melompat melewati batasanku? Semua ini tidak benar. Aku mulai ragu dengan segala, bimbang dengan langkah yang harus aku ambil. Kenapa rasanya susah sekali mengembalikan situasi saat Elang dan Kiandra sama sekali tak saling kenal?” Pikir Elang.
Pada akhirnya, mengapa situasi sulit ini tak bisa kembali, jawabannya hanya aku. Diriku yang ragu untuk menutup kembali pintu goa setelah pintu itu kubuka agar sang kupu-kupu kecil bisa keluar masuk dengan bebas. Semua salahku. Kiandra, mencintaimu sungguh suatu kesalahan yang membingungkan.”
֎
Sementara Arief kembali tersenyum memandangi Lea hingga pertunjukkan selesai. Arief segera menyusul gadis itu ke Aula milik Ekskul Dance.
Setelah gadis itu berganti pakaian, Arief mengajaknya kembali ke lapangan untuk melihat pertunjukkan dari Ekskul lain. Karena Arief yang seorang anggota PMR sudah selesai menampilkan kebolehannya sebelum Lea, jadi ia tinggal bersantai.
“Bisa gak ya suatu hari nati aku jadian sama kak Paisal?” Lea menopang dagu dengan kedua tangan tatkala menyaksikan Ekskul Pramuka melakukan unjuk kebolehan di lapangan.
Hati Arief sedikit mendesir mendengar pertanyaan tersebut, ia sibuk menggoda Elang namun lupa akan keberadaan Paisal. Meski ia tahu siapa Paisal sebenarnya, namun tetap saja lelaki itu telah menjadi pemilik hati Lea sejak lama.
“Bisa.” sahut Arief. Lea menoleh padanya dan melihat lelaki itu tersenyum manis, “Kalau orangnya adalah Lea, pasti bisa.”
“Lea ih, badan kecil tapi gak kira-kira.” Arief cemberut sambil menepuk beberapa bagian kemejanya yang kotor.
“Maafkaaan.” Lea menggoyang-goyangkan lengan Arief karena lelaki itu masih saja memasang tanpang kesal.
֎
Pukul dua siang Gebyar Ekskul berakhir. Semua siswa masih menikmati masa bermain-main di sekitar sekolah. Ada yang mulai mengambil bola basket, menggunakan sebagian lapangan untuk futsal, atau hanya hanya sekedar nongkrong tak jelas. Beberapa teman lain telah pulang.
Lea, Sarah, dan Winda berkumpul di Kantin, ketiganya asyik membicarakan penampilan Lea di Ekskul Musik sambil membantu gadis itu merangkai kata-kata yang akan ia tuangkan dalam selembar surat.
Atas saran Sarah, Lea kini berencana menulis sepucuk surat cinta untuk Paisal seperti mode pacaran jaman dulu.
“Biar lebih romantis dan berkesan.” Itu pendapat Winda.
Maka dengan hati berdebar tak karuan, Lea pun berusaha menuangkan isi hati yang ia pendam selama ini pada Paisal. Meski sebagian besar kalimat adalah hasil buah pikiran Sarah dan Winda.
“Yeay selesai!” seru ketiganya. Lea kemudian membungkus rapi surat yang mereka buat dengan amplop cantik berwarna merah muda.
__ADS_1
“Kak Paisal masih di basecamp Pramuka, biar aku yang ngasih ke dia.” Winda dengan senang hati menawarkan diri menjadi pengantar surat, ia bergegas menuju Ruang Ekskul Pramuka yang letaknya terpencil di belakang Sekolah.
Lea dan Sarah dengan ria menerka-nerka reaksi Paisal nanti saat menerima surat. Berharap cemas mengenai tanggapan lelaki ramah tersebut.
֎
Winda setengah berlari menuju basecamp Pramuka. Tapi, belum juga ia sampai ke tujuan, dirinya dicegat oleh tubuh tinggi seseorang. Sekilas dari posturnya saja sudah ketahuan siapa orang yang tiba-tiba datang menghadang tersebut.
“E…Elang?” Winda terbata. Sekejap mata, amplop yang Winda pegang sudah berpindah tangan, “Jangan diambil, itu punya Lea.”
“Tau kok.” Elang menyeringai lalu memasukkan amplop tersebut ke kantong celana.
Ia menatap tajam Winda sambil mengusap usap kepalan tangan kanan. Napas Winda mendadak pendek-pendek. Ia tahu kalau Elang tengah mengancam saat ini, “Kau masih ada urusan denganku?”
“Ti-tidak.” Winda otomatis berbalik dan berlari sejauh mungkin dari hadapan Elang.
“Lho? Cepet bener Win?” tanya sarah mendapati Winda telah kembali dengan terengah-engah.
“Sebelum aku nyampe ke Kak Paisal...” Winda meneguk minuman Lea untuk menstabilkan napas,
“Elang merebut suratnya. Ia mengancam akan memukulku kalau tak menyerahkan surat itu. Maafkan aku Lea.”
“Elang?” Lea memastikan. Winda mengangguk keras, “Apa-apaan dia seenaknya ngambil barang orang?”
Lea bangkit dari tempat duduk, beranjak pergi dari Kantin meski Sarah dan Winda telah mencoba mencegahnya. Serius, ia jengkel. Lagi-lagi Elang.
Bukankah secara tersirat mereka telah sepakat kalau setelah Gebyar Ekskul keduanya tak punya urusan apa-apa lagi? penampilan Lea di panggung adalah sebagai pelunas hutang tugas Matematika tempo hari. Tapi apa mau Elang sekarang hingga ia mencari gara-gara?
“Pokoknya apa pun yang terjadi, aku harus mengambil milikku.” Lea melangkahkan kaki agak cepat, berkeliling ke sekitar sekolah mencari keberadaan Elang. Ia lupa tadi tidak bertanya dimana Winda bertemu lelaki itu.
Lea mencoba mendatangi kelas, siapa tahu Elang ada disana. Namun, ketika tiba ia tak mendapati Elang, hanya ada beberapa teman yang saat ia tanyai tak tahu menahu dimana Elang berada.
Lea melangkah ke Ruang Seni Musik. Mereka justru berkata kalau Elang menghilang setelah kejadian Lea bertengkar dengan Desi tadi pagi.
Pilihan terakhir Lea adalah melangkahkan kaki ke kebun samping sekolah, dimana ia beberapa kali melihat Elang berdiam diri disana. Itu keputusan tepat. Lea melihat Elang tengah bersandar pada pohon cengkeh seraya tersenyum sinis ketika membaca surat Lea.
֎
__ADS_1