
“Sepuluh!” pungkas Lea menghempas tubuh diri ke lapangan, ia sudah tak peduli lagi bajunya akan kotor. Lea sudah sangat terlalu lelah.
Tapi senang, karena hukuman berakhir. Elang sendri duduk seraya menyelonjorkan kaki dengan napas memburu, sesekali terbatuk karena menghirup debu.
“Dihukum pun ada aturannya, teriakkan yang lantang suara kalian.”
Ririn menatap seluruh anggota di pinggir lapangan satu persatu.
“Dari awal aku bilang, saat di latihan di lapangan komando hanya ada pada Elang dan Lea.” tambah Irwan.
Elang dan Lea saling melirik, hal itulah yang mereka lupakan tadi.
“Lalu kalian tadi kami bubarkan, kenapa bubar? Lihat, tadi kalian di hukum satu seri, tapi komandan lapangan kalian kami hukum lima seri.
Ini akan berlanjut selama tiga pertemuan awal, masing-masing komandan harus menanggung tiga kali lipat kesalahan kalian. Setelahnya kalian akan dihukum sesuai porsi masing-masing. PAHAM?”
Semuanya terdiam, Lea berusaha bangkit tapi ia hanya mampu duduk di sebelah Elang. Anggota lain saling pandang, sedikit ragu dengan pilihan mereka masuk Ekskul Marching Band. Sebab segalanya jauh berbeda. Lantas mereka melihat Elang dan Lea kepayahan, rasa bersalah pun mencuat lebih dominan.
“Kalian tak dengar ucapanku?” Irwan kembali berteriak dengan nada tegas.
“Siap paham!” Tri yang paling pertama menjawab.
Lantas anggota lain menyusul, saling bersahutan menguatkan kembali tekad bahwa tempat itu adalah pilihan mereka sejak awal. Sahutan demi sahutan berubah menjadi penyemangat, beberapa diantara anggota bahkan mulai menyunggingkan senyum.
“Marching Band adalah yang terbaik!” Rama berteriak lantang sambil mengacungkan kepalan tangan, diikuti seruan dan tepuk tangan seluruh anggota tak terkecuali para pengawas dan pelatih.
Irwan mengangguk puas, ia menunduk. Mengulum senyum melihat kedua bawahanya nampak lusuh terduduk di lapangan.
“Ambil alih komando, dan pulanglah.” gumam Irwan lalu mengajak Reka dan Ririn pergi dari lapangan.
Elang susah payah berdiri. sedikit menepuk celana kemudian memperhatikan seluruh anggotanya, “Seluruh anggota, kumpul di lapang!”
Tak ada lagi keluh kesah, semua berduyun-duyun mengambil tempat untuk berbaris di. Elang melirik Lea yang masih saja duduk di hadapan para anggota, gadis itu berbisik kalau kaki kanannya kram.
“Balik kanan, grak!” titah Elang lantas melangkahkan kaki ke depan pasukan yang kini memunggungi Lea. Mereka melakukan apel penutupan dan membaca do’a bersama.
“Belum bisa berdiri?” Elang berjongkok menghampiri Lea saat pasukan telah bubar. Gadis itu menggeleng sambil memijat betis kanannya.
Tanpa kata Elang membuka sepatu Lea, sedikit demi sedikit mencoba menggerakkan pergelangan kaki gadis itu lantas memberikan pijatan begitu lembut hingga perlahan Lea bisa menggerakkan kembali kaki.
“Terima kasih.” Lea kembali mengenakan sepatu, tersenyum senang karena kakinya bisa bergerak lagi.
Ia hendak berdiri, tapi tangan Elang tiba-tiba menarik tangan Lea dan menempatkan tubuh gadis itu di punggungnya. Seperti membawa kapas, Elang begitu mudah menggendong Lea berjalan menyusuri lapangan.
“Apa yang kau lakukan?” Lea berusaha turun namun tangan kedua tangan Elang menahannya.
“Gendong lo lah, apa lagi? Kasian kan moncil gua kecapean,”
“Moncil?”
“Hm. Monster kecil.” kekeh Elang dihadiahi geplakan Lea di punggungnya.
“Wooow mereka!” seru salah seorang anggota menunjuk Elang dan Lea hingga semua orang yang bergerak menuju Ruang Alat langsung memperhatikan keduanya.
Wajah takjub, heran, terkejut, tampak terpancar tatkala menyakksikan dua sejoli yang memberi totonan geratis itu.
__ADS_1
“Lang, gosip soal kita baru reda. Aku tak ingin ada gosip baru.” bisik Lea semakin menyembunyikan wajah di punggung Elang karena malu.
“Jangan bilang lo dulu jauhin gua bukan karena marah tapi karena gemparnya gosip saat kita ke pesta Reva?”
Lea mengangguk seolah Elang bisa melihat, “Aku jadi korban cemooh para penggemarmu yang brutal, mana mungkin aku bisa melawan mereka sekaligus?”
“Gak usah hiraukan para nyamuk Amazon itu.”
Elang melenggang santai melewati orang-orang yang masih terbelalak. Wajah Lea semakin merah karena Elang malah mengencangakan penyanggah di kaki Lea agar gadis itu tak bisa turun. Gadis itu hanya bisa pasrah sambil menahan malu.
“Aku yakin selama ini mereka backstreet.” terdengar seseorang berbisik di belakang Lea. Gadis itu menggeleng dalam diam.
“Gak mungkin, kayaknya baru jadian deh.”
“Tapi emang bener, Kak Elang bisa taken gitu aja? Pake semacam pengasihan kayaknya tuh Kak Lea.”
Duh itu kelas sepuluh, sembarangan aja kalau ngomong. Ini jaman apaan? Unfaedah banget sangkaannya. Lea membatin.
“Lang denger kan? Kita disangka ada apa-apa.” desis Lea tepat di telinga Elang.
“Justru aneh kalo mereka nyangka kita gak ada apa-apa.” seringai Elang. Sudahlah, Lea tak bisa berdebat jika bersama Elang.
“Lang, nih buat kamu.” Ayu yang sudah mengambil tas dari Ruang Alat menghadang langkah Elang, menyodorkan sebotol teh manis. Lelaki itu mendudukkan Lea di bangku panjang, lalu menyambar minuman dari Ayu.
Ini benar Elang yang kukenal anti perempuan, atau hubungan mereka memang dekat? Batin Lea.
Tak diduga, setelah menerima minuman itu Elang malah melemparnya ke pangkuan Lea.
“Minum.” kata Elang dingin kemudian berlalu begitu saja ke Ruang Musik. Ragu-ragu Lea melirik ayu yang nampak kecewa.
“Huh, iya deh.” Ayu cemberut duduk di samping Lea.
“Bener nih boleh aku minum? Haus banget soalnya.”
Ayu menoleh, memelototi Lea dan menarik kedua pipinya, “Iya miss tengil-ku...”
“Aku minum ya.” Lea meneguk air yang teramat sangat segar itu, tak dihabiskan karena minumnya memang sedikit.
Lea malah kembali melirik Ayu yang masih bermuka masam, gadis itu sudah membawa tas namun belum kunjung pulang. Sudah diduga, pasti menunggu Elang tapi ia tak enak dengan sikap tak peduli lelaki itu. Segera Lea melingkarkan tangan di badan Ayu untuk menghiburnya.
“Makasih banyak princess Ayu. Hambamu ini sudah tak kehausan lagi.”
Ayu mengerjapkan mata beberapa kali, lesung pipit gadis itu muncul. ia tersenyum dan membalas pelukan Lea. Sedikit mencubit ujung hidung Lea dengan gemas,
“Miss tengilku ini tetep nyebelin ya meski sudah pindah rumah ke Marching Band.”
Spontan keduanya tertawa bersama, teringat kembali masa-masa saat masih di Dance. Padahal mereka baru satu kali latihan Marching Band, tapi seolah sudah sangat lama Lea dan Ayu tak bercengkrama ria setelah selesai mencoba gerakan baru.
“Nih.” Elang keluar dari dari Ruang Alat seraya menaruh tas Lea ke pangkuan pemiliknya.
Reka dan Ririn yang keluar terakhir nampak mengunci pintu. Para pengawas berterima kasih pada beberaapa anggota yang masih ada mengenai latihan pertama mereka.
“Kak suaraku hampir habis coba gara-gara tadi.” adu Lea. Ririn, Reka dan Irwan terkekeh melihat gadis itu menggembungkan pipi.
Irwan mengusak rambut Lea hingga berantakkan, “Tinggal isi ulang aja lagi.”
__ADS_1
“Huh? Emangnya galon?”
“Lang, ayo pulang bareng. Aku udah nunggu kamu dari tadi.” Ayu seketika berdiri, Elang mengangguk namun menatap Lea.
“Udah bisa jalan?”
Lea berdiri tegak sambil menghentakkan kaki, “Aku bahkan siap berlari.”
“Oke. Kami pulang duluan.” pamit Elang pada semuanya lantas mengajak Ayu ke parkiran. Sisanya melangkah bersama menuju arah gerbang.
“Gak cemburu Le?” tanya Reka.
“Cemburu maksudnya?” Lea balik bertanya dengan wajah polos.
“Tuh Elang pulang bareng Ayu, padahal kan tadi baru gendong pacarnya.”
“Pacar dari mana? Ayolah kami gak sedekat itu.” Lea menggeleng keras, Ririn lalu merangkulnya.
“Pokonya, Lea ini hanya akan jadi pacar adikku!” seru Ririn. Lea hanya nyengir tiba-tiba membahas masalah pacar.
“Kalau kau, mau gak jadi pacarku?” tanya Irwan tiba-tiba pada Ririn. Gadis itu seketika melepaskan rangkulan dari Lea dan berdiri kaku menatap Irwan.
“Ba-barusan Kak Irwan nembak?” Lea mendekat pada Reka.
“Kayaknya iya deh.” mereka mulai bisik-bisik tetangga.
“Yang, udah pulang?” tak ada hujan tak ada angin, muncullah seorang Paisal menggamit tangan Ririn.
“Mesra beut.” tanpa sadar Lea meremas tangan Reka hingga lelaki itu meringis.
“Kata forum sekolah, itu gebetan kamu kan?” Reka masih bisik-bisik. Anggukkan mantap Lea membuat Reka nyengir.
“Kenalkan Kak, ini pacarku. Paisal.” Ririn memperkenalkan Paisal pada Irwan.
Keduanya saling berjabat tangan berkenalan. Paisal kemudian membawa Ririn pergi, meninggalkan Irwan yang menampakkan tampang merana.
“Si cantik udah gak sendiri...” ratapnya memandang kepergian Ririn.
Lea dan Reka spontan menepuk kedua bahu Irwan. Memberi semangat agar lelaki itu bisa menerima kenyataan kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Tenang, Kak. Kita senasib.” gumam Lea.
“Huu Elang kemanain?” tanya Reka dan Irwan bersamaan.
“Kan barusan pulang sama Ayu.” jawab Lea dengan tablo.
“Kalau kita senasib berarti kita harus pulang bareng gitu?” delik Irwan.
“Ayo aja kalau mau, lumayan kan aku bisa ngirit onkos kalau nebeng motor Kak Irwan.” Lea cengengesan. Seketika Irwan menggamit lengan gadis itu.
“Okelah kalau begitu.” ucapnya semangat diikuti anggukkan Lea. Mereka lantas melangkah bersama menuju parkiran, “Dah Rekaaaa.”
Reka yang ditinggalkan hanya cengo. Masih belum paham dengan kejadian beberapa detik lalu. Ia ditinggal sendiri, oleh para pasangan gaje.
֎
__ADS_1