
Sroooot!
Ikmal kembali mengajak semua anak buahnya untuk ‘mural’ di tembok-tembok jalan yang masih polos. Menyemprotkan beragam warna pilox menjadi sebuah gambar dan tulisan bebas.
Bukan karena mereka ingin buat onar atau tak punya kerjaan lain, hanya senang saja mereka melakukan hal tersebut. Menodai dinding yang masih suci, sekaligus menandai teritori mereka agar tak dimasuki geng lain.
Kepuasan akan mereka dapatkan ketika Satpol PP mulai berdatangan mengejar dan mereka lolos tanpa ada satu pun yang tertangkap. Masuk ke jalan-jalan gelap, menyebar di perumahan penduduk. Saling beradu kecerdikan dengan dengan para polisi, benar-benar meningkatkan adrenalin.
“Kalian kesana,” tunjuk Elang sambil terus berlari menunjuk satu jalan pada teman-temannya, “Yang lain ikut aku.”
Elang mengambil jalan menuju perkampungan padat penduduk, menghindari para polisi yang terus membunyikan sirine nyaring di tepi jalan.
Memimpin teman-temannya bersembunyi di sudut-sudut gang. Setelah mobil poilisi berlalu, barulah mereka semua keluar dari persembunyian.
“Balik yuk.” ajak Elang pada yang lain.
Mereka mengangguk patuh dan berjalan beriringan menuju gudang dimana mereka menyembunyikan motor. Kemudian bersama-sama menderukan motor untuk diajak pulang ke markas.
Bersamaan dengan itu Arief yang mengantar Lea membeli obat flu dari Apotek tak sengaja berpapasan dengan orang-orang yang dibawa Ikmal, dengan sengaja Ikmal mencegat laju motor Arief.
“Udah malam masih mojok aja.” Ikmal cengengesan tanpa turun dari atas motornya, “Hei cewek, mending ikut Abang yuk. Kita bakal seneng-seneng deh.”
“Minggir kalian semua.” kata Arief memberanikan diri, Ikmal malah tertawa diiringi anak buahnya.
Mereka kemudian memutari motor Arief hingga tak ada lagi celah untuk ia pergi. Lea yang masih tak enak badan memegangi kemeja Arief dengan erat.
Arief melirik Lea, terlihat gadis itu meringis menahan pusing. Arief sempat menyesal mengikuti bujukan Lea saat gadis itu memaksa untuk ikut, harusnya tadi ia paksa saja Lea untuk diam dirumah. Pandangan Areif kembali beralih pada para preman yang mengelilinginya.
“Tolong beri kami jalan, temanku ini sedang sakit.”
Ikmal mematikan mesin motornya, turun dari motor dan berjalan menghampiri Lea. Ia menggosok-gosokkan tangan ke jaket jins belelnya, lantas mengulurkan tangan itu menyentuh bahu Lea.
“Turun yuk, Abang bisa kok obatin kamu.” ajaknya lembut, dengan senyum mengembang. Membuat Lea gemetar ketakutan. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil merapatkan diri pada Arief.
“Lepasin dia!” bentak Arief hendak turun dari motor.
Tapi sesaat kemudian ia mendengar suara klakson motor yang sangat keras mengalihkan perhatian Ikmal.
Arief mengikuti arah pandang Ikmal, ia melihat sekawanan pengendara motor di pinggir jalan. Orang yang paling depan diantara mereka terus membunyikan klakson motor sambil melihat ke arah Ikmal dari balik hoody besarnya. Ribut sekali.
“Sial.” desis Ikmal kembali ke motor. Tergesa ia menyalakan mesin, “Bro, kita pergi.”
Arief mengerjap ketika para preman itu pergi meninggalkannya begitu saja, mereka semua menghampiri orang yang tiada henti membunyikan klakson. Arief menghela napas lega, seraya terus memperhatikan pemimpin mereka.
Ia merasa kenal dengan postur tubuh si pemimpin. Jarak mereka tak terlalu jauh, sehingga Arief seharusnya bisa melihat wajahnya.
Sayang, lelaki itu mengenakan hoody besar dan masker hitam untuk menutupi separuh muka. Namun seketika ia terperangah. Arief mengenal dengan baik sepasang mata yang kini balik menatap.
Saat pasukan Ikmal mendekat, sekilas Arief melihat si pemimpin menganggukkan kepala. Membenarkan tebakan Arief yang membuat ia demikian terkejut. Kemudian si pimpinan pergi mendahului pasukan pengiringnya.
Arief menengok Lea yang masih bersembunyi di balik punggungnya. Lelaki itu tersenyum lembut, “Udah Lea, mereka hanya salah orang. Jadi kamu jangan takut.”
__ADS_1
“Salah orang apa? Emang preman kayak gitu pilih-pilih apa kalo gangguin orang?” gerutu Lea mendorong pelan punggung Arief.
Bisa-bisanya Arief mengatakan mereka salah orang sementara Lea sempat digoda salah satu dari pada berandal tersebut.
“Percaya deh sama aku, mereka gak akan macam-macam sama kamu.” Arief menyalakan kembali mesin motor, melanjutkan perjalanan menuju rumah Lea.
Tak mungkin ia bilang kalau dirinya kenal salah satu dari geng motor tersebut.
Ya, gak akan berani macam-macam sama kamu. Selama ada orang itu disana.
***
Tengah malam di markas Eka, semua orang berkumpul di ruang tengah. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok. Ada orang-orang yang sedang mabuk di tengah ruangan, tak jauh dari mereka sebagian berkumpul untuk bermain kartu.
Sedang Elang sendiri mengobrol bersama sisanya sambil menyesap rokok dan menikmati kacang tnah rebus dalam mangkok besar.
Tengah asyik berbincang dengan Eka, ia melihat Ikmal berjalan santai menuju kamar. Bergegas ia bangkit dan menghampiri Ikmal, “Kemana, Bang?”
Ikmal mengeluarkan sebuah suntikkan dari dalam kantong jaketnya, “Mau ikut gak?”
Elang menggeleng, dengan wajah datar ia merebut suntikan di tangan Ikmal kemudian merangkul lelaki yang berusia jauh lebih tua tersebut. Ikmal merasa Elang ingin membicarakan sesuatu saat ia merasakan langkah Elang agak kasar saat menyeretnya keluar ruangan.
Saat berada di tempat yang cukup jauh dari keramaian, mendadak Elang berhenti dan mencengkram kerah baju Ikmal dengan sorot mata penuh kemarahan. Rahangnya mengeras dan mata tajam itu kian kelam.
“Bang, lo boleh ganggu cewek mana pun. Terserah elo.” desis Elang penuh penekanan, “Tapi sedikit pun jangan pernah sentuh cewek tadi.”
“Tu... tunggu Lang, Abang gak ngerti.” Ikmal panik bercampur bingung, Elang dengan kasar menghempaskan Ikmal dan mengangkat telunjuknya ke wajah Ikmal.
“Jangan pernah usik lagi cewek yang tadi Abang godain.” Elang menurunkan telunjuknya tanpa mengurangi kadar kemarahan dalam matanya.
“Oh... iya. Cewek tadi itu, temen kamu?” tanya Ikmal tenang sambil tersenyum simpul, ia melipat kedua tangan di dada. Masih dengan wajah serius Elang mengangguk.
Ikmal kemudian menepuk bahu Elang yang kaku, “Sori deh, tadi Abang gak tau. Abang gak akan gitu lagi sama dia kok. Janji.”
Perlahan kemarahan diwajah Elang memudar, kemudian mengangguk, “Hmm. Oke.”
“Jadi siapa namanya?” Ikmal mengulurkan tangan meminta kembali suntikan yang disita Elang.
Elang dengan enggan memberikan suntikannya ke tangan Ikmal, “Kiandra Azalea.”
“Gadis yang kemarin dibicarakan Adi dan Gentra?” Ikmal memicingkan mata, semakin membesar rasa penasaran setelah melihat reaksi Elang saat gadis itu diganggu olehnya.
Elang berdiri memunggungi, ia menutup rapat bibir. Namun sesaat kemudian Elang mengangguk. Ikmal tersenyum, ia menepuk pundak Elang beberapa kali sebelum akhirnya pergi, menuntaskan hal yang sempat tertahan tadi.
֎
Semua anggota Band Inti duduk berjajar di depan Ruang Musik, mereka terdiam dan sesekali melirik satu sama lain dengan ujung mata.
Siang itu adalah hari kedua mereka latihan bersama, dan melihat keadaannya sungguh sama sekali tak memungkinkan.
Tri, Adi, dan Elang datang ke Sekolah dengan wajah babak belur. Gentra tidak ada memar di wajah, hanya saja tangan kiri cedera dan diperban. Sedang Lea yang baru sembuh, masih flu dengan suara serak tak karuan.
__ADS_1
“Jadi...” geram Tri memijit kening. Ia ingin sekali latihan, hanya saja terlalu rumit.
“Pulang.” usul Elang singkat, langsung menutup rapat kembali bibir. Takut Tri ngamuk. Diam-diam Lea, Adi dan gentra mengangguk.
“Baik, ayo pulang.” putus Tri setelah menarik napas panjang.
“Yeaaay istirahat.” sorak Elang, Lea, Adi dan Gentra bersamaan sambil berdiri.
Tri menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal melihat kelakuan teman-temannya. Tapi ia pun beranjak terlebih dahulu dari tempat duduk, baru diikuti yang lain.
Tri mengunci kembali Ruang Musik yang sempat ia buka satu jam lalu, berarti tinggal dua kali lagi kesempatan mereka untuk berlatih menuju Gebyar Ekskul. Ia berharap dua hari terakhir takkan ada hambatan seperti itu lagi.
Sambil berjalan, Lea mencoba mendekati Elang. Ia sakit kemarin, dan dimana saat Elang mengantarnya malam itu, lelaki itu pun sedikit banyak kebasahan.
Sepertinya wajar jika Lea menanyakan kabar sang penolong. Agak dipaksakan, Lea berjalan cepat agar bisa mensejajarkan langkah dengan Elang.
“Oh iya, Lang. Apa kab...”
“Tra tar malem lo ada di rumah gak?” Elang seketika menghampiri Gentra lantas keduanya langsung asyik membicarakan beberapa hal yang tak Lea mengerti. Gadis itu tertegun, sadar kalau Elang sedang menghindar.
Ingat Lea, dia Elang. Lea menganggukkan kepala beberapa kali, cukup tahu diri kalau saat ini ia bisa bersama Elang karena urusan Ekskul, tak lebih.
Lagipula Lea sendiri tahu kalau Elang memang tak mudah didekati oleh orang biasa seperti dirinya. Walau ketidak sukaan pada Elang tak berubah, tapi paling tidak ia tetap ingin membalas budi baik Elang yang telah menolongnya. Mungkin suatu saat nanti hal itu bisa ia lakukan.
Tangan Tri mencolek bahu Lea, membuat gadis itu menghentikan langkah. Tri lantas menyentuh lembut wajah Lea yang masih pucat. Lea agak risih Tri tiba-tiba seperti itu, ditambah lagi dengan senyum Tri teramat sangat manis,
“Lea, lo bisa pulang sendiri apa perlu gua anter? Serius gua khawatir lo kenapa-napa di jalan.”
Astaga, playboy satu ini beraksi padaku juga? Pikir Lea.
Sebelum menjawab, Arief tiba-tiba muncul di hadapan semua dengan mengendarai motor. Membuat Lea bisa bernapas lega karena bisa terhindar dari rayuan sesat Tri.
“Hm hm hm, yang punya hutang bakso kayaknya mau jemput.” gurau Gentra. Arief menepuk perut besar Gentra pelan seraya tersenyum.
“Rief, lo selalu siap dua puluh empat jam ya buat Lea. Pacarnya nih?” goda Adi menaik turunkan alis.
Lea melihat mereka sangat akrab dengan Arief, padahal diantara empat orang itu Lea tahu persis tak ada satu pun yang satu kelas dengan sang sahabat.
Arief juga tak pernah bercerita kalau mereka saling kenal, namun saat Lea pernah bertanya mengapa Arief kenal Elang ia hanya menjawab seiring berjalannya waktu saja tiba-tiba mereka saling kenal.
Anak cowok memang sangat mudah bergaul dengan sesama, mereka tak bisa ditebak kapan akan akrab atau bermusuhan.
“Aku ini kan sahabat yang baik.” Arief lantas melirik Lea, “Iya kan, Le?”
“Yap.” Lea mengangguk mantap, kemudian naik ke atas jok motor Arief yang mudah untuk dijangkau. Arief tak segera berlalu, ia malah mendekati Elang.
“Lang, thank’s ya.” kata Arief ramah.
Elang tak berekspresi apa-apa, ia hanya memandang lurus Arief hingga Lea berpamitan pada semuanya dan motor Arief berlalu meninggalkan Sekolah.
Sebenarnya ia sedikit canggung pada Arief, karena semalam Arief mengenalinya. Hal itu bisa dipastikan dengan kejadian barusan, lelaki itu tanpa sebab berterima kasih. Maka sudah jelaslah kalau Arief tahu bagaimana pergaulan Elang di luar sekolah.
__ADS_1
Ia tak cemas jika Arief mengetahui bagaimana dia, karena percaya Arief bisa menjaga rahasia dengan baik. Tapi ia sangat takut jika Lea lambat laun mengetahui kalau Elang ternyata lebih buruk dari apa yang selama ini ia lihat.
֎