Melodia Hujan

Melodia Hujan
16. MENGOKOHKAN BENTENG


__ADS_3

Elang datang lebih awal ke sekolah pagi ini, terlalu pagi. Padahal semalam ia sama sekali tak tidur, namun rasa kantuk sedikit pun tak menghampiri kedua netra tajamnya.


Perasaan Elang terlalu kacau saat ini. Antara kesal, malu, bahagia dan bersalah pada Lea. bisa-bisanya dia memeluk gadis itu lantas mempermalukannya.


“Salah siapa punya wajah kok imut banget, pertahananku kan jadi runtuh.” Elang memijit kening.


Ia telah berdiam diri di kelas kosong sejak keadaan masih gelap. Pergi buru-buru dari rumah, tanpa pamit dan sarapan. Ia hanya memikirkan dua hal, pergi ke sekolah dan secepatnya bertemu Lea.


Selama satu tahun ini ia mampu menjaga jarak dari Lea, menahan semua keinginan untuk dekat dengan gadis itu karena rasa tak percaya diri yang tiba-tiba merajai tatkala mereka bertemu. Elang benar-benar bertekuk lutut di depan kedua netra bening Lea.


Namun kemarin ia tak mampu bertahan lagi, Lea berada sangat dekat. Maka tanpa berpikir rengkuh Lea seperti keinginannya selama ini.


Namun tiba-tiba Elang tersadar bahwa Lea hanya akan membuat ia kehilangan jati diri. Maka ia melakukan sesuatu yang akan membuat ia membencinya. Mengatai gadis itu dengan kata yang sama sekali tak pantas untuk Lea dengar.


“Aku tahu memang itu hal yang pertama aku pikirkan saat memeluknya, hanya saja bukankah lebih baik aku tak perlu mengutarakannya? Ah bodoh sekali.” Elang mendesah lantas memukuli kepala beberapa kali.


Ia memasang headphone di telinga. Memutar deretan lagu Muse dari ponsel dengan volume maksimal. Ia pejamkan mata, berharap pikirannya kembali jernih dan bisa memutuskan langkah terbaik yang bisa diambil.


Sial. Bukan semakin tenang, Ia malah makin berdebar kencang. Kembali teringat bagaimana wangi strawberi menguar dari rambut gadis dalam pelukannya. Bongkahan es yang kerap menyesakkan dada saat bertemu Lea kemarin mencair begitu saja.


Beberapa menit kemarin mampu menjawab semua pertanyaan Elang selama ini. Kiandra Azalea, adalah satu-satunya gadis yang Elang tunggu. Ialah menjadi alasan mengapa Elang tak pernah merasa tertarik untuk melirik gadis lain.


Kau seorang gadis baik-baik. Sedangkan aku, setiap hari bergelut dengan kekerasan dan barang-barang haram. Benteng yang kemarin kau hancurkan harus aku susun kembali meski membutuhkan waktu lama. Jika aku masih tak bisa berubah menjadi orang baik. Maka aku sama sekali tak layak untumu Kiandra. Elang menganggukkan kepala, bukan menikmati lagu. Melainkan menyetujui pemikirannya.


Tapi kali ini kembali ia mencium aroma strawberi, makin lama makin jelas dan nyata. Menjadikan jantung Elang mendadak gergema liar. Lea benar-benar ada di dekatnya.


Perlahan ia membuka mata, insting Elang benar. Lea, gadis itu tengah berdiri dengan canggung. Ia pucat, dengan kantung mata menghitam dan sembab. Membuat Elang makin merasa bersalah saja.


“Elang.” Lea menatap dingin Elang.


Lelaki itu menurunkan headphone dan membalas tatapan Lea dengan sorot mata tak kalah mencekam, “Aku ingin kau minta maaf.”


Tidak Kiandra, jangan menatapku dengan kedua mata indahmu, aku hampir tak sanggup menahan diri untuk tak menyentuhmu. Batin Elang, menghimpun kembali keberanian untuk menjauhi gadis itu.


Elang bangkit, dengan tinggi tubuhnya ia berusaha mengintip sesuatu yang ada dibalik kerah baju Lea. Tanda itu masih ada, cela dari Elang kemarin tetap nampak kemerahan. Segera Elang memalingkan muka.


“Lo ngomong sama gua? Bukannya kita gak ada urusan lagi ya?” ucap Elang ketus.


Lea terkejut bukan main mendengar perkataannya, kedua netra bulat itu gemetar tak berkedip.


Elang melawan hasrat untuk kembali memeluk gadisnya, beranjak meninggalkan Lea yang masih berdiri kaku dengan napas terengah. Membiarkan kebencian Lea cukup sampai disana, ia tak mau gadis itu lebih membenci bila tahu seberapa buruk seorang Elang.


Lelaki itu melangkah cepat menyusuri koridor. Belum banyak siswa yang datang, paling tiga atau empat orang. Itu pun siswa kelas lain.


Sebanyak mungkin Elang menyesap udara, mendinginkan bara api dalam dadanya. Mengunci diri untuk tetap berada di goa terdalam, mencegah perasaan untuk kembali tergoda oleh kedua mata berpendar Lea.


Barang sedetik ia membayangkan dirinya adalah Erlangga si murid teladan, berprestasi dan populer. Cukup menjadi Erlangga, seorang anak SMA biasa.


Mendatangi gadis yang ditaksir dengan membawa boneka dan bunga. Mengajak Lea ke tengah lapang basket saat istirahat, menyampaikan kalau ia cinta pada Lea. Lantas gadis itu mengangguk sambil tersenyum, menerima kedua hadiah dari Erlangga.


Benar-benar sederhana, namun bagi Elang itu hanya mimpi belaka.


Semua itu musnah tatkala botol minuman, rokok, batu, dan senjata tajam berseliweran di kepala Elang. Ia menghantamkan tinju pada beberapa anak SMA lain hingga mereka tersungkur tak berdaya.


Menghindari sabetan parang, lantas ia balas dengan batu dalam kepalan. Elang tak pernah memegang senjata lain selain batu sekepalan tangan.

__ADS_1


Maka seketika terbayang Lea menatap Elang yang sedang memukuli orang lain. Gadis itu nampak melayangkan tatapan kebencian seolah melihat monster, lalu perlahan ia melangkah mundur.


Membuang hadiah dari Erlangga dan tak mau menoleh sama sekali saat dipanggil. Maka, tinggallah rasa kesepian lebih hebat dari pada sebelumnya.


֎


Hari demi hari berlalu. Tak pernah lagi ada interaksi antara Elang dan Lea. Kembali menjalani kehidupan masing-masing seolah tak ada yang terjadi dianara keduanya.


Lea tak pernah berkunjung ke Ruang Musik, ia juga enggan menyapa teman-teman Elang meski mereka kebetulan berpapasan.


Tak tahulah jika ia sudah kurang ajar dan sok berani terhadap geng Elang, namun ia memang ingin mengabaikan mereka.


Lea berusaha melupakan empat hari menyenangkan yang ia dan Elang dkk lalui, meski setelah Gebyar Ekskul ia mendapat efek positif dari penampilannya di atas panggung.


Lea bernyanyi lalu menari, membuat ia banyak dikenal adik kelas. Pun mendapatkan nilai plus, karena hal itu ia berhasil menarik banyak anggota baru di Ekskul Dance.


Membuat Lea sibuk selama beberapa minggu karena mengurus pendaftaran dan persiapan latihan awal.


Suatu hari, sekolah gempar dengan akan diadakannya ulang tahun Reva. Cucu Kepala Sekolah yang kepopulerannya setingkat Elang dan Desi. Ia berparas cantik dan masuk ke jajaran murid berprestasi.


Namun ia mendapatkan popularitas bukan karena kedua hal tersebut, melainkan adalah ketika kenaikan kelas ia menyatakan cinta di depan umum pada Elang. lagi-lagi soal Elang.


Parahnya, lelaki itu justru dengan tegas menolak mentah-mentah pernyataan Reva. Jika gadis biasa, mungkin ia akan langsung membungkus wajah dengan kertas gorengan dari Kantin.


Tapi tidak dengan Reva, secara blak-blakan ia menyatakan perang pada semua siswi SMA Garut. Penuh percaya diri ia berjanji akan menaklukan Elang dan menjadi kekasih pertama lelaki itu.


Kemeriahan rencana sweet seventeen Reva tersiar ke seluruh penjuru sekolah. Tak terkecuali ketiga gadis dengan julukan ‘nothing’ di kalangan para siswi populer. Siapa lagi kalau bukan Lea, Sarah dan Winda.


Mereka bertiga kasak kusuk di teras kelas Lea karena satu hal. Sarah mendapat undangan dari Reva, tentu karena mereka sekelas.


Membuat Winda dan Lea merengek seharian ingin diajak Sarah ke pesta. Sayang, setiap penerima undangan hanya bisa mengajak satu orang yang tak diundang langsung oleh Reva.


“Arief tuh pake pelet apa sih? Dia gak sekelas sama Reva, tapi dapet undangan. Heran juga anak itu bisa kenal baik sama seluruh siswa populer sekolah.” dengus Lea seraya memainkan lolipop dalam mulutnya.


“Iyalah, dia itu baik banget. Gak bisa marah lagi, mana ada sih yang gak seneng sama Arief?” sela Sarah.


“Ih terus aku kurang baik apa coba?” Winda terus saja memelintir rambut ikalnya, “Apa aku deketin lagi Tri aja ya? Supaya bisa digandeng gitu ke pesta.”


“NO!” seru Sarah dan Lea bersamaan.


“Awas aja ya kalo kamu mau sama dia lagi, inget tuh dulu nangis tujuh hari tujuh malem karena tiba-tiba diputusin setelah tiga hari jadian.” ancam Sarah di dukung anggukkan Lea.


“Ya udah deh, Sar. Ajak aja Winda ke sana.” putus Lea.


“Terus kamu?” tanya Sarah.


“Ah, aku juga gak tahu yang mana Reva itu. Toh dari satu sekolah aku bukan satu-satunya yang gak di undang kan?” Lea berusaha menghibur diri padahal ia sangat ingin ikut,


“Lagipula aku gak mau ya kalo Winda nangis lagi karena Tri kayak dulu.”


“Ih, Lea...” Winda tak bisa berkata apa pun, ia peluk sahabatnya penuh terima kasih.


“Hai Lea, lama gak ketemu ya.” Tri yang datang bersama Gentra dan Adi tiba-tiba menyapa.


Gadis itu hanya tersenyum tipis menjawab sapaan. Ia jelas tak mau lagi berhubungan dengan Elang dan antek-anteknya, “Elangnya ada?”

__ADS_1


“Tuh di kelas.” jawab Lea seadanya.


“Udah diluar.” ucap sebuah suara berat nan kaku di belakang Lea.


Tak perlu diragukan lagi, itu memang suara Elang. Tri dan kedua temannya pun langsung mengabaikan Lea dan menghampiri Elang. Membicarakan rencana kumpulan soal Ekskul nanti sore.


“Elang!” seorang gadis berseru nyaring. Melangkah cepat melewati Lea dan kedua temannya, “Hai juga Tri, Adi, dan Gentra!”


“Itu tuh yang namanya Reva.” bisik Sarah.


Seketika Lea dan Winda meliriknya, ia benar-benar seperti apa yang dikabarkan. Cantik nan rupawan. Ketiga gadis itu mendadak terdiam, hendak mencuri dengar mengenai pembicaraan mereka hingga Reva berani memanggil Elang ditengah keramaian.


“Nih undangan buat minggu depan.” Reva membagi sebuah kartu kecil pada keempat lelaki di depannya.


“Ini udah gua tunggu dari kemarin, kirin lo gak bakalan ngundang kita.” Gentra menaik turunkan alis, membuat gadis itu tersenyum manis.


“Sori deh, habisnya banyak yang harus dibagi.”


“Tapi gak salah lo ngasih ke Elang? Dia ini belum pernah menuhin undangan pesta dari cewek mana pun.” sahut Adi.


“Sakral tuh buat Elang.” imbuh Tri.


“Tak ada salahnya kan berkali-kali mencoba, mungkin akan ada satu kesempatan.” Reva benar-benar gadis yang tangguh. Meski teman-teman Elang terus membujuk Reva agar menyerah, namun ia tetap bersikeras.


“Gua bakal dateng.” kalimat singkat yang tiba-tiba meluncur dari bibir Elang itu seketika membuat teman-temannya bungkam sesaat.


“WHAAATZ!” seru Gentra, Tri dan Adi bersamaan.


Lea, Sarah dan Winda juga tertegun dengan jawaban Elang, mereka refleks menoleh pada Elang. Kebetulan lelaki itu juga menatap Lea dkk, segera ketiga gadis itu kembali menundukkan wajah dengan menelan rasa tak percaya.


“Mustahil Elang tiba-tiba terima.” bisik Sarah.


“Karena usaha keras Reva kali.” timpal Lea.


“Pasti udah taken sama Reva tuh, kayaknya.” sahut Winda.


“Lang, lo gak sakit parah kan? Jangan bilang umur lo tinggal sebentar lagi.” Tri serius bertanya dengan nada cemas. Elang sama sekali tak menanggapi.


“Elang beneran mau datang?” Reva memastikan, ia sudah sangat berharap kalau Elang memang serius. Ketiga gadis kepo akut yang kasak kusuk di teras juga kembali menengok, mereka tak bisa lagi menahan rasa penasaran.


“Hm. Gua janji bakal dateng.” Elang memberi penegasan.


Spontan gadis dihadapannya menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Elang. Membuat beberapa murid yang berada di sekitar terbelalak takjub. Reva sungguh gadis pemberani. Elang melirik Lea sesaat, kemudian mengelap pipi bekas kecupan Reva dengan sapu tangan.


“Dasar cewek agresif!” cibir Elang lantas melenggang pergi diikuti ketiga temannya yang masih ribut mengenai kesediaannya datang ke pesta Reva.


Seolah janji Elang belum cukup jelas mereka dengar. Tentu kali ini adegan Reva mencium pipi Elang langsung menjadi trending topic bagi para pecandu gosip sekolah.


“Dia bilang agresif sama Reva? Lupa ya kalau dia udah gimana ke Lea?” Winda mendadak emosi dengan tingkah Elang.


“Win...” Sarah berbisik menyikut Winda, dengan isyarat menyuruh diam karena raut wajah Lea berubah muram setelah mendengar ucapan Winda.


“Lea, maa...”


“Win, jangan lagi bahas itu. Aku malu, beneran.” lirih Lea menunduk memainkan jemari.

__ADS_1


Ia hampir saja melupakan kejadian saat di kebun samping, tapi Winda malah mengingatkannya lagi. otomatis Sarah dan Winda memeluk Lea bersamaan.


֎


__ADS_2