Melodia Hujan

Melodia Hujan
30. HARI RAYA


__ADS_3

Malam ini terasa begitu indah bagi Elang.


Tak seperti biasa, pukul sepuluh malam ia ada di rumah.


Menggelar tikar lalu memetik gitar di balkon kamar.


Iseng menyanyikan beberapa lagu band lokal dengan lirik soal cinta.


Sesekali Elang menyanyikan lagu barat sambil meresapi makna lagu.


Ia lupa diri, Elang benar-benar mabuk oleh kepolosan Lea sejak ia mengantar gadis itu pulang dengan selamat dua jam lalu.


Biasanya pada waktu tersebut Elang masih berkeliaran di jalan, atau minum di rumah Eka.


Tapi setelah menghabiskan waktu dengan Lea, ia mendadak malas pergi ke markas.


Sedikit lebay, lelaki itu tak mau kebahagiaannya terganggu dengan hal-hal berbau geng motor.


Elang masih ingin menikmati betapa dia tergila-gila saat mendengar suara Lea ketika bicara, dan ia tak mau membagi hal itu pada siapa pun.


Elang ingin Lea hanya jadi miliknya seorang, ia tak mau berbagi sedikit pun pesona Lea pada orang lain.


Termasuk Arief yang saat ini masih belum kunjung membuka mata.


Untuk Kiandra-nya, Elang siap jadi orang serakah dan licik.


Ia akan memanfaatkan waktu atas sakit Arief untuk mendapatkan Lea.


Alasan membawa Lea menjenguk Arief pun tiada lain adalah untuk menarik simpati gadis itu.


Ia ingin Lea merasa kalau Elang benar-benar ‘ada’.


“Pokoknya gak akan gua cuci!” Elang menciumi telapak tangannya sendiri.


Aroma strawberi masih tercium dengan jelas pada tangan yang selama beberapa jam ia gunakan untuk menggenggam jemari mungil Lea.


Entah itu Lotion atau Colonge, bahkan mungkin hanya sabun mandi.


Tapi tubuh Lea begitu identik dengan buah berwarna merah tersebut.


Setelah bertahun ia merantai hati dan menguburnya sedemikian dalam, perasaan Elang kini tengah berada di atas awan.


Bersama Azalea ia merasa menginjakkan kaki di dunia baru.


Sebuah dunia yang ditutupi padang rumput menghijau, bunga warna-warni bermekaran di setiap sudut.


Kadang terdengar gemericik air terjun.


Saat ia melihat mata gadis itu, Elang seolah tengah berjemur dibawah sinar mentari pagi, di antara langit biru dan pelangi.


Satu hal lagi, Elang telah kembali menemukan kupu-kupu biru kecil dengan sayap bercahaya.


Dialah peri kecilnya, Kiandra Azakea yang menjadikan Elang sebagai budak cinta.


Hingga ia pun memutuskan satu hal, Elang hanya mau Lea.


“Lang,” Desi tiba-tiba datang mengagetkan lelaki itu, “Besok Tri ngajakin kita latihan band. Bisa kan? Soalnya dari tadi dia hubungin kamu gak aktif katanya. Kan gak ada latihan Marching Band juga, ya?”


“Tiga hari lagi lebaran, masih mau latihan? Kenapa gak nunggu abis lebaran aja?”


“Kangen nge-band katanya,” Desi duduk di samping Elang.


Lelaki itu mengangguk malas.


Walau rindu memainkan musik bersama yang lain, tetap saja dalam keadaan puasa pasti lemas.

__ADS_1


Desi terdiam dalam waktu lama, memainkan jemari seolah ingin mengatakan sesuatu namun bimbang.


Beberapa kali ia menghela napas.


Elang dengan sabar masih menanti gadis itu bicara, menaruh gitar untuk memberikan keheningan agar ia bisa leluasa.


“Lang, kamu gak lagi ada masalah serius kan? Kamu jadi aneh akhir-akhir ini. Sedikit ramah, banyak senyum. Gak kayak Elang yang selama ini aku kenal. Jujur aja aku jadi khawatir sama kamu.”


“Orang normal disangka ada masalah itu ketika dia berubah jahat. Eh aku malah pas berubah baik. Haha,” Elang merangkul Desi. Menyandarkan kepala gadis itu ke dadanya.


“Aku lagi bahagia aja Des, selama ini aku selalu marah dengan segala hal tapi sekarang aku benar-benar merasakan apa itu bahagia.”


Desi melepaskan diri dari Elang, air mukanya mendadak berubah marah, “Jangan bilang karena si tengil kismin itu? Rumor itu gak bener kan, Lang? Kalian gak jadian kan?”


“Masih temen, Des. Lagian dia gak tahu kalau hatiku udah setahun lebih jadi miliknya,” Elang menggaruk kepala tak gatal.


“Maksud kamu cewek yang bikin kamu penasaran saat MOS itu si kismin?” terka Desi.


Anggukkan Elang membuat wajah gadis itu merah. Sangat marah, “Aku sama Mama kamu ngiranya itu Ayu. Lang kalau si kismin itu, sampai kapan pun aku gak akan biarin. Kamu gak boleh deket sama cewek rendahan kayak gitu, dia cuma mau manfaatin kamu doang.”


“Enggak Des, Kiandra beda,” Elang berusaha meyakinkan.


Desi bangkit, menatap tajam sang sepupu dengan sorot mata penuh dendam.


“Sekali aku gak suka sama orang, tetep gak suka. Liat aja, aku bakal kerjain dia habis-habisan sampai dia jauhin kamu atas kemauannya sendiri,” ancam Desi, lekas beranjak meninggalkan Elang.


“Terserah kamu aja deh Des. Kalau urusannya cuma sama kamu, Kiandra pasti bisa ngatasin sendiri,” gumam Elang kembali memetik gitar.


֎


Setelah satu bulan lamanya berpuasa, tibalah hari dimana takbir bergema di seluruh Negeri.


Idul Fitri, hari yang sangat Lea tunggu dimana para kerabat jauh mau pun dekat berkumpul di rumah.


Hana dan Dira merupakan anak tertua dari keluarga mereka, membuat seluruh keluarga saudaranya selalu memenuhi rumah Lea setiap Hari Raya.


Namun setiap Hari Raya keluarga mereka selalu menggelar tikar dimana-dimana sebab semua selalu menginap.


Dua kamar dikhususkan bagi wanita yang sepuh dan ibu hamil juga menyusui.


Sedang yang masih muda tidur di ruang tamu, dan para lelaki di dapur.


Keadaan memang seramai itu tiap tahun, seperti kemping.


Beberapa hari lalu keluarga Lea membuat banyak sekali kue untuk camilan, dan hari H saat para kerabat itu datang semua kue habis tak tersisa bahkan kurang.


Lea dan Hana jadi mendadak membuat beberapa camilan lagi untuk mereka yang akan menginap sehari dua hari.


Mengingat esok kerabat Hana dari Palembang akan tiba, Lea dan ibunya nanti malam sudah pasti harus begadang untuk membuat hidangan sambutan.


Masalah uang tentu saja dari dana sokongan, hanya saja saat eksekusi cukup dikerjakan berdua.


Sepupu Lea yang lain terlalu sibuk bermanja-manja minta dianggap tamu dan dijadikan raja.


“Fix, mereka akan datang besok,” ucap Ayah saat mereka selesai sholat Ied.


Membuat beberapa orang langsung mengeluarkan isi dompet.


Sebenarnya karena jarak, kerabat dari Palembang sangat jarang datang.


Seumur hidup, Lea baru dua kali bertemu mereka itu pun beberapa tahun lalu.


Namun saat datang, mereka biasanya akan menginap seminggu penuh.


Menjelang siang, bukan hanya Om, Tante, dan para sepupu Lea saja yang ada di rumah, tapi Sarah dan Winda juga ikut-ikutan menikmati suasana ramai.

__ADS_1


Mereka selalu penasaran tentang siapa saja kerabat Lea yang akan datang, akankah lebih banyak atau lebih sedikit dari pada tahun lalu.


Dasar kurang kerjaan.


“Permisi...” ucap sebuah suara dari luar rumah, ada dua orang lelaki tiba di teras.


Teman SMA yang membuat gadis itu terkejut bukan main.


Sedikit gentar, Lea pun menghampiri mereka.


“Rizal? Bobi?” Lea terlalu kaku menyambut kedatangan merka, “Ada perlu apa ya?”


“Lea sayang kok nanya gitu, kita mau silaturahmi nih," Rizal mengusap rambut yang kaku karena kebanyakan gel.


Bobi menyodorkan parsel buah-buahan pada Lea, dengan canggung gadis itu menerimanya.


“Eh. Oh iya, silakan masuk,” ucap Lea akhirnya.


Lea kembali bergabung dengan Sarah dan Winda.


Mempersilakan Rizal dan Bobi duduk lalu memperkenalkan keduanya pada keluarga besar.


Hendra, Gilang, dan Zoni beberapa sepupu lelaki Lea yang berusia beberapa tahun di atas gadis itu mengajak ngobrol mereka berdua.


Lea hanya bisa saling berbisik dengan Sarah dan Winda.


Kedatangan Rizal dan Bobi benar-benar hal diluar dugaan.


Gadis itu sempat lega karena Rizal tak berani mengganggu lagi setelah ia berada satu bidang dengan Elang di Ekskul.


Tak disangka, orang itu malah nekat datang ke rumah disaat keluarga besar sedang berkumpul.


Alhasil mereka sedikit banyak mengira Lea punya hubungan yang sangat dekat dengan Rizal.


“Aku mau pingsan rasanya,” ringis Lea memperhatikan Rizal begitu akrab dengan Hendra.


Sedang Bobi sibuk mengunyah kue-kue bersama Gilang dan Zoni.


“Lea, sini dong. Masa pacarnya dianggurin?” Hendra melambaikan tangan.


Gadis itu menggeleng ribut, semakin mencengkram tangan Sarah dan Winda.


“Gak apa, Mas. Sayangku itu memang pemalu kalau di sekolah juga,” Rizal benar-benar di atas angin.


Lea tak bisa serta merta menyangkal, bagaimana pun dia adalah tuan rumah.


Sudah selayaknya bersikap sopan pada tamu.


“Pemalu dari mana, sengklek gitu dia mah.” itu Zoni.


Melempar sebuah kue nastar tepat ke kepala Lea.


“Bandot! Ngapain pake lempar makanan segala? Kan sayang...” Lea bangkit, dikira akan menghampiri Zoni.


Ternyata malah jongkok di lantai, mengusap-usap nastar yang tadi sempat menggelinding.


Meniupinya beberapa kali lantas memasukkan kue tersebut ke dalam mulut.


“Ya ampun Lea, itu kotor," Itu Bukde. Mama Gilang yang bersuara.


Gadis itu hanya cengengesan sambil mengunyah.


“Masih enyak kok.”


“Lihat kan? Gak nyangka banget adek gua yang sedeng itu punya pacar,” Sahut Gilang.

__ADS_1


“Ih Abang. Lea masih waras," rengek gadis itu mengundang tawa semua orang.


***


__ADS_2