Melodia Hujan

Melodia Hujan
11. PERCIKAN RASA


__ADS_3

“Sial, bisa-bisanya kita kalah telak!” Eka meninju beberapa benda di sekitar, kemarahannya seolah hendak mengobrak-abrik seluruh isi markas.


Elang yang duduk di sebuah sofa lusuh menekan sekantong es batu pada beberapa luka di wajah. Menyaksikan amukan Eka malah menjadikan lukanya semakin ngilu. Tapi paling tidak ia tak separah teman-teman lain.


Tawuran kali ini kacau dan konyol. Janji antar sekolah, namun Erik pimpinan geng SMA seberang malah membawa pasukan kakaknya Zafran.


Sementara Eka hanya mengutus anak-anak SMA untuk memberi perlawanan. Jelas dari segi jumlah dan kekuatan pasukan Elang jauh tertinggal. Elang yang membabi buta pun hanya bisa mengalahkan seperempat pasukan, sisanya ia bonyok sendiri karena dikeroyok.


“Tau gitu kita dateng aja tadi.” geram Ikmal membuat Elang memekik karena ia tak sengaja menyikut luka pukul di bawah mata Elang, “Aduh. Sori, Lang.”


“Lang gak usah senyum gitu deh. Mentang-mentang lagi kasmaran, ditonjok aja bawaannya senyum.” sindir Gentra. Elang malah melirik Tri sesaat, dan lelaki itu mengangkat bahu.


“Senyum dari mana? Perih tau!” Elang segenap tenaga melempar kompresan hingga mengenai perut Gentra yang sedari tadi ia pegangi. Otomatis membuat lelaki tinggi besar itu mengerang, “Rasain!”


“Si Elang tuh bawa cewek coba ke band, alesannya buat gantiin Desi. Padahal modus tuh dia.” timpal Adi.


Elang jadi tak nyaman sebab kini ditatap semua orang. Memang sebegitu kentaranya ya dia? Hingga bukan hanya Tri, melainkan Gentra dan Adi juga sampai mencurigai seperti itu.


“Elang? Bawa cewek? Gak mungkin ah...” gumam Bang Eka.


“Cuma buat urusan band aja kok.” kilah Elang sekenanya, ia beranjak melangkahkan kaki ke dapur.


Dengungan teman-temannya yang mulai bergosip mengenai Elang telah mengalihkan perhatian dari tawuran mereka, dan Elang tak mungkin tahan tetap berdiam diri dan menjadi bahan ejekan.


Meski itu rumah Eka, namun Elang dan yang lain memang telah leluasa disana. Sebab bangunan itu sudah tetap jadi ‘markas’. Tawuran tadi bukan hanya menyisakan luka lebam di tubuh Elang, namun juga meninggalkan rasa lapar. Satu-satunya sasaran Elang, tiada lain adalah lemari pendingin dua pintu.


Mata remaja itu berbinar ketika melihat isi lemarin pendingin tersebut penuh berjejal. Ia bisa memasak apa pun yang ia mau. Tangan Elang sigap mengambil daging ayam dan beberapa sayuran, sengaja memasak agak banyak agar bisa dibagi pada semua.


“Mereka pasti lapar setelah pertarungan tak seimbang tadi... Argh *******!”


Elang sedikit membanting pisau yang sedang ia gunakan untuk memotong daging. Mengingat Erik dan kawanannya justru kembali membangkitkan kembali amarah Elang.


Ia memejamkan mata sejenak, menggelengkan kepala. Sebisa mungkin kejadian tawuran tadi ia hilangkan dari kepala, tak mampu emosinya kacau hingga berujung pada masakan tak jadi-jadi.


Meninggalkan ayam yang sedang direbus, ia bergeser menuju rak. Niat mencari mie instan untuk tambahan, ia malah menemukan deretan minuman. Mulai dari yang mahal sampai yang oplosan.


Elang berdecak mengamati minuman tersebut tersusun rapi, dari minuman setingkat Bir hingga Vodca. Sudah pasti itu kerjaan Ikmal karena dia memang biasa menyimpan stok minuman di sembarang tempat.


“Tapi gak usah di dapur juga kali, udah tau gua bolak-balik dapur. Jadi kegoda kan?”


Elang menyeringai, mengulurkan tangan memilih salah satu dari meka, “Gilee ada Absinthe. Ini kan dilarang di beberapa negara soalnya paling gede kadar alkoholnya. Kenapa Bang Ikmal bisa dapet? Hmm, nyoba dikit ah. Kapan lagi kan?”


Belum juga tangan Elang mencapai botol berukuran sedang tersebut, tak ada angin tak ada hujan Lea dengan tatapan polosnya tiba-tiba saja berkelebat di benak Elang. Tatapan yang hampir mengganggu Elang siang dan malam.

__ADS_1


Jantung lelaki itu berdebar hebat, senang akan kehadiran sosok Lea meski hanya angan semata. Namun juga benci ketika mengingat tatapan polos Lea. Sorot mata yang selalu menuding kalau Elang adalah lelaki terhina di dunia.


“Ah, Kiandra. Lo dateng di saat gak tepat banget. Sialan!” maki Elang.


Membanting pintu rak dengan keras lantas menguncinya rapat-rapat. Urung sudah niat minum hari itu.


“Buka aja, Lang. Lo kan jago minum, Abang sengaja naroh hadiah buat lo di dalem sana.” Ikmal tiba-tiba masuk ke dapur dan mendapati Elang masih memegangi kuncian rak.


Elang menggeleng pelan seraya mundur selangkah, memberi ruang untuk Ikmal.


Nampak lelaki itu mengambil beberapa botol Ciu.


Elang menelan ludah sambil mengecap beberapa kali. Hanya memperhatikan botolnya saja, kerongkongan Elang sudah terasa menelan minuman nikmat itu. Apalagi saat Ikmal membuka salah satu dan mencicipinya.


“Nih, hadiah buat lo karena udah jadi normal!” Ikmal mengambil botol Absinthe dari rak.


“Gua lagi gak pengen, Bang.” dusta Elang.


Mengambil botol itu dan menaruhnya kembali ke dalam rak. Ikmal menaikkan sebelah alis. Elang itu selalu ribut minta minuman kalau ada waktu senggang. Eh sekarang malah tiba-tiba tak mau. Kan aneh.


“Beneran gak pengen? Tumben.” Ikmal mengambil kembali Absinthe.


Kali ini ia membuka tutup botolnya. Aroma khas minuman itu langsung masuk ke rongga hidung Elang. Membuat bulu kuduk lelaki itu meremang. Si pecandu minuman sedang mengepalkan kedua tangan dengan keras. Ragu-ragu menggelengkan kepala, berusaha menolak keinginan untuk menyambar botol tersebut.


“Ya udah, lain kali aja gua bawa lagi buat lo. Si Eka katanya pengen.” Ikmal menghela napas.


“Ah dasar cewek sinting lo Kiandra!” Elang mematikan kompor karena sup ayamnya telah mendidih.


Menghela napas kasar. Selama ia terus mengingat sosok Lea sejak setahun lalu, ia kadang tertahan untuk melakukan apa yang diinginkan.


Apalagi sejak ia memberanikan diri bicara pada gadis itu, meminta bantuan padanya dan latihan bersama. Suara, ekspresi, bahkan pelukan Lea saat ia berada di atas motor Elang benar-benar merayapi hati dan pikiran Elang siang malam.


Padahal Lea sama sekali tak melakukan apa pun pada Elang, namun satu tahun ini ia seperti orang gila. Kadang mencinta, kadang membenci, dan akhir-akhir ini emosinya bahkan kacau tak karuan. Meski sudah jelas, jangankan membalas perasaan, Lea bahkan nampak tak suka pada Elang.


“Dia cewek berbahaya. Satu-satunya cara agar gua gak kehilangan jati diri, ya balik jauhin dia.” tekad Elang mengambil semangkuk sup ayam untuk ia sendiri. Karena teman-temannya sudah pasti sedang teler saat ini.


֎


“Huuft.” kesekian kali Lea menghela napas. Ia benar-benar bosan, berharap bisa pergi ke sekolah dan bertemu teman-teman. Namun, karena demam Lea terlampau tinggi maka ia harus pasrah berbaring seharian tanpa mampu beranjak sedikit pun dari tempat tidur. Dunia gadis itu akan selalu berputar tatkala ia berusaha bangun.


Ketika dalam keadaan seperti itu, tak ada yang bisa Lea lakukan selain satu hal. Menyentuh plester luka di sikut seraya menghayalkan Paisal sepuasnya. Senang tak terkira saat ada hari dimana ia bisa bicara dengan Paisal walau sebentar.


Satu tahun lebih ia menyimpan rasa sendirian, harapan itu masih tumbuh dan membesar hingga kini. Ia cinta pertama Lea, dan selain dia gadis itu tak menginginkan siapa pun lagi. Lea hanya mau Paisal. Titik.

__ADS_1


“Yah... bantu Ibu angkat jemuran!” Lea mendengar ibunya berteriak dari dapur.


Lea melirik jendela, ternyata gerimis di siang bolong. Ada-ada saja gerimis datang ketika matahari sedang bersinar terik. Ingin sekali Lea keluar, karena biasanya kalau panas dan hujan datang bersama pasti akan ada pelangi muncul dari arah gunung.


Tapi, keluar saat ini adalah hal mustahil. Saat udara dingin menyusup melalui celah jendela kamar Lea saja sudah membuat tubuh gadis itu menggigil kedinginan.


Ia mesti merapatkan selimut agar tubuhnya tak terus bergetar, memiringkan kepala yang terasa pusing dengan mata terpejam. Lebih baik ia tidur.


Saat semua gelap, hidung Lea tiba-tiba menangkap aroma woody yang begitu pekat. Pikiran Lea kembali teringat saat semalam ia menyandarkan kepala ke punggung lebar Elang saat berada di atas motor.


Bau tubuh lelaki itu sungguh menyenangkan sekaligus membuat jantung Lea berdebar kencang. Ia bergegas membuka mata, malu sendiri karena mengingat bau tubuh seseorang sampai membuat kedua pipinya merona.


“Ingat, setan hanya akan membawa nasib buruk untukku!” gumamnya mengingkirkan wangi itu dari hidung.


“LEA!” Sarah dan Winda yang menerobos masuk ke kamar. Masih mengenakan seragam lengkap, keduanya memeluk Lea bersamaan.


“Kalian ini mau jenguk orang sakit atau mau demo?” Lea memijit pelipis. Kepalanya mendadak berdenyut mendengar suara ribut mereka.


“Kita kangen banget sama kamu.” Sarah mencubit pelan pipi Lea. gadis itu hanya tersenyum tanpa berusaha bangun. Winda pun kian mendekat, meletakkan punggung tangan di kening Lea.


“Panas banget, udah ke dokter?” tanyanya cemas.


“Udah tadi, hanya ada obat yang harus dibeli di Apotek. Nanti malem Arief mau nganter kesananya.” Jelas Lea.


Sarah dan Winda tak menjawab. Mereka malah memandangi Lea dengan pandangan penuh selidik.


“Hubungan kamu sama Arief udah ada kemajuan?” tanya Winda setengah berbisik.


“Soalnya kata Ibu kamu tadi, kamu dianter dia sambil basah-basahan gitu. Keliatan banget romantisnya.” timpal Sarah.


Lea terdiam sesaat, tak mengerti dengan pertanyaan mereka. Namun setelah berpikir sesaat, sepertinya Ibu Lea salah mengenali orang malam. Ia memang sering bercerita soal Arief, dan lelaki itu pun beberapa kali datang ke rumah.


Hanya saja, tiap Arief datang ke rumah kebetulan ibunya selalu tak ada dan hanya bertemu Ayah Lea. Jadi sudah pasti Ibu Lea mengira Elang sebagai Arief. Salah orang itu juga sih tak mampir dan memperkenalkan diri dulu.


“Elang.” ucapan Lea membuat kening Sarah dan Winda berkerut dalam, “Semalem yang anter aku pulang bukan Arief, tapi Elang.”


“Elang yang tinggi, ganteng, dan kasar itu?” tanya Winda. Lea mengangguk.


“Elang yang sekelas sama kamu? Gak mungkin, kamu pasti naik angkot dan karena semalam kamu udah sakit pasti kamu mimpi yang enggak-enggak.”


“Iya, Elang itu deket sama cewek aja enggak. Mana mungkin dia bisa anterin kamu. Pasti pas kamu naik angkot kamu kejedot ya?” imbuh Sarah.


Lea hanya berdecak sebal. Andai dalam keadaan sehat, ia pasti sudah bercerita dengan gamblang sampai tektek-bengek perihal kejadian semalam agar mereka percaya bahwa yang Lea alami bukan sekadar mimpi atau halusinasi.

__ADS_1


Meski ia sendiri tak percaya, namun mau dikata apa juga Elang datang menjemputnya dari sekolah dan mengantar pulang dengan selamat.


֎


__ADS_2