Melodia Hujan

Melodia Hujan
22. PANIK


__ADS_3

“Yap, selesai.” Lea meregangkan tangan setelah selesai menyalin semua data dari formulir pendafataran.


Tepat jam dua, berkat suara tegas Elang dan kelincahan jari Lea, mereka pun bisa menyelesaikan tugas dari Ayu meski waktunya mepet.


Lea masih duduk di depan komputer untuk mencetak hasil ketikan, sedang Elang kembali memasukan bundel formulir itu ke dalam tas. Lagi-lagi hening ketika mereka menunggu hasil cetakan dari printer Admin.


Sembari mendengar suara pencetakkan kertas, Elang menyadarkan punggung ke dinding bilik menghadap Lea. Memandang lurus gadis itu, “Kiandra.”


Lea mendongak, “Hm?”


“Maaf soal kejadian di rumah Reva.” suara Elang sedingin udara kala itu,


“Waktu itu gua cuma pengen ditemenin lo aja, gak ada maksud lain.”


Lea mengigit bibir, entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar saat kembali teringat kejadian di pesta Reva. Memang mengingat ekspresi Elang waktu itu, ia juga menerka kalau Elang tak tahu apa-apa. Ia ingat jelas bagaimana Elang menatapnya dengan cemas dan terkejut.


Lea itu tak bisa berlama-lama marah pada orang lain. Tapi mau bagaimana lagi, meski sudah memaafkan, gadis itu masih gengsi untuk menghilangkan kecanggungan antara mereka.


“Bilik tiga, print selesai.” seru sang penjaga Warnet mengagetkan Elang dan Lea.


Lea menyampirkan tas, menunjukkan kalau ia tak ingin bicara lebih lanjut dengan Elang dan lebih memilih untuk segera pergi.


Elang tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa mengikuti Lea yang mengambil beberapa kertas rapi dari meja si penjaga, dan Elang membayar biaya warnet mereka.


“Hujan?” Lea terperangah saat keluar dari Warnet.


Sepertinya tempat itu kedap suara sehingga waktu tadi ia di dalam tidak terdengar suara apa pun. Sehingga Lea tak menyadari kalau hujan mengguyur dengan derasnya,


“Kenapa setiap ada Elang, pasti hujan.”


Lea langsung menutup mulut, menyesali ucapan refleka barusan. Perlahan ia menggerakkan ujung mata untuk melirik lelaki di sebelah. Elang, tengah menunjukkan satu gingsulnya pada Lea. Ia menyeringai nakal,


“Setiap? Jadi lo nyimpen memori kebersamaan kita ya?”


“Iiih enggak! Amit-amit.” Lea mulai salah tingkah mengibaskan kedua tangan di depan wajah.


Kini Elang tersenyum manis, suasana mendadak hangat sebab Lea tak secanggung tadi. Memberi celah pada Elang untuk ia bisa mendekati gadis itu kembali.


Elang mengangkat jemari seolah hendak menghitung, “Pas hujan, lo meluk gua di atas motor. Terus gua peluk lo di bawah pohon. Terus...”


“Aaa diem! Gak tau, aku gak tau apa pun.” Lea menutup kedua tangan sambil menggelengkan kepala. Menghentakkan kaki karena tak mau mendengar ucapan Elang.


Lelaki itu dengan gemas memegangi kedua tangan Lea dan menjauhkannya dari telinga,


“Terus yang ketiga pas hujan kita pelukan di dalam bilik warnet. Yuk masuk lagi, gua


kangen tubuh mungil lo.”


“Dasar mesum! Setan!” umpat Lea dengan kedua bola mata membulat sempurna, menghempaskan tangan Elang seraya mundur beberapa langkah.


Mereka berada di teras depan warnet, dan Elang dengan tak tahu malunya berkata hal se-vulgar itu pada Lea.


Elang tiba-tiba bungkam. Mengucapkan kata memeluk, ia malah teringat ketika Arief memeluk Lea di depan rumahnya. Elang jadi kesal sendiri.


Kembali ia jatuhkan pandangan pada gadis di tepi teras, Lea membuka payung sebuah payung lipat transparan yang ia ambil dari dalam tas.


“Aku ke sekolah duluan.”

__ADS_1


“Ck ck ck, dasar si culun sinting. Monster kecil gua yang cantik.” Elang berkacak pinggang memperhatikan Lea dari kejauhan. Pandangannya perlahan mulai kabur karena hujan yang turun begitu lebat disertai angin kencang.


֎


Lea bersusah payah menerjang hujan dan angin kencang yang menerpa payung, tubuh mungil itu bisa saja ikut terbang tiupan angin.


Tepat dari arah berlawanan, Lea melihat seorang lelaki berpakaian preman seumuran dengannya berjalan cepat dibawah guyuran hujan. Ia jelas sedang menatap tajam pada Lea.


“Hei, mana si Elang?” bentak ia tiba-tiba.


“Kamu nanya aku?” Lea malah balik bertanya.


“Sekali lagi gua tanya, mana si Elang sialan itu?!” bentaknya lagi.


Lea mencium gelagat tak baik dari lelaki itu, maka ia menggeleng keras. Sebenci apa pun ia pada Elang, orang itu tetaplah teman sekelas yang harus ia lindungi dari orang jahat.


“Aku gak tau dimana dia. Cari aja sendiri.” dusta Lea, berharap lelaki preman itu segera pergi dari hadapannya.


Melihat kebungkaman Lea, lelaki itu menyambar tangan kiri Lea dan memelintirnya ke belakang. Membuat Lea melempar payung karena kesakitan. Si lelaki semakin menarik tangan Lea hingga ia menjerit keras dan berlutut di trotoar.


“Bilang dimana Elang, atau gua putusin tangan lo!” teriak laki-laki itu lagi diantara riak hujan.


Meski kesakitan Lea tetap tak mau bicara, apalagi setelah melihat seberapa jahat orang itu padanya. Ia mengigit bibir sampai hampir berdarah menahan sakit yang kian mendera pada bahu kiri.


Tanpa diduga datanglah Elang yang dengan kasar langsung mendorong lelaki itu menjauhi Lea. Elang menyambar tubuh Lea dan menyandarkan gadis itu di dada.


Ini kali kedua Lea bersandar di dada bidang Elang, mendengar debar jantungnya yang terlampau cepat dengan napas memburu. Satu hal lagi, aroma woody kental menyeruak dari tubuh Elang dalam sekejap telah memenuhi seluruh rongga hidung Lea.


“Udah gua duga, cewek itu emang bisa dipake mancing elo keluar dari persembunyian.” lelaki itu tersenyum remeh.


“Elo dapet salam dari Erik, dia tunggu di lapangan biasa. Kalo enggak, besok lo bisa denger berita kalo tuh cewek celaka.”


“Dikit aja lo sentuh dia, gak bakal gua ampuni lo semua!” Elang balik mengancam.


Lelaki yang dipanggil Eza itu tertawa dengan keras lalu pergi dari hadapan Elang. Sebelah tangan Elang masih mendekap erat Lea, sedang tangan lain terkepal kuat hingga ototnya jelas terlihat dari balik kulit sawo matang tersebut.


“Lang...” Lea sedikit cemas merasakan napas Elang mulai tak karuan.


Ia perlahan melepas Lea, meneliti tubuh di gadis dari bawah hingga atas. Bulu mata lentik Elang yang terkena hujan bak digelayuti embun. Sesaat kemudian mengalir melewati garis pipi tegas lelaki itu.


Tangan Elang terulur menyentuh bahu Lea, mendadak meremas tempat itu hingga membuat Lea menjerit tertahan. Elang mendorong Lea mundur, ia membalikkan badan dan hendak beranjak.


“Kurang ajar! Gua ancurin mereka semua!”


“I... Ini tak masalah, bisa diobati.” Lea menarik ujung seragam Elang, menghentikan langkah lelaki itu.


Mendengar ancamannya tadi pada Eza kemungkinan besar kalau Elang akan balas dendam pada mereka. Lea tak tahu apa yang terjadi, namun ia mulai khawatir pada Elang.


Gadis itu berusaha mencari cara untuk meredam kemarahan Elang, “Lang, kita balik ke Sekolah. Tri nunggu kita.”


Elang memandang lurus ke mata Lea, dia menggeleng beberapa kali semakin mengeraskan rahang.


Mata Lea mulai memanas melihat Elang yang keras kepala, entah mengapa tiba-tiba saja air mata bercampur hujan mengalir di pipinya. Hati kecil Lea tak rela membiarkan Elang pergi, ia merasa akan ada sesuatu hal buruk pada Elang.


“Lang, Tri nunggu kita.” isak Lea dengan nada memohon.


“Sebelum salah satu dari mereka liat lo lagi, cepet balik ke sekolah. Lo aman disana.”

__ADS_1


Elang kembali mendorong Lea, ia lebih mengarahkan gadis itu ke arah sekolah. Kemudian langsung berlari secepat mungkin ke arah yang berlawanan meninggalkan Lea.


“Elang!” teriakan Lea tak mendapat jawaban. Lelaki itu sudah cukup jauh darinya.


Badan gemetar, dingin bercampur baur dengan rasa takut kalau Elang akan kenapa-napa jika pergi dalam keadaan marah seperti itu.


“A-Aku harus memberi tahu Tri.”


֎


Pukul sepuluh malam, Lea masih mondar-mandir di ruang tengah ditemani Dira Ayahnya.


Ketika bertemu Tri di Sekolah, ia langsung menceritakan semua yang terjadi dan meminta Tri menyusul Elang.


Tak lupa memberikan kontak Dira agar Tri segera mengabari jika sudah bertemu Elang. Namun hingga larut malam, gadis itu belum juga menerima kabar dari Tri.


Lea menengok ke kamar Ibunya, beliau sudah tertidur pulas. Ia kemudian menghampiri Dira yang masih menyesap secangkir kopi, menghambur ke pelukan sang ayah untuk sedikit meredam kecemasan.


“Pa, Lea takut Elang kenapa-napa.” ucapnya sesekali terbatuk. Lagi-lagi Lea sakit.


“Sabar, Lea. Doakan terus agar Nak Elang selamat.” Ayah Lea mengelus lembut punggung sang puteri sembali menatap nanar ke jendela.


Sesekali meraba kening Lea yang masih sangat panas namun anak itu tetap tak mau disuruh masuk ke dalam kamar. Dira mengambil ponsel, mengecek siapa tahu salah satu teman Lea menghubungi. Sayang, tak ada pesan atau panggilan sama sekali.


“Kamu baringan sebentar, Ayah akan melihat ke luar siapa tahu ada temanmu yang datang.”


Dira merebahkan tubuh puterinya di kursi. Ia lantas beranjak, membuka pintu depan dan mengedar pandangan ke sekitar rumah. Mata Dira menyipit melihat dua orang gadis muncul dari kegelapan.


“Nak, Sarah dan Winda datang.” ucap Ayah Lea.


Gadis yang dipanggil itu bergegas bangkit dan mengintip keluar. Benar saja, kedua sahabatnya naik ke teras. Bukan hanya mereka, melainkan juga melihat Tri, Gentra, dan Adi berdiri dekat mobil di halaman rumah.


“Lea, Elang di Rumah Sakit. Dia nanyain kamu terus.” kata Winda tiba-tiba.


Deg!


Jantung Lea kembali berdegup kencang. Firasatnya tak meleset, Elang sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit.


“Kami udah denger semua dari Tri, kami temani kamu kesana.” tambah Sarah. Lea memandang Dira, meminta persetujuan lelaki paruh baya tersebut.


“Ayah...”


“Pergilah, Nak. Hati-hati di jalan.” kata Ayah Lea.


Sang puteri, Sarah juga Winda menyalami Dira lantas pamit pergi. Mereka berjalan cepat menghampiri ketiga teman Elang yang sudah masuk ke dalam mobil.


“Lea, kamu sakit?” Tri merangkul bahu Lea, menggiringnya duduk disamping kursi kemudi yang digunakan Tri.


“Enggak apa-apa. Ayo lekas ke sana.” Lea duduk dengan penuh kecemasan.


Mendengar Elang masuk Rumah Sakit saja sudah membuat pikiran Lea tak tenang sepanjang perjalanan.


Sesekali Tri menggenggam jemari dingin Lea untuk memberikan kehangatan, lalu kembali fokus pada kemudi. Melajukan mobil secepat yang ia bisa.


Winda sempat cemburu melihat perhatian Tri pada Lea, tapi ini bukan saatnya. Ada yang lebih penting dari pada kisah masa lalu. Elang membutuhkan Lea dan gadis itu sangat ingin mengetahui keadaan Elang.


֎

__ADS_1


__ADS_2