Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 10 Demi Nama Baik


__ADS_3

Ketukan di pintu menjeda sejenak acara makan yang sedang berlangsung dengan khidmat, Bu Siska tampak kesal karena makannya lagi-lagi terganggu dengan tamu yang datang itu.


"Heh, Kebo dungu! Apa yang kau tunggu? Sana cepat buka pintu! Lihat siapa yang datang, kalau yang datang itu orang tidak penting, lebih baik disuruh pulang saja dan katakan semua orang yang ada di rumah ini sedang sibuk dan tidak menerima tamu!" titah Bu Siska pada Zakia yang berdiri di belakangnya.


Zakia menggangguk patuh.


"Jangan-jangan yang datang itu Bryan, Ma! Apa dia gak jadi cari kerja?" Clara masih mencoba semakin memperburuk keadaan.


"Kalau yang datang itu Bryan dan dia tidak membawa kabar baik, mama akan beri mereka pelajaran!" jawab Bu Siska dengan lugas.


"Memangnya Kak Bryan kenapa, Ma?" tanya Doni yang masih belum tau permasalahan yang terjadi.


"Itu loh, Don! Bryan dipecat dari perusahaan! Mama sedang menyuruhnya untuk cari kerjaan baru, daripada nanti malah merepotkan mama!" Clara yang duluan menjawab pertanyaan Doni.


Tapi itu sama sekali tidak masalah bagi Bu Siska, justru ia ikut mengangguk menyetujui yang dikatakan oleh Clara. Zakia menahan kesabaran sambil terus melangkah menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.


"Bu Romlah!" ucap Zakia saat ia melihat siapa tamu yang datang.

__ADS_1


Bu Siska langsung menghentikan makannya mendengar Zakia menyebutkan nama tamu itu. Secepat kilat Bu Siska berlari ke kamar untuk berdandan, karena ia tidak mau terlihat kucel dihadapan tamu itu.


"Wah, sepertinya aku datang tidak tepat waktu, karena aku malah mengganggu acara makan siang keluarga ini," ucap Bu Romlah setelah Zakia mempersilahkan tamu itu masuk.


"Gak apa-apa dong, Tante! Kami juga sudah selesai makan kok! Tunggu sebentar! Mama sedang ada di kamar," sahut Clara berekting sok baik.


"Waah, Ada Jeng Romlah! Maaf, Jeng! Aku gak tau kalau Jeng Romlah yang datang. Tadi aku sedang istirahat di kamar, Jeng!" Bu Siska pura-pura baru tahu kalau Bu Romlah datang ke rumahnya.


"Gak apa-apa, Jeng Siska! Tadi menantu Bu Siska, Clara juga sudah memberitahu kalau Bu Siska sedang berada di kamar, tapi aku lihat hidangan istimewa masih tersaji di meja makan. Apa Bu Siska tidak ikut makan?" tanya Bu Romlah.


Padahal baru saja ia menyantap makanan yang disiapkan oleh Zakia dengan rakus, bahkan Zakia yang sudah capek memasak, tidak ditawari sedikitpun. Mulutnya dengan tamak melahap berbagai macam lauk sekaligus, sudah seperti orang yang sudah tidak makan tiga abad kejayaan.


"Masa sih, Jeng Siska! Aku lihat tubuh Bu Siska baik-baik saja dan Bu Siska juga terlihat awet muda. Pasti Bu Siska sengaja tidak makan yang berlemak karena takut tubuhnya menggendut bukan?" tebak Bu Romlah membuat Bu Siska tersipu meong.


"Hehe, itu juga adalah alasan lainnya, Jeng Romlah! Walaupun kita sudah berumur tapi fisik kita harus tetap dijaga. Eh ayo duduk, Jeng! Sampai lupa! Zakia, sana bikinin minuman dingin buat tamu kita!" titah Bu Siska pada Zakia yang tengah berdiri sambil menahan pusing di kepala.


"Loh, Nak Zakia kenapa? Kok kelihatannya pucat banget? Apa Nak Zakia sedang sakit?" tanya Bu Romlah melihat Zakia yang pucat pasi.

__ADS_1


"Bukan, Jeng! Menantuku yang satu ini memang terbiasa manja, capek sedikit saja sudah pucat seperti itu. Padahal kerjaannya di rumah hanya rebahan saja sambil main ponsel," sahut Bu Siska dengan cepat.


"Wah, kasihan sekali Nak Zakia! Kelihatannya dia juga belum makan siang ya, Jeng? Orang tubuhnya saja kelihatan lemah begitu, Jeng!" tebak Bu Romlah lagi.


"Emm, memang belum, Jeng! Kan sudah aku bilang kalau menantuku yang satu ini memang sedikit manja, seharian hanya main ponsel di kamar sampai lupa makan. Aku sudah sering memberitahu kepadanya tapi namanya anak-anak zaman sekarang susah sekali mengaturnya, Jeng!" Bu Siska memojokkan Zakia dengan mengambil keuntungan agar namanya terangkat dan dapat sanjungan.


"Ehh, Nak Zakia gak boleh gitu! Kesehatan itu sangat penting untuk dijaga, anak-anak dan menantuku juga di rumah selalu aku ingatkan untuk menjaga kesehatan, terutama jangan sering telat makan karena tubuh kita butuh asupan yang banyak agar penyakit tidak mudah hinggap. Sekarang lebih baik istiraha Nak Zakia makan, setelah itu istirahat. Kasihan wajahnya sudah pucat begitu, benar kan, Jeng!" Bu Romlah meminta persetujuan Bu Siska.


Demi menjaga nama baiknya, tentu saja Bu Siska terpaksa harus menyetujuinya.


"Benar banget, Jeng! Ayo cepat makan, Kia! Setelah itu istirahat di kamar. Mama sedang ada urusan penting dengan Tante Romlah!" ucap Bu Siska dengan terpaksa, suaranya juga terasa tercekat saat mengatakan itu.


"Baik, Ma! Aku bereskan meja makan dulu, setelah itu baru makan di dapur" jawab Zakia ragu.


Ia masih belum percaya kalau ibu mertuanya menyuruhnya makan dan setelah itu istirahat, karena Zakia tahu bahwa ibu mertuanya terpaksa mengatakan itu agar nama baiknya bisa tetap terjaga di depan Bu Romlah. Tapi perut Zakia yang sudah melilit karena lapar membuat ia ingin nekat makan hidangan lezat itu.


"Ehh, Tunggu...!"

__ADS_1


__ADS_2