Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
42 Kebaikan Yang Berlipat-lipat


__ADS_3

Karena hujan sudah reda, kemudian Bryan dan juga Bobi berangkat untuk melihat kontrakan yang akan dihuni oleh Bryan dan Zakia sebentar lagi, sementara Zaka dan juga yang lainnya tetap berada di rumah.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kontrakan itu, karena jarak kontrakan itu dari rumah Pak Ibrahim hanya sekitar 6 rumah saja. Bryan dan Bobi sudah sampai di depan kontrakan yang bercat hijau daun.


"Ini rumahnya, Bry! Ayo kita periksa dulu ke dalam, biar lebih jelas lagi!" ajak Bobi.


Bryan mengangguk, walaupun sebenarnya ia sudah menyukai rumah itu sejak pertama kali melihatnya. apalagi warna hijau dan warna kesukaannya dan setiap barang-barang yang ia beli pasti ada corak warna hijau. Selain itu rumah itu juga terlihat terawat, walaupun rumahnya sederhana, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Bryan. Baginya mempunyai tempat tinggal yang nyaman bersama istrinya dan jauh dari hinaan yang selalu membuat hatinya terluka, itu sudah cukup.


"Bagaimana, Bry? Apakah ada sesuatu yang kurang dari rumah ini?" tanya Bobi setelah mereka mengecek kondisi rumah.


"Aman, Bob! Semuanya terlihat terawat dan rapi, orang yang tinggal sebelumnya di rumah ini sehingga tetap terlihat bagus," jawab Bryan.


"Iya, Bry! Sebenarnya sangat disayangkan karena mereka memilih pindah dari sini, dikarenakan suami dari Mbak yang tinggal di sini dipindah tugaskan ke kota lain. Tapi mungkin ini juga sudah menjadi takdir, agar kita diberikan lagi seperti ini lagi setelah sekian lama," terang Bobi.


"Benar, Bob! Sudah rezeki dan akdir kami bertemu dengan orang baik seperti kalian," sahut Bryan.

__ADS_1


Setelah memastiakn semua keadaan rumah dan memastikan tidak ada yang perlu direnovasi, lalu kemudian Bryan dan juga Bobi kembali ke rumah Pak Ibrahim.


"Bagaimana, Nak Bryan? Apakah rumahnya cocok?" tanya Pak Ibrahim setelah Bobi dan Bryan sampai di rumah.


"Alhamdulillah cocok, Pak! Tapi kalau bisa aku meminta sedikit waktu untuk membayar sewa bulanan, karena uang yang kami punya juga tinggal sedikit. Kalau boleh, aku meminta waktu sampai aku menemukan pekerjaan baru, Bob! Pak!" ucap Bryan jujur, bagaimanapun juga ia harus tetap membayar sewa dari rumah itu.


"Tidak masalah kalau soal itu, Bry! Santai saja, kalian bisa kasih berapa yang ada saja dulu, karena jika aku mengatakan kalian boleh tinggal secara gratis di sana, pasti kau tidak akan mau," ujar Bobi.


"Bukan begitu, Bob! Tapi...."


"Iya, aku tahu maksudmu, Bry! kalian boleh tinggal di sana sampai kapanpun yang kalian mau, Bry! Untuk masalah uang sewa, bisa belakangan," ucap Bobi lagi.


"Boleh saja, Nak! Tapi apa setidaknya untuk malam ini kalian menginap di sini dulu? Kasihan istrimu masih lemas begitu," ucap istrinya Pak Ibrahim.


"Mama benar, Mbak Kia! Untuk malam ini kita menginap di rumah Mama saja dulu, besok aku akan membantu Mbak Kia untuk membersihkan rumah itu. Kasihan kalau Mbak Kia terlalu capek di saat hamil mudah begini," ucap Istri Bobi membenarkan ucapan ibunya.

__ADS_1


Tidak ada lagi alasan untuk menolak tawaran keluarga itu, Bryan dan Zakia akhirnya mengangguk setuju.


"Alhamdulillah! Kalau begitu malam ini Mbak Kia dan Mas Bryan tidur di kamar tamu saja. Aku dan Mas Bobi juga akan menginap malam ini di sini," ucap Kinara, putri Pak Ibrahim.


Setelah itu mereka melanjutkan perbincangan, mulai dari awal Bryan di pecat, sampai akhirnya mereka terusir dari rumah. Bukan untuk membuka aib, tapi hanya ingin berbagi kesedihan, melapangkan dada mereka yang terasa sesak.


Tringgg....


Tringggg....


Ponsel Bobi berdering saat mereka sedang mengobrol, Bobi kemudian mengangkat panggilan. Tidak beberapa lama, Bobi datang dengan wajah sumringah.


"Ada apa, Mas? Kok Mas kelihatan sangat bahagia? Seperti memenangkan proyek saja!" tanya Kinara heran.


"Iya, Dek! Ada kabar baik yang Mas dapatkan dari kantor!" jawab Bobi.

__ADS_1


"Kabar apa itu, Mas?"


*****


__ADS_2