Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 12 Bryan Yang Malang


__ADS_3

Braakkk...


Sebuah mobil yang mengemudi ugal-ugalan menabrak tubuh lemas Bryan. Tubuh Bryan terpental bersimbah darah di aspal. Orang-orang yang berlalu lalang mulai berkerumun untuk melihat kecelakaan yang menimpa seorang pria yang tengah terlihat frustasi dan berteriak-teriak di jalanan. Orang-orang itu menatap iba kepada Bryan yang malang.


"Cepat hubungi ambulance! Sepertinya pria ini sudah banyak kehilangan darah! Jika tidak segera ditangani, maka akan berakibat fatal nantinya!" ucap seseorang yang ada di antara kerumunan itu.


"Baik! Biar saya yang menghubungi ambulance!" jawab seorang pria bertopi hitam. 


"Apa kita perlu menghubungi pihak kepolisian? Pengemudi mobil itu tampaknya sedang mabuk, dia berhasil menyelamatkan diri!" sahut yang lain.


"Ya! Kita harus menghubungi pihak berwajib! Kasihan sekali korban tabrak lari ini jika tidak di adili! Kebetulan saya mencatat nomor flat kendaraan tersebut. Jadi ini bisa kita jadikan bukti kuat!"


"Baguslah! Sekarang yang terpenting pria ini harus segera ditangani dulu. Sepertinya dia sedang frustasi!" ucap pria yang pertama kali menolong.


"Benar sekali, Mas! Oh iya, ini ada CV dari pria ini, mungkin kita bisa menemukan petunjuk siapa dia dan keluarga yang bisa dihubungi!" ucap yang lain.


Lalu kemudian salah satu diantara mereka mengambil CV Bryan yang sudah tercecer kemana-mana dan bersimbah darah Bryan. Untung masih ada satu lembar berkas yang masih bisa dibaca.


"Bryan Aditama! Alamat rumah Jl. Pondok Indah, no.04, Jakarta!"


"Apakah di sana ada kontak yang bisa dihubungi?" tanya pria bertopi hitam lagi.


"Ya! Ada, Mas! Ini nomornya!" jawab pria yang membaca berkas itu.


Wiiuuuuuu..... 


Wiiuuuuu...... 


Suara sirine ambulance sudah mulai mendekat, Bryan yang sudah tidak kuat untuk membuka mata perlahan menutup matanya, tapi ia masih bisa melihat wajah orang-orang yang tulus membantunya, sedangkan keluarganya, entah mereka peduli atau tidak nantinya dengan kondisi Bryan. Bryan ingin pulang dengan damai, tapi Bryan tidak punya rumah. Bryan ingin dipeluk Tuhan, tapi ia masih ada tanggung jawab besar di dunia ini. Bryan tidak bisa mengingat apa-apa lagi, bayangan ibunya mengatakan jangan pernah kembali mengiringi Bryan menutup mata.

__ADS_1


"Cepat, Mas! Sepertinya pria ini sudah tidak sadarkan diri!" sorak pria berkemeja putih, dialah yang pertama kali membantu Bryan.


Petugas ambulance itu segera mengangkat tubuh Bryan, pria berkemeja putih juga ikut membantu.


"Apakah ada pihak keluarga yang bisa menemani pasien?" tanya salah satu perawat yang ikut bertugas.


"Saya sedang menghubungi pihak keluarga korban! Nanti akan saya suruh untuk menyusul ke rumah sakit!" jawab pria bertopi yang sedang mencoba menghubungi nomor ponsel keluarga Bryan. Tapi tidak kunjung diangkat.


"Tapi harus ada yang menjamin dan mengurus administrasi sesampainya di rumah sakit, Pak!" ucap perawat itu lagi.


"Ck, apa administrasi lebih penting dibandingkan nyawa korban?" tanya pria berkemeja putih dengan kesal.


"Maaf, Pak! Kami hanya menjalankan tugas dan itu sudah menjadi prosedur dari rumah sakit!" jawab perawat itu dengan sopan.


"Baik! Saya yang akan membantu korban untuk mengurus administrasi sebelum keluarganya datang!" ucap pria berkemeja putih akhirnya.


"Saya akan menyusul dengan mobil saya!" jawab pria itu lagi.


Perawat itu mengangguk, lalu kemudian masuk ke dalam ambulance. Ambulance mulai melaju menuju rumah sakit terdekat, membawa tubuh Bryan yang sudah tidak sadarkan diri.


"Ini kartu nama saya! Kalau pihak keluarga sudah bisa dihubungi, tolong kabari saya! Sebentar lagi saya ada meeting dengn klien soalnya," ucap pria berkemeja putih kepala pria yang sedang menghubungi keluarga Bryan.


"Baik, Pak! Nanti akan saya hubungi!" jawab pria itu.


Setelah itu pria berkemeja putih masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengikuti ambulance yang tadi membawa Bryan ke rumah sakit. Kerumunan orang-orang tad sudah bubar, satu persatu dari mereka sudah meninggalkan tempat kejadian tabrak lari itu. sementara si pria bertopi hitam masih mencoba menghubungi pihak keluarga Bryan.


*****


"Aduhh, Jeng! Bagus banget sih gelangnya! Pasti Jeng Caca membeli gelang ini dengan harga yang fantastis ya?" tanya seorang peserta arisan di rumah Bu Siska.

__ADS_1


Ya! Saat ini Bu Siska dengan sibuk melayani tamu-tamu arisannya, sehingga ia tidak sempat melihat ke arah ponselnya yang sedari tadi bergetar. Nada dering ponsel itu disenyapkan, karena Bu Siska tidak mau ada yang mengganggu saat acara arisan mereka berlangsung.


Sementara Zakia tengah sibuk berkutat di dapur, menyiapkan makanan dan juga minuman untuk para tamu ibu mertuanya itu. Tidak ada waktu untuk memegang ponsel bagi Zakia, walaupun sedari tadi ia merasakan firasat tidak enak dan pikiran yang tidak menentu. Zakia tidak tahu pikiran apa yang sedang melanda dirinya, tapi Zakia bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi menimpa keluarganya.


"Wah, menantu Jeng Siska cekatan, ya! Dengan cepat bisa menyiapkan berbagai macam makanan, salut banget dengan Jeng Siska yang bisa mencari menantu seperti Zakia! Kalau menantuku mah gak pernah ke dapur, tinggal order makanan dari luar aja beres! Tapi tentunya sesuai dengan pemasukan yang diterima dari anakku perbulannya. Jadi menantuku sangat manja!" ucap Bu Rahayu.


Entah pujian atau hinaan yang dilontarkan oleh Bu Rahayu. Kata-kata seperti itu sudah terlalu terbiasa didengar oleh Zakia, bahkan lebih pedas dari itu, kata-kata dari ibu mertuanya selalu ia konsumsi setiap hari.


"Padahal baru tadi siang Zakia gak enak badan lo, Jeng! Kok sekarang malah disuruh bekerja? Sesekali gantian Clara yang menyiapkan hidangan dong!" sahut Bu Romlah.


Clara melirik tidak suka kepada Bu Romlah, menurutnya wanita itu sudah keterlaluan. Masa menantu emas harus berprofesi seperti babu. Mana level?


"Wah, benarkah, Jeng? Tapi kelihatannya Zakia sehat-sehat aja sekarang, Jeng!" tanya Bu Rahayu lagi.


"Benaran, Jeng! Tadi pas saya kesini untuk memberitahu tempat arisan kita kali ini, Nak Zakia terlihat sangat lemas, wajahnya juga sangat pucat, Jeng. Benarkan, Jeng Siska?" Bu Romlah meminta pembenaran dari Bu Siska.


Tenggorokan Bu Siska sudah gondok dan hampir meledak, belum habis kesalnya tadi siang karena Bu Romlah terpaksa membuatnya bersikap baik pada Zakia, sekarang Bu Romlah mulai lagi. Dan Bu Siska harus berpura-pura bersikap manis lagi.


"Benar, Jeng! Tapi tadi saya sudah kasih vitamin untuk Zakia. Makanya sekarang Zakia sudah segar kembali!" jawab Bu Siska dengan terpaksa.


"Masya Allah! Luar bisa baik teman kita yang satu ini pada menantunya!" puji yang lain.


Drrrttt.. 


Drtttt... 


"Eh, Jeng! Itu dari tadi ponselnya bergetar terus. Kenapa tidak diangkat? Siapa tau penting!" ucap Bu Atika melihat ponsel Bu Siska bergetar dari tadi.


"Ah, Biarkan saja, Jeng! Mungkin orang yang minta sumbangan!"

__ADS_1


__ADS_2