Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 9 Situasi Berbeda


__ADS_3

"Hei, Pemalas! Kenapa malah bengong? Pasti kau mencari alasan untuk tidak disuruh cari pekerjaan. Benar kan?" tanya Bu Siska kesal.


Sudah dari tadi ia menyuruh Bryan untuk berangkat mencari pekerjaan, tapi Bryan malah bengong entah kenapa.


"Eh iya maaf, Ma!" jawab Bryan yang sudah sadar dari lamunannya.


"Maaf! Maaf! Kata maafmu tidak berguna kalau kau tidak punya uang, Bryan! Sekarang ayo cepat bersiap-siap, lalu cari pekerjaan yang lain di luar sana. Ingat! Jangan pernah pulang kalau kau belum membawa kabar baik. Pokoknya hari ini juga mama harus mendengarkan kalau kau sudah mendapatkan pekerjaan pengganti yang lebih baik dari perusahaan yang memecatmu!" ucap Bu Siska tanpa bisa dibantah.


"Baik, Ma! Aku akan berusaha mencari pekerjaan apapun hari ini dan pekerjaan itu pasti akan membuat mama senang nantinya, jika aku belum menemukan pekerjaan, maka aku tidak akan pulang, kecuali itu harus diantarkan pulang oleh orang lain," jawab Bryan dengan sendu.


Bu Siska berdecih, ia sangat tidak suka berbasa-basi saat ini karena ia terlalu kesal dengan anak dan menantunya yang menurutnya dengan membawa petaka dalam rumahnya.


"Tidak udah banyak bicara, Bryan! Buktikan saja omonganmu itu, aku tidak butuh janji palsu. Ada uang, maka semuanya akan beres!" jawab Bu Siska, Bryan tidak menjawab lagi, ia tidak tau harus menjawab apa.


"Ya udah yuk, Ma! Perut aku udah menjerit minta diisi, si lelet belum juga manggil kita buat makan siang!" Clara kembalu memojokkan Zakia yang tengah sibuk menghidangkan makanan untuk mereka. 


Dengan sisa tenaga yang ia punya, dengan jeritan cacing diperut minta dikasih asupan, apalagi saat melihat masakan yang ia siapkan itu sungguh menggugah selera. Namun ia hanya bisa melihat, tidak bisa ikut mencicipi.


"Wanita itu memang harus dibentak dulu baru benar kerjanya, kalau tidak ia akan terus menghayal sambil bekerja!" jawab Bu Siska.


Setelah itu Bu Siska dan juga Clara keluar dari kamar Bryan menuju ke ruang makan, Bryan 


yang saat ini menahan geram karena istrinya selalu dipojokkan oleh ibu dan juga kakak iparnya, mencoba mempertebal telinga agar tidak terpancing emosi.


Setelah ibu dan kakak iparnya keluar dari kamar, Bryan segera bersiap-siap untuk pergi mencari pekerjaan baru sesuai perintah ibunya karena, jika tidak maka ibunya akan selalu menghina dan juga memaki-maki dirinya terutama selalu menyalahkan Zakia sebagai pembawa sial di rumah mereka. 

__ADS_1


Perut yang melilit dan juga keroncongan ditahan sebisa mungkin oleh Bryan, ia kelaparan di rumah orang tuanya sendiri. Bahkan ibu kandungnya sendirilah yang tidak memperbolehkannya makan.


Bryan merasa hidupnya sangat malang. Tidak seperti keluarga lain yang selalu mengutamakan kepentingan anaknya dulu, bahkan Bryan pernah melihat seorang ibu yang rela menahan haus dan lapar dan mengatakan bahwa perutnya masih kenyang, hanya untuk membuat si anak merasa tenang dalam melahap makanannya.


"Aku berangkat dulu, Ma! Do'akan aku dapat pekerjaan hari ini!" pamit Bryan kepada ibunya yang tengah menyantap hidangan yang disiapkan oleh Zakia.


Perutnya seketika memberontak melihat ikan goreng sambal ijo ditaburi jengkol, terhidang manis di atas meja. Itu adalah makanan kesukaan Bryan. Ibunya juga sering memasak itu untuknya dulu, saat ia masih mempunyai banyak penghasilan.


Bu Siska hanya berdehem cuek pada Bryan, ia Tengah sibuk mengunyah makanan sehingga mulutnya penuh. Bu Siska tidak sempat menjawab ucapan Bryan yang pamit kepadanya, ia terlalu fokus dengan kenikmatan dari masakan menantunya yang saat ini sedang kelaparan.


"Mas pamit, Dek! Do'akan mas berhasil, biar kita bisa membeli makanan! Maafkan, Mas!" ucap Bryan sambil menititikkan air mata.


Ia tahu istrinya itu saat ini pasti sedang kelaparan, tapi sebagai seorang suami ia tidak bisa memberikan makan untuk istrinya. Bryan merasa dirinya adalah suami yang paling jahat di dunia ini, karena tidak bisa memberikan nafkah kepada istrinya dengan layak.


Sama seperti yang dirasakan oleh Bryan, Zakia juga merasa sangat kasihan kepada suaminya itu, di saat Bryan sedang terpuruk dan saat ini pasti pikirannya sedang kalut, Bryan selalu dituntut untuk memberikan uang yang banyak. Zakia ingin sekali membantu Bryan, tapi Zakia tidak ada kuasa untuk itu, setiap hari ia selalu disibukkan dengan kegiatan yang diperintahkan oleh ibu mertuanya.


"Nanti saja dramanya diputar ulang! Aku jadi tidak selera makan melihat drama tidak berguna kalian, itu hanya membuang-buang waktu saja!" Bu Siska kembali melontarkan kritikan pedasnya.


Bahkan untuk bicara pun mereka dilarang, karena mereka tidak punya uang untuk dipersembahkan.


Bryan pamit, ia tidak lagi kuasa menahan rasa pedih dalam hatinya. Saat ini yang terbaik memang ia harus menjauh dulu sejenak dari rumah itu, menenangkan hati yang kalut serta pikiran yang tidak menentu.


"Wow! Makanan kesukaan kak Bryan, Ma?  Tapi kok aku lihat Kak Bryan baru aja keluar rumah! Apa Kak Bryan tidak ikut makan?" tanya Doni yang baru saja pulang sekolah.


Ia langsung duduk di meja makan dan mengambil makanan tanpa mengganti baju atau bersih-bersih dulu. Tapi Bu Siska tidak menegurnya sama sekali.

__ADS_1


"Makan saja mana yang kau suka, Doni! Tidak perlu menyebut nama siapapun. Selera makan mama jadi hilang!" kesal Bu Siska. 


"Eee, Ya udah sih, Ma! Aku kan gak tau kalau ada nama yang dilarang disebut di rumah ini. Anak ganteng kan baru pulang, Ma!" jawab Doni sambil menggoda mamanya.


"Hmm! Terserah kau saja! Sekarang cepat habiskan makananmu, setelah itu istirahat!" titah Bu Siska.


"Baiklah, Nyonya Besar! Hamba siap menghabiskan semua makanan sesuai perintah Nyonya besar!" sahut Doni dengan konyol. 


Tapi bagi Bu Siska, itu adalah candaan berfaedah, ia begitu tampak sangat terhibur dengan celotehan konyol Doni. Seperti layaknya keluarga cemara, kehangatan seketika menyelimuti mereka yang tengah sibuk menyantap hidangan istimewa yang disuguhkan dengan keringat lelah Zakia, Zakia berdiri bak pelayan yang menunggu majikan selesai makan. Air matanya ia tekan ke dalam, tak ingin ada orang yang melihat air mata pilu itu.


"Mbak Kia kenapa berdiri saja? Kok gak ikut makan? Pasti semua hidangan istimewa ini Mbak Kia yang menyiapkan, Bukan?" tanya Doni lagi.


"Ehh, iya Don! Mbak makan nanti saja!" jawab Zakia, ia tahu kalau itu hanya basa-basi belaka. Yang sebenarnya mereka mana peduli dengan dirinya.


"Ohh, begitu, Mbak! Oke deh!" sahut Doni cuek, jawaban itu sudah ditebak oleh Zakia.


Mereka kembali melanjutkan makan, Zakia masih berdiri di belakang ibu mertuanya, ia belum berani beranjak dari sana sebelum disuruh.


Tok


Tok. 


Tok. 


Ketukan dipintu menjeda acara makan itu sejenak.

__ADS_1


__ADS_2