Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 20 Demi Setoran


__ADS_3

"Iya, Dek! Mas pasti akan mendo'akan..." 


Hoeekkkk.


Hoeeekkk. 


Tiba-tiba Zakia merasakan perutnya sangat tidak nyaman yang membuat ia mual-mual.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Bryan dengan nada khawatir.


Tapi Zakia tidak bisa menjawabnya, karena tenggorokannya terasa sudah penuh. Zakia segera berlari ke toilet untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. Bryan datang berjalan dengan tertatih-tatih untuk melihat kondisi Zakia karena ia sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.


"Kia! Kamu gak apa-apa, Dek?" tanya Bryan dari luar.


Huuuekk.. 


Zakia masih saja mengeluarkan isi perutnya di dalam toilet itu, ia juga tidak mengerti mengapa ia bisa mual-mual. Mungkin masuk angin atau karena sering telat makan, itu yang ada di dalam pikiran Zakia.


"Aku gak apa-apa, Mas! Masa gak perlu khawatir!" ucap Zakia saat merasa perutnya sudah lega dan sedikit merasa nyaman.


"Bagaimana kalau kita periksa ke dokter, Dek? Mas takut kamu kenapa-napa!" Bryan sungguh sangat cemas. 


"Jangan, Mas! Aku gak apa-apa, kok! Mungkin hanya kecapean aja. Nanti juga pasti membaik, Mas. Lagian kalau periksa untuk sekarang ini, kita dapat uang dari mana, Ma? Untuk setoran rutin ke Mama aja belum tau hari ini dapat dari mana! Aku harus segera menemukan pekerjaan, Mas!" sahut Zakia.


"Tapi kamu kelihatan sangat pucat, Dek!" Bryan tidak bisa melepas istrinya itu untuk pergi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Mas! Jangan khawatir! Aku gak mau membuat Mama marah dan semakin benci sama kita, Mas! Pokoknya hari ini kita tetap harus setoran sama Mama, Mas!" jawab Zakia.


"Tapi, Dek...!"


"Aku mohon, Mas! Aku gak mau selalu membuat Mama marah! Aku sudah melakukan yang terbaik, tapi tetap saja salah dimata Mama, apalagi kalau hari ini kita gak setoran hanya karena masalah sepele ini, Mas! Mama pasti marah besar nanti." Zakia masih bersikeras.


Zakia sudah tahu betul apa yang akan terjadi nantinya, jika sampai ibu mertuanya tidak mendapatkan uang. Pasti ia akan dihina habis-habisan dan dianggap sebagai pembawa sial.


"Maafkan Mas, Dek! Mas tidak bisa melindungimu saat mama menghinamu sejati-jadinya. Mas juga tidak berdaya untuk membantu mencari uang untuk membayar semua cicilan pengobatan Mas pada Mama. Mas ini adalah suami yang tidak berguna dan hanya bisa merepotkan saja." Bryan sudah tidak bisa menahan semua kesedihan di atas ketidakberdayaannya.


"Tidak, Mas! Jangan berkata seperti itu! Kita ini suami istri dan sudah sepatutnya untuk saling tolong-menolong dan juga saling memberikan semangat antara satu kepada yang lain. Bukan malah merutuki diri sendiri seperti ini, karena itu hanya akan mengingkari takdir yang diberikan oleh sang pemilik alam kepada kita.


Tugas kita di dunia ini hanya berusaha dan berdoa saja kepadaNya, untuk urusan takdir dan juga rezeki, kita tidak bisa mengaturnya, Mas! Hanya sang pemberi rezeki yang bisa menentukan itu. Aku pergi keluar untuk mencari pekerjaan untuk kita juga, Mas! Agar Mama tidak selalu marah-marah, mana tahu dengan seperti itu hati Mama pelan-pelan akan terbuka dan mau menerima Mas dengan baik lagi sebagai anaknya, serta menganggap aku sebagainya menantunya," terang Zakia mengungkapkan semua isi hatinya.


"Baiklah, Dek! Terima kasih karena kau sudah selalu setia menemaniku di saat susah maupun senang. Mas berjanji setelah Mas pulih, Mas akan mencari pekerjaan lebih giat lagi, agar kau tidak perlu lagi mencari pundi-pundi uang dengan susah payah seperti ini, Dek!" janji Bryan dengan sungguh-sungguh.


"Jangan berterima kasih, Mas! Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri, untuk menjaga dan membantu Mas saat Mas sedang kesulitan," balas Zakia.


Bryan sangat terharu, ia tidak bisa mengungkapkan semua rasa bangga dan bahagianya karena sudah di anugerahi istri seperti Zakia.


"Kalau begitu hati-hati di jalan, Dek! Jangan telat pulang kayak kemarin! Mas sangat khawatir" ucap Bryan.


"Iya, Mas! Do'akan aku berhasil membawa uang untuk setoran hari ini. Aku pamit, Mas!" ucap Zakia sambil mencium punggung tangan Bryan.


Bryan merasa sangat kasihan kepada istrinya itu, karena Zakia tetap memaksakan pergi untuk mencari pekerjaan demi mendapatkan uang untuk disetor kepada Mamanya. Bahkan saat Zakia sedang merasa tidak enak badan sekarang, Zakia tetap berusaha untuk kuat.

__ADS_1


*****


"Maaf, Bu! Apa ada yang bisa saya bantu-bantu di sini? Mencuci piring juga boleh, Buk!" tanya Zakia kepada salah satu pemilik warung sarapan pagi.


"Aduh maaf, Mbak! Kebetulan warung lagi sepi, jadi belum ada piring yang kotor. Tadi anak saya bantu cuci piring, Mbak! Maaf, ya!" jawab ibu pemilik warung.


"Ohh gak apa-apa, Buk! Kalau begitu saya permisi, Buk!" ucap Zakia.


Setelah itu Zakia pergi dari warung itu untuk mencari pekerjaan lain yang mungkin bisa ia lakukan. Zakia sudah sampai di pasar dan di sana orang-orang sangat ramai, cuaca pun mulai terik, bahkan rasanya hampir membakar kulit.


Zakia terus berjalan menyusuri pasar untuk melihat-lihat apalah ada lowongan pekerjaan atau ada orang yang sedang membutuhkan bantuannya, seperti mengangkat barang belanjaan. Dari kejauhan Zakia melihat seorang ibu-ibu yang kerepotan membawa barang belanjaannya sambil menggandeng dua orang anak, Zakia segera menuju ke sana.


"Maaf, Ibuk! Apa ibuk butuh bantuan?" tanya Zakia.


"Wahh boleh, Mbak! Kebetulan saya sedang mencari orang yang mau membantu untuk mengangkat barang belanjaan saya ke mobil. Kedua cucu kembar saya sangat rewel ketika diajak berbelanja ke pasar. Kalau Mbak mau, Mbak bisa mengangkat barang belanjaan saya ke mobil yang berwarna merah di sana. Nanti saya kasih upah lebih, karena kebetulan saya sedang membutuhkan bantuan juga," jawab ibu yang menggandeng kedua cucunya itu.


"Berat ya, Mbak?" tanya ibu itu.


Zakia menggeleng walaupun saat ini perutnya sudah mulai merasa tidak nyaman lagi, tapi ia tetap berusaha untuk menahan agar ia bisa mengangkat barang belanjaan ibu itu ke dalam mobilnya.


"Ayo, Mbak! Mobil saya yang warna merah di dekat motor scoopy itu. Mbak tunggu di sana sebentar ya, saya beli minuman dulu!" ucap sang pemilik barang belanjaan yang banyak itu. 


"Baik, Ibuk!" jawab Zakia.


Setelah itu Zakia kembali mengangkat barang belanjaan yang lumayan berat itu, pantas saja ibu itu kerepotan membawanya. Namun baru beberapa langkah Zakia berjalan, ia sudah kembali merasakan perutnya tidak nyaman, tenggorokannya serasa penuh. Penglihatan Zakia juga mulai kabur, pusing di kepala tidak bisa lagi ia tahan. Zakia kehilangan keseimbangan, ia tidak bisa lagi menopang tubuhnya.

__ADS_1


Bruuughhhh.


"Astaghfirullahalazim, Mbak......!"


__ADS_2