
Brakkkk....
Pintu ditutup oleh Bu Siska dengan keras, tanpa memperdulikan Bryan yang sedang bersedih di luar. Hujan semakin turun dengan deras, begitu pula dengan hujan di pipi Bryan, karena ia sudah diusir oleh ibunya sendiri. Sekarang Bryan sudah tidak dianggap sebagai anak lagi di rumah itu, lalu Bagaimanakah Bryan akan pergi sekarang? Mengayunkan langkah kakinya bersama dengan istri yang sedang mengandung buah hatinya itu.
Namun melihat kondisi istrinya yang masih lemah, Bryan menahan segala duka dan juga rasa sedihnya, karena ia tidak mau jika Zakia malah terbebani pikirannya dengan masalah besar yang sedang mereka alami saat ini. Jika sampai Zakia terbebani pikiran yang berat, maka kondisi janin yang bisa melemah lagi dokter juga sudah mengatakan kalau Zakia tidak boleh terlalu capek ataupun tidak boleh stress, karena kondisi janin yang baru berumur 2 minggu di dalam rahimnya itu masih terlalu lemah.
__ADS_1
"Ayo Dek kita pergi!" ajak Bryan sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Tapi, Mas! Ke mana kita akan pergi sekarang? Lalu bagaimana dengan Mama, Mas? Apakah Mas benar-benar ingin pergi bersamaku? Aku tidak mau membuat Mas menjadi durhaka kepada ibu kandung Mas sendiri. Bagaimanapun juga Mama adalah orang yang sudah mengandung dan juga melahirkan Mas ke dunia ini. Mama juga yang sudah membesarkan Mas dengan penuh kasih sayang, sedangkan aku hanya bertemu Mas setelah kita dewasa. Aku tidak mau membuat Mas merasa terpaksa memilih aku daripada ibu kandung Mas sendiri," terang Zakia.
Zakia memang merasa geram kepada ibu mertuanya, karena hinaan dan juga ejekan yang selalu diucapkan oleh Bu Siska kepada dirinya. Akan tetapi sebagai seorang anak, Zakia bisa merasakan betapa besar kasih sayang kepada ibu kandung, Zakia tidak mau kalau suaminya merasa sedih setelah memilih pergi bersama dengannya.
__ADS_1
Mas tidak akan pernah menyia-nyiakan anugerah yang sudah diberikan kepada Mas! Jangan berpikir yang macam-macam, sekarang fokus saja untuk menjaga kandunganmu karena sebentar lagi kita akan punya bayi yang lucu. Ke manapun kita pergi setelah ini, itu tidak masalah sama sekali. Yang penting kita bisa selalu bersama. Mas harap kamu juga tidak menyesali karena sudah memilih Mas menjadi suamimu," sahut Bryan.
Ia masih terasa sangat sedih karena sampai sekarang ia belum bisa memberikan kebahagiaan yang dulu ia impikan kepada Zakia.
"Jangan berkata seperti itu, Mas! Jodoh itu tidak bisa kita tebak ataupun kita tentukan sendiri, aku hanya menjalani takdir yang sudah diberikan kepadaku yaitu Mas menjadi imamku dan aku menjadi makmummu. Apapun yang terjadi aku akan tetap setia kepada Mas! Harta dan juga kekayaan bisa dicari, setelah apa yang terjadi hari ini, semoga untuk kedepannya kita bisa lebih mengambil hikmahnya dan kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi, Mas!" ucap Zakia.
__ADS_1
"Aamiin, semoga saja, Dek! Kondisi Mas juga sudah mulai pulih berkat ketulusanmu selama ini merawat Mas sampai Mas akhirnya bisa berangsur pulih kembali. Terima kasih untuk semua itu, Dek! Karena kondisi Mas sudah mulai membaik, maka Mas akan mencoba mencari pekerjaan lagi besok, jika kita sudah menemukan tempat tinggal yang baru. Sekarang ayo kita berangkat, Dek! Mama juga sepertinya tidak mengizinkan kita untuk berlama-lama lagi di sini, bahkan Mas juga tidak diizinkan untuk mengambil satu barang pun dari rumah," ajak Bryan.
"Iya ayo, Mas! Tapi Ke mana kita akan pergi, Mas?"