
"Sekarang cepat katakan, siapa bapak dari janin yang kau kandung itu, Zakia?" bentak Bu Siska kepada Zakia.
"Apa maksud Mama bertanya seperti itu? Mas Bryan adalah suamiku, Ma! Jadi sudah pasti Mas Bryan adalah ayah dari anak yang aku kandung," jawab Zakia, ia sudah tidak bisa menahan kesabaran lagi.
Calon bayinya yang masih belum berwujud sudah dihina, apalagi nanti setelah anaknya lahir.
"Masa sih, Kia? Kok aku gak percaya ya? Aku yakin kau sudah berbuat serong di belakang Bryan, sampai kau hamil seperti ini. Lebih baik kau jujur saja sekarang!" sela Clara, membuat Zakia semakin gemas.
"Apa yang perlu aku jujurkan Mbak! Aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya dan sudah pasti kalau anak yang aku kandung adalah anak dari Mas Bryan Karena Mas Bryan adalah suamiku Mbak Clara tidak usah selalu memfitnah aku seperti itu, kalau Mbak Clara ingin menjadi menantu kesayangan di dalam keluarga, itu tidak masalah bagiku. Tapi jangan sekali-kali Mbak menghina bayi yang aku kandung ini, karena aku adalah ibunya. Aku tidak akan membiarkan Mbak selalu semena-mena kepada calon bayiku!" sahut Zakia mulai melawan.
Clara bahkan sampai terkejut mendengar Zakia sekarang sudah berani menjawab perkataannya, Clara semakin garam melihat Zakia.
"Lihat sendiri tingkah wanita udik ini, Ma! Dia sangat sombong dan sudah berani melawan sekarang. Pastu itu karena bawaan dari bayinya yang saat ini sedang ia kandung. Masih di dalam kandungan saja, bayi itu sudah mulai membawa kesialan dengan membuat ibunya melawan kepada kita. Apalagi nanti setelah bayi itu lahir, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya." Clara bergidik ngeri, ia sangat geram karena Zakia sudah berani menjawab perkataannya.
"Tidak usah selalu menjelekkan namaku, Mbak! Aku selama ini sudah bersabar menahan semua hinaan dari Mbak, jangan lagi lakukan itu, Mbak! Ma! anak ini adalah cucu Mama! Apa tidak sedikitpun hati Mama tersentuh akan hal itu. Ini anak dari putra Mama, Mas Bryan!" ucap Zakia.
"Jangan mencoba mengelabuiku, Zakia! Bryan sudah dua minggu tidak bisa berbuat apa-apa dan kondisinya juga belum pulih. Mana mungkin itu anak Bryan. Seburuk itukah kau memaksa Bryan untuk meladeni keinginanmu melakukan hubungan suami istri, sehingga kau bisa sampai hamil seperti ini. Aku juga tidak percaya kalau itu anak Bryan, pasti kau sudah berbuat yang macam-macam di luar sana seperti yang dikatakan oleh Clara!" sahut Bu Siska.
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin, Ma? Anak itu anak Bryan, Ma! Dengan sadar Bryan mengingat semua yang terjadi antara kami seminggu yang lalu, Ma! Tolong Mama jangan selalu mendengarkan ucapan Mbak Clara yang selalu mengadu domba itu, Ma!" Bryan memohon kepada ibunya.
Namun itu sama sekali tidak ada artinya, mata hati Bu Siska sudah tertutup, ia hanya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Clara.
"Jangan ikut-ikutan membela istrimu itu, Bryan! Mama tidak mau aib ini sampai diketahui oleh orang lain. Lagipula jika orang-orang tau kalau istrimu hamil saat kau sakit begini, apa kata orang? Pasti nama keluarga kita akan buruk di mata orang-orang. Apa kalian tidak bisa menahan has**t kalian sementara? Dasar tidak tau diri!" maki Bu Siska semakin menjadi-jadi.
"Istighfar, Ma! jangan berkata seperti itu, karena itu sama saja Mama membatasi hubungan antara suami dan istri. Kami adalah anak dan menantu Mama sendiri, kenapa Mama selalu mengutamakan pandangan orang? Kenapa Mama tidak pernah sekali saja untuk melihat betapa kami sangat bahagia, karena sebentar lagi kami akan menjadi orang tua. Apa Mama juga tidak senang karena sebentar lagi Mama akan menjadi seorang nenek?" Bryan mencoba membuat ibunya tersentuh.
"Mama akan bahagia kalau itu adalah anakmu, Bryan! Tapi Mama ragu kalau anak yang dikandung oleh Zakia itu adalah darah dagingmu. Mama tetap tidak mau menerima anak itu sebagai cucu Mama!" jawab Bu Siska.
"Menyingkirkan apa maksudmu, Clara?" tanya Bu Siska, otaknya tidak berfungsi jika tidak diketok oleh Clara dulu.
"Ya ampun, Mama! Masa Mama tidak mengerti dengan cara menyingkirkan bayi yang saat ini sedang viral dilakukan oleh orang-orang, jika mereka tidak menginginkan bayinya. Berhubung saat ini kita berada di rumah sakit maka sebaiknya rencana itu kita lakukan sekarang, agar bayi itu tidak sempat hadir di dunia ini. Kita harus melakukan aborsi, Ma!" Clara berucap lantang.
"Apaaa?? Jangan kurang ajar, Mbak Clara! Cukup sudah selama ini Mbak selalu semena-mena kepadaku, tapi jangan coba-coba melakukan hal yang buruk kepada calon bayiku. Aku akan mempertaruhkan nyawa demi melindunginya, walaupun itu harus melawan ibu mertua dan juga Mbak Clara!" sahut Zakia dengan tegas.
Kilatan amarah tampak jelas di wajah Zakia, begitu juga dengan Bryan. Karena ia dengan kesadaran penuh masih mengingat kejadian minggu lalu, saat ia memadu kasih dengan istrinya. Tapi ucapan Clara dan ibunya selalu menghujam, membuat Bryan dilema.
__ADS_1
"Abservasi apa yang kau katakan, Clara? Jangan membuat Mama bingung!" sela Bu Siska.
"Astaga, Mama! Jadi Mama benar-benar gak tau dengan aborsi. Aborsi, Ma! Bukan Abservasi!" jawab Clara ingin tertawa mendengar kekolotan mertuanya itu.
"Ya! Sama saja kan? Toh tetap ada kata 'si' nya! Lagian Mama juga cuma salah sebut, tidak perlu dipermasalahkan. Sekarang cepat jelaskan apa arti yang kau katakan itu? Jangan buat Mama semakin marah!" ucap Bu Siska.
Clara terlihat kesal. Baru kali ini ibu mertuanya berkata seperti itu padanya, dan itu gara-gara Zakia.
"Aborsi itu cara yang digunakan untuk menggugurkan kandungan, Ma! Itu dilakukan oleh para medis. Berhubung sekarang kita di rumah sakit, jadi sekalian saja, Ma!" terang Clara.
"Tidak, Mbak! Aku tidak akan pernah melakukan hal itu! Ini adalah anakku, aku akan mempertahankan anakku dengan taruhan nyawa!" sahut Zakia.
"Kau tidak akan bisa melarang kami, Zakia! Karena aku tidak mau kalau kau nantinya akan mencoreng nama baik keluargaku. Sekarang juga kita harus singkirkan janin itu!" putus Bu Siska.
"Tidak, Ma! Jangan lakukan itu! Aku mohon, Ma! Itu adalah anakku, Ma!" pinta Bryan.
"Diam kau, Bryan! Dasar tidak berguna! Sudah cacat, banyak tingkah pula. Kau harus setuju untuk melakukan aborsi, atau kau harus menceraikan wanita sialan ini! Jika tidak silahkan pergi dari rumahku dan kehidupan kami selamanya!
__ADS_1