Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 19 Ada Apa Dengan Zakia?


__ADS_3

"Kenapa uangnya banyak banget, Kia? Kalau memang hanya untuk membeli obat luka di apotek, tentunya gak akan butuh uang sebanyak itu!" tanya Bryan kepada Zakia.


"Iya, Mas! Tadi aku juga udah nolak pemberian cucu dari Nenek itu, Mas! Tapi pria itu memaksa agar aku menerima uang itu. Nenek itu juga bersikeras agar aku tidak menolak, aku jadi tidak enak kepada mereka, Mas!" jawab Zakia dengan jujur, ia sebenarnya sangat takut kalau Bryan akan merasa tersinggung.


"Heh, Bryan! Kau gak perlu lebay begitu, karena kita juga butuh uang yang banyak. Untung saja si udik ini dapat uang dari pria itu tadi. Seharusnya kau meminta uang lebih karena kau sudah menyelamatkan nyawa neneknya. Jika kau tidak ada di sana, maka neneknya sudah pasti mati ditabrak mobil, bukan?" Bu Siska sekarang malah mendukung perbuatan Zakia setelah ia mendapatkan uang. 


"Tapi, Ma! Obat di apotek tidak semahal itu dan tidak seharusnya Zakia menerima uang yang lebih dari yang ia butuhkan, mana tahu mereka juga lebih membutuhkan uang sekarang!" sahut Leo.


"Dasar o'on! Kau pikir siapa yang lebih membutuhkan uang sekarang ini hah? Yang membutuhkan uang sekarang ini adalah kita, bukan orang lain ataupun pemuda yang memberikan uang itu. Kalau dia lebih membutuhkan uang, maka dia tidak akan memberikan sebanyak itu kepada Zakia, hanya untuk mengobati luka saja," balas Bu Siska yang diangguki setuju oleh Clara.


Bryan kehabisan kata-kata untuk melawan ibu dan juga kakak iparnya, sebenarnya ia masih ingin protes karena Zakia mendapatkan uang yang banyak dari orang yang ia tolong. Akan tetapi Bryan juga tidak mau memperpanjang masalah, yang nantinya hanya akan membuat ibu dan kakak iparnya menghina Zakia habis-habisan. Di sisi lain, Bryan juga senang karena akhirnya ibunya tidak marahi Zakia karena Zakia pulang terlambat. 


"Maafkan aku, Mas! Aku tidak bermaksud untuk membuat Mas sedih karena aku menerima uang dari nenek dan cucunya itu. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus menolak dengan cara apa lagi untuk kebaikan mereka, Mas!" ucap Zakia merasa tidak enak hati.


Zakia sangat takut kalau Bryan merasa tersinggung, ditambah lagi dengan kondisi Bryan yang belum pulih. Zakia tidak mau membebani Bryan dengan pikiran yang bermacam-macam.


"Heh, Apa-apaan kalian? Kalau kalau ingin bertengkar pergi jauh-jauh sana, saya tidak sudi mendengarkan pertengkaran kalian atau drama kalian itu. Dan kau Zakia, ingat tugasmu dan perjanjian yang sudah kita buat! Kau harus menuruti semua yang saya katakan, kalau kau berani membantah sedikitpun, maka saya tidak akan segan-segan mematahkan tanganmu itu!" ucap Bu Siska memperingatkan.


"Baik, Ma! Aku akan segera melaksanakan tugasku seperti yang Mama inginkan," jawab Zakia dengan patuh. 


Bu Siksa tidak menimpali sedikitpun, ia malah sudah hendak beranjak dari sana.


"Terus Mama mau kemana?" tanya Clara melihat mertuanya sudah bersiap akan pergi. 

__ADS_1


"Mama mau cari makanan di luar lah, kan udah ada buat beli jajan!" jawab Bu Siska santai.


"Yeeyyy, Dapat jajan! Asyik juga ya, Ma! Gak perlu repot sana, repot sini, kitaa udah dapat uang yang banyak." Clara menjilat seperti kucing yang tidak makan seabad, haus akan jilatan yang tidak berguna itu.


"Ya! Baru kali ini wanita udik ini berguna," jawab Bu Siska sambil mencibir ke arah Zakia, Zakia hanya diam tak berani bersuara.


"Kalau gitu sering-sering aja suruh Zakia nolongin orang, Ma! Biar kita dapat imbalan yang banyak nanti!" usul Clara tak punya rasa iba.


"Jangan gitu lah, Mbak! Zakia tadi kebetulan lewat saja di sana, makanya Zakia menolong orang itu. Gak bisa di buat-buat jugalah itu Mbak kalau mau nolong orang," sahut Bryan.


"Bisa saja, kalau kitanya pintar!" balas Clara.


"Udah! Udah! Mama pusing ini. Mama mau cari makanan enak dulu di luar buat ngilangin pusing. Kau mau ikut, Clar?" tanya Bu Siska.


"Ya sudah! Nanti Mama beli. Heh, Zakia! Kenapa malah bengong di sini? Sana kerjakan tugasmu! Nyuci, beres-beres, kalau mau makan ya masak sendiri. Jangan masak bahan yang mahal, kalian kan gak punya uang untuk mengganti!" ucap Bu Siska.


Zakia mengangguk patuh, setelah itu ia langsung pergi ke dapur untuk mengerjakan tugasnya. Sementara Bu Siska sudah pergi membeli makanan dengan uang yang didapat oleh Zakia dari nenek dan cucunya itu. Mereka bahkan tidak ditawari sama sekali dan hanya disuruh masak kalau mau makan.


*****


2 Minggu kemudian... 


Dua minggu sudah berlalu sejak Bryan pulang dari rumah sakit. Namun kondisinya masih belum pulih juga, karena retak tulang di kakinya yang seharusnya butuh perawatan maksimal, hanya dirawat oleh Zakia dengan obat alami yang ia pelajari cara membuatnya dari ibunya.

__ADS_1


Tapi Bryan sudah lumayan bisa berjalan tertatih sambil memakai tongkat, tidak perlu pakai kursi roda lagi.


"Mas! Aku pamit cari kerja untuk hari ini dulu, Mas! Tempat kerjaku yang kemarin hari ini gak buka, Mas! Nanti setoran untuk Mama gak ada kalau aku gak cari kerja!" ucap Zakia yang sudah rapi.


Ya! ucapan Bu Siska yang mengatakan kalau Zakia harus membayar semua uang yang ia keluarkan untuk pengobatan Bryan itu adalah benar. Setiap hari, Zakia harus menyetor uang kepada Bu Siska untuk menyicil uang yang sudah dipakai untuk pengobatan Bryan dulu. 


Setiap hari, Zakia akan pergi ke pasar atau ke warung yang menerima karyawan atau hanya sekedar mencuci piring untuk mendapatkan upah. Awalnya Bu Siska tidak menyetujui kalau Zakia akan bekerja seperti itu, tapi dalam situasi seperti ini dan pekerjaannya juga parih waktu, Zakia hanya bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu setiap harinya. 


Karena terpaksa dan demi mendapat setoran setiap hari, akhirnya Bu Siska mengizinkan Zakia untuk bekerja apapun yang Zakia dapat, asalkan Zakia berhati-hati, jangan sampai ada teman atau kenalan Bu Siska yang melihat dirinya, karena nanti harga diri Bu Siska bisa tercemar.


"Tapi kamu mau cari kerja apa hari ini, Dek? Ini hari Minggu! Pasti banyak warung yang tutup!" tanya Bryan.


"Apa saja, Mas! Bekerja di pasar membantu orang mengangkat barang belanjaan pun gak papa, asal hari ini ada setoran untuk Mama, Mas. Do'akan hari ini aku dapat uang ya, Mas!" ucap Zakia lagi.


"Iya, Dek.. Mas pasti... "


Ueekkk.. 


Ueeekk... 


"Kamu Kenapa, Dek??"


Zakia segera berlari ke toilet.

__ADS_1


__ADS_2