Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 11 Kenapa Takdirku Seperti Ini?


__ADS_3

"Ehh, Tunggu, Nak Zakia! Kenapa Nak Zakia makan di dapur. Gak apa-apa makan di sini saja! Tante dan mama mertuamu hanya membahas tentang arisan nanti sore saja, Kok! Gak perlu segan begitu! Iya kan, Jeng!" Bu Romlah lagi-lagi membuat Bu Siska tidak bisa berkutik.


"Benar, Jeng! Maklum saja, Jeng! Menantuku itu kan berasal dari kampung, jadi ia sedikit pemalu kalau ada orang asing yang bertamu ke rumah. Itu sebabnya Zakia juga lebih sering makan di dapur atau di kamar kalau ada tamu yang datang!" jawab Bu Siska.


Ia merasa sudah sangat gondok karena terus berpura-pura baik seperti itu kepada menantunya, padahal aslinya saat ini ia merasa sangat kesal kepada Bu Romlah maupun kepada menantunya yang terpaksa ia sanjung itu.


"Gak apa-apa kok, Nak Zakia! Tante ini kan teman baik dari mama mertuamu, jadi tidak perlu segan atau merasa sungkan kepada tante. Makan di sini saja, Nak Zakia! Karena di dapur belum tentu terjamin kebersihannya," sahut Bu Romlah lagi.


Zakia jadi serba salah, ia tidak tahu harus menuruti perkataan yang mana. di satu sisi, ia tidak berani makan di meja makan itu, karena pasti nanti ibu mertuanya akan memarahinya setelah Bu Romlah pulang. Akan tetapi ia juga tidak mau membuat nama baik mertuanya jadi buruk di hadapan Bu Romlah, jika ia tetap makan di dapur.


"Ya sudah! Kau makan di sini aja, Kia! Sekalian belajar untuk berhadapan dengan orang asing, jangan hanya bisanya mengumpet kalau ada tamu yang datang!" jawab Bu Siska akhirnya walaupun dengan sangat terpaksa.


"Seperti Clara kan, Jeng! Dia selalu ada di manapun Jeng Siska berada, Tapi aku tidak pernah melihat kalau Jeng Siska membawa Zakia ikut arisan atau ke pesta teman-teman kita. Kenapa seperti itu, Jeng?" tanya Bu Romlah. 


Bu Siska rasanya ingin mencakar wajah Bu Romlah, karena terlalu banyak bertanya dan ikut campur urusan keluarganya. Padahal ia datang ke rumah itu hanya untuk membahas arisan mereka nanti sore, yang akan diadakan di rumah Bu Siska.


Ketua dari arisan mereka adalah Bu Romlah, itu sebabnya dia datang bertamu untuk memastikan bahwa Bu Siska sudah mempersiapkan untuk acara arisan nanti sore. Tapi sekarang pembicaraan Bu Romlah malah merambat ke mana-mana dan sekarang malah ikut campur dengan urusannya dengan para menantunya. Tapi demi reputasinya tetap baik di hadapan orang-orang, Bu Siska harus tetap berakting bahwa dia adalah mertua yang baik. 

__ADS_1


"Aku sebenarnya sudah mengajak Zakia, Jeng! Tapi dianya saja yang mageran, selalu banyak alasan saat diajak. Entah kepalanya yang pusing lah atau dia ada acara dengan teman-temannya lah. Makanya aku lebih sering mengajak Clara kalau ada arisan!" kilah Bu Siska mencari jawaban yang cocok.


"Ohh begitu, Jeng! Ya Ya ya! Aku paham sekarang! Jeng Siska ini memang mertua idaman, Ya!" sahut Bu Siska.


Setelah itu Bu Siska dan Bu Romlah melanjutkan pembicaraan mereka tentang arisan yang akan diadakan nanti sore. Walaupun sebenarnya Bu Siska masih kesal dan sudah kehilangan mood untuk membahas tentang arisan itu, tapi ia tetap berusaha untuk fokus dengan pembicaraan.


Sedangkan Zakia yang sudah kelaparan, akhirnya memutuskan untuk makan meski ia masih was-was akan dimarahi ibu mertuanya setelah ini. Karena dari tadi, Bu Siska selalu melirik kepadanya dengan sudut mata, Zakia tidak berani makan makanan yang lezat, ia hanya mengambil nasi yang disirami dengan kuah sayur. Karena bagi Zakia, ia mendapat sesuap nasi saja saat ini sudah lebih dari cukup.


*****


Sudah beberapa kantor Bryan datangi sambil menanyakan lowongan pekerjaan, tapi Bryan belum juga berhasil menemukan pekerjaan yang cocok maupun kantor yang membuka lowongan pekerjaan. Semua kantor yang ia datangi rata-rata sedang tidak menerima karyawan baru. Kalaupun ada yang membuka lowongan pekerjaan, itu tidak cocok dengan keahlian Bryan.


Bryan kembali berusaha untuk mencari pekerjaan ke tempat lain, terik matahari di sore itu mengiringi langkah Bryan yang sudah seperti orang yang kehilangan arah tujuan. Bryan tidak tau harus kemana dan harus mengadu pada siapa. Keluarga yang ia harapkan bisa memberikan semangat untuknya, malah menjadi orang yang paling membuat Bryan terpuruk.


"Maaf, Pak! Tapi saat ini perusahaan kami sedang tidak menerima karyawan baru! Mungkin lain waktu bapak bisa datang lagi!" 


"Maaf! Saat ini perusahaan tidak membuka lowongan pekerjaan untuk penambahan karyawan baru!"

__ADS_1


"Maaf, Bapak Bryan! Tapi ijazah dan pengalaman anda tidak sesuai dengan kriteria yang kami cari! Silahkan datang lagi jika nanti kami membutuhkan kriteria seperti keahlian anda!"


Penolakan demi penolakan diterima oleh Bryan membuat ia sangat prustasi. Bryan sudah lelah, ia ingin mengistirahatkan otak dan juga tubuhnya. Tapi Bryan tidak tahu ia harus pulang ke mana? Karena rumah yang ia sebut sebagai rumahnya, bahkan penghuninya tidak menginginkan Bryan ada di sana.


Bryan tidak punya rumah, Bryan tidak punya tempat untuk pulang. Langkah kakinya terus di ayun oleh Bryan di jalan yang terasa sangat panas itu. Air mata Bryan mengucur dengan deras, ia merutuki betapa malangnya nasib yang ditakdirkan kepadanya. Jangankan untuk mengadu, Bryan bahkan tidak punya tempat persinggahan sekarang. Padahal ia masih punya ibu kandung, saudara kandung dan juga keluarga besar lainnya.


Tapi Bryan seperti anak yatim piatu yang terbuang, berjalan tak tentu arah sambil membawa map berisi CV untuk melamar pekerjaan. Jika tidak, maka Bryan tidak akan boleh pulang sampai kapanpun. Itu syarat wajib yang diberikan oleh ibunya.


"Aagrrrhhhh! Kenapa hidup ini tidak adil? Kenapa aku dilahirkan hanya untuk mendapatkan penderitaan? Kenapa? Kenapa aku tidak mati saja saat dilahirkan? Kenapa tidak ada yang peduli padaku? KENAPA TUHAAAN?" teriak Bryan seperti orang stress.


Ia tidak peduli saat ini berada dimana, Bryan sudah lelah menghadapi hidupnya yang selalu diuji, padahal selama ini Bryan selalu berusaha membuat semua keluarganya bahagia. Semua yang diinginkan oleh mereka pasti akan Bryan penuhi.


Semua gajinya ia serahkan pada ibunya, Bryan tidak pernah protes sama sekali saat ibunya mengatakan kalau uang itu semua akan disimpan oleh ibunya. Bagi Bryan melihat senyum bahagia diwajah ibunya saja sudah cukup. Tapi tidak dengan ibunya.


Bryan terus berteriak di jalanan, semua orang yang lewat menatap iba. Hingga akhirnya sesuatu terjadi menghentikan teriakan Bryan.


Brakkkk... 

__ADS_1


__ADS_2