
"Ayo ceritakan, Dek! Apa yang terjadi tadi di jalan, sehingga kau luka-luka begini?" ulang Bryan bertanya karena Zakia masih diam.
Akhirnya Zakia memutuskan untuk bercerita, ia juga tidak mau membuat Bryan semakin cemas.
"Tadi di jalan pulang, aku melihat seorang nenek-nenek sedang menyeberang jalan, Mas! Ma! Lalu dari arah belakang tiba-tiba mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, sehingga nenek itu nyaris tertabrak. Karena melihat nenek itu nyaris tertabrak, aku spontan berlari untuk menyelamatkan nenek itu. Itu sebabnya tangan dan kakiku lecet kayak gini karena aku dan nenek itu terjatuh ke aspal, Mas!" terang Zakia.
"Hmm, benarkah? Kok aku masih ragu dengan penjelasan Zakia, Ma!" Clara kembali menjadi tungku pemanas, ia tidak senang jika Zakia mendapat kepercayaan dari ibu mertuanya.
"Benar, Mbak! Memang seperti itu kejadian yang sebenarnya, untuk apa aku berbohong, Mbak? Tidak akan ada gunanya juga, karena berbohong itu hanya akan merugikan diri sendiri saja," terang Zakia, ia sudah berkata jujur, tapi Clara masih berusaha menghasut Bu Siska.
"Lalu dari mana lo dapat uang untuk bayar angkot?" tanya Clara lagi dengan senyum licik, ia merasa kali ini akan membuat Zakia kalah telak.
"Clara benar! Dari mana kau dapat uang untuk bayar angkot? Apa kau selama ini menyembunyikan uang dariku?" tanya Bu Siska ikut meragukan ucapan Zakia.
Clara tersenyum senang melihat ibu mertuanya kini sudah mulai meragukan Zakia lagi, ia tinggal menambah bumbu pedas saja, nanti emosi Bu Siska akan meledak-ledaj setelah itu.
__ADS_1
"Katakan saja semuanya dengan jujur, Kia! Mas percaya kalau kau tidak akan melakukan sesuatu perbuatan yang akan mengecewakan Mas! Mas sangat percaya kepadamu!" Bryan meyakinkan Zakia, itu memberi Zakia kekuatan untuk mengatakan semuanya.
"Tadi setelah aku sudah berhasil menyelamatkan nenek itu, walaupun kami berdua jatuh di jalan, tapi setidaknya nenek itu tidak tertabrak oleh mobil yang sedang melaju kencang itu. Setelah melihat nenek itu terjatuh, seorang pria datang menghampiri si nenek dan ternyata dia adalah cucu nenek itu. Pria itu berterima kasih kepadaku karena sudah menyelamatkan nyawa neneknya dan dia juga memberiku sedikit uang untuk membeli obat luka di apotek, tapi karena ingin cepat pulang ke rumah, aku memakai uang itu untuk naik angkot saja, Ma! Mas!" jelas Zakia.
"Ohhh, Jadi lo dapat uang dari pria itu? Mana uangnya?" tagih Clara sudah seperti rentenir, padahal dia tidak berhak sama sekali.
"Uangnya....!!"
"Cepat kasih sama Mama! Lo gak pantes megang uang!" bentak Clara.
"Mbak juga gak pantes bentak-bentak Zakia! Zakia mendapatkan uang itu untuk mengobati lukanya, apa Mbak gak dengar penjelasan Zakia?" Bryan berusaha membela istrinya dari Clara.
"Kau polos banget sih, Bryan! Semudah itu aja percaya kalau istrimu ini mendapatkan uang secara cuma-cuma, hanya karena mendengarkan bualannya yang mengatakan kalau ia sudah membantu seorang nenek-nenek. Tapi siapa yang tahu kebenarannya dan buktinya juga gak ada." Clara masih berusaha menyiram api dengan bensin agar suasana semakin panas.
"Aku tidak perlu bukti apapun untuk mempercayai istriku sendiri, Mbak! Aku sangat mempercayai Zakia dan aku yakin Zakia tidak akan pernah melakukan perbuatan serong di belakang. Mbak tidak perlu selalu menghasut kami, karena aku lebih percaya kepada istriku daripada hasutan Mbak itu!" jawab Bryan.
__ADS_1
"Huh, lihat saja dalam beberapa hari kedepan, pasti istrimu itu akan melakukan sesuatu yang sangat memalukan dan juga membuatmu kecewa Bryan. Apalagi sekarang kondisimu yang setengah lumpuh seperti ini, pasti istrimu ini akan berubah sikap kepadamu. Jadi lebih baik kau berhati-hati mulai dari sekarang! Jangan biarkan dia memegang uang sepeserpun, karena nanti dia akan berbuat semena-mena," balas Clara lagi.
"Mbakmu benar, Bryan! Mama juga meragukan wanita udik ini. Bagaimana bisa hanya menolong seseorang yang hampir tertabrak, bisa mendapatkan uang. Jelas itu sesuatu yang mustahil, kecuali Zakia meminta uang kepada orang itu sebagai imbalan kebaikannya!" Bu Siska sudah termakan hasutan Clara.
"Gak, Ma! Aku nggak meminta imbalan apapun kepada mereka. aku juga sudah menolak pemberian dari pria itu, tapi dia mengatakan bahwa itu adalah sebagai tanda terima kasihnya karena dia sangat menyayangi neneknya dan nyawa neneknya tidak bisa disamaratakan dengan uang. Pria itu meminta agar aku menerima uang itu untuk memberi obat luka di apotek, Ma!" terang Zakia, ia sudah menduga sebelumnya akan terjadi hal seperti ini.
"Kalau begitu ayo serahkan uang itu pada Mama! Kau juga masih banyak hutang untuk pengobatan Bryan. Ingat itu!" kecam Clara selalu ikut campur.
Zakia masih diam, ia sangat membutuhkan uang sekarang, tapi ia juga tidak ada saya untuk melawan.
"Ahh, lelet amat sih, lo! Sini mana uangnya?" bentak Clara sambil memeriksa kantong baju yang dipakai Zakia.
Clara akhirnya menemukan beberapa lembaran uang merah di sana. Matanya membulat seketika melihat lirikan dari mata mantan presiden pertama itu begitu indah dan menggoda dikertas merah itu.
"Woow, banyak banget uangnya, Ma! Pastas aja wanita udik ini diam saja, rupanya dia mendapatkan cuan yang banyak, Ma!" sorak Clara dengan girang.
__ADS_1
Mata Bu Siska juga ikut membola, mengenai uang maka dia adalah ahlinya.
"Kia? Kenapa uangnya bisa sebanyak itu?" Bryan meminta penjelasan lebih lanjut.