
"Wah, Bapak tidak menyangka kalau ternyata Nak Bryan ini adalah sahabat lamanya Nak Bobi. Untung saja Bapak tadi melihat kalian ada di teras rumah, jadi kalian bisa bertemu lagi sekarang setelah sekian lama," ucap sang Bapak lagi.
"Itulah yang namanya takdir, Pak! Kita tidak bisa menembak kapan kita akan bertemu dengan seseorang ataupun kita berpisah dengan seseorang. Seperti yang dialami oleh Nak Bryan dan juga Bobi yang dulunya sempat terpisah saat mereka masih SMA. Dan sekarang mereka malah bertemu di rumah kita, Pak," sahut ibu mertua Bobi.
"Iya, Pak! Saya sendiri juga merasa sangat kehilangan ketika Bobi pindah ke luar kota bersama dengan semua keluarganya, mulai saat itu kami tidak pernah lagi bertemu dan akhirnya dipertemukan sekarang," ucap Bryan tidak kalah senang.
__ADS_1
"Itu adalah buah dari kebaikan yang kau lakukan dengan dulu kepada Bobi, Nak! Sekarang di saat kalian sedang membutuhkan bantuan, kita malah di pertemukan seperti sekarang ini," sahut sang Bapak.
"Tapi bagaimana bisa kalian ada di teras rumah dan sampai kehujanan seperti ini, Bry?" tanya Bobi.
Sebenarnya ia sudah mempunyai firasat kalau sahabatnya itu sedang mengalami masalah, akan tetapi ia tidak mau menebak-nebak dan lebih baik ia bertanya langsung kepada Bryan, agar lebih jelas.
__ADS_1
Bryan kemudian menceritakan semua kejadian yang tadi sore yang dialaminya bersama istrinya di rumah ibu kandungnya. Air mata Bryan tidak berhenti mengucur dengan deras saat ia menceritakan semua kisahnya. Bryan mengeluarkan segala isi hati dan juga kesedihannya kepada keluarga itu. Bryan merasakan kehangatan di dalam keluarga yang baru saja membantu mereka.
"Astaghfirullahalazim...!! Aku tidak menyangka jika Tante Siska sampai setega itu sama lo, Bry! Gue turut sedih, kalau gue ada di posisi lo pasti gue juga akan merasa sangat terpuruk seperti yang lo rasakan sekarang ini. Tapi sebagai seorang sahabat gue akan berdiri paling depan untuk mendukung lo setiap saat, seperti yang telah lo lakukan dulu saat gue membutuhkan bantuan," terang Bobi.
"Yang dikatakan Nak Bobi itu benar, Nak Bryan! Sekarang kebaikan yang dulu kau tanamkan sudah bisa memetik hasilnya," sahut Bapak yang ternyata namanya adalah Ibrahim.
__ADS_1
Lalu mereka pun melanjutkan obrolan sebelum makan malam. Zakia dan juga istrinya Bobi juga sudah berkenalan, begitu juga dengan mertua Bobi, mereka menyambut Zakia dan Bryan dengan segala keramah-tamahan dan juga kehangatan layaknya keluarga. Hati Bryan menghangat, kehangatan keluarga seperti inilah yang selalu ia rindukan di rumahnya, tapi sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi lagi karena ibunya sudah banyak berubah dikarenakan pengaruh dari Kakak iparnya, yang selalu memberikan api adu domba antara Bryan dan juga ibunya.
Begitu juga dengan perasaan Zakia, dia merasa sangat senang karena akhirnya ada juga orang yang menghargai dirinya. Ia juga merasa bahagia karena melihat wajah bahagia suaminya saat bertemu dengan sahabat lama, setidaknya sekarang Bryan bisa melupakan sejenak kejadian buruk yang mereka alami tadi sore.