
“Selamat sore, Mbak! Saya mau menanyakan di mana keberadaan pasien tabrak lari atas nama Bryan Aditama! Saya istrinya! Suami saya ada di ruangan mana, Mbak!” tanya Zakia masih dengan ekspresi panik.
“Baik, Bu! Tunggu sebentar! Saya cek dulu!” jawab perawat itu sembari ia mengecek list pasien yang ada di rumah sakit.
Zakia mengangguk, meski ia sudah tidak sabar ingin melihat kondisi Bryan. Tidak berapa lama, perawat itu pun langsung memandang ke arah Zakia.
“Pasien atas nama Bryam Aditama ada di ruang IGD, Bu? Dari sini lurus saja, nanti mentok, belok kiri dan IGD nanti ada di kanan jalan, Bu!” terang sang perawat.
“Baik, terima kasih informasinya, Mbak!” ucap Zakia sembari berlari ke arah yang sudah di intruksikan oleh sang perawat. Sedangkan Bu Siska dan Clara masih berjalan santai sambil mengekor di belakang Zakia.
“Ma! Nnti kalau tagihan rumah sakit banyak bagaimana? Pasti biaya perawatan di IGD mahal!” Clara bertanya dengan nada tak suka.
Ia tidak sudi jika mertuanya mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan Bryan, itu namanya membuang-buang uang. Lebih baik dipakai untuk shoping. Clara mencari cara agar mertuanya tidak mau membayar biaya pengobatan Bryan.
“Biarin aja wanita kampung itu yang berpikir! Mama pusing kalau udah membahas uang keluar! Mana arisan hari ini gagal, kalau tidak pasti mama yang menang! Mama sudah bisa pastikan itu, tapi sekarang gagal gara-gara anak sialan itu kecelakaan! Biarkan saja si kucel yang memikirkannya!" jawab Bu Siska dengan wajah kesal.
“Gimana mau bayar sih, Ma? Kan dia gak kerja. Dapat uang dari mana dia, Ma? Mana Bryan juga baru saja dipecat kan. Memang benar-benar jadi benalu!” gumam Clara mulai menjadi kompor bocor.
"Kita lihat saja nanti! Yang pasti Mama gak akan mau rugi!" jawab Bu Siska membuat Clara merasa menang karena ia sudah berhasil memperngaruhi mertuanya.
"Lebih baik uangnya dipakai untuk hal lain, Ma! Masalah obat kan bisa obat rumahan. Lagian Zakia juga gak ada kerja, suruh saja dia yang merawat Bryan!" Clara semakin memperdaya Bu Siska.
"Itu pasti, Clar! Siapa lagi yang akan merawat Bryan kalau bukan wanita kampung itu, Mama mah ogah!" balas Bu Siska.
__ADS_1
Clara semakin melebarkan senyuman kemenangannya. Mertuanya sudah sepenuhnya berada dalam kendalinya.
*****
Zakia sudah sampai di depan ruang IGD, dan ia pun langsung membuka pintu IGD. Zakia sangat terkejut ketika melihat sang suami tengak tergolek tak berdaya di atas brankar.
Zakia langsung berlari ke arah sang suami yang tengah berbaring tak sadarkan diri. Ia terus menangis ketika melihat selang infus yang sudah terpasang di tangan suaminya.
“ Mas! Kwnapa kamu bisa seperti ini, Mas! Ayo bangun, Mas! Ini aku Zakia!” Zakia menangis memeluk suaminya yang masih belum sadar.
Sedangkan Bu Siska dan Clara muncul dari balik pintu dan dengan santainya mereka duduk di sofa yang sudah disediakan, tanpa ada niat untuk melihat kondisi Bryan.
“Udahlah, Kia! Gak usah lebay gitu kenapa sih? Namanya juga sedang tidak sadarkan diri! Malah di suruh bangun! Nanti juga sadar kalau obatnya sudah bereaksi,” ucap Clara kesal sembari memainkan jemari melihat kuku indahnya yang baru saja dicat.
Dari balik pintu, muncul seorang pria, dialah yang membawa Bryan ke rumah sakit. Pria itu terlihat lega karena keluarga pasien sudah datang.
“ Maaf! Apa kalian kerabat korban?” tanya Pria itu.
“ Iya, Benar! Saya ibunya!" jawab Bu Siska cuek.
“ Baiklah, Ibuk! Saya adalah orang yang membawa korban ke rumah sakit. Dan karena keluarga korban sudah ada di sini, jadi tugas saya sudah selesai. Sekarang saya bisa pamit!”terang pria itu.
“Oh, Oke!” sahut Bu Siska dengan cuek.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak menoleh para pria yang sudah menolong Bryan, pria itu terkejut dengan sikap sombong ibu dari korban yang sudah ia tolong, padahal ia sampai merelakan proyeknya terancam gagal karena gagal meeting dengan klien. Semua itu karena ia menemani Bryan ke rumah sakit, tapi ternyata ia tidak dihargai sama sekali oleh keluarga korban.
Zakia segera menghampiri pria itu dan mengucakan terima kasih. Namun pria itu langsung beranjak dari tempatnya tanpa ucapan apa-apa lagi. Zakia merasa tidak enak dengan pria baik yang sudah menolongnya itu, tapi ia juga tidak bisa mengejarnya, mertuanya nanti bisa marah besar. Zakia tidak mau membuat mertuanya murka sekarang.
Tak lama kemudian Dokter pun datang dan mengatakan tentang keadaan Bryan yang mengalami patah tulang di kakinya. Dan Bryan harus mendapatkan perawatan insentif di rumah sakit.
“Baik, Buk! Sekarang lebih baik mengurus bagian administrasinya terlebih dulu, agar pasien segera ditangani. Tadi ada yang sudah membantu mendaftarkan nama pasien, tapi untuk biaya dan lain-lain, belum di urus!” ucap sang dokter, setelah itu ia membalikan badan dan meninggalkkan ruang perawatan Bryan.
Yang ditakutkan oleh Bu Siska telah tiba, yaitu tentang biaya rumah sakit. Siapa yang akan membayar biaya itu sekarang?
“ Mama! Apa bisa minta tolong untuk membayar rumah sakit Mas Bryan, Ma! Aku tidak ada memegang uang, Ma!” ucap Zakia dengan nada memohon, sembari berjalan mendekati Bu Siska.
“Enak saja! Kau pikir uangku hanya untuk hal tidak berguna seperti itu? Lagian siapa suruh dia kecelakaan? Pasti tadi anak itu berjalan malas-malasan sampai ditabrak!” Bu Siska malah memaki Bryan yang tidak sadarkan diri itu, bicaranya sangat sinis.
“Zakia mohon, Ma! Demi anak mama! Demi Mas Bryan, Ma! Tolong pinjamkan untuk pembayaran perawatannya, Ma!” Zakia kembali memohon, ia pun sampai berlutut di hadapan sang mertua.
"Gak usah drama deh lo, Kia! Lo pikir mama iti gudang duit? Mama juga butuh keperluan lain. Seharusnya lo berusaha dulu! Jangan hanya mengandalkan mama!" sela Clara.
Tapi Zakia tidak peduli, ia masih berlutut mengharapkan Ibu mertuanya punya sedikit rasa belas kasihan dan bersedia membayar perawatan Bryan. Zakia tidak mau kalau Bryan sampai kenapa-napa. Hanya Bryan yang selalu ada untuknya, Bryan adalah kehidupannya.
"Ma! Aku mohon, Ma! Tolong pinjamkan uang untuk pengobatan Mas Bryan, setelah Mas Bryan pulih, aku akan ikut membantu mencari uang untuk mengganti uang Mama yang terpakai. Aku mohon, Ma!" ucap Zakia sambil menangis.
Bu Siska masih diam, ia masih berpikir apakah akan memberikan bantuan atau tidak. Ia tidak mau rugi begitu saja, harus ada imbalan besar jika sampai ia menolong. Jika tidak, maka tidak ada pertolongan.
__ADS_1