Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 38 Pertolongan Tidak Terduga


__ADS_3

"Alhamdulillah ya, Mas! Di saat kita membutuhkan bantuan seperti ini, Allah langsung memberikan anugerahnya kepada kita melalui Bapak dan Ibu baik hati itu," ucap Zakia setelah berada di dalam kamar tamu yang cukup luas itu.


"Iya, Dek! Alhamdulillah! Mas juga merasa sangat bahagia hari ini karena kita dipertemukan dengan orang baik seperti mereka, wajah dan teduh serta ramah dari Bapak dan Ibu itu membuat aura wajah mereka bersinar. semoga untuk kedepannya rezeki mereka selalu dilancarkan!" sahut Bryan.


"Aamiin Ya Rabbal 'Alamin! Kalau begitu ayo Mas bersih-bersih dulu, sebentar lagi pasti Ibu itu akan datang," ucap Zakia.


Bryan mengangguk, setelah itu Bryan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu. Kakinya juga masih sangat ngilu karena tadi terlalu lama berjalan di derasnya air hujan, namun Bryan berusaha kuat menahan semua rasa sakit itu agar Zakia tidak merasa khawatir.


Tok.


Tok.


Tok.

__ADS_1


Pintu diketuk dari luar, Zakia segera bergegas membuka pintu. Tapi yang ia temui bukanlah Ibu yang tadi, melainkan wanita cantik seumuran dirinya. Zakia yakin itu adalah putri dari Bapak dan Ibu tadi. Senyumannya juga tidak kalah ramah dari orang tuanya.


"Selamat malam, Mbak. Mbak ini pasti Mbak Kinara, putri dari Bapak dan Ibu, kan?" tanya Zakia berbasa basi.


"Benar, Mbak! Tadi ibu mengatakan bahwa di rumah sedang ada tamu, Ibu juga memintaku untuk membawa beberapa pakaian ganti untuk Mbak dan juga suaminya. Ini Mbak, silahkan dipakai. Maaf, aku yang mengantarkan ke sini, karena Ibu sedang menyiapkan makan malam," jawab wanita cantik yang bernama Kinara itu.


"Tidak masalah sama sekali, Mbak Kinara! Justru saya sangat berterima kasih karena Mbak Kinara sudah repot-repot mengantarkan pakaian ini dan Mbak Kinara juga sudah berbaik hati meminjamkan baju Mbak kepada kami. Terima kasih, Mbak!" sahut Zakia, sambil menerima pakaian yang dibawa oleh Kinara.


"Sama-sama, Mbak! Kalau begitu sekarang Mbak segeralah berganti pakaian, kami tunggu Mbak dan suami di ruang makan!" ucap Kinara lagi.


Setelah itu Kinara pamit dari sana, Zakia juga segera bergegas ke dalam lagi untuk berganti pakaian, karena ia tidak mau membuat keluarga baik hati itu menunggu mereka terlalu lama.


*****

__ADS_1


"Silahkan duduk, Nak! Kita makan malam dulu!" ajak Ibunya Kinara saat Zakia sudah berada di meja makan.


"Suamimu belum selesai ganti pakaian?" tanya Bapak yang juga sudah berganti pakaian dengan pakaian santai.


"Sudah, Pak! Maaf agak lama!" Bryan datang dengan tertatih.


Tadi selesai berganti pakaian, Bryan juga ingin segera bergegas menuju ke ruangan di mana keluarga itu sudah menunggu dirinya dan juga Zakia. Tapi tiba-tiba nyeri di kakinya semakin bertambah, membuat Bryan susah untuk berdiri apalagi untuk berjalan. itu sebabnya ia menyuruh Zakia terlebih dahulu keluar menemui keluarga baik hati itu, sementara Bryan mengatakan bahwa ia harus pergi ke toilet lagi, agar Zakia tidak melihat dia kesakitan.


Bryan berusaha keras menyembunyikan rasa sakitnya dari siapapun, karena ia tidak mau membuat orang semakin direpotkan. Bryan masih mengingat dengan jelas kata-kata ibunya yang mengatakan bahwa dirinya adalah manusia cacat dan tidak berguna serta bisanya hanya merepotkan saja.


"Tidak masalah, Nak! Sekarang ayo duduk! Nak Bobi juga sudah menunggu sejak tadi," ucap Bapak itu.


Bobi? Bryan merasa tidak asing dengan nama itu. Tapi Bryan tidak mau menebak-nebak, belum tentu yang ia pikirkan itu adalah Bobi yang sama.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, menantu keluarga itu juga datang dari arah ruang tamu. Matanya membulat ke arah Bryan.


"Loh, Bryan! Kamu Bryan, kan?"


__ADS_2