Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 45 Hari Pertama


__ADS_3

Sang mentari sudah kembali menampakkan sinarnya, secercah harapan juga sudah menanti di ujung sana. Bryan dan Zakia juga sudah bangun lebih awal, kedua pasangan suami istri itu sudah tidak sabar untuk menjalani hari pertama mereka hidup mandiri. Jauh dari keluarga, jauh dari kata hinaan, mereka berharap kehidupan kedepannya akan lebih baik lagi.


Zakia dan Bryan sudah selesai bersih-bersih, tapi mereka masih sungkan untuk keluar kamar karena takut mengganggu tuan rumah yang masih tidur. Bryan juga masih memakai baju kaos yang diberikan oleh Bobi semalam, karena Bryan tidak punya baju formal untuk dipakai ke kantor hari ini, ini juga adalah hari pertama kerja bagi Bryan.


Tok.


Tok.


Tok.


Zakia segera bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu dari luar, senyuman manis dari Kinara terlukis membuat pagi Zakia terasa damai. Bukan pagi yang menegangkan seperti biasanya saat ia masih di rumah Bu Siska.


"Selamat pagi, Mbak Kinara!" sapa Zakia dengan ramah dan tersenyum manis.


"Pagi, Mbak Kia! Gimana tidurnya tadi malam, Mbak? Apakah nyenyak?" tanya Kinara lagi.


Zakia mengangguk dengan cepat, ia memang merasa sangat nyaman di rumah yang penuh kehangatan dan keramahtamahan itu.


"Sangat nyenyak, Mbak Kinar! Maaf aku belum keluar kamar, aku pikir yang lain masih tidur, Mbak. Gak enak kalau membuat keributan," ucap Zakia merasa malu karena ternyata Kinara sudah bangun dan sudah rapi, itu bearti Kinara sudah bangun sejak tadi.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Mbak Kia! Tadi aku emang bangun lebih awal untuk menyiapkan keperluan Mas Bobi untuk ke kantor. Hari ini juga ada meeting katanya, Mbak. Meeting tentang penambahan karyawan baru juga," terang Kinara.


"Iya, Mbak Kinar. Kalau begitu sebentar aku panggil Mas Bryan, untuk mengatakan informasi itu, Mbak. Mas Bryan juga udah bersiap, Mbak!" sahut Zakia.


"Tidak usah, Mbak Kia! Aku ke sini hanya untuk mengantarkan pakaian ini. Ini pakaian kerja Mas Bobi, Mas Bobi menyuruh memberikan kepada Mas Bryan untuk dipakai ke kantor hari ini, Mbak!" ucap Kinara lagi sambil memberikan pakaian yang ia bawa kepada Zakia.


Sekali lagi Zakia merasa sangat terharu dengan kebaikan keluarga Kinara.


"Terima kasih banyak, Mbak Kinar! Aku tidak tahu bagaimana lagi mengucapkan semua rasa terima kasihku pada keluarga ini," ucap Zakia.


"Sama-sama, Mbak Kia! Kalau begitu aku permisi dulu, setelah bersih-bersih silahkan menuju meja makan. Sarapan susah siap, Mbak. Nanti setelah Mas Bobi dan Mas Bryan berangkat ke kantor, kita pergi ke kontrakan untuk bersih-bersih," ucap Kinara lagi.


Kinara mengangguk, setelah itu ia beranjak dari ruangan itu. Zakia juga sudah kembali ke dalam untuk memberikan baju kerja untuk suaminya.


*****


Setelah Bobi dan Bryan berangkat ke kantor, sesuai rencana, Kinara menemani Zakia untuk melihat kontrakan karena semalam Zakia tidak ikut ke sana. Kinara juga meminta Mpok Inah, tetangga sebelah untuk ikut membantu bersih-bersih.


Perabotan dan juga alat dapur lainnya di pinjamkan oleh Kinara, rumah itu sudah sangat rapi dan bersih. Rumah impian Zakia, sederhana tapi bersih dan juga bisa diatur sendiri olehnya. Semua itu terwujud atas kebaikan dari keluarga Kinara.

__ADS_1


"Terima masih, Mbak Kinara! Mpok Inah! Karena sudah membantu merapikan rumah ini," ucap Zakia.


"Sama-sama, Neng Zakia! Kalau gitu Mpok pamit dulu, masih ada pekerjaan lain di sebelah, Neng!" pamit Mpok Inah.


"Aku juga pamit dulu, Kia! Silahkan istirahat saja dulu, nanti kalau butuh sesuatu, datang saja ke rumah." Kinara juga ikut pamit.


Setelah banyak berbincang, ternyata Kinara lebih tua 3 tahun dari Zakia, jadi Kinara memanggilnya tanpa embel-embel Mbak lagi.


"Baik, Mbak Kinara! Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, Mbak!" hanya itu yang bisa diucapkan oleh Zakia, hanya rasa syukur kepada Tuhan, dan rasa terima kasih kepada keluarga Kinara.


Kinara dan Mpok Inah sudah pergi, Zakia berbaring di kasur untuk menghilangkan lelah, meski ia tidak banyak membantu bersih-bersih, tapi kondisinya yang masih lemah membuat ia gampang lelah.


Untuk mengusir rasa sepinya, Zakia mengambil ponsel yang sudah lumayan lama tidak ia gunakan, karena di rumah ibu mertuanya, Zakia tidak ada waktu untuk itu.


Drttt...


Drttt...


Ponsel Zakia bergetar saat ia sudah mengaktifkannya, wajah Zakia tampak sumringah melihat nama yang tertera dilayar ponsel. Orang yang sudah lama ia tidak rindukan, dan dulu sangat dekat dengannya. Zakia segera mengangkat panggilan itu dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2