
"Astaghfirullahalazim, Mbak!" Teriak ibu yang mempunyai barang belanjaan itu melihat Zakia sudah tergeletak di tanah.
Orang-orang pun mulai berkerumun untuk melihat apa yang terjadi di sana, suasana di pasar itu memang sangat ramai, karena pada jam seperti itu memang ramai ibu-ibu yang berbelanja di pasar.
"Ya Allah! Apa yang terjadi dengan wanita ini?" tanya seseorang yang hadir di sana melihat kondisi Zakia yang sudah tak sadarkan diri.
"Tadi Mbak ini ingin membantu saya mengangkat barang belanjaan, karena sepertinya dia sangat membutuhkan uang. Jadi karena saya juga membutuhkan pertolongan untuk membawa barang belanjaan saya, maka saya mengizinkan Mbak ini untuk membantu saya membawa barang belanjaan saya ke dalam mobil. Tapi karena kedua cucu saya sangat rewel, maka saya ingin membelikan minuman dan juga cemilan dulu untuk mereka, agar mereka tenang saat di perjalanan pulang nanti. Tapi tiba-tiba Mbak ini sudah jatuh pingsan," jawab ibu itu lagi.
" Wah, kasihan sekali, ya! Memang kelihatannya dia sangat membutuhkan uang saat ini. Apa mungkin Mbak ini belum sarapan tadi pagi, ya? Wajahnya juga terlihat sangat pucat," asumsi yang lain.
"Hei, kenapa kalian malah bergosip seperti ini? Sementara Mbak ini sangat membutuhkan pertolongan. Sepertinya kondisinya sangat lemah, sebaiknya kita segera membawa dia ke rumah sakit. Apakah ada yang bisa menghubungi ambulance atau menghubungi keluarganya?" tanya seorang ibu-ibu yang menatap kasihan ke arah Zakia yang tidak sadarkan diri.
"Saya akan menghubungi ambulance sekarang! Tapi siapa yang akan mencari tahu siapa keluarga Mbak ini?" sahut yang lain.
"Tunggu sebentar! Saya sepertinya pernah melihat wanita ini! Ya, saya ingat sekarang! Dia adalah menantu dari teman arisan saya. Saya ingat betul 2 minggu yang lalu kami arisan di rumah mertuanya dan dia yang menyuguhkan makanan dan minuman untuk para tamu yang datang. Saya yakin wanita ini adalah menantu dari teman saya itu," ucap seorang wanita yang dulu juga ikut arisan di rumah Bu Siska.
"Wahh, Alhamdulillah kalau begitu, Buk! Sekarang Ibu bisa membantu menghubungi teman Ibu untuk mengabarkan bahwa menantunya saat ini sedang pingsan di pasar. Mungkin saja mereka juga saat ini sedang merasa khawatir memikirkan kondisi Mbak ini," usul yang lainnya.
__ADS_1
"Benar itu, Buk! Jadi nanti kalau Mbak ini sudah sampai di rumah sakit, keluarganya langsung datang untuk mengurus semuanya," sahut yang lain lagi.
"Baiklah! Saya akan menghubungi Bu Siska dan mengatakan kalau menantunya saat ini pingsan di pasar. Tapi aku masih heran kenapa dia bisa pingsan? Wajahnya juga terlihat sangat pucat!" jawab ibu yang mengaku teman Bu Siska.
"Mungkin Mbak ini kecapekan, Buk!" sahut wanita yang menelpon ambulance.
Wiiiuuuuuuuuu......
Suara ambulance sudah terdengar mendekat, orang-orang yang ada di sana terlihat lega. Petugas yang ikut datang bersama ambulans itu segera mengangkat Zakia ke dalam ambulance. Setelah itu ambulance pun melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat.
*****
"Di warung yang di depan gang! Warung itu terkenal dengan masakan yang lezat. Walaupun harganya tergolong mahal tapi sesuai dengan rasa masakannya yang pas di lidah," jawab Bu Siska sambil terus menggigit potongan ayam yang dibaluri dengan sambal yang menggugah selera itu.
Sementara Bryan terlihat sangat cemas karena iyla masih memikirkan kondisi Zakia yang pergi mencari pekerjaan dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
Drttt....
__ADS_1
Drttt...
Ponsel Bu Siska bergetar di atas meja, ia segera mengambil ponsel itu dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya sedang memegang potongan ayam geprek jumbo. Bu Siska mengernyit melihat yang memanggilnya adalah teman arisannya. Bu Siska mengira temannya itu menelponnya karena akan membahas arisan mereka yang diadakan besok di rumah Bu Atika, tanpa ragu Bu Siska pun mengangkat telepon itu.
"Ehh Jeng Atika! Apa kabar, Jeng? Pasti Jeng Atika mau membahas untuk arisan besok, ya? Kebetulan saya juga mau membahas arisan itu, Jeng! Duh, bisa kebetulan kayak gini ya, Jeng!" ucap Bu Siska bertubi-tubi tanpa mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Bu Atika terlebih dahulu.
"Gimana-gimana, Jeng? Apakah persiapan untuk arisan besok sudah Jeng siapkan dengan maksimal?" Bu Siska kembali menanyakan hal lain tanpa memberikan kesempatan pada Bu Atika untuk bicara. Bu Siska terus saja mengoceh tanpa henti, ia sudah tidak sabar menunggu arisan besok.
Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Atik kepadanya, wajah Bu Siska langsung berubah masam dan juga terlihat sangat tidak suka mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Bu Atika kepadanyam. Tapi demi menjaga harga diri, ia tetap berusaha untuk menanggapinya dengan baik.
"Ya ampun! lalu di mana Zakia sekarang, Jeng? Dan siapa yang mengantarkan Zakia menantuku ke rumah sakit?" tanya Bu Siska dengan terpaksa bersikap manis.
Mendengar nama istrinya disebut-sebut, Bryan yang sedang khawatir tentang keadaan Zakia langsung mendekat ke arah ibunya dengan tertatih-tatih.
"Ada apa dengan Zakia, Ma? Siapa yang dibawa ke rumah sakit?" tanya Bryan.
Bu Siska menatap malas ke arah Bryan, ia sungguh muak dan kesal harus bersikap baik kepada menantu sialan itu.
__ADS_1
Karena ibunya tidak menjawab pertanyaannya, Bryan semakin khawatir, karena tadi ibunya mengatakan kata rumah sakit dan juga kata menantu. Saat ini Clara sedang berada di rumah, jadi tidak mungkin kalau Clara yang disebut oleh ibunya barusan. Pasti itu ada hubungannya dengan Zakia dan juga dengan perasaan tidak enak yang dirasakan oleh Bryan sejak Zakia pergi.
"Siapa yang menelpon itu, Ma? ada apa dengan Zakia? Bisakah aku bicara dengan penelepon itu, Ma?" Bryan memohon.