
Bryan mengucek matanya berulang kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi dan ia sudah benar-benar bangun dari tidurnya. Sudah beberapa kali Bryan mengucek matanya, tapi pria berpakaian serba putih itu masih tetap ada di sampingnya, berarti semua itu nyata.
Bryan teringat akan mendiang ayahnya yang dulu juga berperawakan seperti pria itu, mungkin karena masalah besar yang sedang ia hadapi maka wajah ayahnya pun terbayang-bayang dalam ingatannya. Bryan tidak akan lupa betapa dulu ia sangat disayang di dalam keluarganya semasa ayahnya masih hidup. Tapi semua itu berubah secara drastis setelah ayahnya tiada, apalagi Bryan yang diharapkan sebagai tulang punggung bagi keluarganya. Ditambah lagi dengan hasutan dari kata iparnya membuat Bryan semakin jauh dari keluarganya sendiri.
"Kenapa kalian tidur di sini, Nak?" tanya pria berpakaian serba putih itu.
"Bapak siapa?" Bryan balik bertanya.
"Bapak adalah pemilik rumah ini, Nak! Bapak baru saja pulang dari masjid karena hujan yang sangat deras dan tadi Bapak juga tidak sempat membawa payung saat pergi ke masjid untuk shalat Maghrib. Lalu kalian siapa dan kenapa kalian tertidur di teras seperti ini?" tanya Bapak itu lagi setelah menjelaskan bahwa rumah tempat Bryan dan Zakia berteduh itu adalah rumahnya.
__ADS_1
Zakia yang mendengar percakapan suaminya dan pria itu pun ikut terbangun.
"Maaf, Bapak! Kami tadi kehujanan dan akhirnya kami memutuskan untuk berteduh sebentar di teras rumah Bapak. Maaf jika kami membuat Bapak kurang nyaman dengan keberadaan kami di sini," ucap Bryan merasa tidak enak hati.
"Bukan begitu maksud Bapak, Nak! Maksud Bapak kenapa kalian tidak berteduh di rumah saja. Di rumah ada ibuk yang tadi kebetulan tidak pergi ke masjid. Istrimu juga kelihatannya kurang sehat," sahut Bapak itu lagi.
"Tidak usah, Pak! Kami tidak mau merepotkan, kami juga sudah cukup senang karena Bapak tidak merasa keberatan karena kami sudah berani berteduh di teras rumah Bapak. Kondisi istri saya memang kurang baik, Pak karena tadi sih sore baru saja pulang dari rumah sakit dan istri saya juga saat ini sedang hamil muda, Pak!" ucap Bryan menjelaskan kondisi mereka.
"Ya Allah, Nak! Kasihan sekali istrimu, tapi kenapa kalian hujan-hujanan seperti ini di saat kondisi istrimu sedang tidak baik?" tanya Bapak itu lagi.
__ADS_1
Bryan diam sejenak, ia ingin sekali meluapkan segala isi hatinya kepada seseorang, akan tetapi ia baru saja mengenal Bapak itu. Bryan sedikit bimbang.
"Maaf! Bapak bukan bermaksud ikut campur urusan yang ataupun masalah yang mungkin sedang kalian hadapi saat ini. Bapak hanya bertanya kenapa kalian bisa sampai ketiduran di teras rumah ini, Nak! Jika kalian tidak mau bercerita, tidak apa-apa! Sekarang ayo kita masuk ke rumah dulu, kasihan istrimu, Nak!" ajak Bapak itu kepada mereka.
Bryan dan Zakia saling pandang sejenak, mereka bukan meragukan kebaikan Bapak berpakaian serba putih itu, akan tetapi keduanya lebih tidak ingin merepotkan saja.
"Ada siapa, Pak? Kok ribut-ribut di luar?" tanya seseorang dari belakang mereka.
Bryan, Zakia dan Bapak itu menoleh ke arah suara.
__ADS_1