
"Iya, Ma! Coba saja Mama pikirkan dari mana Zakia mendapat uang setiap hari, dan dia juga selalu mempunyai setoran yang banyak untuk Mama. Kalau hanya menjadi kuli angkat barang atau tukang pencuci piring tentu saja uangnya tidak akan sebanyak itu. Aku curiga salah wanita itu sudah menjajakan dirinya kepada pria hidung belang agar ia bisa mendapatkan uang yang banyak." Clara semakin menjadi-jadi menjelekkan nama Zakia.
Padahal selama ini ia selalu mengatakan bahwa selama Zakia memberikan uang yang banyak kepada mereka, maka Bu Siska tidak perlu marah-marah kalau Zakia mencari pekerjaan di luar sana, biarpun menjadi tukang cuci piring di warung orang. Tapi sekarang saat Zakia tengah mengandung cucu dari ibu mertuanya itu, Clara malah memfitnahnya semakin kejam.
Bu Siska mengangguk mendengar perkataan Clara dan ia mulai terpengaruh lagi dengan omong kosong dari menantunya itu. Otaknya sudah diracuni oleh berbagai macam fitnahan Clara, yang dipoles Clara dengan sangat cantik.
"Lalu sekarang Mama harus bagaimana, Clar? Kau lihat sendiri tadi, kalau Brian sangat senang dengan berita kehamilan istrinya itu," ucap Bu Siska.
"Mama harus tegas sekarang! Jangan biarkan wanita kampungan itu akan merusak nama baik keluarga kita nantinya, dan mencorengkan arang dengan aibnya yang sangat buruk itu. Jika sampai teman-teman Mama tahu kalau Zakia sedang hamil, tentu saja mereka juga akan menghujat Mama, karena selama 2 minggu ini Bryan sakit dan kondisinya sekarang saja belum pulih. Sekarang Zakia malah hamil. Apa Mama tidak merasa aneh?" tanya Clara lagi.
Lagi-lagi BU Siska mengangguk membenarkan ucapan Clara, tanpa disaring terlebih dahulu.
"Ya! Kau benar, Clar! Mama tidak akan membiarkan wanita sudah membuat keluarga kita mau bisa sampai orang-orang tahu dasar ini sedang hamil. Mama akan menyuruh Bryan menceraikan wanita sialan itu!" jawab Bu Siska dengan amarah yang besar.
Lalu Bu Siska mempercepat langkahnya menuju ke ruangan rawat Zakia, sementara Clara senyum penuh kemenangan di belakang Bu Siska. Sekarang akhirnya dia tidak akan mempunyai saingan lagi di rumah mertuanya. Walaupun selama ini Zakia tidak bisa menyayanginya, tapi tetap saja Clara merasa was-was jika sewaktu-waktu Zakia akan membalaskan dendam kepadanya. Itu sebabnya dengan segala cara Clara berusaha untuk menyingkirkan Zakia dari rumah itu. Rencananya itu akan terwujud sebentar lagi.
*****
"Sayang!" Bryan segera menghampiri Zakia yang masih berbaring di rajang rumah sakit.
"Mas! Mas kapan datang?" tanya Zakia, ia baru saja bangun dan melihat suaminya sudah ada di sana.
__ADS_1
"Baru saja, Dek! Tadi mas menemui dokter dulu karena ada yang mau dibicarakan," jawab Bryan. Wajahnya tampak sangat sumringah.
"Ada apa, Mas? Kenapa mas kelihatannya sangat bahagia?" tanya Zakia heran.
"Karena kamu sudah memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidup Mas, Kia," jawab Bryan.
Zakia masih bingung dengan jawaban dari Bryan kebahagiaan apa yang sudah ia berikan, sehingga suaminya tampak sangat bahagia seperti itu. Yang ia tahu hari ini ia tidak bisa memberikan setoran kepada ibu mertuanya karena musibah yang ia alami saat di pasar tadi. Zakia juga belum tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit, tapi sekarang Bryan malah mengatakan bahwa ia telah memberikan kebahagiaan yang besar.
"Kebahagiaan apa, Mas?" tanya Zakia lagi.
"Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, Sayang! Saat ini kamu sedang hamil, usia kandunganmu sudah satu minggu," jawab Bryan dengan ekspresi yang sangat bahagia.
"Iya, Sayang? Kamu hamil! Kita sebentar lagi akan punya anak, Sayang!" Bryan tidak henti-hentinya bersyukur.
Kedua suami istri itu langsung berpelukan dengan erat, karena mereka sangat bahagia. Bryan mengelus lembut perut istrinya, di sana ada calon bayinya sekarang.
"Alhamdulillah, Mas! Akhirnya aku bisa..."
"Bisa apa, Zakia? Akhirnya sekarang kau bisa mempermalukan keluargaku, hah?" sela Bu Siska yang sudah sampai di ruangan itu.
"Apa maksud mama mempermalukan, Ma?" tanya Zakia masih belum mengerti.
__ADS_1
Apakah kehamilannya adalah suatu aib, sehingga akan membuat keluarga malu?
"Sekarang cepat katakan siapa bapak dari janin yang kau kandung itu?" tanya Bu Siska, membuat Zakia sangat terkejut.
Begitu juga dengan Bryan, Bryan menatap ke arah Clara dan yakin bahwa kakak iparnya itu sudah mengatakan sesuatu yang buruk tentang Zakia lagi kepada ibunya, sehingga ibunya bersikap seperti ini sekarang.
"Apa lagi ini, Mbak Clara?" tanya Bryan dengan geram.
"Loh, kenapa kau bertanya kepadaku Bryan?Seharusnya kau bertanya kepada istrimu itu, apa saja yang sudah dia lakukan selama ini di luar sana sehingga dia bisa hamil seperti sekarang?" Clara sangat pandai berkilah.
"Aku tidak mengerti apa maksud Mbak Clara sebenarnya, dan kenapa juga Mbak Clara mengatakan seperti itu?Bukankah selama ini aku mencari pekerjaan untuk mencari uang agar bisa menyetor kepada Mama setiap hari untuk melunasi semua hutang kami kepada Mama. Aku mencari pekerjaan yang aku bisa dan yang ada di pasar ataupun di warung orang yang berjualan, Mbak. Dengan begitu aku bisa terus memberikan setoran setiap hari kepada Mama," terang Zakia.
Zakia tidak terima jika janin yang bahkan masih setitik darah di rahimnya itu dihina oleh kakak ipar dan juga ibu mertuanya. Selama ini, ia masih berusaha sabar dan menahan semua hinaan mereka kepada dirinya, akan tetapi jika itu menyangkut kepada calon bayinya, maka Zakia tidak akan bisa bersabar lagi.
Air mata Zakia langsung meleleh di pipinya, hatinya sungguh sakit difitnah seperti itu. Padahal ia sudah membanting tulang mati-matian ke sana ke mari mencari pekerjaan, agar ia bisa memberikan uang kepada ibu mertuanya setiap hari. Zakia bahkan tidak peduli kalau kondisinya sedang lemah, ataupun ia sedang sakit. Bahkan setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah, Zakia tetap berusaha mencari pekerjaan agar di sore hari ia bisa memberikan uang untuk melunasi hutang mereka yang dipakai untuk pengobatan Bryan dulu.
"Halah, Aku tidak percaya kalau kau mencari uang dengan cara membanting tulang seperti yang kau katakan itu! Pasti kau sudah bermain serong di belakang suamimu untuk mendapatkan uang yang banyak, seperti saat dulu kau menjebak nenek-nenek itu, agar kau bisa mendapatkan uang dengan dalih kau sudah memberikan pertolongan." Clara bahkan sekarang malah menyangkut pautkan kejadian saat Zakia menolong nenek-nenek yang hampir ditabrak mobil dulu.
"Astaghfirullah, Mbak! Aku sama sekali tidak melakukan itu, Mbak! Tolong jangan fitnah aku lagi, Mbak! Aku mohon!" ucap Zakia sambil meneteskan air mata.
"Jangan sok suci, Zakia! Sekarang cepat katakan siapa bapak dari janin yang kau kandung itu!"
__ADS_1