
Jantung Bryan sangat deg degan mendengar ucapan suster itu. Bryan sangat takut kalau sesuatu sudah terjadi kepada istrinya.
"Di mana ruangan dokter itu, Suster? Bagaimana keadaan istri saya saa ini?" tanya Bryan kepada suster itu dengan wajah yang sangat khawatir.
"Silahkan Bapak temui dokter di ruangannya, agar dokter bisa menjelaskan secara lebih rinci mengenai kondisi istri Bapak. Rangan dokter ada di sebelah kiri, setelah bapak lurus dari sini," jawab suster itu kepada Bryan.
"Terima kasih, Suster! Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Bryan.
Suster itu pun mengangguk.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bryan langsung saja menuju ke ruangan dokter yang dikatakan oleh suster tersebut. Ia ingin segera mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya.
Tok.
Tok.
Tok.
Bryan mengetuk pintu ruangan dokter setelah ia menemukan ruangan yang dikatakan oleh suster.
"Masuk!" jawab sang dokter dari dalam.
Kemudian Bryan masuk ke dalam ruangan itu dan melihat dokter tengah duduk di kursi kerjanya. Bryan segera menghampiri dokter itu dengan perasaan was-was.
"Selamat siang, Dokter! Maaf mengganggu waktunya," ucap Bryan.
"Selamat siang, Bapak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu kepada Bryan.
"Saya adalah suami dari pasien yang bernama Zakia Maharani, Dokter tadi saya bertanya ke resepsionis di mana ruangan istri saya sister itu mengatakan bahwa dokter berpesan kalau keluarga Zakia datang, disuruh ke ruangan dokter!" jawab Bryan.
__ADS_1
"Oo, Bapak ini suami dari pasien di ruangan mawar? Iya, Bapak! Saya tadi memang berpesan pada suster untuk menyuruh keluarga pasien menemui saya," jawab dokter itu.
"Silahkan duduk, Pak!" lanjut sang dokter.
Bryan mengangguk, lalu kemudian ia duduk di kursi di depan meja sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Bryan sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi istrinya.
"Sebenarnya kondisi istri Bapak baik-baik saja! Tapi ada yang perlu saya sampaikan kepada Bapak. Kabar baik dan kabar yang perlu diperbaiki," jawab sang dokter.
"Kabar apa itu, Dokter?" tanya Bryan lagi.
"Ini adalah kabar gembira, Bapak! Tadi istri Bapak pingsan karena kondisinya yang terlalu capek. Tapi itu biasa bagi seseorang wanita yang hamil muda!" jawab sang dokter.
Deg.
"Iya, Bapak! Selamat ya, sebentar lagi Bapak akan menjadi seorang ayah! Istri Bapak saat ini sedang hamil! Usia kandungannya sekitar seminggu, tapi sudah dilakukan tes hasilnya positif, Pak!" jelas sang dokter.
"Be-benarkah, Dokter? Ya Allah, Masya Allah, Alhamdulillah!" Bryan langsung mengucapkan rasa syukur dengan begitu dalam.
"Benar, Pak! Istri Bapak saat ini sedang hamil!"
"Apaaa? Hamil?" Zakia hamil?" tanya bu Siska yang juga sudah hadir di ruangan itu.
Wajahnya tampak sangat tidak bersahabat, dan merasa sangat tidak suka mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh dokter.
"Iya, Ma! Alhamdulillah akhirnya Zakia hamil, Ma! sebentar lagi mama akan punya cucu," sahut Bryan kepada mamanya.
Akan tetapi Bu Siska semakin menatapnya dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Oh ya, Bapak! kabar lain yang ingin saya sampaikan adalah, saat ini kondisi istri Bapak sangat lemah dan kandungannya juga butuh dijaga dengan baik. Yang paling penting dia harus memperbanyak istirahat. Sebaiknya istri Bapak betress ulu untuk beberapa minggu ke depan, agar kondisinya membaik. Jangan sampai ia terlalu capek melakukan suatu kegiatan, karena nanti bisa berakibat buruk kepada janin yang saat ini dia kandung," jelas sang dokter lagi.
"Dokter yakin kalau istri dari anak saya hamil? Apa dokter tidak salah periksa?" tanya Bu Siska seolah meragukan kemampuan sang dokter.
"Benar, Ibuk! menantu Ibu saat ini memang sedang hamil dan usia kandungannya masih satu minggun. Kami sudah melakukan tes berulang-ulang dan hasilnya tetap sama. Selamat ya, Pak, Buj! Sebentar lagi anggota keluarga kalian akan bertambah," ucap sang dokter lagi.
Bu Siska dan Clara mencibir, mereka mana sudi mendapatkan anggota baru dari wanita yang selalu mereka hina sehari-hari.
"Apa sekarang saya sudah boleh melihat kondisi istri saya, Dokter? " tanya Bryan kepada sang dokter yang baru saja menjelaskan kondisi Zakia.
Bryan sudah tidak sabar ingin segera menemui wanita yang sangat ia cintai itu, karena sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua dari bayi yang dikandung oleh Zakia.
"Silahkan, Bapak! Kondisi istri bapak juga sudah mulai membaik dan istri Bapak sudah boleh pulang. Setelah menemui istri Bapak, diharap segera mengurus administrasi agar istri Bapak bisa cepat pulang!" ucap sang dokter.
Wajah Bryan langsung berubah sendu mendengar kata administrasi, karena pasti nanti akan ada drama lagi saat dia meminta tolong kepada ibunya untuk membayar biaya administrasi untuk pengobatan Zakia. Tapi Bryan masih berharap kalau ibunya akan sedikit melunak, karena sekarang Zakia sedang mengandung cucunya.
"Baik, Dokter! Sekali lagi terima kasih karena dokter sudah memberikan kabar yang baik ini kepada saya dan juga keluarga saya. Ini adalah kabar yang paling baik yang pernah saya dengar" ucap Bryan berterima kasih.
"Sama-sama, Bapak! Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai petugas di rumah sakit ini untuk memberikan kabar baik maupun kabar buruk kepada keluarga pasien. Sekali lagi selamat karena sebentar lagi di rumah kalian akan terdengar tangisan bayi yang sangat merdu dan juga selalu diimpikan oleh semua orang," ucap sang dokter lagi.
Setelah berterima kasih dan juga pamit kepada dokter itu, Bryan segera menuju ruang perawatan Zakia. Ia tidak sabar ingin melihat wajah istrinya yang sudah memberikan kebahagiaan terbesar bagi hidupnya itu, sementara Bu Siska dan Clara terlihat berjalan malas-malasan di belakang Bryan.
"Bagaimana ini, Ma? Aku yakin kalau bayi itu bukanlah anak Bryan!" Clara memulai aksinya untuk menjelekkan nama Zakia di hadapan Bu Siska.
"Apa maksudmu, Clara?" tanya Bu Siska masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh menantu kesayangannya itu.
"Maksud aku kan Bryan saat ini sedang sakit dan kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan keintiman suami istri. Zakia juga akhir-akhir ini sering keluar dan sore hari atau malam hari selalu membawa uang untuk setoran kepada Mama. Aku jadi curiga kalau Zakia bukan menjadi kuli angkat barang atau pun menjadi tukang cuci piring, tapi Zakia sudah menjajakan dirinya kepada pria hidung belang agar ia bisa mendapatkan uang dengan cepat" jawab Clara.
"Masa sih Zakia sampai sebegitunya, Clar? Mungkin saja itu memang anaknya Bryan," Bu Siska masih belum terpengaruh kali ini, karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga merasa senang kalau sebentar lagi akan mempunyai cucu.
__ADS_1