Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 16 Takdir Yang Tidak Berpihak


__ADS_3

"Mungkin karena masalah biaya, Dok! Ibu itu juga saat ini sedang marah-marah, Dok!" terang Suster cantik itu lagi.


"Oke, Baik! Kalau begitu berikan surat pernyataan dan biarkan dia tanda tangan di atas materai. Pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi nantinya kepada pasien! Karena pihak keluarga yang memaksa untuk membawa pulang!" tegas dokter Adam.


"Baik, Dok! Kalau begitu saya permisi!" jawab perawat itu sembari berbalik meninggalkan dokter Adam. Ia sudah membawa surat peryataan yang dokter Adam berikan.


Sesampainya di meja pembayaran, perawat itu pun memberikan surat pernyataan tersebut kepada Bu Siska.


"Silahkan tanda tangan di sini, Ibuk! Dan rumah sakit tidak bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi pada pasien nantinya!" terang perawat itu pada Bu Siska yang sudah kesal menunggu kedatangan sang perawat.


Tanpa membaca terlebih dahulu, Bu Siska pun langsung menandatangani surat perjanjian itu. Baginya tidak penting apa isinya, yang pasti uangnya bisa aman setelah ini. Ia juga bisa cepat keluar dari rumah sakit yang sangat membosankan itu.


"Ini sudah saya tanda tangani!" ucap Bu Siska dengan ketus.


Tangan kirinya yang memberikan surat itu kepada perawat, perawat itu menggelengkan kepala melihat sikap Bu Siska.


"Baik, terima kasih, Ibuk! Dan sekarang harap ibu membayar tagihan yang ada ya, Buk!" lanjut sang perawat itu mencoba mengingatkan.


"Huh, iya sebentar! Ini juga mau dibayar!" jawab Bu Siska sembari memberikan uang yang harus ia bayarkan, walaupun ada rasa tidak ikhlas. 


"Baik, terima kasih, Ibuk! Kalau begitu pasien saat ini sudah bisa dibawa pulang! Semoga pasien lekas pulih!" ucap perawat itu lagi, namum hanya dianggap angin lalu oleh Bu Siska.


Bu Siska berbalik meninggalkan ruang administrasi dan mereka pun menuju ke ruang perawatan Bryan kembali.


"Ma! Banyak banget uang yang mama keluarkan buat pengobatan Bryan! Sayang banget loh!" Clara mulai menyalkan kompor bocornya.


"Iya benar, Clar! Mama juga sangat kesal, Mama jadi tertunda untuk membeli tas mewah keluaran terbaru gara-gara bayarin perawatan anak sialan itu!" umpat Bu Siska.

__ADS_1


"Hah? Mama mau beli tas keluaran terbaru?" tanya Clara antusias, hanya itu yang ia dengar dari ucapan ibu mertuanya.


"Iya, awalnya rencana mama begitu, Clar! Tapi udah kepotong ini buat bayar kepulangan Bryan dari rumah sakit" terang Bu Siska dengan kesal.


"Huh, Dasar itu benalu ya, Ma! Mama liat sendiri kan, sejak Bryan menikah dengan Zakia, kita malah dibuat sial semua. Coba dulu Bryan menikah dengan Vita, pasti sekarang hidup kita sudah sejahtera, Ma! Papa Vita itu mempunyai perusahaan yang sangat besar, Vita juga anak semata wayang. Tapi sudah nasib keluarga kita kali mempunyai menantu sial seperti Zakia!" ucap Clara dengan segala bentuk kata adu domba dan hasutan.


Namun Bu Siska tak berniat menimpali apa yang di katakan oleh menantunya. Ia juga masih kesal dengan Bryan yang kala itu menolak mentah-mentah untuk dikenalkan dengan Vita, anak pengusaha besar.


Vita memang sudah terbukti hamil tiga bulan sebelum pernikahan, tapi karena uang dan kedudukan papanya yang sangat disegani, gosip itu dengan cepat hilang dari peredaran. Bryan pasti bakan hidup bahagia kalau saja ia mau menerima Vita waktu itu, tapi dasar Bryan yang keras kepala, akhirnya hidupnya menderita sekarang.


Tidak berapa lama Bu Siksa dan Clara sudah sampai di ruang perawatan Bryan.


"Sudah saya bayar tagihannya! Dan sekarang Bryan sudah bisa pulang!" ucap Bu Siska dengan cuek.


"Terima kasih, Ma! Mama sudah bersedia membayar tagihan pengobatan Mas Bryan! Nanti sesampainya di rumah, aku akan segera melakukan apa yang harus aku lakukan, Ma!" jawab Zakia sembari tertunduk, sedangkan Bryan tidak tau harus berkata apa. Setelah ini ia akan melihat istrinya menjadi babu lagi di rumahnya.


Kemudian Zakia membatu Bryan untuk bangun dari pembaringannya. Bryan yang belum pulih pun merasakan kesusahan untuk bangun. Zakia dengan sabar membantu suaminya itu untuk bisa berdiri dan duduk di kursi roda yang sudah dibawakan oleh perawat.


"Ayo, Mas! Kita pulang! Pelan-pelan saja, Mas!" ucap Zakia sambil membatu sang suami untuk berpindah ke kursi roda.


"Cepat ya! Kami tunggu sepuluh menit harus sudah sampai di mobil. Kalau tidak, nanti kami tinggal!" ucap Bu Siska dengan kejamnya.


Setelah itu Clara dan sang mertuapun keluar dari ruang perawatan Bryan. Clara tersenyum penuh kemenangan melihat rencananya semakin berjaya.


Dalam hati Zakia terasa sangat sakit, tapi tidak kalah sakitnya dengan yang dirasakan oleh Bryan. Ia juga merasa sudah gagal menjadi pelindung dan seorang imam untuk Zakia.


Bryan hanya bisa terdiam sembari menggenggam tangan zakia. Ia memandang manik mata wanita yang selalu meneduhkan hatinya itu.

__ADS_1


"Kia! Maafkan, Mas? Karena mas masih belum bisa melindungimu! Mas tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka menghinamu!" ucap Bryan dengan sendu.


"Sudah, Mas! Jangan membahas itu lagi! Yang penting sekarang kita harus segera sampai di parkiran. Agar tidak di tinggal sama Mama dan Mbak Clara. Setelah itu kita akan segera pulang, biar Mas bisa istirahat! Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Mas!" jawab Zakia sembari ia mengusap air mata yang meleleh di pipi.


Zakia pun mulai mendorong kursi roda dengan Bryan berada di atasnya. Bryan harus menahan sakit pada tubuhnya akibat kondisi yang masih terlalu buruk. 


Tak berapa lama, sampailah mereka di parkiran. Clara pun sudah berada di balik kemudi, sedangkan Bu Siska duduk di sampingnya.


" Cepat! Bantu suamimu masuk ke belakang. Ini sudah sangat panas, jangan lelet!" bentak Bu Siska dengan ketus. 


"Baik, Ma!" jawab Zakia tertahan, Karena ia menahan tangis.


" Mas! Ayo pelan-pelan, Mas!" ucap Zakia membantu Bryan dengan hati-hati. 


Bryan pun sudah berada di bangku penumpang, namun ia merasakan punggungnya sakit sekali.


"Kia! punggung Mas sakit sekali!" rintih Bryan, kemudian Zakia kembali membantu sang suami untuk merebahkan diri.


"Huh, lama amat! Udah gerah ini!" gerutu Bu Siska.


"Sebentar, Ma!" sahut Zakia.


Sedangkan Clara langsung menyalakan mesin mobilnya. Ya! Mereka sekarang sudah membawa mobil sendiri, tadi Clara merengek kepada Ronald, suaminya untuk mengirimkan mobil ke rumah sakit. Katanya ia sangat gerah berada di taksi yang sopirnya lelet membawa mobil, Clara juga mengatakan kalau tadi sopir taksi sempat membantah perkataan Bu Siska. Akhirnya Ronald mengirimkan seseorang untuk mengantarkan mobil ke rumah sakit.


"Karena bangku sudah penuh, kau pulang naik angkot saja!" ucap Bu Siska pada Zakia yang hendak menyempil di dekat Bryan.


"Tapi, Ma! Mas Bryan..."

__ADS_1


__ADS_2