Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 35 Ujian Hidup


__ADS_3

"Kita jalan saja dulu, Dek! Nanti baru kita akan cari tempat tinggal yang baru. Mulai sekarang kita buka lembaran baru dengan saling menyemangati satu sama lain. Maafkan Mas karena Mas belum bisa memberikan tempat tinggal yang layak dan juga kehidupan yang baik untukmu dan juga calon anak kita. Maafkanlah pria lumpuh yang tidak berdaya ini!" Bryan merutuk lagi, ia masih sangat terluka dengan ucapan ibunya yang mengatakan ia adalah pria cacat.


"Sudah, Mas! Jangan menyesali apa yang sudah terjadi lagi. Semua yang kita hadapi sekarang adalah ujian hidup yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita, kita harus menjalaninya dengan sabar dan juga ikhlas. Aku yakin dibalik semua masalah yang kita hadapi sekarang, pasti akan ada kehidupan yang lebih baik yang akan kita dapatkan setelah ini. Bagaimanapun kondisi Mas, aku akan selalu setia untuk mendampingi Mas sebagai istri dan juga sebagai ibu dari anakmu, Mas!" sahut Zakia, ia juga menghapus butiran kristal di pipi Bryan. Zakia tahu suaminya itu sekarang tengah terpuruk.


"Terima kasih untuk semua kesetiaan ini, Dek! Mas benar-benar beruntung mempunyai istri sebaik kamu, jika tidak Mas pasti sudah putus asa sekarang," ucap Bryan.


"Iya sama-sama, Mas! Sekarang ayo kita pergi! Karena hari juga sudah semakin gelap dan hujan ini juga entah kapan redanya, Mas." Zakia berusaha mengalihkan pembicaraan.


Selain itu ia juga sudah merasa sangat lelah, karena dari tadi hanya berdiri saja padahal kondisinya belum pulih.


"Ayo, Dek! Semoga malam ini kita bisa mendapat penginapan dan besok kita akan mencari tempat tinggal yang baru," sahut Bryan.


Setelah itu Zakia dan juga Bryan melangkah dari rumah yang sudah cukup lama mereka tinggali itu. Bryan berusaha kuat, demi istri dan juga calon bayinya. Hatinya yang rapuh dan berkeping-keping berusaha ia kesampingkan.


Zakia dan Bryan berjalan di tengah derasnya guyuran air hujan, tidak ada tempat untuk berteduh dan mereka juga tidak membuat Bu Siska semakin murka jika mereka sampai bertemu di teras orang yang dikenal oleh Bu Siska. Zakia dan Bryan memutuskan untuk terus berjalan meskipun langit sudah mulai gelap, petir juga menyambar secara bergantian.


Hari sudah semakin gelap, Zakia dan Bryan terus mengikuti ke mana langkah kaki membawa mereka. Langkah keduanya hanya diiringi oleh kilat yang menyambar sebagai pelita bagi perjalanan mereka di hari yang sudah semakin gelap.


*****

__ADS_1


Sudah lebih setengah jam mereka berjalan kaki, tanpa tujuan dan dengan hati yang tidak menentu. Namun belum ada juga titik terang ke mana mereka akan melangkahkan kaki malam ini.


"Auwww," ringis Zakia sambil memegang perutnya.


Langkah Bryan langsung terhenti, wajah panik seketika menyelimuti dirinya.


"Kamu kenapa, Dek? Mana yang sakit Dek?" tanya Bryan bertubi-tubi.


"Perut aku agak kram, Mas!" jawab Zakia dengan suara bergetar menahan sakit, tubuhnya juga sudah mulai menggigil kedinginan.


"Astaghfirullah, Ya Allah! Kalau begitu sekarang kita istirahat dulu. Kita juga sudah hampir 1 jam berjalan dan ini juga sudah tidak termasuk wilayah tempat tinggal Mama lagi. Tidak akan ada yang mengenali kita lagi di sini, ayo kita istirahat dulu, Dek!" ajak Bryan, wajah cemas masih tersirat diwajahnya.


Bryan sangat takut kalau istrinya itu sampai kenapa-napa dan terlebih lagi dengan janin yang ada di kandungannya sekarang.


"Ayo kita istirahat di sana dulu, Dek! Kaki Mas juga rasanya mulai ngilu lagi karena terlalu lama kena ai hujan," ajak Bryan menunjuk ke teras rumah warga.


"Ayo, Mas!" jawab Zakia.


Lalu mereka berjalan saling beriringan dan saling membantu untuk berjalan sampai ke teras rumah itu. Setelah sampai, mereka segera merebahkan diri di lantai teras yang teramat dingin itu, tapi itu lumayan daripada terus berjalan ditengah guyuran hujan yang masih sangat deras.

__ADS_1


"Hujannya masih belum menunjukkan untuk reda, Mas! Kalau begini kita akan susah untuk melanjutkan perjalanan," ucap Zakia.


"Iya, Dek! Tapi petirnya sudah mulai reda, Mudah-mudahan hujannya juga segera berhenti," sahut Bryan.


Zakia mengangguk, ia sudah merasa sangat lelah. Bibirnya juga sudah biru karena kedinginan. Bryan segera mendekap istrinya itu untuk memberikan kehangatan. Sebagai seorang suami, hatinya hancur berkeping-keping melihat kondisi istrinya itu.


"Apa kamu lapar, Dek? Mas akan mencoba mencari warung yang masih buka dulu," tanya Bryan.


"Tidak, Mas! Aku belum lapar, nanti saja, Mas! Mas istirahat saja dulu!" jawab Zakia, ia tidak tega jika harus melihat suaminya berjalan tertatih lagi untuk mencari makanan.


"Tapi kamu butuh asupan yang cukup, Dek! Ini juga demi bayi kita," ucap Bryan lagi.


Zakia tidak bisa menjawab lagi, karena yang dikatakan suaminya itu benar.


"Kalau begitu tunggu hujannya reda dulu, Mas! Nanti kita cari sama-sama saja," balas Zakia.


Lalu keduanya kembali hanyut dalam pikiran masing-masing. Alam juga sepertinya tidak mengizinkan mereka untuk melanjutkan langkah, bukannya reda, hujan justru turun semakin deras. Karena kecapekan mereka akhirnya tertidur di teras itu.


*****

__ADS_1


"Bangun, Nak!" panggil seseorang membuat Bryan tersentak.


Bryan membuka mata, ia sangat terkejut melihat seorang pria paruh baya dengan pakaian serba putih sudah duduk di dekatnya. Bryan memindai wajah itu, siapa dia? Dan kenapa dia ada di sini?


__ADS_2