
Ucapan itu terlontar dengan jelas dari mulut Bu Siska, hati Bryan sangat sakit mendengarnya. Bagaimana bisa seorang ibu mengatakan hal seburuk itu. Bukannya senang karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek, ibunya malah ingin melenyapkan calon bayinya yang bahkan masih berumur satu minggu.
"Astaghfirullah, Ma! Istighfar, Ma! Jangan turuti setan yang menggoda Mama untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan membuat Mama menyesal!" jawab Bryan.
"Justru kalau aku membiarkan janin itu hidup, maka nanti saya pasti akan sangat menyesal. Sekarang saja kalian sudah sangat merepotkan, apalagi jika bayi itu lahir. Aku tidak mau dilanda terus gara-gara istrimu dan anak haramnya itu, Bryan," jawab Bu Siska lagi.
"Ma...!"
"Singkirkan bayi itu atau talak Zakia sekarang. Jika kau tidak memilih, maka berarti kau memilih pilihan ketiga, yaitu pergi dari rumahku dan jangan pernah kembali untuk selamanya. Aku tidak butuh orang-orang yang menyusahkan seperti kalian. Dasar tidak berguna!" teriak Bu Siska dengan geram, ia sudah terlalu muak melihat Zakia yang menurutnya hanya bisa membawa aib dan kesialan itu.
Clara tersenyum puas, ia benar-benar sudah berhasil mencuci otak ibu mertuanya. Bu Siska sekarang semakin benci kepada Zakia. Aib yang sebentar lagi akan diketahui orang membuat Bu Siska was-was, harga diri paling penting baginya. Tidak peduli itu sudah menyakiti perasaan anaknya yang sedang bahagia karena sebentar lagi akan menjadi orang tua.
"Ma! Aku mohon jangan seperti ini, Ma! Bayi yang ada dalam kandungan Zakia adalah anakku, Ma! Aku bisa menjamin itu, Ma!" ucap Bryan.
"Sudahlah, Bryan! Aku heran kenapa kau begitu polos, istrimu itu tidak selugu yang kau kira. Bayangkan saja dia selalu membawa uang yang banyak setiap hari, di mana ia mendapatkan uang sebanyak itu coba?" sela Clara lagi.
"Zakia itu bekerja, Mbak! Dia ke sana ke mari mencari pekerjaan agar bisa memberikan setoran pada Mama. Bahkan hari ini sampai pingsan d pasar, karena capek, Mbak!" jawab Bryan membela Zakia.
"Bisa saja itu hanya dibuat-buat oleh Zakia, Bry! Mungkin dia mau menyembunyikan aib yang sudah ia buat, makanya pura-pura pingsan. Mama aja bisa berfikir jauh, masa kau yang berpendidikan tinggi gak bisa menilai itu!" tambah Clara.
__ADS_1
"Cukup, Mbak Clara! Jangan menghinaku lagi. Kalau kalian tidak mau menerima anak ini sebagai bagian dari keluarga, maka aku akan merawat sendiri anak ini tanpa bantuan dari siapapun!" Zakia tidak tahan mendengar fitnahan dari Clara lagi.
"Lihatlah! Betapa sombongnya wanita udik ini, Ma! Sekarang dia bahkan sudah berani menjawab perkataan kita. Terserah Mama kalau Mama masih ingin menerima wanita udik ini di rumah kita. Kalau aku jadi Mama, akan aku usir sekarang juga sebelum dia membuat kita semua malu," ucap Clara.
"Tentu saja aku akan melawan, Mbak! Kalau hanya aku yang Mbak hina, itu tidak masalah. Tapi kalau anakku, aku akan pasang badan untuk membela!" jawab Zakia, ia sudah benar-benar berani sekarang.
"Dasar tidak tau terima kasih! Sudah ditampung selama ini, malah ngelunjak! Ini yang aku takutkan selama ini, Bryan! Sifat istrimu ini sangat mengerikan. Sekarang cepat pilih, kau menceraikan dia atau kau pergi selamanya dari kehidupan kami?" tanya Bu Siska dengan nada tinggi.
"Benar yang dikatakan Mama, Bry! Buat apa kau selalu mempertahankan wanita tidak berguna ini. Lebih baik kau talak dia sekarang, nanti kami akan mencarikan wanita yang sejuta kali lebih baik dari wanita kampung ini!" sahut Clara.
"Dan ingatlah, Bryan! Kalau kau memilih wanita ini, itu berarti hubungan kita sudah putus. Aku bukan lagi ibumu, dan kau bukan lagi anakku. Jika kau memilih istrimu, maka kau harus pergi untuk selamanya dari hidup kami. Jangan pernah menampakkan diri lagi sampai kapanpun, bagiku kau sudah mati saat itu. Dan kau akan dikenakan sebagai anak durhaka!" kecam Bu Siska.
Ya, Bryan sedang berada di antara dua pilihan yang sulit. Di satu sisi ia sangat menyayangi ibunya, ia sudah berjanji pada ayahnya dulu akan selalu menjaga ibunya setelah ayahnya tiada. Bryan juga sudah berjanji akan menuruti semua perkataan dan keinginan ibunya selama ia hidup.
Namun di sisi lain, Bryan juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawab sebagai seorang suami. Zakia adalah istrinya, ia sudah berjanji untuk membahagiakan Zakia, ia juga berjanji tidak akan pernah membuat Zakia menderita. Namun apa yang terjadi, keadaan malah sebaliknya. Bryan bahkan belum bisa memberikan kebahagiaan apa-apa pada Zakia semenjak mereka menikah.
Dari awal mereka menikah, Zakia sudah hidup dalam tekanan ibunya, juga dibayang-bayangi hasutan Clara agar ibunya membenci Zakia.
Setiap hari Bryan hanya melihat air mata kesedihan dimata istrinya, selalu menahan duka akibat dihina dan disiksa oleh ibunya Bryan. Zakia tidak pernah mengeluh selama ini, ia juga tidak pernah melawan, Zakia selalu sabar dan terus berusaha menaklukkan hati ibu mertuanya. Namun api fitnah dari Clara lebih membakar Bu Siska daripada air sejuk yang disuguhkan oleh Zakia.
__ADS_1
Di balik derita itu, Zakia selalu patuh kepada suaminya. Meski hidup berkekurangan dan tidak punya kebebasan, Zakia tetap setia menemani dan memberikan suport kepada Bryan.
Saat Bryan terpuruk, Zakia lah yang menghiburnya agar Bryan melupakan masa-masa kelam dalam hidupnya. Zakia yang dengan tulus merawat dia saat ia sakit, bahkan ibunya sendiri menatap jijik padanya. Zakia dengan telaten membersihkan luka dan merawat Bryan dengan baik.
Lalu sanggupkah Bryan untuk mengecewakan wanita sebaik Zakia? Atau Bryan lebih memilih untuk menjauh dari keluarga dan hidup tenang bersama Zakia? Lalu bagaimana dengan janjinya yang akan selalu menuruti keinginan dan perintah ibunya? Bryan tidak mau jadi anak durhaka, namun ia juga tidak mau di cap sebagai suami tidak setia dan tidak tahu terima kasih.
"Ayo jawab, Bryan! Jangan diam saja! Mama sudah bertanya dari tadi!" ucap Clara membuyarkan lamunan Bryan.
Tidak ada yang mengerti betapa dilemanya Bryan sekarang.
"Maa..!! Aku..."
"Aku tunggu keputusanmu sejam lagi di rumah, Bryan! Kalau kau memilih wanita ini, jangan pernah pulang lagi. Ayo Clara, Kita pulang! Mama sidah muak berada di sini!" ajak Bu Siska kepada Clara.
Clara bersorak dalam hati, umpannya sudah berhasil. Sekarang Clara tinggal menunggu hasil pancingannya saja.
"Tapi, Ma! Bagaimana dengan biaya administrasi rumah sakit? Aku mohon Mama pinjamkan uang untuk menebusnya, Ma! Aku janji..."
"Banyak betul janjimu, Bryan! Hutang kalian yang lama saja belum lunas, sekarang mau ngutang lagi. Kau pikir aku mesin cetak uang!" sahut Bu Siska, setelah itu Bu Siska benar-benar pergi di susul oleh Clara dibelakangnya.
__ADS_1