Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 13 Firasat Seorang Istri


__ADS_3

"Mungkin itu orang yang ingin meminta sumbangan untuk donasi yayasan mereka!" jawab Bu Siska tanpa peduli dengan ponsel yang terus bergetar.


"Diangkat saja dulu, Jeng! Siapa tau penting!" ucap yang lain.


Bu Siska akhirnya dengan terpaksa melirik layar ponselnya, dan ia pun mengeja deretan angka yang tertera dilayar ponselnya. Namun ia hanya mengernyitkan dahi kareaa ia tidak mengenal sang penelpon.


“Siapa ini? Aku gak kenal!” ucap Bu Siska sembari meletakkan kembali ponsenya di atas meja.


“Kenapa gak di angkat, Jeng?” tanya Bu Romlah penasaran.


“Iya, biar saja, Jeng! gak dikenal!” jawab Bu Siska.


Namun ponselnya tak berhenti berdering, dan m Bu Siska pun kembali melihat deretan angka yang tertera di ponselnya.


‘Kok sama dengan nomor yang sedari tadi menelpon, ya Jangan-jangan memang ada yan penting?’ batin Bu Siska bertanya-tanya.


Kemudian ia mengeser tombol hijau sebagai tanda membuka panggilan.


“Halo! Ini siapa ya? Dari tadi kok telpon terus?” tanya Bu Siska dengan suara sedikit meninggi.


“Halo! Selamat sore, Buk! Apa betul ini keluarga dari Bryan Aditama?” tanya sang penelpon.


“Iya, betul! saya ibunya! Ada apa dengan anak itu? Apa dia membuat ulah?” tanya Bu Siska.


“Bukan, Ibuk! Saudara Bryan saat ini sedang berada di rumah sakit! Saudara Bryan mengalami kecelakaan, dan menjadi korban tabrak lari. Apakah Ibu bisa segera ke rumah sakit?” tanya sang penelpon.


“APA? BRYAN KECELAKAAN? Dimana? Sekarang di rumah sakit mana?” tanya Bu Siska terlihat kesal.

__ADS_1


Karena ia sudah tahu, pasti nanti biaya akan keluar setelah ini. Dan ia tak sudi akan hal itu, sudah dipecat, sekarang malah drama kecelakaan.


“Saat ini saudara Bryan berada di rumah sakit DokuSehat, Ibuk! Dimohon segera datang ya, Ibuk! Terima kasih!” ucap sang penelpon, setelah itu panggilan pun terputus.


“Jeng Siska! Bryan kenapa?” tanya Bu Romlah penasaran melihat temannya itu terlihat kesal.


"Bryan kecelakaan, Jeng! Dan sekarang sedang berada di rumah sakit DokuSehat!" jawab Bu Siska, namun ia tidak terlihat khawatir.


"Innalillah! Semoga Bryan baik-baik saja, Jeng! Kalau begitu bagaimana dengan arisan kita, Jeng? Apa ditunda dulu untuk hari ini?" tanya Bu Romlah.


“Sepertinya begitu, Jeng! Setelah dari rumah sakit, nanti saya kabari" Maaf ya Jeng semuasemua! Arisan sementara di tunda dulu. Karena sebagai Ibu Bryan, saya harus segera ke rumah sakit. Bryan menjadi korban tabrak lari, Jeng!” terang Bu Siska. 


Ia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan berita itu, tapi di depan teman-temannya, ia tentu harus berperan sebagai ibu yang baik.


“iya gak apa-apa, Jeng! Mengetahui kondisi Bryan adalah yang paling penting saat ini, Jeng! Semoga Bryan segera pulih ya. Kalau begitu kamu pamit dulu, Jeng!” jawab Bu Romlah, yang lain pun mengangguk setuju.


Setelah itu semua tamu pun berpamitan pulang. Kini tinggallah Bu Siska, Zakia, dan Clara. Bu Siska menghampiri Clara untuk menemaninya ke rumah sakit, karena ia malas berhadapan dengan suasana rumah sakit yang menurutnya sangat membosankan.


"Ayo temani Mama, Clar! Dasar payah! Selalu menyusahkan saja! Disuruh cari kerja, malah kecelakaan!" omel Bu Siska.


"Aduh, Ma! Aku malas banget ke rumah sakit sebenarnya! Jijik juga melihat para pasien di sana yang penyakitan! Tapi demi Mama, aku tahan deh!" jawab Clara masih berusaha mengambil muka mertuanya yang jelas hanya punya satu muka.


“ Ma! Aku ikut ke rumah sakit ya, Ma!” pinta Zakia dengan takut, tapi ia sungguh khawatir mendengar suaminya yang sekarang tengah sendirian di sana.


“Ck, Malas banget liat mukamu sebenarnya! Tapi nanti malah saya yang repot mengurus anak pengangguran itu. Ya sudah! cepat siap-siap, jangan lelet!” bentak Bu Siska.


"Ba-baik, Ma!" jawab Zakia.

__ADS_1


Ia segera berlari ke kamar untuk mengganti dasternya, walaupun tadi Bu Siska mengizinkannya untuk memakai daster yang agak bagus karena ada tamu, tapi untuk dipakai ke rumah sakit tentu itu tidak pantas, Zakia juga harus menjaga cara berpakaiannya. Apalagi nanti di rumah sakit ia pasti akan mengurus banyak hal. 


Setelah bersiap-sipa, kemudian ketiganya pun beranjak ke rumah sakit dan mereka mengunakan taksi online yang di pesan oleh Clara. Sepanjang jalan Zakia merasa tak tenang. Saat ia tahu suaminya kecelakaan, pikirannya sudah gak karuan. Ia ingin sekali langsung bisa menembus waktu untuk sampai di rumah sakit. Pantas saja dari tadi firasatnya sangat buruk, rupanya inilah arti dari firasat itu.


Zakia tidak berhenti berdo'a dalam hati, agar suaminya baik-baik saja. Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat panjang dan lama bagi Zakua, ditambah lagi suasana jalan sore yang sangat macet membuat laju mereka pun seperti siput berjalan.


“Apa gak bisa lewat jalan pintas, Pak?” tanya Zakia pada sang driver.


Sabar dikit napa sih, Kia? Lagian kalaupun sampai cepat di sana, Lo gak mungkin bisa mengobati Bryan!” sahut Clara dengan kesal.


“Setidaknya aku akan tahu bagaimana kondisi suamiku setelah kecelakaan, Mbak!” jawab Zakia sembari mengusap air matanya yang tiada henti meleleh di pipi.


Pak sopir melirik dari kaca spion, ia merasa sangat iba dengan Zakia.


“Sudahlah, Kia! Jangan berisik! Sebentar lagi juga sampai!” timpal Bu Siska ikutan kesal.


"Gak apa-apa, Buk! Wajar kalau Mbaknya khawatir, yang di rumah sakit itu suaminya toh? Istri saya juga selalu menelepon kalau saya terlambat pulang, Buk! Itu wajar! Memangnya Ibuk ndak khawatir dengan anaknya, toh?" Pak sopir bertanya kepada Bu  Siska.


Ehhh, ngomong sembarangan! Nyetir aja yang benar! Atau saya tidak akan membayarnya nanti karena anda sudah membuat saya kesal!" jawab Bu Siska mencerepet.


"Ya, Jangan gitu atu, Buk! Saya juga kan butuh uang untuk makan! Anak dan istri saya pasti sekarang lagi nunggu saya pulang bawa uang!" sahut sopir itu.


Kalau begitu nyetir yang benar! Jangan ikut campur urusan saya!" balas Bu Siska.


Pak sopir itu diam, ia tidak menjawab lagi karena ia takut kalau ucapan Bu Siska benar, ia tidak akan membayar ongkosnya nanti. Tapi Pak sopir masih kasihan dengan Zakia, ia terlihat begitu cemas dengan suaminya. Pak Sopir berusaha mencari celah, agar mereka bisa segera sampai di rumah sakit.


Setelah melewati kemacetan yang cukup panjang, akhirnya sampailah mereka di rumah sakit DokuSehat. Setelah membayar tagihan taksi, mereka pun langsung berjalan menuju lobi rumah sakit. Berbeda dengen Zakia, Ia langsung berlari dan memasuki rumah sakit. Sesampainya di pusat informasi, Ia pun langsung menanyakan keberadaan sang suami kepada perawat yang sedang berjaga.

__ADS_1


__ADS_2