Membungkam Kejulitan Mertua

Membungkam Kejulitan Mertua
Bab 32 Inikah Akhirnya?


__ADS_3

Zakia sudah kehilangan batas kesabarannya, selama ini ia sudah menuruti semua keinginan dari ibu mertuanya dan selalu berusaha sabar hidup dalam tekanan ibu mertua beserta hinaan dan ejekan dari kakak iparnya.


Zakia sudah sampai di puncak batas itu, dan sekarang ia tidak mau lagi diperlakukan semena-mena oleh mereka, apalagi sebentar lagi ia akan mempunyai bayi dan ia tidak mau anaknya nanti akan bernasib seperti dirinya, selalu menjadi bahan hinaan dan ejekan dari keluarga mertuanya.


"Ohh, Sekarang kau sudah berani menjawab ya wanita udik! Memang dasar menantu tidak tahu terima kasih! Selama ini aku sudah menampungmu di rumahku dan juga sudah menanggung semua biaya sehari-hari kalian. Dasar tidak tahu diri! Sekarang kau malah berani menjawab perkataanku." Bu Siska berkata dengan emosi yang berapi-api, melihat menantunya itu sudah berani menjawab perkataannya.


"Maaf, Ma! Tapi selama ini juga semua uang Mas Bryan Mama yang mengendalikan, bahkan aku saja sebagai istrinya tidak tahu berapa gaji suamiku perbulan. Semuanya murni Mama yang mengatur, bahkan aku tidak diperkenankan untuk memegang uang sepeserpun. Jadi menurutku sudah sangat wajar kalau sebuah biaya ditanggung oleh Mama, karena uang yang Mama dapatkan itu adalah uang dari suamiku," jawab Zakia, membuat Bu Siska semakin geram.


"Diam kau, Wanita Sun**l! Kau ini benar-benar wanita kampungan! Apa kau tidak tahu, kalau seorang anak laki-laki itu bertanggung jawab kepada ibunya sampai kapanpun dan tidak ada batasan untuk itu. Jadi kau tidak seharusnya berkata seperti itu, karena sudah sewajarnya kalau Bryan memberikan uang kepada ibunya," sahut Bu Siska lagi.


"Seorang anak laki-laki memang selalu bertanggung jawab kepada ibunya sampai kapanpun, Ma! Akan tetapi beda cerita kalau laki-laki itu sudah menikah, karena tanggung jawabnya yang lain sudah ada, dan bukan hanya ibunya saja yang akan ia tanggung jawabi sekarang. Semua pendapatan Mas Bryan murni di pegang bulat-bulat oleh Mama, bahkan itu pun Mas Bryan anak kandung Mama sendiri sering mendapat hinaan di rumah ibu kandungnya sendiri," balas Zakia.


Tangan Bu Siska sudah mengepal, sekarang ia sudah sangat murka. Beraninya menantunya itu memojokkan dirinya.


"Kia! Cukup, Dek!" lerai Bryan, Bryan tidak mau masalah semakin berlarut-larut karena ada mulut antara ibunya dan juga istrinya.


"Untuk apa, Mas? Tidak ada gunanya juga aku terus diam seperti biasanya, karena dengan diam seperti itu maka aku akan semakin dihina di rumah ini. Lagi pula sebentar lagi aku sudah diusir dari rumah ini, jadi tidak ada salahnya aku mengungkapkan semua rasa sakit hatiku selama ini, Mas!" sahut Zakia, ia sudah sangat sulit mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Setiap kali Zakia mencoba meredam amarahnya, tetapi ia malah semakin merasa kesal. Zakia juga tidak tahu mengapa seperti itu, kemarahan begitu saja tiba-tiba menghampiri dirinya saat dia mendengar sesuatu yang buruk terucap dari mulut ibu mertuanya.


"Sudahlah, Bryan! Tidak ada gunanya juga kau melerai wanita keras kepala ini, karena yang ada dia malah akan semakin melawanmu nantinya. Turuti saja kata-kata Mama jika kau masih ingin tinggal di rumah ini dan dianggap sebagai anak. Ceraikan wanita pembawa sial ini dan usir dia dari sini, agar dia mengetahui betapa kerasnya hidup di luar sana. biarkan wanita ini hidup terlunta-lunta di jalanan. Kalau untuk masalah wanita, jangan khawatirkan itu, Mama akan mencarikan wanita yang seribu kali lebih baik dari wanita kampung ini!" ucap Bu Siska.


"Benar, Bryan! Mbak..."


"Tolong diam, Mbak Clara! jangan selalu ikut campur urusan rumah tanggaku dan juga Zakia, karena status Mbak di rumah ini juga tidak lebih dari sekedar menantu. Jangan bersikap berlebihan seolah Mbak Clara adalah ratu di rumah!" potong Bryan, ia juga sudah mulai emosi melihat Clara ingin ikut campur.


Clara mencibir ke arah Bryan dengan wajah yang sangat kesal bercampur malu.


Wajah Clara kembali cerah mendengar ibu mertuanya membela dirinya, sedangkan Zakia sudah kembali melanjutkan memungut barang-barangnya yang tercecer. Hatinya sudah terlanjur sakit mendengar semua hinaan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya kepada dirinya. Zakia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah itu dengan adanya Bryan atau tidak.


"Ma! Tolong dengarkan aku kali ini saja, Ma! Aku mohon berikan satu kesempatan lagi untuk kami tinggal di rumah ini, karena saat ini Zakia sedang mengandung cucu Mama. Aku yakin tidak ada niat Zakia untuk sengaja melawan Mama, itu murni faktor dari hormon kehamilannya, itu sebabnya Zakia jadi lebih sensitif, Ma!" ucap Bryan.


"Tidak ada kesempatan lagi, Bryan! Sekarang kau harus memilih!" tegas Bu Siska.


"Tapi, Ma! Aku..."

__ADS_1


"Cukup, Mas! Jangan lagi merendahkan harga dirimu dengan memohon-mohon seperti itu, Mas! Aku juga sudah terlalu capek menghadapi hinaan dari keluarga ini. Sekarang aku juga memberikan dua pilihan kepadamu, Mas! pergi bersamaku dan kita membuka lembaran baru untuk keluarga kecil kita nantinya, atau Mas tetap tinggal di sini seperti yang diminta oleh Mama dan itu berarti Mas sudah bersedia berpisah denganku. Maaf, Mas! Tapi itu adalah keputusan terakhirku! Aku akan pergi dengan adanya Mas ataupun tanpa Mas!" putus Zakia.


Dilema besar dihadapkan lagi pada Bryan.


"Dasar sombong! Kau pikir dirimu itu siapa? Sehingga Bryan akan memilih dirimu daripada keluarganya sendiri. Kalau mau pergi silakan pergi, jangan mempengaruhi anakku lagi!" sahut Bu Siska dengan percaya diri.


"Baiklah, Mas! Kalau Mas memutuskan untuk tetap tinggal di sini, aku pergi, Mas! Selamat tinggal," ucap Zakia sambil memungut barang terakhir yang tergeletak di lantai.


Sekarang Zakia sudah membungkus barang-barangnya di dalam kantong kresek yang kumuh, kantong kresek itu adalah tempat barang-barangnya dilempar ke teras rumah oleh ibu mertua dan kakak iparnya.


Dengan derai air mata Zakia berbalik arah, sekarang ia sudah memunggungi keluarga suaminya itu. Apakah itu akhir kisah rumah tangganya? Rumah tangga yang selalu ia impikan sejak dulu akan berjalan harmonis dan juga bahagia, nyatanya sekarang menjadi duri yang menusuk dagingnya secara beruntun.


"Husss, pergi jauh-jauh benalu!" teriak Clara dengan girang, sekarang ia benar-benar bahagia karena sudah menang dengan peringkat teratas.


Zakia tidak menghiraukan itu lagi, ia terus berjalan menuju gerbang rumah.


"Zakia, Tunggu!!"

__ADS_1


__ADS_2