
"Aku akan mencari Dhira Ma, tapi aku harus pulang dulu ke rumah." Keanu berpamitan dengan mencium tangan kedua mertuanya setelah mendapatkan telepon.
Keanu terpaksa pulang dengan tangan kosong istri yang kemarin malam meninggalkan dirinya setelah melakukan ritual suami istri tidak ia temukan, lalu kemana Nadhira pergi.
Setelah kepergian menantunya, Robi selaku ayah dari Nadhira segera menghubungi para saudaranya untuk menanyakan keberadaan putri sulungnya. Begitu juga dengan Hani wanita paruh baya itu serta merta menghubungi teman-teman Dhira, bisa saja putrinya sedang bersama para temannya. Namun sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan putrinya.
"Pa, hubungi Rega saja biar dia bisa membantu mencari keberadaan Dhira." Robi sama sekali tidak menyahuti permintaan istrinya ia segera meraih kunci mobil dan jaket untuk mencari putrinya.
Jika meminta bantuan Rega akan sangat memalukan pikir Robi, ia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya lagi di hadapan pria yang sudah menyakiti putrinya.
Hani, wanita itu tidak perduli lagi dengan apapun ia segera menghubungi Regantara, hanya keponakannya ini yang dapat ia andalkan kali ini, perduli setan jika ia harus mendapat ceramah dari sang suami.
"Hallo ... "
"Ya, tante ada apa?" dari sebrang sana Rega menyahuti.
"Rega, Dhira hilang!" hanya tiga kata itu sukses membuat jantung Rega berasa di ambil paksa dari tempatnya.
"Hilang? Bagaimana bisa?" tanpa sadar Rega meninggikan suaranya, Hani dapat menangkap nada cemas serta khawatir dari orang yang tengah berinteraksi melalui telpon dengannya.
"Tante juga tidak tahu, tadi ada Keanu kemari menjemput Dhira, katanya Dhira pergi sejak kemarin malam." Rega yang tadinya bersiap akan tidur kini bergegas menuju garasi tempat mobilnya beraga, pertanyaan serta teguran Sarah tidak ia perdulikan, pikirannya hanya satu tertuju pada wanita yang selalu menjadi penguasa dalam sanubarinya.
"Apa sebelumnya mereka bertengkar tante?" tanya Rega penuh selidik
__ADS_1
"Tante tidak tau Ga. Tante sudah mnghubungi kerabat dan saudara tante, serta teman-teman Dhira tapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Dhira" Hani mulai terisak, ia sungguh khwatir pada putrinya, bagai mana bisa putrinya pergi jika tidak ada sebab. Karna Hani mengetahui meskipun Dhira keras kepala tapi anaknya tidak pernah melarikan diri seperti ini.
"Tante tenang saja, Rega jalan sekarang secepatnya Rega akan mengabari tante."
"Ya sudah hati-hati ya!"
Setelah menutup telepon Rega mengemudukan mobilnya meninggalkan rumahnya, beberapa kali Rega mencengkram stir kemudi karna rasa khawatirnya yang menjalar begitu saja pada diri pria itu.
"Kau kemana Dhira.?" beberapa kali Rega mencoba menghubungi nomor gadis itu tapi selalu saja tidak dapat di hubungi.
Sudah lebih dua jam Rega mengitari jalanan ibu kota tapi tidak menemukan keberadaan Dhira, bahkan beberapa pekerjanya sekitar 8 orang sudah di kerah untuk membantu mencari sepupunya itu, tapi hasilnya masih sama. Beberapa kali Hani juga menelpon dirinya untuk menanyakan keberadaan Dhira.
Entah ada angin dari mana tiba-tiba Rega membelokan mobilnya ke jalan kemboja, yang di mana jalan itu menuju ke rumah impian Nadhira yang sudah rampung ia bangun dan ia hadiahkan sebagai hadiah pernikahan untuk mantan kekasihnya. Dari luar rumah Rega dapat melihat jika lampu di dalam rumah itu menyala, padahal sebelumnya Rega hanya memerintahkan oran untuk merawat rumah itu dan hanya menyalakan lampu luar saja. Dan benar di halaman rumah luas itu terdapat sebuah mobil yang rega hapal betul siapa pemiliknya.
Rega terdiam di pintu dapur memperhatikan Dhira yang kini tengah menyantap makan malamnya, seketika napas lega ia hembuskan karna sebelumnya Rega sempat sesak napas karna belum mengetahui keberadaan sepupu keduanya itu.
Di tengah makannya Dhira meringis, karna kuah pedas yang berasal dari mienya mengenai luka di bibirnya.
Setelah Rega memastikan jika Dhira sudah menghabiskan makanannya Rega memberanikan diri untuk menegurnya.
"Kau disini?"
Dhira mengenali suara itu dan segera menoleh ke arah sumber suara, tepat sekali perkiraannya, mantan kekasihnya atau suami dari sepupunya, atau apaun sebutannya ternyata pria itu benar-benar berada di sana.
__ADS_1
"Kenapa kau pergi, tanpa pamit pada suamimu, tahukah kau semua orang setengah gila maencarimu." ucapnya. "atau lebih tepatnya aku yang gila karna kehilanganmu." tapi kalimat terakhirnya hanya mampu Rega ucapkan hanya dalam hatinya saja.
"Bukan urusanmu." Ucapnya tak acuh, Dhira memalingkan wajahnya ke arah lain.
Rega seketika mengetatkan rahangnya saat menyadari sudut bibir sepupunya terluka, serta wajah sebelah kanannya yang bengkak dengan warna merah kebiruan, tampak jelas disana. Tak perlu bertanya Rega tau jiga Dhira pasti sudah menerima pukulan dan pelakunya tentu saja Keanu, semua halnya mengerucut ke arah suami dari wanita dihadapannya.
"Kenapa Keanu memukulmu?" Rega mendekat mencoba meraih wajah bengkak itu, tapi Dhira memundurkan langkahnya.
"Karna aku sudah tidak perawan." ucap Dhira datar tak ada riak sama sekali di wajahnya.
"Hanya karna sebuah selaput dara dia melakukan ini."
"Hanya kau bilang?" Dhira tersenyum sinis. "Setiap orang memiliki pendapat tersendiri dalam setiap hal. Aku tidak menyalahkan Keanu sepenuhnya karna memang ini terjadi karna kesalahanku yang tidak bisa menjaga harga diri, wajar saja Keanu kecewa padaku." wanita ini mengucapkan kata demi kata dengan datar tanpa ada rasa sama sekali.
"Maaf ... " Hanya kata itu yang mampu Rega utarakan.
"Tak perlu meminta maaf, semuanya telah berlalu."
Kenan masih memperhatikan wajah wanita yang ia cintai, kedua matanya nyaris tak terlihat bisa ia pastikan jika wanita itu pasti menangis karna hal itu, tapi semakin Dhira terlihat baik-baik saja maka semakin menyedihkan luka yang ia terima.
Rega pergi mengambil es batu dan mengeluarkan sapu tangannya ia berniat mengobati memar wanita itu tapi gerakan tangannya di hentikan Nadhira.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri."
__ADS_1