Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Itu tidak mungkin


__ADS_3

Rega kembali mendatangi kantor dimana Dhira bekerja, Vante yang menjadi teman Rega tentu saja sudah memberi ijin untuknya mendatangi sang pujaan hati.


"Dhira, makan siang sama Mas ya!" Tega menghampiri Dhira yang tengah membereskan meja kerjanya.


"Maaf Mas gak bisa Dhira ada janji."


"Dengan siapa? ko gitu sih. Mas jauh-jauh datang loh masa Dhira gitu." Rega mendrama supaya Dhira kasihan padanya dan menemaninya makan siang. Rega juga menganggap jika Dhira sedang membohonginya.


"Aku gak nyuruh Mas Rega kemari. Aku makan siang dengan kekasihku." pungkasnya cepat.


"Kekasih?" satu kata itu dukses membuat Rega membatu di tempatnya. Ini tidak mungkinkan, kenapa secepat itu Dhira kembali melabuhkan hatinya ke orang baru.


"Dhira kamu jangan bercanda, sebentar lagi kita akan nikah."


"Siapa yang bercanda? Aku serius. Kan aku sudah bilang aku berubah pikiran aku ga mau nikah sama Mas Rega." Dhira mencebik sinis.


"Dhira, jangan seperti ini. Bagai mana jika kau hamil?" itu satu-satunya senjata yang ia miliki.


"Tidak mungkin, aku tengah datang bulan sekarang." Dhira tersenyum, dan melepas cekalan tangan sepupunya yang entah sejak kapan menahan langkahnya.


"Ra." tiba-tiba sebuah suara berat terdengar di sana.

__ADS_1


"Sayang kau kemari!" Dhira bergelayut manja di tangan pria yang Rega kenal sebagai sepupu kedua sepupunya. Ah begitu rumit setatus antara keduanya, Rega muak tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apa sepupumu juga kau manfaatkan sebagai alat untuk ajang balas dendam untukku Dhira? Sama seperti Keanu." Rega tak sepenuhnya salah menebak memang benar Dhira memanfaatkan Bima, tapi bukan untuk balas dendam melainkan untuk membuat Rega sadar diri jika mereka tidak bisa kembali bersama, ada jurang yang menjadi pembatas antara keduanya.


"Ya Tuhan, sepicik itu pikiranmu Mas." Dhira semakin menempelkan wajahnya pada bisep kekar yang tengah ia rangkul. "Mau bukti." Cup. Dhira berjinjit mengecup sekilas bibir tebal sepupunya.


Rega hanya memaku di tempatnya, pikirannya melanglang jauh, ia menyesali apa yang terjadi di hidupnya. Tak ada orang yang menginginkannya lagi sekarang wanita yang selalu sebut dalam doanya kini menemukan pria baru untuk membalas perlakuannya di masa lalu, Rega akui ia sangat cemburu.


Dhira dan Bima memutuskan pergi dari sana meninggalkan Rega dengan tatapan nanarnya, mencoba menerawang jauh ke depan.


"Jika kau lelah dengannya, pulanglah pada pelukanku. Aku rumahmu Dhira." Rega mendongak untuk mencegat matanya berair, jarna tiba-tiba maniknya terasa perih.


"Ra, kenapa kau jahat padanya?" Bima bertanya di tengah mereka berjalan. Dhira menghentikan langkahnya.


"Dia yang lebih jahat padaku, aku tak perlu susah-susah menjelaskan, pasti Nicho si adik lucknutku itu sudah berbicara panjang kali lebarkan, kau jangan berlaga bodoh di depanku." Dhira melayangkan tatapan tajam yang tersirat peringatan.


"Kau ini, lacknut-lacknut begitu Nicho sangat menyayangimu. Kau tak tau saja saat kau hancur Nicho terlihat lebih hancur di bandingkan dirimu."


"Benarkah?" Dhira sedikit tak mempercayai ucapan Bima, karna Nicho adalah orang yang menguatkannya, meskipun ia menyangkalnya.


"Cium lagi donk." celetuk Bima tanpa beban.

__ADS_1


"Otakmu sangat mesum, terlalu lama di negri empat musim membuatmu semakin liar." Dhira meninju otot tangan sepupunya.


"Memang." jawab Bima tak acuh.


"Bagaimana mengenai obrolan kita semalam, kau maukan jadi istriku?"


"Bim, aku belum siap jika harus di serang para wanita peliharaanmu."


"Astaga, mana ada seperti itu, aku sudah membayar jasa mereka full, tidak mungkin ada penyerangan di kemudian hari aku jamin."


"Aku tetap tidak mau."


"Kenapa?"


"Tidak mau saja."


"Hati-hati kau akan jatuh cinta padaku."


"Itu tidak mungkin."


Keduanya memasuki mobil, untuk mencari restoran.

__ADS_1


__ADS_2